Kalin Arsila Cayapata gadis 18 tahun yang punya pacar mata duitan, hubungan backstreet dari orangtua membuatnya harus bertemu sang pacar seperti maling, ngendap-ngendap sampai akhirnya dia bertemu denga Raksa Kamaludin, karyawan swasta biasa yang sampai umur 27 tahun belum juga nikah, yanh menyadarkan dia bahwa punya pacar matre itu bukan hanya bikin kantong bolong tapi bikin pengen nonjok.
Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detektif Gadungan
Kalin pikir, dia akan sekalian ngedate sama Reno siang itu. Tapi ternyata nggak.
Reno nyatanya pergi setelah dapet telepon. Dia cuma bilang "Motornya mau dipake abang gue, sekarang gue ditunggu di rumah. Gimana? gue kesini pake motor abang, lo tau kan motor gue masih ada di bengkel,"
Ya ditanya begitu, Kalin cuma bisa jawab, "Ya udah lo pergi aja. kasian kali aja lagi ada penting..."
Lagian perasaannya lagi nggak enak. Ya itu, gara-gara ngejual sesuatu yang berharga bukan hanya secara nilai tapi juga kenangan yang lebih dari nilai jual barang itu sendiri.
"Ada meja yang kosong?" suara pria yang Kalin familiar.
Dan pas nengok dia liat ke arah tengah, ada sosok yang sangat dia hindari, "Astagaaaa, kenapa tuh orang kesini, sihhhhh?!" gumam Kalin.
Ketika Kalin ngeliat, dia tabrakan pandangan dengan Raksa.
Mata mereka sama-sama membulat, sebenernya kalau Raksa mah cuma acting ya. Dia pura-pura aja tuh kaget ngeliat bocah setan yang selalu bikin riweuh hidupnya.
Kalin buru-buru manggil pelayan dan mau bayar, "Berapa semuanya?!" ucapnya gugup.
"Sebentar ya, Kak!" pelayan itu kemudian pergi.
Sementara Raksa menghampiri si Kalin, "Ck, kenapa dimana-mana ada lo, yaaa? lo nguntit gue, ya?!" tuduh Raksa.
Tapi sekelebat mata Raksa ngeliat orang yang bersama Kalin tadi bergerak turun ke bawah. Dia masuk pas si cowok yang bersama Kalin itu keluar dari resto. Dan bener, itu bocah tengil yang ketemu sama dia. Yang bilang beruntung punya atm berjalan.
'Gue penasaran!' batin Raksa.
"Awas lo, yaaa?!! jangan ngekorin gue!" Raksa seketika pergi, mengikuti jiwa keponya.
Soalnya dengan anehnya tuh bocah setan jual cincin, terus ketemu cowok, lha cowok itu pergi nggak ada 1 jam mereka ketemuan. Kalau dari gelagatnya mereka berdua nih punya hubungan.
Raksa ninggalin Kalin di restoran itu dan pergi ngejar si cowok yang kalau dia nggak salah denger namanya Reno.
Reno jalan aja dengan pedenya ke rumah seseorang yang nelponin dia tadi. Yang jelas bukan Arkan. Karena si Reni dateng ke mall itu ya dengan motornya sendiri yang sebenernya nggak kenapa-napa.
Saking pengen jadi detektif abal-abal, Raksa sampe rela ngejar Reno dan kebetulannya lagi dia naik motor. Jadi, pas banget, gampang selap selipnya.
Sampai di parkiran pun, Reno nggak nyadar kalau dia lagi dikuntit.
'Astaga, kenapa gue kayak stalker gini yak?!' batin Raksa.
Reno mulai nyalain mesin motornya dan gas ngueng ke rumahnya Melody.
'Mau kemana nuh bocah?! belagu banget gayanya!' Raksa dalam hatinya. Dia masih jaga jarak aman di belakang Reno.
Sengaja dia lebihin minjem duit Kalin buat modal deketin Melody. Yang Reno bakal jadiin dia sebagai cadangan.
Soalnya makin kesini, keluatannya Kalin makin kere. Jadi Reno harus puter otak supaya dia bisa dapet inang buat dia nempel biar casingnya kaya wong sugih.
