Apa jadinya bila mencintai seseorang yang tidak seharusnya? Perjalanan asmara gadis bernama Sacha Nessa yang jatuh cinta dengan kakak iparnya sendiri. Mengantarkan perempuan itu pada cinta yang salah pada Gama Hardiyoga.
Aku tahu hubungan ini salah, tapi untuk mengakhirinya pun tidak semudah itu.
Entah dipersatukan atau tidak
Entah rasa ini sampai kapan?
Entah hubungan ini sampai kapan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16
"A-adik saja, Kak!" jawab Nessa dengan gugup.
"Kamu yakin itu tidak membuat hatimu tersiksa, bukankah kamu bilang sendiri kamu membenci kakak karena ini menyiksa perasaanmu?"
Rasanya Nessa ingin berteriak dan mengakui kejujuran hatinya, tetapi itu tidak mungkin dan bukankah itu sesuatu yang memalukan mengharapkan pria beristri. Buru-buru gadis itu membenahi posisi duduknya agar agak berjarak. Terlalu dekat membuat jantungnya berdisko riang.
"Aku sedang mencoba untuk baik-baik saja, tolong jangan usik racauan aku tempo lalu," jawab Nessa membuang muka. Gama menatap dalam diam.
"Tapi aku terusik, dan kata-kata kamu membuat aku tidak tenang," ucap pria itu terus menekannya.
Rasanya Nessa ingin berlari dan menyudahi perdebatan ini, karena bingung untuk memilih kata yang tepat. Namun, mulut itu terlalu kaku. Jujur Nesa juga takut Mbak There memergoki keduanya. Apa jadinya kalau kakaknya tahu tentang hal ini. Bisa benar-benar salah paham, dan Nessa tidak mau itu terjadi.
"Mau ke mana? Aku akan terus mengikutimu sampai kamar bila kamu tidak menjawabnya." Pria itu menghadang gadis itu yang ingin melangkah pergi. Sungguh, ini bagai ujian yang rumit. Ada apa dengan kakak iparnya yang malam ini begitu berbeda.
Sorot matanya yang melekat menghunus dirinya, sungguh tak mampu Nessa tolak. Pesona Kak Gama bertambah berkali lipat bila tengah serius.
Ya ampun ... otakku mulai eror!
Nessa merutuki hatinya yang mulai tidak bisa mengendalikan diri dengan baik. Mencari cara agar malam ini tidak tersesat.
"Tidak ada yang perlu dibahas atau pun dijawab, semua bukanlah hal penting," ujar Nessa tak berani menatap matanya.
"Owh ya, kalau begitu kenapa kamu ragu dan gugup untuk menjawabnya?"
"Tolong jangan mempersulit posisiku, aku sudah banyak tersiksa dengan perasaan ini. Jangan mengusikku biarlah aku melupakan dengan caraku sendiri."
Akhirnya kejujuran yang tersirat itu meluncur juga dari mulutnya. Nessa mulai terprovokasi bahkan terperangkap dalam umpan epic yang sengaja pria itu beri.
"Bagian mana yang membuat kamu begitu sulit dan tersiksa? Aku akan memperbaiki untukmu kalau bisa. Perasaan yang mana Ness?" tekan Gama gemas.
"Aku tidak tahu perasaan seperti apa? Kakak nggak ngerti?"
"Ya, aku nggak ngerti, makanya aku cari tahu supaya aku ngerti, tatap mata aku, Ness!" Gama merangkum kedua bahunya dengan luapan emosi. Entahlah ia tidak pernah seperti itu sebelumnya, namun malam itu tidak bisa dibendung lagi. Hatinya mencari tahu yang sebenarnya.
Nessa meronta ingin memisahkan diri, tetapi pria itu lebih dulu menarik dalam pelukan. Membuat keduanya terdiam, dan hal gila ini lah semua dimulai, keduanya benar-benar mengikis jarak tanpa sisa. Malam ini di ruang dapur menjadi saksi terbukanya perasaan terlarang mereka.
Nessa melepaskan pelukan hangat kakak iparnya, tetapi Gama memeluknya lebih erat.
"Kak, nanti ada orang. Tolong jangan begini?" tegur Nessa memberi jarak.
Tak bisa dipungkiri ada perasaan luka yang mendalam di atas bahagia yang tengah ia rasa karena ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Namun, caranya yang salah akan menyebabkan racun dan bomerang dalam hidupnya yang akan datang bila terus direalisasikan.
