CERITA PERTAMA - END
"Aku hanya memainkan bagianku, cinta yang akan menyempurnakannya" - Nara
CERITA KE DUA - END
"Aku tetaplah sama, berdiri di sudut tersembunyi, menunggumu sampai akhir nafasku." - Liana
Ardian Rahardja tidak percaya lagi kepada cinta, setelah gagal menikahi Nara. Desakan orang tua membuatnya terpaksa memilih Liana Devi Saraswati, sahabat Nara sebagai istri untuk menghindari perjodohan yang dibuat oleh orang tuanya.
Ardi yang mengetahui bahwa Liana memiliki perasaan untuknya, memanfaatkan hal itu untuk mengatur istrinya sesuka hati dan memaksa ia bersandiwara seolah pernikahan mereka sangat bahagia.
Apakah waktu akan membuat Ardi menjadi luluh? Ataukah Liana harus menerima kenyataan bahwa laki-laki itu tidak akan pernah mencintainya sampai kapanpun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terancam
“Nara!” Ardi baru saja tiba setelah menempuh perjalanan bisnis dari luar kota. Laki-laki itu langsung menuju ke toko buku miliknya, sesaat setelah ia tiba di bandara.
“Kak Ardi!” balas Nara menyapa Ardi sambil menganggukkan kepalanya, memberi hormat.
“Kau sudah akan pulang?” Ardi bertanya kepada Nara sambil melihat jam di tangannya.
“Iya kak. Saya cukup lelah hari ini. Mari kak! Saya pulang dulu,” Nara berjalan meninggalkan Ardi.
Ardi masih menatap punggung Nara yang semakin menjauh. Tidak lama kemudian, ia menyadari sesuatu. Ardi memperhatikan cara jalan Nara yang sedikit aneh.
“Tunggu Nara! Kamu seperti kesulitan berjalan? Ada apa denganmu?” Ardi mencurigai sesuatu terjadi pada gadis itu. Laki-laki itu berjalan mendekatinya.
“Saya hanya tidak berhati-hati kemarin. Paha saya terbentur sudut meja. Mungkin karena hari ini cukup lelah berdiri seharian, jadi nyerinya muncul lagi. Tidak perlu khawatir kak,” ucap Nara dengan tersenyum untuk meyakinkan Ardi.
“Kalau begitu aku akan mengantarmu,” tutur Ardi kepada Nara.
“T-tidak perlu kak! Saya masih bisa pulang sendiri,” tolak Nara sambil menggelengkan kepala.
“Tidak ada penolakan! Lagi pula aku juga akan langsung pulang. Kita sejalan. Aku akan mengambil beberapa dokumen dulu. Tunggulah sebentar di situ!” Ardi meminta Nara tetap berdiri pada posisinya.
Laki-laki itu bergegas masuk ke dalam ruangan kantornya. Ia langsung menemukan dokumen yang dibutuhkan. Tanpa perlu membuang banyak waktu, Laki-laki itu segera meninggalkan ruangannya.
“Ayo berangkat!” Ardi mengunci pintu kantornya dan berjalan ke arah Nara.
-------------------
“Kakak tidak perlu terlalu baik pada saya. Saya jadi merasa tidak enak dengan teman-teman yang lain,” kata Nara memulai pembicaraan mereka di dalam mobil Ardi.
“Kenapa harus tidak enak? Aku hanya memberimu tumpangan karena kakimu sakit,” kilah Ardi.
“Lain kali tidak perlu kak,” ucap Nara sungguh-sungguh.
“Nara, apakah Rendra memperlakukanmu dengan baik?” Ardi tiba-tiba bertanya tentang hubungannya dengan Rendra.
“I-iya kak, mengapa bertanya seperti itu?” Nara merasa aneh dengan pertanyaan Ardi.
“Kakimu sakit bukan karena dia kasar padamu kan?” Ardi semakin menajamkan pertanyaannya.
“T-tidak kak. Kak Rendra tidak pernah melakukan kekerasan fisik pada saya,” jawab Nara dengan sedikit gugup karena pertanyaan Ardi terlalu to the point.
“Jika dia melakukan sesuatu yang melebihi batas, berjanjilah kau akan menceritakannya padaku!” Ardi menatap sejenak mata Nara dengan tajam, kemudian kembali memfokuskan pandangannya ke jalan.
Nara tidak menjawab. Ia merasa tidak nyaman dengan sikap Ardi yang menurutnya agak berlebihan. Gadis itu mulai memikirkan sesuatu untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
“Kak, bolehkah saya bertanya?” Nara melihat ke arah Ardi.
