menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Sekali Pandang, Seribu Jurus.
Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur pesisir Parangtritis, memancarkan semburat merah di langit selatan. Erlang dan Sekar Arum yang baru saja keluar dari pondok kepala desa setelah menginap semalam, mendadak dikejutkan oleh suara terompet kerang yang ditiup bertalu-talu dari arah garis pantai. Suasana desa nelayan yang baru mau memulai aktivitas pagi seketika kembali dicekam kepanikan yang luar biasa.
"Gusti... suara apa lagi itu, Erlang?" tanya Sekar Arum, alisnya bertaut rapat sembari tangannya secara refleks merapikan lipatan jubahnya yang kini sudah rapi kembali.
Erlang menghentikan langkahnya, menajamkan pandangan matanya ke arah hamparan pasir basah di dekat deburan ombak. "Waduh, Nimas Sekar. Sepertinya rombongan bajak laut kemarin kembali lagi. Tapi kali ini mereka membawa orang yang berbeda. Lihat itu, badannya besar sekali mirip kerbau jantan."
Dari balik kabut pantai, muncul puluhan anak buah bajak laut Pantai Selatan yang kemarin sempat lari tunggang langgang. Namun, di depan mereka kini berjalan seorang pria paruh baya bertubuh raksasa, berkulit legam penuh sisik bekas luka, dan menggotong sebilah gada besi hitam berduri yang ukurannya sangat mengerikan. Langkah kakinya begitu berat hingga membuat permukaan pasir pantai yang basah tampak ambles dalam setiap pijakannya.
"Di mana bocah ingusan yang kemarin berani menghajar anak buahku?!" raung pria raksasa itu, suaranya menggelegar mengalahkan gemuruh ombak laut selatan. "Aku, Ki Gede Sagara, pemimpin tertinggi Bajak Laut Pantai Selatan, tidak akan membiarkan nama kelompokku diinjak-injakan oleh anak kemarin sore!"
Erlang melangkah maju dengan sangat santai, menggaruk lehernya yang agak gatal terkena angin laut malam. "Saya di sini, Paman. Waduh, pagi-pagi begini sudah teriak-teriak begitu apa tidak takut suaranya habis toh? Lagipula, kemarin itu anak buah Paman duluan yang mau merampok warga desa."
Ki Gede Sagara menatap Erlang dengan mata mendelik merah penuh amarah. "Bocah edan! Jangan banyak mulut! Hadapi gada besiku ini!"
Tanpa basa basi lagi, Ki Gede Sagara langsung melompat maju. Tubuhnya yang raksasa melesat dengan kecepatan yang tidak sebanding dengan ukurannya. Ia memutar gada besi hitamnya di udara, menciptakan suara angin menderu yang sangat pekat dan berat.
Wusss! Wusss!
"Erlang, awas! Itu jurus Gada Sagara! Aliran tenaganya sangat berat dan bisa menghancurkan karang dalam sekali hantam!" teriah Sekar Arum dari tepi pantai, memperingatkan dengan wajah yang mendadak cemas.
Erlang tidak mundur, ia justru berdiri tegak dengan sepasang mata jernihnya yang melebar. Energi tak terbatas di dalam dadanya bergetar hebat, membuat penglihatan Erlang mendadak bekerja dalam mode yang sangat aneh. Di mata Erlang, gerakan memutar gada milik Ki Gede Sagara yang sangat cepat itu perlahan-lahan melambat seperti aliran air di parit sawah. Erlang bisa melihat dengan sangat detail bagaimana jalur peredaran darah Ki Gede, dari mana tenaga dalam pria itu bermula di pusar, bagaimana energinya mengalir ke pundak, hingga cara otot lengan raksasa itu mengayunkan gada besinya membentuk pola lingkaran yang rumit.
“Ooh... jadi begitu caranya memanfaatkan berat tubuh untuk melipatgandakan daya hantam senjata,” batin Erlang menganalisis dengan sangat santai dan logis. “Garis energinya berputar dari tumit kaki kiri, naik ke punggung, lalu meledak di ujung gada. Ini... ini jurus yang sangat menarik.”