"Aku minta maaf, telah lancang melakukan hal bodoh ini. Anggaplah semua ini hanya mimpi dan kesalahanku. Aku mohon, jangan biarkan membara atau kita akan dalam masalah," ucap Nessa terbata. Bagaimanapun cukup tahu masing-masing perasaannya saja. Jangan sampai menumbuhkan dan mengisi ruang yang akan membuat keduanya tersesat.
Sakit rasanya mengatakan itu, sangat bertentangan dengan keinginannya yang mengharap bersama walau ia sadar itu tidak mungkin. Buliran bening itu tanpa sadar membasahi pipi. Biarlah malam ini ia terlihat murahan dan rendah diri karena telah mengakui perasaannya yang begitu berani dan lancang. Namun, dengan sadar ia juga ingin mengakhirinya tanpa sisa.
Gama hanya terdiam dalam pijakan. Ia bingung untuk membalas ucapan itu. Hatinya terasa berat saat Nessa melepas pelukan itu dan memilih pergi. Ada apa dengannya? Mengapa malam itu ia bisa segila ini.
Bukankah statusnya sekarang adalah sebagai seorang suami. Terlepas banyak problem di dalamnya bukankah seharusnya saling memperbaiki diri. Bukan malah mencari pembelaan dengan cara melarikan hati.
Panggilan dari pria itu terpaksa Nessa abaikan demi menyelamatkan hatinya yang mulai ngelantur. Ia tidak bisa menjamin semua akan baik-baik saja bila terus berdekatan seperti tadi.
Semalaman Nessa susah tertidur, bukan lantaran panas pada tangannya. Namun, ia malah kepikiran suami orang yang menunjukkan gelagat berbeda. Apakah dirinya harus bahagia, karena kak Gama menunjukkan perasaannya yang sama atau membunuh rasa ini yang mulai akut.
Pagi-pagi sekali Nessa sengaja meninggalkan rumah, ia sengaja berangkat pagi agar tidak bertemu dengan pria itu. Ada rasa yang belum tuntas yang harus dipangkas. Pertemuan itu akan membuatnya tidak sehat.
"Nessa ke mana Ma, kok belum turun?" tanya There penasaran. Hampir pukul setengah delapan bocah itu belum menampakan batang hidungnya.
"Sudah berangkat tadi pagi, katanya ada hal penting dulu jadi sarapan di jalan," jawab ibu sesuai kata pamit putrinya.
"Owh ... baguslah kalau sudah berangkat. Menurut Mama perjodohan mereka baiknya dipercepat atau gimana Ma?" tanya There yang membuat Gama tersedak begitu saja.
Uhuks! Uhuks!
"Mas ... hati-hati dong. Eh ya ... nanti anter aku ke Bandara ya, aku akan berusaha pulang cepat setelah pekerjaan aku selesai. Tolong aku titip Mama," pamit There seperti biasa.
"Iya, nanti berangkat jam berapa?" tanya Gama tak bisa mencegah. There terlalu senang dengan pekerjaannya. Berkali-kali Gama urun keberatan pun tak pernah didengarkan.
Tiga tahun menikah, tidak bisa dipungkiri ia merindukan sosok anak di dalamnya. Apalagi ia adalah anak tunggal dari keluarga Hardiyoga, orang tuanya selalu mendesak dan membuatnya kadang pusing sendiri menyikapi mama dan juga istrinya yang tidak pernah sejalan.
Sementara Nessa melakukan pekerjaan layaknya karyawan lainnya. Fokus mengerjakan pekerjaan yang ditugaskan, sesekali terlibat dalam diskusi dan tak jarang gadis itu mencari tahu pada senior bila ada yang tidak ia pahami. Ia begitu serius menjalani, tiga bulan yang baru dimulai itu terasa lama baginya. Apalagi harus selalu dipertemukan dengan orang yang bahkan ingin Nessa lenyapkan dari memori otaknya. Walaupun ia sadar, itu sesuatu yang berat.
"Nessa ... tolong antar berkas ini ke ruang Pak Gama ya?" pinta Mbak Hana penanggung jawab di timnya.
"Aku Mbak, sekarang?" sebenarnya pertanyaan itu sangat tidak cocok Nessa ajukan. Namun, ia hanya sedang tidak siap bertemu dengan pria itu setelah kejadian semalam.
"Iya, tolong ya cepet! Ditungguin soalnya," ujar Mbak Hana tanpa penolakan.
Nessa berjalan dag dig dug tak karuan mendekati pintu ruang pimpinan perusahaan.