"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."
Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.
Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Gaun Hitam
Perjalanan kembali dari Lembang menuju Jakarta terasa jauh lebih cepat, atau mungkin hanya perasaan Ayana saja yang dihantui oleh pengumuman sepihak dari Kakek Hermawan melalui Karina. Sepanjang jalur tol Cipularang, Ayana memilih untuk menatap keluar jendela, mengamati deretan bukit hijau yang perlahan digantikan oleh beton-beton tinggi pencakar langit ibu kota. Di sampingnya, Arka sibuk dengan tablet bisnisnya, sesekali memberikan instruksi singkat kepada tim hukumnya mengenai likuidasi aset milik Kendra Pradipta yang baru saja disita oleh negara.
Begitu mobil SUV hitam mereka berhenti dengan mulus di lantai ruang bawah tanah khusus Pradipta Tower, atmosfer korporat yang dingin dan menekan langsung menyambut mereka kembali. Namun, kali ini ada yang berbeda. Setiap karyawan yang berpapasan dengan mereka di koridor eksekutif membungkuk jauh lebih rendah dari biasanya. Tatapan mereka terhadap Ayana bukan lagi sekadar tatapan penasaran kepada seorang dokter pribadi, melainkan tatapan penuh rasa hormat kepada calon ratu baru dari dinasti Pradipta.
"Pak Bos, tolong katakan pada saya kalau pengumuman Kakek Hermawan itu hanya taktik gertakan untuk memancing sisa-sisa pengikut Kendra," cetus Ayana begitu pintu ruang kerja utama Arka tertutup rapat, mengisolasi mereka dari dunia luar.
Arka meletakkan jas hitamnya di sandaran kursi kebesaran, lalu melonggarkan ikatan dasinya dengan gerakan yang teramat santai. Ia berjalan menuju meja bar kecil di sudut ruangan, menuangkan air mineral dingin ke dalam dua gelas kristal.
"Kakek saya tidak pernah menggertak untuk urusan personal, Ayana," jawab Arka, suaranya berat dan bergema tenang di dalam ruangan yang luas itu. Ia berjalan mendekati Ayana dan menyodorkan salah satu gelas. "Bagi Hermawan Pradipta, kamu adalah variabel paling stabil yang pernah masuk ke dalam hidup saya selama sepuluh tahun terakhir. Dia melihat hasil klinisnya: faksi Elena runtuh, faksi Kendra hancur, dan CEO-nya kini bisa berdiri di balkon terbuka tanpa mengalami serangan panik. Di mata seorang pengusaha sepuh, kamu adalah investasi terbaik."
Ayana menerima gelas itu, namun ia menolak untuk duduk. "Investasi? Saya ini dokter spesialis neuropsikiatri, Arka! Bukan saham yang bisa Anda beli atau tunangkan begitu saja demi stabilitas korporasi! Kita punya kontrak tiga bulan, dan ini baru berjalan satu bulan lebih!"
Arka tidak langsung menjawab. Pria itu memajukan langkahnya, memaksa Ayana untuk mundur satu langkah hingga punggung wanita itu menyentuh pinggiran meja kerja mahoni yang kokoh. Arka meletakkan gelasnya di atas meja, lalu menumpukan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Ayana, mengurung wanita itu dalam jarak yang teramat dekat.
Aroma maskulin bercampur wangi mint yang familier seketika menyerbu indra penciuman Ayana, membuat argumen medis yang sudah ia susun di kepalanya mendadak buyar.
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri, Dokter rewel?" bisik Arka, sepasang mata elangnya mengunci pandangan Ayana dengan intensitas yang sanggup menghentikan detak syaraf mana pun. "Apakah pelukan di balkon hotel di Bandung itu juga bagian dari kontrak medis dari Kakek? Apakah kecemasanmu saat perangkat pengacak sinyal itu mengarah padaku sore kemarin juga murni karena kode etik kedokteran?"
Ayana merasakan pipinya mendadak memanas. Ia mencoba menahan napas agar debaran jantungnya tidak terdengar oleh pria di depannya. "Itu... itu respons empati klinis yang wajar antara dokter dan pasien yang memiliki keterikatan terapi yang kuat..."
"Kebohongan yang sangat tidak ilmiah, Ayana," potong Arka, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang teramat tampan dan penuh kemenangan. Pria itu menundukkan wajahnya sedikit, hingga embusan napas hangatnya menerpa kening Ayana. "Saya bisa membaca pergerakan pembuluh darah di lehermu saat ini. Denyut nadimu melompat ke angka seratus sepuluh per menit. Itu bukan respons empati. Itu adalah respons dari seorang wanita yang tahu bahwa pria di depannya tidak akan pernah melepaskannya lagi."
Ayana menelan ludah, kehilangan seluruh kosa kata rewelnya untuk pertama kali dalam sejarah karier medisnya. Sebelum situasi menjadi semakin tidak terkendali, ketukan tegas di pintu menyelamatkan sisa-sisa kewarasan Ayana.
TOK! TOK!
Arka tidak langsung menjauh. Ia menatap Ayana selama dua detik lagi, seolah memberikan tanda bahwa pembicaraan ini belum selesai, sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya kembali dan berbalik. "Masuk."
