Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Kehadiran Keluarga Wijaya
Sentuhan itu masih terasa hangat di kulit pipi Aira, bahkan setelah tangan Teddy terjatuh lemas kembali ke atas ranjang. Aira bangun dan terpaku, napasnya seolah terhenti beberapa saat.
Jantungnya berpacu kencang, tidak tahu apakah ia harus merasa terharu atau justru ketakutan setengah mati karena berada di posisi ini.
"Ah, kenapa malah tidur di sini?" gumamnya bangkit menatap tangan yang sempat menyentuhnya.
"Sepertinya dia tak apa kutinggal sendiri," gumamnya bergerak menuju pintu sembari mengusap pakaiannya agar licin kembali.
Baru saja Aira hendak beranjak keluar sambil merapikan diri dan menenangkan degup jantungnya, pintu ruang ICU terbuka dengan pelan. Suara langkah kaki yang teratur dan entah kenapa terdengar berwibawa memenuhi ruangan, menggeser kesunyian pagi yang masih terlihat kelam.
Aira mematung hampir saja tertabrak oleh pintu, dan kini berdiri dengan tegak. Di ambang pintu, tampak sepasang pria dan wanita paruh baya dengan pakaian santai, tetapi jelas terasa pancaran aura kemewahan yang jelas dilihat secara kasat mata. Di belakang mereka, Om Jovan mengekor dengan wajah tegang, sesekali menyeka keringat di dahinya.
"Teddy!" seru wanita itu, Nyonya Mirna, dengan nada khawatir yang dibuat-buat tetapi terasa sangat elegan. Sepintas, ia melihat perawat itu tanpa menoleh sedikit pun.
Ia segera menghampiri ranjang putranya, diikuti suaminya, Tuan Wijaya, yang menatap monitor detak jantung dengan dahi berkerut.
Aira menundukkan kepala, mencoba bersikap seprofesional mungkin. "Selamat pagi, Bapak dan Ibu. Sepertinya keluarga pasien Teddy telah datang. Kebetulan, saya perawat yang sedang bertugas mengecek kondisi pasien."
Aira kembali mendekati ranjang Teddy dan mengecek keadaan infus yang hampir habis.
Nyonya Mirna menoleh. Matanya yang tajam tetapi terlihat indah itu menatap Aira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia memperhatikan bagaimana rapi dan telatennya Aira mengatur selang infus serta memperbaiki posisi bantal Teddy agar pria itu lebih nyaman. Ada kilat ketertarikan di mata sang Nyonya Besar.
"Kamu ... yang menjaga putra saya sepanjang malam?" tanya Nyonya Mirna dengan nada suara yang dingin, tetapi penasaran.
"Iya, Bu. Karena keluarga pasien belum ada yang datang, saya berinisiatif untuk menemaninya sampai pagi," jawab Aira sopan, tangannya masih sibuk merapikan selimut Teddy.
Nyonya Mirna beralih menatap Om Jovan yang berdiri di sudut ruangan. "Jovan, siapa gadis ini? Mengapa dia terlihat begitu akrab dengan Teddy, sampai sudi menjaganya semalaman?"
Om Jovan menelan ludah. Ia melirik Aira sekilas, lalu memberanikan diri mendekat dan sedikit berbisk.
"Eum, itu ... Bu. Dia itu Aira, keponakan saya. Sebelumnya dia pernah kuliah di ibu kota juga, Bu, tinggal bersama saya. Dan setahu saya, dia adalah mantan kekasih Pak Teddy satu tahun lalu."
Suasana mendadak hening.
Nyonya Mirna tersentak. Tangannya yang tadinya memegang tas branded-nya mendadak lemas. Ia menatap Aira sekali lagi, kali ini dengan tatapan yang jauh berbeda. Bukan lagi tatapan meremehkan, melainkan tatapan "kemenangan".
Selama ini, Nyonya Mirna dihantui ketakutan luar biasa. Teddy, putra tunggalnya yang tampan dan sukses, tidak pernah sekalipun membawa wanita ke rumah sejak zaman SMA. Ia sempat curiga, atau lebih tepatnya takut, jika putranya 'belok' dan tidak memiliki ketertarikan pada lawan jenis. Tapi sekarang? Perkiraan sang ibu terbantahkan. Ternyata putranya pernah punya kekasih? Dan gadis yang ada di depannya ini terlihat sangat tulus.
"Kekasih?" gumam Nyonya Mirna dengan nada yang hampir tidak percaya. Senyum tipis, lebar, dan penuh arti mulai merekah di bibir merahnya.
"Iya, Nyonya. Tapi kalau tidak salah, hubungan mereka telah berakhir," tambah Jovan, tidak menyadari bahwa ia baru saja memberikan 'hadiah' berharga bagi majikannya.
Nyonya Mirna mendekati Aira, lalu dengan gerakan luwes, ia menggenggam tangan Aira. Aira terkejut setengah mati, matanya membelalak.
"Aira, ya?" suara Nyonya Mirna berubah manis seperti madu.
"I-iya, Bu," jawab Aira gugup, bingung dengan perubahan sikap ibu Teddy yang begitu drastis.
"Wah, kamu baik sekali sampai mau menjaga putra saya semalaman. Lihat, dia bahkan terlihat bagai sedang tidur dengan pulas meski nyatakan dalam kondisi kritis," puji Nyonya Mirna seraya melirik Teddy yang masih terlelap.
"Saya tidak akan melupakan kebaikanmu, Sayang. Sepertinya kami harus sering-sering berkunjung ke sini, ya. Karena, Saya rasa, kamu adalah jawaban dari semua doa yang selama ini saya panjatkan."
Aira hanya bisa tersenyum kaku. 'Maksud Ibu itu apa ya? Jawaban doa?' batinnya dalam kebingungan dengan bahasa yang terlalu puitis itu.
Lalu, Aira melirik lagi pada wanita paruh baya itu. satu hal yang ia tangkap: Ibu Teddy baru saja memberinya senyuman yang sangat mengerikan.
'Buju busyet, ni ibu-ibu lagi mikirin apa yak?'
"Jovan," panggil Nyonya Mirna tanpa melepaskan tangan Aira.
"Ya, Nyonya?"
"Pastikan setelah Teddy sadar dan kembali ke ibu kota, tidak ada satupun wanita lain yang boleh mendekatinya. Karena anak kami adalah milik gadis ini. Kamu dengar?"
Aira merasa dunianya runtuh. 'Bencana apa ini? Kenapa Ibu ini mengatakan hal tak masuk akal ini? Jelas-jelas, Om Teddy tak pernah benar-benar memikirkanku. Masa dia jadi milikku?"
Nyonya Mirna mengajaknya semakin dekat. "Apa kamu mau, menjadi perawat pribadi untuk anak kami?"
*bersambung*
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