Siapkan tissue karena cerita mengandung bawang.
Apa jadinya jika sebuah pernikahan tanpa cinta harus terjadi atas unsur perjodohan?
Kiandra Anastasia seorang gadis yatim piatu berusia 17 tahun yang hidup bersama dua pembantu setianya yang menganggapnya seperti anak sendiri semenjak kepergian kedua orang tuanya untuk selama-lamanya karena sebuah kecelakaan, ternyata sejak kecil sudah dijodohkan oleh Almarhum kedua orangtuanya itu dengan seorang CEO perusahaan besar yang merupakan putra dari sahabat Almarhum Papanya, Aldo Wiryawan Prayoga nama sang CEO yang terkenal dengan sikapnya yang dingin dan tempramen.
Bagaimana kehidupan pernikahan antara Kiandra bersama Aldo? Akankah ada benih-benih cinta diantara mereka nantinya? Yuk ikutin cerita ini dari awal sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Disebuah gedung pencakar langit, disudut ruang kerja yang begitu luas, ada seorang anak manusia yang tengah dirundung kesedihan. Ia tengah meratapi nasib dirinya sendiri. Nasib yang menakdirkan dirinya harus menikah dengan seorang gadis yang selama ini ia hindari.
"Kenapa Mommy dan Daddy selalu memaksakan kehendak mereka pada ku? Sudah pernah aku katakan sebelumnya, jika aku tak menyukai Kia, dia bukan tipe gadis idaman ku. Apa kelebihan dia, sehingga Mommy dan Daddy begitu menginginkan dia menjadi menantu mereka. Jika hanya karena Tante dan Om Andara itu sangat tidak realistis." Gumam Aldo yang tengah menatap pemandangan kota Jakarta dari balik jendela ruang kerjanya, dengan tatapan datar dan dingin.
Sikap Aldo dan Arka sangat berbanding jauh. Arka adalah sosok pria hangat yang selalu memancarkan senyum ramah dibalik wajah tampannya, tatapannya begitu teduh dan memabukkan kaum wanita yang memandangi wajahnya, Sedang Aldo adalah sosok pria dingin yang angkuh dan sombong, hampir tak pernah ada seulas senyum menghiasi wajah tampannya.
Diruang kerjanya, Aldo masih saja bermain dengan pikirannya, pikirannya yang masih setia menerawang jauh ke kejadian yang pernah lalu, yang berdampak pada dirinya sampai sekarang ini.
"Seharusnya Mommy dan Daddy tahu dan menyadari anak itu pun juga tak mau menikah dengan ku, buktinya dia sampai berani mengakhiri hidupnya sendiri, di hari pernikahan kami, ini benar-benar memalukan, anak itu sudah menjatuhkan harga diriku sebagai seorang laki-laki. Aku tak terima dengan cara pandang orang-orang ketika melihatku karena ulah gadis itu, aku makin membencinya, awas saja jika nanti dia menjadi istri ku, aku akan membalas semua perbuatannya," Aldo mengepalkan kedua tangannya, ia terlihat begitu kesal, saat tak sengaja ia mengingatkan selentingan omongan para sanak saudara yang tak enak didengar tentang dirinya.
"Gadis sialan, seharusnya kemarin kau menyusul kedua orang tua mu saja, kenapa kau harus seperti kucing, yang memiliki banyak nyawa, dan sekarang aku menjadi seperti orang bodoh yang menunggu mu sadar dari koma, hanya untuk menikahi mu," umpat Aldo, yang sedang menabung rasa kebencian di dalam dirinya yang sudah menggunung pada Kia.
Sedang di sebuah apartemen mewah di pusat kota, Kia dan Arka tengah melewati hari-hari mereka dengan perasaan bahagia.
"Mau makan siang apa my princess?" Tanya Arka yang sedang menggunakan apron, untuk melindungi pakaian yang ia kenakan dari noda masakan.
Seperti biasa ketika Kia main ke apartemennya, Arka akan memasakkan makanan untuk Kia dan juga dirinya. Mereka akan menikmati makan siang di atas balkon kamar Arka. Balkon kamar Arka menjadi tempat favorit Kia, selain pemandangannya yang indah, Kia juga sangat menyukai dekorasi balkon Arka yang di penuhi dengan tanaman bunga dari berbagai jenis tanaman bunga yang ada.
"Kayanya lidah Kia lagi pengen Ayam geprek samba hijau deh Mas, boleh gak kalau Mas masakin Kia itu?" Kia berkata sembari bergelayut manja di lengan Arka dengan kepala yang sedikit mendongak ke atas, seakan mengharapkan Arka memberikan kecupan padanya
Arka melirik penuh cinta, gadisnya yang sedang bergelayut manja di lengannya. Ia sangat tahu bahasa tubuh Kia yang seakan meminta dirinya untuk mengecup bibir merah jambu yang sekarang sudah menjadi candu baginya.
