Sebuah kecelakaan mengubah hidup Nara Anindya selamanya. Saat membuka mata, dia terbangun di tubuh Bianca Ardhana, istri CEO tempatnya bekerja, sementara tubuhnya sendiri telah dimakamkan. Di balik rumah tangga yang tampak sempurna, tersimpan pengkhianatan, ancaman, dan rahasia yang belum terungkap. Mampukah Nara mengembalikan kebahagiaan keluarga itu tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Jangan lupa like dan votenya ya. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Yang Manis
Pagi ini, mansion Ardhana dipenuhi suara tawa kecil Elora.
"Mama cepat!" terdengar suara teriakan seorang balita yang membuat Nara terkekeh kecil.
Balita itu sudah berdiri di depan pintu dengan tas kecil berbentuk kelinci yang menggantung di bahunya.
"Iya, Mama sudah siap." ucap Nara yang sudah mengambil tas nya.
Hari ini dia berencana mengajak Elora membeli beberapa buku cerita dan mainan edukasi. Semalam, Nara melihat rak buku di kamar Elora hampir kosong.
"Bu biar sopir saja yang mengantar." ucap kepala pelayan.
Nara menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Aku ingin menyetir sendiri."
"Baik Bu."
Meski sedikit gugup, Nara berhasil mengendarai mobil Bianca dengan baik. Elora duduk manis di kursi khusus anak sambil terus bernyanyi lagu yang diajarkan pengasuhnya.
Melihat tingkah lucu itu, Nara tidak henti-hentinya tersenyum.
Sebuah toko buku besar di pusat kota sudah terlihat didepan. Dia segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir.
Nara dan Elora segera turun dari mobil. "Ayo." Nara mengulurkan tangannya untuk digenggam sang anak.
Elora yang paham langsung menggandeng tangan mama nya tanpa ragu. "Ayo mama."
Di dalam, Elora menarik tangan Nara menuju rak buku bergambar hewan.
"Mau ini tidak?" tanya Nara lalu mengambil buku bergambar kelinci dan menunjukkan nya pada sang anak.
"Wah, kelincinya lucu, Elora mau mama." ucap anak itu dengan mata berbinar.
Setelah mendapatkan beberapa buku. Mereka memutuskan duduk di sudut baca anak. Nara membacakan isi buku itu dengan berbagai macam suara.
"Rawrr..." Nara mengaum meniru suara singa, padahal gambar yang ada di buku itu adalah kelinci. kontak Elora protes.
"Itu suara singa, bukan kelinci Mama!" Elora langsung tertawa hingga menepuk-nepuk lantai.
Nara ikut tertawa. "Oh salah ya?"
Tidak jauh dari sana, beberapa pengunjung mulai memperhatikan mereka.
"Lucu sekali anaknya."
"Ibunya juga sabar."
"Wah, aku iri dengan kelucuan anaknya.
Mendengar ucapan itu, hati Nara langsung menghangat. Dia memandang Elora yang menatapnya dengan tatapan penuh bunar. Dia mengelus rambut anak itu dengan sayang. Jadi beginilah rasanya menjadi seorang ibu.
Setelah selesai berbelanja, Elora tiba-tiba memegang perutnya lalu mendongak melihat mamanya. "Mama Elora lapar."
Nara melihat jam tangan. "Kalau begitu kita makan dulu yuk."
Mereka akhirnya pergi menuju restoran yang berada di lantai atas mal. Namun baru saja memasuki restoran, langkah Nara terhenti.
Di dekat jendela, dia melihat Elvano sedang duduk bersama Raka dan dua orang klien. Pria itu tampak serius membahas sesuatu.
Belum sempat Nara mengajak Elora berbalik, balita itu sudah lebih dulu berteriak dengan suara nyaring. "Papaaa!"
Seketika seluruh orang yang ada restoran menoleh.
Elvano yang sedang berbicara langsung menghentikan kalimatnya. Tatapannya beralih ke arah pintu. Begitu melihat Nara dan Elora, raut wajahnya sedikit melunak.
"Papa!"
Elora berlari kecil menghampirinya. Elvano langsung mengangkat putrinya. "Kok di sini?"
"Mama ajak Elora beli buku." ujar anak itu dengan semangat dan senyum yang terus mengembang.
Elora memperlihatkan kantong belanja dengan bangga. "Ini papa bukunya."
Salah seorang klien tersenyum. "Pak Elvano, ini istri dan putri Anda?"
Elvano mengangguk singkat. "Iya."
Nara merasa sedikit canggung. "Maaf mengganggu waktunya."
