Di dunia ini hanya yang kuatlah yang berkuasa dan yang lemah hanya menjadi pion, oleh sebab itu aku harus menjadi yang terkuat agar bisa membuat seluruh dunia berada di bawah kendali ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arisky wa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 16.Kota Naga
Setelah menunggu beberapa saat hidangan mereka pun sudah siap, mereka juga di beri makanan ringan dan lainya.
Mereka menyantap hidangan sambil menikmati pemandangan dari jendela pesawat,terlihat sebuah sungai yang sangat besar, di pinggir sungai juga terdapat sebuah kota yang cukup luas.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka selesai menyantap hidangan mereka, Feng Ying langsung kembali ke ruangannya bersama Long Ai, sedangkan Long Fei berbincang-bincang dengan para bangsawan yang ia kenal.
Setelah ia masuk ke ruangannya ia segera berbaring di sofa karena tubuhnya merasa sangat puas dan nyaman karena efek daging Phoenix.
Sedangkan Long Ai bermeditasi di depan sofa agar Feng Ying membantu mengarahkannya agar meditasi nya lancar.
Feng Ying bisa merasakan kemampuan Long Ai meningkat, ia kemudian menyentuh pundak Long Ai.
"Sepertinya daging Naga cocok untuk adikku"
Batin Feng Ying sambil merasakan sedikit Qi dari Long Ai.
Ia kemudian kembali berbaring dan memejamkan mata sebelum akhirnya tertidur pulas karena merasa hangat dan kenyang.
Feng Ying bangun ketika Feng Jia Li membangunkannya karena sebentar lagi pesawat mereka akan sampai di tujuan mereka.
"Nak apakah kau sedang belajar menjadi mayat?"
Tanya Long Fei sambil tertawa kecil.
"Maksud ayah?"
jawab Feng Ying dengan heran
"Kau tidur beberapa saat setelah pesawat terbang dan kau bangun ketika sudah hampir sampai, sempat ku kira kau sudah tewas karena memakan daging Phoenix"
Ucap Long Fei sambil becanda dan segera di hentikan oleh Feng Jia Li.
"Nak lain kali jangan tidur setelah makan"
Ucap Feng Jia Li dengan lembut mengingatkan Feng Ying.
Feng Ying hanya bisa tersenyum canggung dan menggaruk pipinya, kemudian ia segera membasuh wajahnya agar terlihat segar.
Mereka kemudian mendengar pengumuman bahwa pesawat akan tiba di bandara dalam lima menit.
Setelah beberapa saat mereka akhirnya sampai dan keluar dari pesawat mereka, di sana mereka di sambut oleh para pendekar Cakar Naga dan beberapa petugas keamanan yang akan mengawal mereka.
Di bandara Feng Ying menggunakan topi dan masker karena ia belum ingin terkenal, banyak orang yang memotret dan meminta tanda tangan Long Fei dan Feng Jia Li karena mereka sangat terkenal di kota ini.
Untungnya ada petugas keamanan dan pendekar Cakar Naga yang membukakan Jalan jadi semuanya berjalan lancar tanpa hambatan.
Mereka berempat kemudian menaiki kendaraan mewah untuk pergi ke kediaman keluarga Naga, mobil mereka juga di kawal oleh belasan mobil tentara milik keluarga Naga dan beberapa pendekar Cakar Naga.
"Nak di kota Naga ini tidak ada hukum atau pemerintahan Kekaisaran Zenit, kota ini milik keluarga kita dan ada hampir Dua ratus juta jiwa yang tinggal di kota ini"
Ucap Long Fei kemudian melihat tentara yang mengawal mereka.
"Kita memiliki Empat juta Tentara dan ada banyak kendaraan tempur seperti tank, pesawat dan kapal perang kita punya semuanya, dan Dua ratus ribu pendekar, jika mau kita mampu memberontak melawan kaisar"
Ucap Long Fei sambil tertawa kecil.
Feng Ying dari awal mengamati kota Naga ini yang sangat jauh berbeda dari kota Bintang,Teknologi di kota ini sangat maju dan gedung gedung sangat besar dan terlihat kokoh.
Keamanan di kota ini juga terlihat sangat tinggi karena di jaga oleh tentara bersenjata lengkap, sedangkan di kota-kota lainya yang berkeliling menjaga keamanan adalah polisi.
"Bukankan ini terlihat seperti situasi siaga perang"
Ucap Feng Ying sambil tersenyum canggung.
Mendengar ucapan Feng Ying hanya membuat Long Fei tertawa kecil kemudian ikut mengamati situasi kota Naga.
Satu-satunya orang yang merasa tidak peduli adalah Long Ai yang dari awal hanya diam dan melihat sekeliling tanpa ekspresi.
Karena Feng Jia Li peduli dengan putrinya ia menjelaskan beberapa bangunan penting yang mereka lewati agar mendapat pengetahuan.
Karena Jalan sudah di tutup untuk sementara, kendaraan mereka melaju dengan cepat dan tanpa halangan sedikit pun di pinggir jalan juga ada tentara yang berjaga agar para penduduk tidak mengganggu mereka.
