Ria seorang gadis berdarah Aceh yang berasal dari keluarga sederhana. Saat duduk di SMP ia menemukan cinta pertamanya.
Di masa SMA Ria membentuk sebuah persahabatan antara dua perempuan dan satu laki-laki. Laki-laki tersebut berasal dari keluarga yang kaya raya, diam-diam laki-laki ini mulai jatuh cinta kepadanya. Bahkan, ketika Ria mendapatkan beasiswa kuliah ke Jakarta ia selalu mengikuti kemana Ria pergi.
BUGH...
Ria terjatuh di kamar kosnya.
Apa yang terjadi dengan Ria?
Siapakah yang akan menjadi belahan jiwanya?
Cinta pertama atau sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Farida Ariani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 Kamu Merayuku
"Assalamu'alaikum". Aku mengucapkan salam sambil mengetuk pintu ruang guru.
"Wa'alaikumussalam, masuk Ria..". Jawab Bu Nisa.
Hanya ada Bu Nisa di ruang tersebut. Ku beranikan diri untuk melangkahkan kaki masuk kedalam ruang guru dimana Pak Ali janjikan untuk Kami temui.
"Ada apa Ria?". Tanya Bu Nisa setelah Aku berdiri tepat di depan mejanya.
"Bu.. Ada Pak Ali?". Tanyaku lembut.
"Pak Ali? Sepertinya Beliau sedang mengajar di kelas". Jawab Bu Nisa kembali.
"Tapi Kami disuruh jumpai Bapak jam 9 pagi di ruang guru Bu". Jelasku kembali sambil menunjuk ke arah luar yang tiba-tiba sudah berdiri Rizki dan Putra.
"Ya sudah ditunggu saja ya, mana tahu sebentar lagi Pak Alinya datang ya..". Jawab Bu Nisa sambil tersenyum.
Ku anggukkan kepalaku dengan senyum di bibirku. Dan Ku langkahkan kedua kakiku menuju pintu ruang guru.
"Sejak kapan kalian disini?". Tanyaku kepada Rizki dan Putra.
"Sedari tadi Ria..". Jawab Rizki nyengir.
Aku hanya diam, sambil duduk di kursi tunggu tepat di depan ruang guru.
Sepuluh menit kemudian Pak Ali datang.
"Assalamu'alaikum.. Ayo masuk". Ucap Pak Ali sambil mempersilahkan Kami bertiga masuk ke dalam ruang guru.
Kamipun masuk bersama ke dalam ruangan.
Tanpa basa-basi Bapak membagikan kepada Kami masing-masing satu buku fotokopi tentang bahan cerdas cermat agama yang diperlombakan nanti.
"Maaf Pak sebelumnya, Kami kelompok yang ikut lomba cerdas cermat agama ya Pak?". Tanyaku masih tidak yakin.
Pak Ali sedikit mengangkat kepalanya dan melihat ke arah mataku.
"Ya ialah Nak, kan Kalian sudah Bapak seleksi kemarin di dalam kelas". Sahut Pak Ali dengan nada sedikit meninggi.
"Pak.. saya tidak PD Pak. Karena saya sendiri perempuan". Bantahku.
"Kenapa tidak PD, Kamu kemarin yang paling banyak bisa menjawab soal dari Saya. Dan Kamu nanti yang duduk ditengah sebagai Jubir alias juru bicara sedangkan Rizki dan Putra duduk di sisi kiri dan kanan Kamu." Jelas Pak Ali beralasan.
"Tapi kan Pak, ini lombanya di Pesantren Pak". Keluh Ku.
"Saya juga guru pesantren disitu Ria, tidak ada masalah ya..". Kata Pak Ali mencoba menenangkan dan mulai meyakinkan Aku.
Akhirnya Aku pun menyerah, dan pasrah ikut lomba ini.
" Lombanya insya Allah pada bulan September, Bapak mau kalian membaca dan mengingat semua jawaban di soal yang ada di foto kopi itu ya". Harap Pak Ali sambil menunjuk ke buku yang Aku pegang.
"IYA PAKKK". Jawab Kami pasrah.
Kami pun satu persatu keluar dari ruang guru menuju ke kelas kembali.
Aku langsung masuk ke kelas tanpa mengucap salam. Aku tidak bersemangat. Tanpa Kusadari, Dayat memperhatikan tingkah laku Ku yang aneh dan sedikit lesu.
Aku langsung duduk disebelah Liani duduk.
"Assalamu'alaikum". Wali kelas Kamipun masuk kelas.
Sekarang pelajaran Biologi. Dengan malas Aku mengambil buku Biologi dan mengerjakan LKS yang telah di perintahkan oleh Bu Wati.
Aku hanya duduk fokus mengerjakan soal-soal di LKS tersebut tanpa menoleh kiri kanan.
Sebelum bel istirahat berbunyi, Bu Wati berkata:
"Siapa kelas Ibu yang sudah pasti ikut pakaian adat? Sesuai dengan janji Ibu, siapa yang bersedia memakai pakaian adat berpasangan akan mendapatkan nilai tambahan". Jelas Bu Wati membuat semua siswa bahagia mendengarnya.