“Tanyakan apa yang ingin kamu tahu!” Ardi mengijinkan gadis itu bertanya.
“Sebenarnya apa posisi kakak di toko buku itu? Kakak pasti bukan karyawan kan?” Nara mencoba menanyakan jabatan Ardi yang sebenarnya.
“Aku pemiliknya,” jawab Ardi dengan jujur.
“Lalu kenapa kakak ikut mengenakan seragam seperti kami saat di toko? Memang seragam kakak lebih keren, tetapi tetap saja aneh buat saya. Kakak tidak bersikap seperti pemilik modal pada umumnya,” ucap Nara berterus terang.
“Aku memang tidak mau sama dengan orang pada umumnya Nara,” jawab Ardi sambil mengacak-acak rambut Nara.
Nara terkejut melihat perlakuan Ardi. Gadis itu tidak berani berbicara lagi.
“Kita sudah sampai,” kata Ardi sambil meminggirkan mobilnya.
“Terima kasih kak,” balas Nara singkat sambil membuka pintu dan hendak keluar dari mobil Ardi.
“Nara, tunggu!” Ardi memanggil Nara kembali.
“Ada apa kak?” Nara membalikkan badannya dan melihat Ardi.
“Berhati-hatilah! Jika ada apa-apa,beri tahu aku!” Ardi menatap Nara dengan sungguh-sungguh.
“Baik kak. Terima kasih,” Nara melanjutkan lagi langkahnya dan meninggalkan Ardi yang masih belum beranjak dari tempatnya.
“Aku tahu perasaan ini salah. Namun, jika Rendra tidak menginginkanmu, maka aku akan mengambilmu darinya,” gumam Ardi kepada dirinya sendiri sambil melihat sosok Nara yang perlahan menghilang dari pandangan matanya.
------------------
Nara sudah berada di dalam apartemen Rendra. Gadis itu langsung membersihkan diri dan bermaksud untuk berbaring sebentar karena kelelahan. Rasa nyeri di bagian pahanya membuat Nara mudah letih, ditambah lagi ia tidak pernah beristirahat dengan baik karena tidak memiliki tempat tidur di dalam kamarnya.
“Auww... Ssshhh….. Sabar Nara, dua minggu lagi, kamu bisa membeli tempat tidurmu!” Gadis itu menyemangati dirinya sendiri sambil mengoleskan minyak pada pahanya yang memar dan terasa sakit itu.
Ting Tong!! Ting Tong!!
“Siapa yang datang ya?” tanya Nara pada dirinya sendiri.
Ting Tong!! Ting Tong!!
“Tunggu sebentar!” Gadis itu berjalan perlahan-lahan ke arah pintu dan membukanya.
“Halo, Nareswari!” Seorang laki-laki berdiri di hadapannya.
“Anda, teman tuan Rendra kan?” Nara mengerutkan keningnya. Gadis itu mencoba mengingat-ingat kapan dan dimana ia pernah melihat laki-laki itu.
“Aku Mark. Bolehkah aku masuk?” Mark bertanya dengan sopan kepada Nara.
“Mari masuk tuan! Tuan Rendra belum pulang. Duduklah di sini sambil menunggunya!” Nara menunjuk sebuah sofa dan mempersilakan Mark duduk di sana.
"Siapa yang bilang aku mencari Rendra?" Mark bergumam di dalam hatinya.
“Tuan mau minum apa? Biar saya buatkan,” kata Nara menawarkan minuman kepada Mark.
“Orange juice, apakah ada?” Mark berucap sambil tersenyum kepada Nara.
Gadis itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan berkata, “Tunggulah sebentar!”
Nara meninggalkan Mark dan berjalan ke arah dapur. Laki-laki itu memperhatikan Nara yang sibuk membuat juice. Mark segera bangkit dari tempatnya dan melangkah menuju ke sebuah nakas. Diam-diam Mark meletakkan sesuatu di atas nakas itu. Setelah selesai, laki-laki itu kembali duduk ke tempatnya semula.
Tidak butuh waktu yang lama, Nara sudah selesai membuat juice-nya. Ia berjalan mendekati Mark dan meletakkan segelas orange juice di atas meja.
“Tuan, saya hendak ke kamar sebentar. Jika anda membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk memanggil saya,” ucap Nara dengan sopan.
“Tidak boleh, kemarilah!” Mark menarik tangan Nara dengan kuat hingga gadis itu duduk di pangkuannya. Mark langsung mendekap Nara.
