Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.
Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.
Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.
Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.
"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 air mata buaya
Hanya butuh waktu tiga hari bagi Arkan Jaya Group untuk benar-benar berada di jurang kehancuran. Berita tentang pemutusan hubungan kerja sepihak oleh Alister Group membuat reputasi Arkan hancur lebur di mata publik.
Siang itu, Nadia baru saja menyelesaikan pemeriksaan kandungannya di rumah sakit swasta milik keluarga Alister. Ditemani oleh Leo, asisten pribadi Devan, Nadia melangkah keluar menuju lobi utama.
Namun, langkah kaki Nadia mendadak terhenti ketika seorang wanita paruh baya berpakaian glamor namun tampak berantakan tiba-tiba berlari memotong jalannya.
"Nadia! Nadia, menantuku!"
Nadia mengernyitkan dahi. Wanita itu adalah Siska,, ibu kandung Arkan—mantan ibu mertuanya.
Dulu, selama Nadia tinggal di rumah Arkan, Siska adalah sosok ibu mertua yang sangat kejam. Dia selalu memperlakukan Nadia seperti pembantu, mencaci-makinya karena belum juga memberi cucu, dan selalu membanding-bandingkannya dengan Ghea yang dianggap lebih pintar menyenangkan hati pria.
Namun hari ini, semua keangkuhan Siska lenyap. Wanita tua itu datang dengan wajah berantakan dan langsung menggenggam erat kedua tangan Nadia dengan mata yang sembab karena menangis.
"Nadia, Tolong Arkan, Nak... Ibu mohon" ratap Siska, suaranya terdengar gemetar di tengah keramaian lobi rumah sakit. "Perusahaan Arkan mau disita bank. Rumah yang kalian tempati juga terancam dilelang. Tolong bilang pada Tuan Devan untuk mencabut blacklist itu, Nadia!"
Nadia menarik tangannya perlahan namun tegas dari cengkeraman Siska. Dia menatap mantan ibu mertuanya dengan pandangan datar tanpa emosi.
"Maaf, Tante Siska. Tapi urusan bisnis Arkan sama sekali tidak ada hubungannya dengan saya" jawab Nadia dingin. Panggilan 'Tante' sengaja dia tekankan untuk memperjelas batas hubungan mereka.
Wajah Siska menegang mendengar panggilan itu, namun dia menahan amarahnya dan kembali memasang wajah memelas.
"Nadia, kamu tidak boleh egois begitu! Bagaimanapun, Arkan itu suamimu! Pernikahan kalian sudah satu tahun. Arkan itu cuma khilaf, Nak. Dia tergoda oleh jalang sialan seperti Ghea itu! Ibu berjanji, Ibu akan mengusir Ghea dari rumah dan tidak akan sudi menganggapnya anak lagi. Kembalilah pada Arkan, ya?" mohon Siska, dengan mudahnya mengorbankan Ghea demi menyelamatkan harta anaknya.
Nadia tersenyum sinis. Sungguh menggelikan melihat bagaimana uang bisa mengubah watak seseorang dalam sekejap.
Dulu, setiap kali Ghea datang membawa tas mewah ke rumah, Siska akan memuji Ghea setinggi langit dan menyuruh Nadia belajar darinya. Kini, saat Arkan bangkrut, Ghea langsung dicap sebagai 'jalang sialan'.
"Khilaf, Tante?" tanya Nadia dengan nada menyindir. "Selingkuh di belakangku selama berbulan-bulan, berencana merebut seluruh warisan Papa, dan mengusirku setelah semua asetnya pindah tangan... apakah itu yang dinamakan khilaf?" tanya Nadia.
"Nadia, tapi kamu tidak punya siapa-siapa lagi! Kalau kamu tidak kembali pada Arkan, kamu mau jadi apa? Pria sekaya Devan Alister itu tidak mungkin tulus padamu, dia pasti cuma memanfaatkan mu!" Siska mulai frustrasi dan suaranya meninggi, mulai memperlihatkan watak aslinya yang egois.
"Siapa yang bilang aku tidak tulus pada tunanganku?"
Tiba tiba sebuah suara bariton yang dingin dan sarat akan ancaman menginterupsi perdebatan itu.
Devan Alister berjalan tegap memasuki lobi rumah sakit dengan dikawal oleh dua orang ajudan. Auranya begitu mengintimidasi, membuat Siska otomatis melangkah mundur dengan wajah pucat pasi.
Devan langsung berdiri di samping Nadia, merangkul pundak wanita itu dengan protektif. Tatapan matanya yang setajam elang menghujam langsung ke arah Siska.
"Nyonya Siska" ucap Devan dengan nada suara yang sangat tenang namun sanggup membuat bulu kuduk berdiri. "Kukira Anda harus mulai membiasakan diri hidup miskin, daripada membuang waktu mengemis di tempat ini."
Siska tertegun sejenak. "P-Pak Devan... saya..." Siska terbata-bata, nyalinya menciut seketika.
"Leo" panggil Devan tanpa menoleh. "Seret wanita ini keluar. Dan pastikan mulai hari ini, dia tidak akan pernah bisa mendekati radius seratus meter dari tunanganku. Jika dia melanggar, percepat proses penyitaan rumah keluarganya sebelum akhir minggu ini."
"Baik, Tuan" sahut Leo sigap.
Siska hanya bisa menjerit histeris saat dua petugas keamanan berbadan besar menyeretnya keluar dari lobi. Dia terus berteriak memanggil nama Nadia, namun Nadia sama sekali tidak sudi menoleh.
"Nadia! Nadia!!" panggil Bu Siska tapi tak di hiraukan Nadia.
"Tolong ibu Nadia!!"
Petugas keamanan semakin mencengkram tangan Bu Siska yang menjerit jerit liar.
"Hei, diam lah!" bentak salah satu petugas lalu semakin menyeret Bu Siska hingga hilang dari pandangan Nadia dan Devan.
Setelah suasana kembali tenang, Devan menurunkan tangannya dari pundak Nadia, lalu menatap wajah wanita itu dengan intens.
"Kamu tidak apa-apa? Anak kita baik-baik saja kan?" tanya Devan. Kata 'anak kita' mengalir begitu natural dari bibirnya, membuat jantung Nadia mendadak berdegup kencang.
★★★