NovelToon NovelToon
SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Balas Dendam / Summon
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:

[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]

Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!

Siapa bilang dia salah kontrak?

#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Koordinat

Pak Darmawan mulai berbicara pukul dua lewat empat puluh tiga siang.

Bukan dengan kalimat pembuka yang dramatis. Bukan dengan peringatan bahwa apa yang akan dikatakan penting atau berbahaya atau sudah disimpan terlalu lama. Ia hanya mengambil gelasnya, minum satu teguk, meletakkannya kembali, dan mulai bercerita dengan nada yang persis sama seperti nada seorang guru yang memulai pelajaran — tenang, terukur, tidak terburu-buru.

"Dua belas tahun yang lalu," kata Pak Darmawan, "Adrian datang ke rumah saya di kota lama. Bukan kontrakan, bukan kantor, bukan tempat yang bisa dilacak. Rumah saya sendiri, malam hari, tidak memberitahu sebelumnya." Jarinya bergerak pelan di lutut — pola yang tidak berulang, bukan nervous habit melainkan cara tangannya bergerak saat ia sedang mengingat sesuatu yang sudah lama tidak disentuh. "Ia membawa serta kotak biola itu. Meletakkannya di meja dapur saya, duduk, dan berkata: *Aku perlu ceritakan sesuatu kepadamu. Tidak sekarang, tapi suatu hari cerita ini akan berguna bagi orang yang tepat.*"

Rio mendengarkan tanpa memotong.

"Saya tidak tanya apa maksudnya. Adrian bukan orang yang berkata sesuatu tanpa alasan, dan pengalaman dua puluh tahun berteman dengannya mengajarkan saya bahwa pertanyaan yang tepat waktu lebih berharga dari pertanyaan yang banyak."

Pak Darmawan berhenti. Minum lagi sekali.

"Kemudian ia mulai bercerita."

---

Panel sistem Rio menyala sangat pelan di sudut penglihatan — bukan notifikasi, bukan peringatan. Hanya indikator kecil yang berkedip satu kali seolah memberitahu Rio bahwa ia perlu mulai memperhatikan dengan cara yang berbeda dari cara mendengarkan biasa.

Rio tidak menutupnya.

---

"Ceritanya tentang sebuah tempat," lanjut Pak Darmawan. "Ia bilang pernah menemukan tempat paling tenang yang pernah ia kunjungi dalam hidupnya. Di pegunungan. Ia bilang namanya *Lembah Tujuh Batu* — bukan nama resmi, nama yang diberikan penduduk lokal karena ada tujuh batu besar yang tersusun tidak alami di tepi sungainya."

Panel sistem berkedip.

**[Mendeteksi Data Tersembunyi — Memproses...]**

"Ia bilang untuk sampai ke sana kamu harus keluar dari jalan provinsi di kilometer tiga puluh dua, belok ke arah yang berlawanan dengan arah matahari terbenam." Pak Darmawan berbicara dengan ritme yang sangat spesifik — kalimat-kalimatnya keluar dengan jeda yang tidak acak, diukur seperti seseorang yang sedang membaca dari partitur yang sudah dihafal. "Dari sana jalan setapak ke utara sejauh yang bisa ditempuh kaki manusia dalam tiga jam tanpa berhenti."

**[Koordinat Fragment 1: 32 — Arah: Barat (berlawanan matahari terbenam) — Jarak: ~12km utara]**

Rio tidak mengubah ekspresinya.

Di pundaknya Wukong juga tidak bergerak — tapi dari sedikit perubahan berat yang Rio rasakan, si kera sudah mendengar sesuatu.

---

"Ia bilang di lembah itu ada sungai yang warnanya berbeda di pagi dan sore hari," Pak Darmawan melanjutkan, masih dengan ritme yang sama, "karena mineralnya memantulkan cahaya dengan cara yang berbeda tergantung sudut matahari. Pagi hari warnanya seperti batu giok — hijau muda kebiruan. Sore hari seperti tembaga — oranye kecokelatan."

**[Koordinat Fragment 2: Konfirmasi Lembah — Mineral Sungai Aktif — Tanda Pengenal Visual]**

"Dan di tepi sungai itu," lanjut Pak Darmawan, suaranya tidak berubah nada atau kecepatannya sama sekali, "ada satu pohon yang tumbuh miring ke arah timur — bukan karena angin, Adrian bilang, tapi karena ada sesuatu di bawah tanah di sisi baratnya yang membuat akar pohon itu menghindari arah tersebut sejak ratusan tahun lalu. Di bawah pohon itulah ia bilang pertama kali menemukan tempat itu dan memutuskan bahwa kalau suatu hari ia butuh tempat yang tidak bisa ditemukan oleh siapapun yang hanya berbekal peta—"

Pak Darmawan berhenti.

Pertama kalinya sejak ia mulai bercerita.

Minum tehnya yang sudah hampir habis.