Butuh sekitar satu jam bagi mereka untuk sampai di kediaman keluarga Naga, saat mereka memasuki gerbang, mereka segera melihat pemandangan malam yang indah.
Halaman kediaman keluarga Naga adalah taman yang indah, terlihat monster monster jinak dan indah yang bebas berada di taman.
Long Ai untuk pertama kalinya memasang ekspresi terkejut ketika melihat sekelompok Rusa berwarna putih dan emas yang memancarkan cahaya indah di tengah malam.
Mereka yang melihat ekspresi Long Ai pun tersenyum karena untuk pertama kalinya mereka melihat Long Ai yang antusias kepada hal lain selain keluarga.
"Putriku nanti ayah akan mengajak mu berkeliling Taman belakang keluarga ini, ada banyak hewan yang lebih indah di sana"
Ucap Long Fei sambil mengelus kepala putrinya itu.
"Sungguh?"
Tanya Long Ai dengan senyum manisnya.
"Iya....jika ada yang kau suka maka bawa saja nanti"
Jawab Long Fei.
mendengar jawaban itu Long Ai semakin antusias dan kembali melihat pemandangan di halaman depan itu.
Mereka akhirnya sampai di kediaman Long Fei, mereka akan beristirahat terlebih dahulu sebelum besoknya harus bertemu dengan kepala keluarga dan para Tetua keluarga Naga.
"Bukankan seharusnya ada yang menyebut kita?"
Tanya Feng Ying sambil melihat sekitar.
"Harusnya memang iya,namun sekarang ada hal penting yang sedang di bahas oleh para Tetua di kediaman utama"
Jawab Long Fei sambil meminta pelayan menunjukkan kamar Feng Ying dan Long Ai.
Setelah Feng Ying dan Long Ai pergi bersama pelayan, Long Fei merasakan seseorang akan datang berkunjung.
"Lama tidak bertemu Fei'er"
Ucap seorang wanita tua yang terlihat berumur tujuh puluh tahunan, tubuhnya kecil dan wajahnya juga sudah berkeriput, rambutnya juga sudah beruban semua.
"Long Fei memberi hormat kepada Tetua kelima"
Ucap Long Fei sambil memberi hormatnya dan di ikuti Feng Jia Li.
"Maaf aku telat menyambut kalian,kau masih saja terlihat cantik seperti dulu"
Ucap Tetua kelima sambil melihat Feng Jia Li dengan senyuman lembut.
"Tetua Gho tidak perlu meminta maaf, para Tetua dan Patriark pasti sibuk karena banyak yang harus di bahas"
Jawab Long Fei kemudian mengajak Tetua Long Gho duduk berbincang.
"Mungkin kita berbincang-bincang besok saja lihat istrimu dia pasti lelah"
Ucap Tetua Gho sambil melihat Feng Jia Li yang sedang tersenyum canggung dan terlihat lelah.
"Hahaha aku terlalu antusias karena lama tidak bertemu para Tetua"
Ucap Long Fei sambil tertawa kecil.
"Baiklah aku pergi dulu, semoga istirahat kalian nyaman"
Ucap Tetua Gho kemudian pergi meninggalkan kediaman Long Fei.
"Suami ku apakah Tetua terlihat tambah tua"
Ucap Feng Jia Li sambil melihat Long Fei.
"Tentu saja, ia berusia lebih dari tiga ratus tahun, dan dia adalah pendekar langit yang memiliki hati paling lembut di kekaisaran Zenit"
Jawab Long Fei sambil memeluk Feng Jia Li.
Mereka kemudian masuk ke kamar mereka untuk beristirahat karena mereka juga lelah.
Setelah keluar dari halaman kediaman Long Fei, Tetua Gho di hampiri oleh Dua sosok berjubah hitam dan putih, wajah mereka tidak terlihat karena tertutup topeng.
"Untuk apa kalian kemari?"
Tanya Tetua Gho kepada Dua sosok di hadapnya.
"Tentu untuk menyapa Long Fei dan keluarganya"
Jawab orang berjubah putih.
"Mereka sedang beristirahat jadi jangan temui mereka sekarang"
Jawab Tetua Gho kemudian pergi meninggalkan Dua sosok itu.
Melihat Tetua Gho seperti mengabaikan mereka membuat mereka sedikit kesal.
"Andai bukan karena senioritas dan dia wanita tua sudah pasti ku hajar senior Gho"
Ucap orang berjubah putih dengan nada kesal.
"Sudah sudah,Tetua Gho memang benar mereka butuh istirahat, mari kita kembali terlebih dahulu"
Ucap Sosok berjubah Hitam mencoba menenangkan si Putih.
Kemudian mereka terbang melesat ke langit dengan cepat, Tetua Gho yang melihat mereka terbang menyalipnya segera berdecak sedikit kesal.
"Mereka berdua sudah tua tetap saja bermain pesawat pesawatan"
Ucap Tetua Gho sambil terus berjalan entah kemana.