"Ibu harap mulai besok sudah bisa melapor ke Ibu ya...". Sambung Bu Wati.
Dan bel pun berbunyi dua kali, pertanda jam istirahat telah tiba.
Ibu Wati pun keluar dari kelas.
Aku tidak beranjak sedikitpun dari kursiku. Satu persatu temanku sudah keluar kelas pergi ke kantin. Termasuk Liani, Dia tahu Aku ada membawa bekal untuk dimakan di jam istirahatku.
"Tidak ke kantin Ria?". Tanya Dayat mengagetkan Aku.
"Ternyata Dia masih di kursinya. Apa Dia tidak ke kantin ya". Batinku berkata.
"Aku bawa ini..". Jawabku sambil memperlihatkan kotak bekalku.
Tadi pagi Ibu memasak nasi Goreng dengan telur mata sapi. Jadi karena masih ada sisa, Ku masukkan ke dalam kotak bekal dan akan Ku makan nanti di jam istirahat. Pikirku. Jadi uangnya bisa untuk menambah tabunganku.
Sejak kelas tiga, Bu Wati meminta Kami untuk rajin menabung dan tiap hari akan di tagih oleh Bendahara kelas dan diserahkan kepada Bu Wati langsung.
"Apa isinya???". Tanya Dayat penasaran.
Diapun berjalan mendekat ke arahku. Dan melihat isi kotak bekalku.
"Mau???". Tanyaku basa-basi.
"Mau..". Jawabnya spontan.
Lalu dia membuka tangannya dengan maksud Aku menyendok nasi lalu menuang ketangannya.
Ku sendokin nasi dan telur ke tangan Dayat. Dan Dia masukkan ke mulutnya.
"Enak...". Ucapnya tanpa Ku minta.
"Lagi...?". Tanyaku.
"Tidak, Makasih..". Jawabnya.
Rizki dan Arif pun telah kembali dari kantin dan masuk ke dalam kelas.
"Ini pesanan anda Pak Dayat". Ucap Rizki.
Dayat mengambil pesanannya yang telah dipesan tadi. Dia meminta Abangnya untuk dibelikan risol.
Akupun melanjutkan memakan isi bekal yang telah Ku buka tadi.
Setelah habis nasi goreng Ku, Aku keluar kelas untuk mencuci tangan. Ada Liani dan teman-teman lain datang dari kantin. Mereka kembali dengan membawa jajanan masing-masing di tangannya.
Selesai Ku cuci tanganku dengan bersih, Aku tidak kembali kedalam kelas. Karena jam istirahat masih panjang, Aku melangkahkan kakiku menuju ke perpustakaan.
Dayat telah menghabiskan semua risolnya, Dia melihat ke arah dimana tempat Aku duduk , kosong. Melihat ke seluruh isi kelas, kosong. Melihat keluar kelas di teras, kosong. Dayat tidak dapat menemukan Aku.
"Ada lihat Ria, Liani?". Tanya Dayat gugup.
"Bukannya tadi Ria di luar berdiri di depan kelas". Jawab Liani.
Dayat langsung keluar kelas, dan Dia tetap tidak menemukan Aku.
Dia sudah mencoba kesana kesini. Tetap tidak menemukan Aku. Dayat masih khawatir dengan sikapku tadi setelah bertemu dengan Pak Ali. Dan ada hal yang sangat penting menurut Dia yang ingin disampaikan kepadaku.
Aku berjalan santai keluar dari pintu Perpustakaan dan menuju ke kelas.
Letak perpustakaan dan kelas Kami tidak jauh. Hanya beberapa langkah dari pintu kelas, Aku langsung bisa masuk ke perpustakaan. Letaknya percis di sebelah kelas Kami.
Dayat melihat Aku berjalan pelan menuju pintu masuk kelas. Dia pun menggeleng-gelengkan kepalanya seperti tidak percaya kalau Aku ternyata dari perpustakaan.
Dilipatkan kedua tangannya diatas perut dan berkata:
"Dari mana saja Kamu Bu Ria? Selesai makan menghilang begitu saja?". Tanya Dayat di depan pintu.
Aku hanya tersenyum dan sedikit tertawa hingga tampaklah kedua lesung manis di kedua pipiku.
Tanpa merasa bersalah Aku tidak menjawabnya. Aku langsung masuk ke kelas dengan melambaikan tangan kananku ke arah Dayat juga menunjuk perpustakaan pertanda Aku tidak dari manapun hanya dari perpustakaan.
Lalu Aku duduk di kursiku sendiri. Dayat melihat ke arahku dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia melangkahkan kakinya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kemana saja Kamu Ria, ada yang mencarimu dari tadi!". Kata Liani sambil mengangkat kedua alisnya ke arah Dayat.
Mataku dan matanya bertemu.
😁
suka banget sama karya kaka
salam dari *make sure you love me*
karya baru kak..
Tentang Kenangan💙 disini
Salam dari ❤️Sepenggal Kisah di Negeri Jiran❤️
di tunggu feedbacnya.. 😊