"Mati kau, Bocah Gendeng! Gada Sagara, Gelombang Penghancur Karang!" teriak Ki Gede Sagara sembari menghantamkan gada besinya secara vertikal dari atas ke arah kepala Erlang.
Brakkk!
Deburan pasir pantai beterbangan tinggi ke udara saat gada besi itu menghantam tanah. Namun, tubuh Erlang sudah tidak ada di sana. Dengan menggunakan gerak dasar Langkah Bambu Gurun yang sangat mulus, Erlang sudah bergeser tiga tindak ke arah kanan Ki Gede Sagara.
"Gebrakan pertama, Paman," ujar Erlang santai, suaranya terdengar tepat di samping telinga Ki Gede Sagara.
Sebelum Ki Gede sempat menarik kembali senjatanya, Erlang melakukan sesuatu yang membuat semua orang yang ada di pantai itu terbelalak tidak percaya. Erlang tidak menggunakan teknik Tapak Angin Sepoi miliknya, melainkan ia menekuk lututnya rendah-rendah, memiringkan pundak kirinya, lalu memutar lengan kanannya di udara dengan pola lingkaran batin yang... persis seratus persen dengan gerakan yang baru saja dipamerkan oleh Ki Gede Sagara beberapa detik lalu!
Wusss!
"Lho... lho... kok gerakanmu?!" Ki Gede Sagara membelalakkan matanya sampai hampir keluar, merasakan ada tekanan angin yang sangat akrab namun jauh lebih pekat dan murni mengalir dari arah lengan Erlang.
"Ini tiruan jurusmu, Paman. Gada Sagara, Gelombang Penghancur Karang, tapi versi tanpa senjata," kata Erlang santai sembari melayangkan hantaman siku kanannya yang telah dilapisi inti hawa murni tak terbatas, tepat mengarah ke rusuk kiri Ki Gede Sagara.
Bummm!
Gebrakan kedua terjadi begitu cepat. Benturan itu menghasilkan gelombang kejut udara yang cukup kuat hingga membuat pasir di sekitar mereka berhamburan. Tubuh raksasa Ki Gede Sagara terhuyung-huyung ke kanan sejauh lima langkah, wajah legamnya seketika berubah menjadi pucat pasi karena separuh organ dalamnya mendadak bergetar hebat akibat hantaman energinya sendiri yang dibalikkan oleh Erlang.
"K-kau... bagaimana bisa kau menguasai jurus rahasia keluargaku?!" gagap Ki Gede Sagara, napasnya langsung terengah-engah menahan linu yang luar biasa di rusuknya. "Aku butuh waktu dua puluh tahun untuk menyempurnakan putaran energi itu!"
Erlang tersenyum polos, mengayunkan kedua tangannya dengan gemulai untuk menetralkan sisa hawa hangat di jarinya. "Ah, masa sampai dua puluh tahun toh, Paman? Caranya kan sederhana sekali, tinggal putar aliran darah dari tumit kiri ke punggung lalu diledakkan di ujung tangan. Sini, biar saya tunjukkan gebrakan ketiganya."
Erlang melesat maju lagi. Kali ini, ia mengombinasikan putaran energi Gada Sagara dengan kecepatan Langkah Bambu Gurun. Hanya dalam satu kedipan mata, Erlang sudah berada di depan dada Ki Gede Sagara. Ia memutar telapak tangannya membentuk pola pusaran ombak, lalu menekankannya secara perlahan ke hulu hati sang bos bajak laut.
Brak!
Gebrakan ketiga menyudahi segalanya. Tanpa perlu ada suara ledakan yang mengerikan, tubuh raksasa Ki Gede Sagara mendadak kaku, gada besi hitam di tangannya jatuh berdentang di atas pasir, dan sedetik kemudian tubuh seberat kerbau jantan itu ambruk telentang pingsan dengan mata mendelik ke atas, kalah telak hanya dalam tiga gebrakan singkat menggunakan jurus andalannya sendiri.
"B-bos kalah! Bos Gede tumbang!" teriak anak buah bajak laut ketakutan. Tanpa menunggu perintah dua kali, mereka langsung memungut tubuh bos mereka yang pingsan lalu berlari terbirit-birit kembali ke perahu mereka, melarikan diri menjauh dari pesisir Parangtritis seolah-olah tempat itu dikutuk.