"Itulah akhir ceritanya," katanya pelan. "Saat itu saya pikir ia hanya bernostalgia. Orang yang sudah terlalu lama bekerja di dunia yang tidak ramah kadang butuh berbicara tentang tempat yang tenang. Saya tidak bertanya lebih lanjut."

---

**[KOORDINAT LENGKAP TERKOMPILASI:]**

**[Jalan Provinsi: KM 32 — Simpang Barat]**

**[Arah: Utara — Jarak: ~12km / 3 jam jalan kaki]**

**[Penanda 1: Lembah dengan 7 batu besar di tepi sungai]**

**[Penanda 2: Sungai mineral — Hijau pagi, Oranye sore]**

**[Penanda 3: Pohon miring ke timur — di tepi barat sungai]**

**[Lokasi Target: Di bawah/sekitar pohon tersebut]**

**[Status: KOORDINAT VALID — Siap untuk navigasi]**

---

Rio membaca kompilasi itu dua kali, menutup panel, dan menatap Pak Darmawan yang sedang meletakkan gelas kosongnya ke meja dengan gerakan yang lebih lambat dari sebelumnya — seperti seseorang yang baru selesai mengangkat sesuatu yang lebih berat dari yang terlihat dan baru merasakannya sekarang setelah diletakkan.

"Bapak sudah menceritakan cerita itu sebanyak ini kepada saya," kata Rio, "dan tidak pernah tahu apa artinya."

"Tidak." Pak Darmawan menatap lurus ke Rio. "Sampai tiga minggu lalu ketika saya menyadari ada yang mengikuti saya. Saya tidak tahu siapa, tidak tahu kenapa. Tapi saya ingat pesan Adrian sebelum ia menghilang — *kalau ada yang mulai memperhatikanmu, itu tanda bahwa waktunya sudah dekat.*"

"Waktunya dekat untuk apa?"

"Untuk cerita itu menemukan orang yang tepat untuk mendengarnya." Pak Darmawan menatap bahu kiri Rio dengan cara yang sama seperti tadi — cara orang yang tidak bisa melihat Abyssal Goddess Weaver tapi entah bagaimana mendeteksi kehadirannya. "Dan orang yang tepat itu tidak akan datang sendirian."

---

Keheningan selama beberapa detik.

Di luar, angin masih bergerak di antara tanaman halaman. Di dapur, suara langkah adik Pak Darmawan yang bergerak dari satu sisi ke sisi lain dengan ritme orang yang sibuk tapi tidak ingin terdengar terlalu sibuk.

Rio menatap tangannya sebentar. Kemudian menatap Pak Darmawan.

"KM 32 dari mana?" tanya Rio. "Jalan provinsi mana?"

Pak Darmawan tersenyum tipis — senyum pertama yang muncul di wajahnya sejak ia masuk dari pintu belakang tadi. "Adrian bilang kamu akan tanya itu."

"Dia bilang banyak tentang seseorang yang belum lahir waktu itu."

"Bukan belum lahir." Pak Darmawan menggeleng pelan. "Kamu sudah lahir waktu itu. Baru tiga tahun. Tapi ia sudah bicara tentang kamu seolah ia sudah tahu persis siapa yang kamu akan menjadi." Wajahnya bergerak dengan sesuatu yang bukan kesedihan tapi dekat dengan itu — lebih ke arah rasa kehilangan yang sudah terlalu lama disimpan sehingga sudah berubah bentuk menjadi sesuatu yang lebih tenang. "Orangtua kadang tahu hal-hal tentang anaknya yang bahkan belum terjadi."

Rio tidak menjawab itu.

"KM 32," lanjut Pak Darmawan, kembali ke pertanyaan Rio dengan cara seseorang yang tahu kapan sebuah topik butuh dibiarkan tanpa respons. "Jalan provinsi yang kamu lewati tadi untuk sampai ke sini. Dari arah kota, bukan dari arah terminal."

Rio memproses itu.

Dari arah kota. KM 32.

Ia membuka aplikasi peta diam-diam di ponselnya, mengukur. KM 32 dari batas kota menempatkan titik simpang itu di daerah yang di peta hanya terlihat sebagai garis jalan yang berakhir di tepi area hijau tanpa nama.

Empat koma tiga kilometer dari tempat mereka duduk sekarang.

---

"Bapak pernah ke sana?" tanya Rio.

"Tidak." Pak Darmawan menggeleng. "Adrian tidak pernah mengajak saya. Dan setelah ia menghilang, saya tidak pergi mencari sendiri." Jarinya bergerak lagi di lutut — pola yang sama, tidak berulang. "Bukan karena takut. Tapi karena tempat itu bukan milik saya untuk ditemukan. Saya hanya penyimpan ceritanya."

"Selama dua belas tahun."

"Dua belas tahun, empat bulan, dan tujuh belas hari." Pak Darmawan mengucapkan angka itu dengan cara yang menunjukkan bahwa ia tidak perlu menghitungnya karena sudah hafal. "Cukup lama untuk berhenti menghitungnya dan kemudian mendapati diri menghitungnya lagi tanpa sadar."