"Emang dewi forturner berpihak pada gue!" gumam Reno yang bentar lagi nyampe di sebuah rumah gede.
Pagernya di tutup rapet, dia nyoba nelpon targetbyang bakal dijadiin gebetan.
"Halo, Mel! gue udah ada di depan!" suara Reno kedengeran jelas di telinga Raksa.
"Nunggu? disini?" Reno kayak kesel gitu.
"Oh, ya udah! gue tunggu," suaranya mendadak mbleret lagi.
Sedangkan Raksa masih ngawasin dari jarak lumayan deket. Dia pura pura mencetin bel, padahal mah tu bel cuma disentuh doang, kagak diteken sama sekali.
Dan beberapa menit kemudian, munculah satu sosok cewek dari dalam sana. Raksa lalu mengarahkan kameranya.
'Siapa tuh?' gumamnya dalam hati.
Dan setelah si cewek itu naik ke atas motor, Reno lalu narik gas dan mereka pergi.
Raksa yang ngeliat itu pun mau ngejar tapi tiba-tiba ada panggilan masuk ke hapenya, "Raksa, kamu dimana? pesenan ibu udah kamu belikan belum?" suara ibu Selvi dari sebrang telepon.
"Pesenan ibuk?"
"Kain celana buat bapaakkk! udah kamu belikan belum?"
"Astagaaaa?!!" Raksa tepok jidat saat dia melupakan tujuan utamanya pergi hari ini.
"Iya, buk! Iyaaaa. Ya udah, Raksa tutup dulu ya, Bu! lagi di jalan, nih! Assalamualaikum!" kata Raksa yang menutup sambungan teleponnya dan menyudahi main jadi detektif gadungan, dia mau ngejar beli kain sebelum toko tutup jam 5 sore nanti.
"Semua ini gara-gara bocah setan itu!" gumam Raksa. Padahal Kalin sama sekali nggak nyuruh dia ngikutin Reno, Raksa sendiri yang kepo dan ngebuntutin sampai di perumahan yang dinilai masuk kawasan elit. Dan nggak sembarangan yang mampu beli, kalau duitnya masih ber-seri.
Meninggalkan kekepoannya, kini Raksa balik ke toko kain yang persis berada di samping toko perhiasan yang sempet dia datengin.
Sedangkan Kalin, nelfon Nova. Nanya dia ada waktu nggak hari ini. Nova yang anaknya mageran dan hobi makan cuma jawab, 'Waktu sih ada. Cuma dia lagi pewe di rumah. Sambil nungguin bakso yang bentar lagi lewat di depan rumahnya,'
Ya udah Nova bilang kayak gitu, Kalin langsung cuss ke rumah Nova, intinya dia lagi butuh temen. Jadi Kalin nyoba buat lupain kesalahan Nova yang masih bungkam soal dia punya channel mukbang sendiri. Kalin mungkin lupa, dengan datang ke rumah Nova dia punya kemungkinan 99,99 persen ketemu sama orang yang dia sebut Om galak.
Dari mall itu Kalin naik ojeg menuju rumah Nova, setelah di depan dia ketuk pintu.
Tok!
Tok!
Tok!
Kalin menunggu dibukakan pintu.
Dan bertepatan dengan itu ada satu sosok pria yang sama-sama baru dateng dan melihatnya dengan alis yang terangkat satu, "Ngapain lo disiniiiiii?" tanya pria yang merupakan kakak dari Nova.
Ceklek!
"Loh, Bang Raksaa? Kalin? kaliaaaan?" Nova ngeliat kedua orang yang ada di depan pintu dengan saling tatap menatap dengan muka yang asem.
"NGAAAAAAKKK!" sahut kedua orang beda jenis itu kompak.
"Nih, kasihin ibukk!" Raksa nyerahin belanjaan kain ke tangan Nova, sedangkan dia pergi ngeloyor ke kamarnya.
"Yuk, yuk masuuuk!" ajak Nova pada Kalin.
Kalin pun hanya menurut, dia masuk mengikuti Nova yang sebelumnya menutup pintu.