"Tidak mengganggu. Lagi pula rapat kami sudah selesai." ujar Elvano yang membuat kedua klien itu segera pamit.
Sebelum mereka pergi, salah satu dari mereka berkata sambil tersenyum, "Semoga lain kali kita bisa bertemu lagi Bu." ucap mereka ramah.
"Ah iya." jawab Nara sedikit canggung.
Setelah mereka pergi, Raka ikut berdiri. "Kalau begitu saya kembali ke kantor dulu, Pak."
"Hm."
Kini hanya tersisa Elvano, Nara, dan Elora. "Sudah pesan makan?" tanya Elvano.
Nara menggeleng. "Belum." kan mereka baru saja datang.
"Duduk saja di sini, aku akan memesankan kalian makan."
Nara mengangguk ragu. Saat dia ingin duduk di hadapan Elvano, tiba-tiba Elora menarik tangannya.
"Mama duduk sini." anak itu mengarahkannya duduk di samping Elvano, tubuhnya langsung menegang. Begitupun dengan Elvano. Sementara Elora dengan semangat duduk di hadapan orangtuanya.
"Pelayan." panggil Elvano.
Tidak lama, pelayan datang membawa menu. Elora sibuk menunjuk gambar es krim. "Mama mau ini boleh." tanya anak itu meminta persetujuan.
Nara tersenyum. "Boleh, tapi makan nasinya dulu sampai habis."
Balita itu langsung mengangguk setuju. "Iya mama."
Elvano yang melihat itu menggeleng kecil. "Dulu dia selalu menangis kalau tidak dibelikan es krim."
Nara tersenyum. "Anak-anak memang harus diajak negosiasi."
"Negosiasi?" tanya Elvano bingung.
"Iya. Daripada dimarahi terus."
Elvano hanya mengangguk pelan. Dia mulai menyadari, cara Nara menghadapi Elora jauh berbeda dari Bianca yang dulu.
Namun hasilnya justru lebih baik. Tidak lama kemudian, makanan akhirnya datang.
Elora makan dengan lahap dengan tangannya, meskipun sesekali di suapi oleh Nara. "Mama aaaa..."
Elora membuka mulut tanpa drama. Itulah yang membuat Elvano gemas. Tidak lama Nara kembali menyuapi anak itu. "Enak?" tanya Nara. Dan anak itu mengangguk semangat.
Saat Nara ingin menyuapi anaknya, tiba-tiba Elora mendorong sendoknya ke arah Elvano.
"Suapi papa."
Elvano dan Nara kembali menegang. Nara merasa tidak enak, sementara Elvano ragu. Haruskah dia membuka mulutnya untuk menerima suapan istrinya?.
tapi melihat wajah antusias Elora, dia tidak bisa menolaknya. Nara yang mengerti dengan terpaksa menyuapi Elvano. Bahkan tindakan mereka membuat beberapa orang yang melihatnya gemas.
Melihat mamanya yang menyuapi papanya, Elora bertepuk tangan dengan semangat hingga tangannya tidak sengaja menyenggol segelas jus yang ada di atas meja.
Bruuk....
Jus itu bahkan mengenai sedikit lengan baju Elvano. Elora langsung membeku. Wajah mungilnya berubah pucat.
"Papa maaf."
Nara tahu balita itu pasti takut dimarahi. Bisa di lihat mata anak itu mulai berair. Dia segera mengambil tisu dan mengelap semuanya. "Tidak apa-apa sayang." ucapnya sambil tersenyum.
Elvano juga ikut mengambil tisu. "Sudah, jangan menangis ya." ucapnya lirih, dia tahu anaknya terlihat ketakutan saat melihatnya, mungkin Elora mengira jika dia akan marah.
"Papa hiks."
Elvano menghela nafasnya, lalu mengambil tubuh Elora dari sang istri. "Sudah jangan menangis, papa tidak marah, tapi lain kali hati-hati ya."
Elora mengangguk lega, dia memeluk erat leher sang papa. Nara tersenyum melihat pemandangan ini.
....
Selesai makan, mereka berjalan menuju area parkir. Di tengah perjalanan, Elora mulai mengucek matanya. "Mengantuk?" tanya Nara.
Balita itu mengangguk tanpa berkata apa-apa, Elvano langsung menggendong tubuh putrinya, dan Elora langsung bersandar di bahu sang ayah. Beberapa langkah kemudian, Nara menyadari kantong belanja di tangannya cukup banyak.
Tiba-tiba seseorang mengambil semuanya. "Biar aku." Elvano membawa seluruh kantong belanja itu.
"Tapi..."