"Duduklah disana dengan manis seperti biasanya, ok! Sekarang beri aku ruang untuk memasak menu pesanan Nona Kia yang tercinta dan tersayang humm." Arka berkata sambil tersenyum, kemudian mendaratkan bibirnya di bibir Kia dengan cepat, ia mengecup sekilas bibir Kia.
Kia tersenyum senang setelah mendapatkan keinginannya, Arka menuntun Kia berjalan menuju sofa televisi yang letaknya tak jauh dari dapur,hanya beberapa langkah, bahkan Arka bisa memasak sambil menonton televisi dari dapur.
"Duduklah disini sayang! sambil menunggu aku memasak, kamu bisa mengerjakan pekerjaan rumah mu, nanti jika kita sudah selesai makan siang, aku akan menyempatkan waktu untuk memeriksa pekerjaan rumah mu, ok?" Ucap Arka yang di jawab anggukkan kepala oleh Kia.
Arka kembali ke dapur untuk memasak, sedang Kia mulai mengeluarkan pekerjaan rumahnya, beberapa buku tulis terlihat keluar dari tas sekolah Kia, ia mengerjakan pekerjaan rumahnya seorang diri tanpa bantuan Arka. Karena tak satupun soal mata pelajaran yang ia kerjakan, ia tanyakan pada Arka. Ia seperti tak mengalami kendala ataupun kesulitan saat mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan gurunya saat disekolah tadi.
Beberapa kali Arka melirik gadisnya itu yang terlintas begitu konsentrasi mengerjakan tugas pekerjaan rumahnya, karena tak ada sedikit pun suara yang keluar dari gadisnya yang kadang begitu cerewet jika sedang ada maunya.
"Dia ngerjain PR atau tidur ya? Kok sepi ya?" Tanya Arka yang menyempatkan diri melihat Kia yang tengah menulis jawaban di buku tulisnya.
"Oh, masih ngerjain, kirain tidur," batin Arka yang melihat pulpen yang berada di tangan Kia masih bergerak, tanda ia tengah menulis.
Dua puluh menit pun berlalu, pekerjaan rumah Kia sudah selesai, tapi makanan yang di masak Arka belum sepenuhnya matang, Kia yang mengatuk akhirnya tertidur pulas di atas sofa, ia membaringkan tubuh mungilnya disana.
"Kasian, kelamaan nunggu sampai ketiduran." Ucap Arka yang tengah berjongkok, memandangi wajah Kia yang terlihat damai dalam tidurnya.
Arka membelai lembut rambut Kia dari atas hingga kebawah. Ia mengecup mesra kening Kia dengan waktu yang cukup lama.
"Aku sangat menyayangimu Kia, aku tak ingin jauh darimu. Semoga Tuhan mentakdirkan kita untuk bersatu dan selalu bersama, hingga azal yang memisahkan kita," ucap Arka pada Kia yang tengah tertidur.
Arka terus memandangi wajah Kia yang tertidur, matanya begitu fokus melihat bibir merah jambu yang terus menggodanya.
"Bibirmu ini sudah menjadi candu bagiku, Kia. Biarkan hanya aku saja yang memilikinya. Aku tak akan rela, jika bibir ini disentuh apalagi dimiliki orang lain, termasuk calon suami mu, sekuat tenaga aku akan melepaskan mu dari perjodohan ini," ucap Arka yang kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Kia yang tengah tertidur begitu pulas. Arka mengikis jarak diantara mereka. kemudian dengan tanpa ragu Arka mendaratkan bibirnya, ia menghujani Kia dengan kecupan lembut yang berakhir dengan lu.ma.tan, yang akhirnya membangunkan Kia dari tidur siangnya.
"Mmmm....ahhh," decap mulut Kia, yang tengah merasa pabrik susu miliknya tengah di remas oleh Arka dari luar bajunya.
Kia mendorong sekuat tenaga tubuh Arka, Arka yang sadar Kia telah terbangun karena ulahnya melepaskan tautan bibirnya dan memundurkan tubuhnya, mengambil jarak dari Kia.
"Maaf sayang, Mas khilaf," ucap Arka yang seolah menyesal atas perbuatannya.
"Nakal ya, nyerang pas orangnya lagi tidur! Kalau nyerang orang tuh, enaknya pas orangnya lagi gak tidur, biar saling balas membalas, emang enak ya main solo terus?" Balas Kia yang sedang berusaha bangun dari posisinya, ia duduk bersandar dengan sandaran sofa. Nyawanya masih belum terkumpul sepenuhnya, ia bangun karena terkejut mendapati serangan dari Arka.