"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.
Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.
Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.
*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*
Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.
Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Eko yang Kalah
Masa evaluasi magang Sentana berakhir pada hari Jumat.
Di kalender kantor, itu hanya rapat internal biasa. Tetapi di ruang kerja, udara terasa seperti menunggu vonis. Semua orang tahu hanya satu orang dari program magang yang akan diberi kontrak tetap sebagai calon advokat kantor. Yang lain dipersilakan mencari tempat magang atau kerja hukum lain.
Eko Saputra sudah merayakannya sebelum pengumuman.
Ia datang memakai dasi baru, membawa mug bertuliskan Partner in Progress, dan beberapa kali sengaja berdiri di depan ruangan kaca kecil dekat pantry. Ruangan itu baru dicat, meja kayunya baru dipasang, kursinya masih berbau kulit sintetis.
"Lumayan," kata Eko keras-keras. "Kalau nanti jadi ruang saya, tanaman di pojok harus diganti. Terlalu kampungan."
Surya duduk di meja kecilnya, membaca putusan lama.
Eko berjalan mendekat. "Surya, kamu tidak tegang?"
"Untuk apa?"
"Hari ini nasibmu diputuskan."
"Nasib saya sudah beberapa kali diputuskan orang lain. Biasanya hasilnya tidak akurat."
Staf di meja belakang menunduk menahan tawa.
Wajah Eko mengeras. "Kamu pikir kasus Ayu membuatmu hebat? Itu kerja Bu Diana. Kamu cuma tukang catat."
"Dulu saya tukang cuci piring. Naik jabatan sedikit."
Eko mendekat, suaranya direndahkan. "Handoko sudah bicara dengan Pak Ferdy. Nama saya yang masuk. Kamu terlalu banyak masalah. Mantan istri, polisi, kasus pidana, perempuan-perempuan kaya yang tiba-tiba muncul. Firma butuh orang stabil, bukan bahan gosip."
Nama Handoko membuat Surya mengangkat mata.
Handoko Wiratama adalah senior non-litigation Sentana yang jarang bicara. Namun, banyak tanda tangan lewat mejanya. Ia bukan partner utama, punya jaringan klien lama dan hubungan ke beberapa investor firma.
"Selamat kalau benar," kata Surya.
"Kamu bisa bantu bereskan ruang saya nanti."
Surya tersenyum tipis. "Kalau ruang itu benar jadi milikmu."
Rapat dimulai pukul sepuluh.
Ferdy duduk di kepala meja. Handoko di sampingnya dengan wajah tenang. Diana datang terakhir, membawa map tipis, bukan map tebal. Itu membuat Eko semakin percaya diri.
"Setelah mempertimbangkan kinerja, kebutuhan firma, dan rekomendasi internal," kata Ferdy, "kami akan memberikan kontrak lanjutan kepada..."
Handoko menyentuh pulpen.
Eko sudah hampir tersenyum.
"Eko Saputra."
Ruang rapat bergerak pelan seperti orang menarik napas.
Eko berdiri. "Terima kasih, Pak Ferdy. Saya akan..."
"Duduk," kata Diana.
Suaranya tidak tinggi, memotong udara.
Ferdy menatapnya. "Diana?"
Diana meletakkan map tipis di meja. "Saya menolak keputusan itu."
Handoko tersenyum kecil. "Bu Diana, prosedur evaluasi sudah selesai. Rekomendasi mayoritas..."
"Rekomendasi mayoritas yang mengabaikan kerja aktual bukan evaluasi. Itu arisan."
Eko memucat. "Bu, maksudnya apa?"
Diana membuka map. "Tiga bulan terakhir, Surya menyusun ringkasan sengketa alat kesehatan yang kita pakai untuk negosiasi. Ia membantu struktur mediasi Santi. Ia menyusun draf solusi Ayu Pramesti yang menyelamatkan klien hiburan bernilai besar. Eko, kontribusimu apa?"
"Saya menangani administrasi..."
"Yang terlambat dua kali."
"Saya juga membuat draft..."
"Yang dikoreksi total oleh Rina."
Staf bernama Rina langsung menunduk.
Handoko menyela. "Diana, kita juga harus mempertimbangkan reputasi. Surya terlalu berisiko. Kedekatannya dengan penyidik Dittipideksus..."
"Justru karena itu dia paling paham batas bukti dan prosedur." Diana menatap Ferdy. "Kalau firma ini memilih kenyamanan di atas kemampuan, saya tidak punya alasan tetap memimpin perkara strategis di sini."
Ruang rapat benar-benar hening.
Ferdy melepas kacamata.