---

Rio berdiri dari sofa.

Pak Darmawan menatapnya, tidak terkejut.

"Sekarang?" tanya mantan guru musik itu.

"Masih ada tiga jam cahaya." Rio menyandang tasnya. "Cukup untuk sampai ke sana sebelum gelap."

Pak Darmawan mengangguk pelan — anggukan yang sudah siap untuk momen ini, yang sudah dipraktikkan dalam kepala selama dua belas tahun lebih setiap kali ia membayangkan bagaimana percakapan ini akan berakhir.

"Rio."

Rio berhenti di ambang pintu.

"Adrian adalah orang yang paling tidak mau membuat seseorang menunggunya." Pak Darmawan menatapnya dari kursi rotannya. "Tapi ia sudah menunggu cukup lama. Jadi jangan terlalu terburu-buru juga — pastikan kamu siap untuk apa yang kamu temukan di sana."

Rio menatap mantan gurunya selama dua detik.

"Saya sudah mendengar suaranya dari fragment ketujuh," kata Rio pelan. "Saya rasa saya sudah siap lebih lama dari yang saya kira."

---

Ia melangkah keluar ke teras, melewati pagar yang berderit, dan berjalan ke ujung gang menuju jalan utama.

Wukong di pundak kanan. Serigala di sisi kiri. Di lekukan bahu dan leher kirinya kehangatan yang tidak bisa diukur sensor apapun berdenyut dengan ritme yang sudah menjadi bagian dari detak tubuh Rio sendiri.

Empat koma tiga kilometer ke KM 32.

Kemudian dua belas kilometer ke utara.

Kemudian tujuh batu besar di tepi sungai yang pagi harinya berwarna hijau muda kebiruan dan sore harinya berwarna tembaga.

Kemudian pohon yang tumbuh miring ke timur karena menghindari sesuatu di sisi baratnya.

Rio berjalan ke arah jalan utama di bawah cahaya sore yang sudah mulai condong ke barat, dengan langkah yang tidak terburu-buru tapi tidak juga berlambat-lambat.

Tepat seperti yang Pak Darmawan bilang di bawah

Rio menemukan lembah itu satu jam sebelum gelap. Tujuh batu besar. Sungai yang di sore hari berwarna tembaga. Dan pohon yang tumbuh miring ke timur di tepi barat sungai. Tapi yang ia temukan di bawah pohon itu bukan yang ia perkirakan — bukan pintu, bukan portal, bukan tanda apapun yang dramatis. Hanya sebuah batu datar dengan satu ukiran kecil di permukaannya. Dan begitu jari Rio menyentuh ukiran itu, tanah di sekitar pohon itu bergetar.*

1
SANG
Lanjut cek....
SANG
Iklan untukmu brooooo👍💪💪💪👍👍👍👍
SANG
Hadiah bunga untukmu thor👍💪👍💪/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Semangat ya💪💪💪💪💪
SANG
Aku datang sebagai tamu baru👍👍👍👍
,
lanjut
the misterius author 🐐: nanti malam kita lanjut kan ua bg
total 1 replies
Benni Yong
mantab
Jacky Hong
jadi gk sabar pengen liat si MC jadi kuat thor
semangat upnya thor
Benni Yong: dah tak kasih vote hari ini thor
akun baru soalnya yang akun Jacky kena hapus😁
total 2 replies
Jacky Hong
gas trus up thor
semangat dah tak krim kopinya👍
the misterius author 🐐: setiap hari minggu update 3 bab bg kalau hari biasa update 2 bab bg nanti kan jadwal nya ya bg jangan lupa ajak teman teman abg baca juga
total 1 replies
SANG
Beken deh, sip deh, tenar deh, mantap deh, keren deh, pokonya top mar ko top deh. Bintang sepuluh untukmu Thor.
SANG
Namanya mulai beken💪👍
the misterius author 🐐: udah mulai tenar kah bg 🤣
total 1 replies
SANG
Namamu pasti ku ingat💪👍
the misterius author 🐐: jangan di ingat thor 🤣
total 2 replies
SANG
Semangat. Lanjut💪👍
the misterius author 🐐: parah parah emang wkwk
total 9 replies
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/Sembilan belas
SANG: Haha🤣🤣🤣👍👍👍
total 2 replies
SANG
Mantap banget💪👍
SANG
Pokonya keren deh💪👍
SANG
Keren deh💪👍
the misterius author 🐐: ok thor😍
total 3 replies
SANG
Wah novel baru lagi ya Thor💪👍
the misterius author 🐐: pokok nya fresh trus thor
total 6 replies
Jacky Hong
buat chpter 6 tak kasi kopi biar semungut upnya Thor
klo bsa up besok 2 chpter🤣
the misterius author 🐐: novel kita ogah main tingal bg
total 4 replies
Jacky Hong
lanjut up thor👍
the misterius author 🐐: sudah up bg 🤣
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!