Pintu terbuka, dan Karina melangkah masuk sembari mendorong sebuah gantungan baju beroda yang membawa sebuah gaun panjang yang dilindungi oleh kantong pelindung transparan berwarna hitam. Di belakangnya, seorang desainer wanita paruh baya yang sangat terkenal di kalangan sosialita Jakarta tampak berjalan dengan sikap takzim.
"Maaf mengganggu, Pak Arka, Dokter Ayana," ujar Karina dengan senyuman profesional yang menahan tawa. "Ibu Madam Viona baru saja tiba dari butik pusat atas perintah Kakek Hermawan. Beliau membawa gaun yang akan dikenakan oleh Dokter Ayana untuk acara jamuan makan malam resmi keluarga besar di kediaman Megamendung minggu depan."
Ayana membelalakkan matanya saat Madam Viona membuka ritsleting pelindung tersebut, menampilkan sebuah gaun malam berbahan beludru hitam pekat dengan potongan dada berpotongan sabrina yang elegan, dihiasi oleh taburan payet berkilau di bagian pinggang yang membentuk siluet tubuh yang sempurna. Gaun itu tampak sangat anggun, misterius, sekaligus memancarkan aura kemewahan yang mutlak.
"Ini... gaun hitam?" tanya Ayana agak ragu. "Bukankah biasanya acara pertunangan keluarga besar menggunakan warna yang lebih cerah atau adat?"
Madam Viona tersenyum ramah, membungkuk sedikit. "Dokter Ayana, Tuan Besar Hermawan secara khusus meminta warna hitam pekat. Beliau mengatakan bahwa warna hitam adalah lambang dari kekuatan tertinggi Pradipta. Dan karena Anda adalah orang yang berhasil menjinakkan badai di dalam diri Tuan Arkananta, Anda berhak mengenakan warna kebesaran dinasti ini."
Ayana menoleh ke arah Arka, yang kini sedang menatap gaun tersebut dengan pandangan menilai yang teramat intens.
"Gaun itu sangat cocok untukmu, Ayana," ujar Arka, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. Pria itu berjalan mendekati gantungan baju, menyentuh tekstur beludru halus gaun tersebut dengan jemarinya. "Warna hitam akan membuat kulitmu tampak lebih cerah, dan potongan itu... akan mengingatkan semua orang di Megamendung minggu depan bahwa calon istri saya bukan wanita biasa yang bisa mereka intimidasi dengan harta."
Arka kemudian beralih menatap Karina. "Pastikan tim keamanan siber dan fisik melakukan sterilisasi penuh terhadap kedemian Megamendung mulai besok pagi. Saya tidak mau ada celah sekecil apa pun bagi sisa-sisa pengikut faksi lama untuk merusak acara minggu depan."
"Dimengerti, Pak Arka. Semua protokol pengamanan fase tiga sudah diaktifkan," jawab Karina sigap.
Setelah desainer dan Karina keluar dari ruangan untuk menyiapkan sesi pengukuran ukuran tubuh di ruang sebelah, Ayana menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia berjalan mendekati jendela kaca besar, menatap pemandangan Jakarta yang mulai tertutup senja keemasan.
"Jadi... Anda benar-benar akan melanjutkan kegilaan ini, Arkananta?" tanya Ayana tanpa menoleh, suaranya terdengar lirih namun sarat akan emosi yang campur aduk.
Arka melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang bahu Ayana tanpa menyentuhnya, memberikan ruang namun tetap memancarkan kehadiran yang protektif. "Ini bukan kegilaan, Ayana. Ini adalah satu-satunya keputusan paling waras yang pernah saya ambil sepanjang hidup saya. Selama sepuluh tahun, saya hidup di dalam kegelapan trauma yang bising. Kamu datang dengan jas putihmu, mengacaukan seluruh sistem pertahanan saya, dan memaksa saya untuk sembuh."
Arka mengulurkan tangan kanannya, perlahan menggenggam tangan Ayana yang tergantung di sisi tubuhnya, menyatukan jemari mereka dengan erat di balik pantulan dinding kaca.
"Minggu depan, di depan seluruh keluarga besar Pradipta, saya tidak hanya akan mengumumkan sebuah pertunangan korporat," bisik Arka tepat di samping telinga Ayana. "Saya akan mendeklarasikan kepada dunia bahwa badai saya telah usai, dan kamu adalah pelabuhan terakhir tempat saya meletakkan seluruh senjata saya. Bersiaplah, Dokter rewel... karena mulai minggu depan, duniamu yang tenang akan resmi berubah menjadi duniaku yang megah."
Ayana menatap pantulan wajah mereka di kaca jendela—seorang CEO tangguh yang kini tampak begitu damai, dan seorang dokter muda yang akhirnya memilih untuk membiarkan hatinya jatuh ke dalam pelukan sang batu karang. Skenario menuju delapan puluh babak kehidupan mereka kini tidak lagi terasa seperti ancaman medis, melainkan sebuah simfoni masa depan yang siap mereka mainkan bersama dengan penuh keberanian di tengah bisingnya dunia.
Bersambung.
good job Thor..up yg banyak LG ya Thor...👍👍🙂🙂👏👏
btw terima kasih thor upnya🤭
💪💪