“Tuan! Apa yang anda lakukan?” Nara tidak suka dengan sikap Mark yang langsung merengkuhnya tanpa ijin. Nara merasakan bahwa sekarang dirinya sedang terancam.
“Kau diamlah! Tidak perlu berpura-pura menjadi gadis lugu! Aku akan memberimu uang setelah kau berhasil memuaskanku.” Mark mulai menciumi Nara.
“Tuan, jangan begini! T-tolong!!! Seseorang tolong saya!!!! Tuan Rendra tolong saya,” Nara berteriak dan menangis bersamaan. Ia terus meminta tolong sambil berusaha melepaskan diri dari Mark.
“Berteriaklah sesukamu! Tidak ada orang yang akan mendengarnya. Dia juga tidak mungkin mendengarnya,” tutur Mark, sambil terus menyentuh beberapa bagian tubuh Nara.
“Tuan! Lepaskan Saya! Saya sudah bersuami! Saya istri dari teman anda, sadarlah!” Nara meronta-ronta mencoba melepaskan diri. Ia semakin merasa takut saat Mark menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif.
“Suami yang mana? Dia bahkan mengatakan padaku bahwa ia tidak peduli jika aku menidurimu.” Mark masih mencoba untuk menghentikan pergerakan Nara.
Nara merasakan jantungnya seperti tertikam ribuan pisau. Gadis itu tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Nara meneteskan air matanya dan sempat terpaku di dalam pelukan Mark. Nara tidak percaya bahwa ancaman Rendra ternyata nyata. Rendra benar-benar ingin melihat Nara hancur.
Pikiran gadis itu tiba-tiba menjadi kosong. Nara tidak menyangka bahwa Rendra akan memilih jalan ini, menyerahkan dirinya untuk menjadi pemuas nafsu temannya. Gadis itu segera menyadari bahwa dia tidak memiliki siapa-siapa sekarang. Dia harus menolong dirinya sendiri.
--------------
Pyarr!!!
“Ada apa ini? Kenapa perasaanku menjadi tidak enak begini?” Rendra melihat pecahan kaca dari frame foto yang terjatuh dari mejanya.
“Sayang! Kamu tidak apa-apa?” Sari mendekati Rendra dan memastikan laki-laki itu tidak terluka.
“Tidak apa-apa. Bagaimana kalau kita pulang sekarang? Aku merasa lelah,” ucap Rendra sambil melonggarkan dasinya.
“Bagaimana jika kita jalan-jalan dulu?” Sari merengek sambil bergelayut manja pada lengan Rendra.
“Lain kali saja. Aku sungguh ingin pulang dan beristirahat,” desak Rendra kepada Sari.
“Baiklah! Tapi kita makan dulu ya,” pinta Sari seakan-akan ingin mengulur waktu sehingga bisa terus bersama laki-laki itu.
---------------
Nara terus meronta. Ia berusaha melepaskan diri. Nara berusaha memukul Mark berkali-kali, mencakar wajah laki-laki itu, dan menendang-nendang tidak beraturan. Nara masih berusaha menyelamatkan dirinya dari laki-laki itu.
Tanpa sengaja, mata gadis itu memandang sebuah vas bunga di dekatnya. Sebelah tangan Nara mencoba meraih vas bunga itu. Begitu ia mendapatkannya, ia langsung mengarahkan vas bunga itu ke kepala Mark. Sayangnya, Mark sudah lebih dulu membaca pergerakan Nara. Laki-laki itu menangkisnya. Vas bunga itu pun jatuh ke lantai.
Pyaaarr!!!!
Mark tidak berhenti. Ia terus melecehkan Nara. Nara belum menyerah. Gadis itu mencakar pipi Mark hingga berdarah. Laki-laki itu semakin geram dan mendorong tubuh Nara hingga jatuh terjerembab ke lantai.
“Kau berani melawanku, hah!” Mark membentak Nara dan mengarahkan tangannya untuk memukul gadis itu sekuat tenaga.
Sebuah bunyi pukulan terdengar dalam ruangan. Mark memukul Nara hingga bibir gadis itu menjadi pecah dan mengeluarkan darah.
Mark mendekati Nara lagi. Dengan sisa-sisa kekuatannya, Nara mencoba merangkak menjauhi Mark.
“Saya mohon, jangan seperti ini tuan! Saya mohon padamu!” Nara berbicara dengan bibir yang bergetar karena takut dan menahan sakit sambil terus merangkak.
Mark tidak peduli dengan rengekan Nara. Ia menarik sebelah kaki Nara dan menyeret gadis itu mendekat kembali ke sofa.
-----------------
Happy reading! Jangan lupa feedback-nya!