Di tepi pantai, Sekar Arum berdiri mematung seperti patung lilin. Sepasang mata bulatnya yang jernih melebar sempurna, dan mulutnya sedikit terbuka karena syok yang amat sangat atas apa yang baru saja disaksikannya dari jarak dekat.
Sebagai anak bangsawan tinggi yang sejak kecil dididik oleh guru-guru silat terbaik kerajaan, Sekar tahu betul hukum alam dunia persilatan, sebuah jurus tingkat tinggi membutuhkan waktu bertahun-tahun, latihan yang menyiksa, dan bimbingan kitab panduan yang rumit untuk bisa dikeluarkan dengan sempurna. Tapi pemuda mlarat di depannya ini? Erlang hanya melihat jurus itu sekali pandang, dalam waktu kurang dari satu menit, lalu langsung bisa meniru, menyempurnakan, dan menggunakannya untuk menjatuhkan pencipta jurus itu sendiri dalam tiga gebrakan ringan.
Kejeniusan Erlang ini sudah bukan berada di tingkat manusia biasa lagi, ini sudah masuk ke taraf keajaiban yang mustahil secara hukum dunia persilatan.
"E-erlang..." panggil Sekar Arum dengan suara yang sedikit bergetar, berjalan menghampiri Erlang yang sedang sibuk memungut pikulan bambunya kembali. "Kau... kau ini beneran manusia atau siluman air laut selatan yang sedang menyamar, hah?"
Erlang menoleh, memamerkan senyuman polosnya yang tanpa dosa seperti biasa. "Lho, Nimas Sekar kok bicaranya begitu toh? Saya beneran manusia asli, daging dan tulang. Ada apa memangnya, Nimas?"
"Kau baru saja meniru jurus Gada Sagara milik bos perompak itu hanya dengan sekali lihat, Bodoh!" bentak Sekar gemas sekaligus masih syok berat, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah bekas runtuhan pasir tempat Ki Gede tumbang tadi. "Bagaimana bisa otak udikmu itu langsung menangkap putaran tenaga dalam yang serumit itu dalam hitungan detik?! Kau tahu tidak, kalau kabar ini sampai terdengar ke dunia persilatan luar, seluruh padepokan sepuh di tanah Jawa akan gempar dan memburumu karena ketakutan melihat kejeniusan serumit ini!"
Erlang terkekeh canggong, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Waduh, jangan dilebih-lebihkan begitu toh, Nimas. Saya tadi cuma iseng mencoba saja kok. Habisnya, pola gerakan Paman Gede tadi itu beneran mirip sekali dengan pola gambar aliran air yang ada di halaman tengah kitab kulit tanpa nama di balik baju saya ini. Jadi ya... saya tinggal menyelaraskan hawa hangat di perut saya dengan gerakannya saja. Ternyata rasanya pas dan enak dipukul."
Sekar Arum hanya bisa menghela napas panjang, menepuk dahinya sendiri dengan perasaan pasrah yang amat sangat. Ia menyadari bahwa memberi penjelasan tentang standar hukum dunia persilatan kepada Erlang yang kelewat polos ini sama saja dengan berbicara pada batu jati. Pemuda ini punya bakat jenius tingkat dewa namun menganggapnya tidak lebih dari sekadar bakat memotong singkong di ladang lereng Lawu.
"Sudahlah, terserah kau saja, Erlang," ujar Sekar akhirnya, meski di dalam hatinya rasa hormat dan takjubnya kepada pemuda itu kian melambung tinggi ke langit. "Yang penting sekarang pengganggu pantai ini sudah pergi semua. Ayo kita ambil buntalan kita dan segera melanjutkan perjalanan mencari petunjuk keberadaan Mbah Wiro sebelum hari kian panas."
"Nggih, Nimas Sekar. Siap laksanakan perintah," sahut Erlang ceria, kembali berjalan beriringan dengan Sekar Arum meninggalkan garis pantai Parangtritis, melangkah mantap menyusuri jalur daratan selatan yang kian membentang luas di bawah kehangatan sinar matahari pagi.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/