"Kamu mengancam keluar?"
"Saya menyampaikan konsekuensi."
Handoko menahan marah. "Firma tidak bisa disandera satu orang."
"Benar," kata Diana. "Karena itu jangan sandera firma dengan calon yang lemah hanya karena dia orangmu."
Wajah Handoko berubah.
Ferdy menatap Surya. "Kamu ingin bicara?"
Surya berdiri. "Saya belum berhak menuntut apa pun. Saya belum advokat yang disumpah, masih calon advokat yang harus bekerja di bawah supervisi. Tapi kalau diberi tempat, saya akan membayar dengan kerja. Kalau tidak, saya tetap berterima kasih karena Sentana memberi saya jalan pertama."
Tidak ada air mata. Tidak ada pidato panjang.
Justru itu membuat kalimatnya lebih berat.
Ferdy diam cukup lama, lalu mengangguk.
"Keputusan saya revisi. Surya Prasetyo diberi kontrak lanjutan sebagai calon advokat tetap di Sentana, di bawah supervisi Diana Santoso. Eko Saputra tidak diperpanjang."
Mug Partner in Progress di depan Eko terlihat sangat bodoh.
Eko berdiri dengan wajah merah. "Pak Ferdy, ini tidak adil!"
Diana menatapnya. "Yang tidak adil adalah kamu mendapat kesempatan lebih lama daripada kualitasmu."
Siang itu, barang Eko keluar dari laci.
Ruang kaca kecil yang ia pamerkan sejak pagi diberikan kepada Surya. Tidak besar. Hanya cukup untuk meja, dua kursi tamu, dan rak berkas. Tetapi bagi orang yang dulu tidur di rumah mertua seperti penghuni pinjaman, ruangan kecil dengan namanya di pintu terasa seperti tanah pertama yang benar-benar ia injak.
Di pintu itu, staf administrasi menempelkan papan nama sementara.
Surya Prasetyo
Calon Advokat
Dua kata terakhir membuat Surya berhenti lebih lama daripada yang ia kira. Ia belum disumpah. Ia belum boleh berdiri sendiri di depan klien dan menjanjikan apa pun. Tetapi untuk pertama kalinya, statusnya tidak ditulis oleh keluarga Kusuma, tidak ditulis oleh Nadia, dan tidak ditulis oleh jebakan Mega Awan.
Ditulis oleh pekerjaannya sendiri.
Surya memasang map Ayu di rak.
Diana berdiri di ambang pintu. "Jangan terlalu menikmati ruangan."
"Baru lima menit, Bu."
"Lima menit cukup untuk membuat orang lupa diri."
Surya menoleh. "Saya masih tahu batas."
"Bagus. Kamu belum advokat penuh. Setiap surat keluar lewat saya atau partner. Setiap klien yang bicara denganmu harus tahu posisimu. Kalau kamu memakai ruangan ini untuk terlihat lebih besar dari statusmu, aku sendiri yang akan mengusirmu."
Kalimat itu keras.
Tetapi Surya mendengar perlindungan di baliknya.
"Saya paham."
Diana melirik papan nama. "Bekerja sampai papan itu berubah."
Setelah ia pergi, Surya menyentuh ujung meja. Kayunya murah, permukaannya belum rata sempurna. Namun, baginya meja itu lebih mahal daripada semua furnitur rumah Kusuma.
Eko lewat di depan pintu, membawa kardus. "Nikmati saja. Kamu pikir Diana akan selalu melindungimu?"
"Tidak," kata Surya. "Karena itu saya bekerja."
Eko mendengus. "Tiara Agung menerima orang yang tahu menghargai bakat."
Surya menatapnya. "Bambang Suryadi?"
Eko berhenti.
Nama itu belum ia sebut.
Surya tersenyum. "Hati-hati. Firma yang terlalu cepat menerima orang sakit hati biasanya sedang menyiapkan orang itu sebagai alat."
Eko pergi tanpa menjawab.
Dari ujung koridor, Handoko melihat semuanya. Wajahnya tetap tenang. Namun, jari-jarinya meremas berkas sampai ujung kertas melengkung.
Malamnya, Surya pulang ke apartemen Tebet saat hujan mulai turun. Ia baru meletakkan tas ketika ponselnya bergetar.
Meilu.
"Aku menemukan sesuatu yang aneh," katanya tanpa pembukaan.
Surya berdiri lagi.
"Tentang apa?"
"Sentana dan Mega Awan."
Nama Mega Awan membuat seluruh lelahnya hilang.
Meilu melanjutkan, suaranya rendah.
"Mereka punya investor yang sama."