ALVINA ....
Itu namaku. Gadis berumur 17tahun baru lulus SMA. Aku yatim piatu yang diasuh oleh seorang wanita berhati mulia bernama Ardhina Devi. Wanita yang rela menghabiskan seluruh hidupnya untuk membesarkanku, mengorbankan kebahagiaannya demi merawatku dan merelakan cintanya untuk menyayangiku.
Hidupku berubah setelah kepergiannya, ditinggal untuk selamanya oleh satu-satunya orang yang aku sayangi, membuatku seperti kehilangan sebagian diriku.
Ini bukan kisah tentang anak angkat yang mencari siapa dan darimana dia sebenarnya. Tapi ini tentang diriku dan cintaku.
Maaf, jika ada kesamaan nama, karakter dan penggambaran tokoh yang aku ambil. Semua hanya buat pelengkap saja. Semoga suka dan menarik kalian baca sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sita Azzaky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
•Izin Kak Dhina•
"Lho, Mas Rizal kenapa belum pulang?" tanyaku heran. Dia malah menjawab dengan senyum kikuk.
"Aku pikir untuk mengantar kalian pulang. Boleh kan?" Katanya dengan melihat ke arahku dan Kak Dhina bergantian, mencari jawaban dari kami.
" Kalau gitu antar Alvi ke kampus saja, hasil seleksi beasiswanya di umumkan hari ini." ucap Kak Dhina.
Dengan cepat aku geleng.
"Trus Kak Dhina naik taksi sendiri dengan kondisi seperti ini? Mas Rizal tega ngebiarin Kak Dhina naik taksi sendiri?" sentakku. Mas Rizal gelengkan kepalanya, dia setuju denganku.
"Mas Rizal aja nggak tega, kenapa Kak Dhina mikir kalo aku bakalan tega ngebiarin Kak Dhina naik taksi sendiri?" imbuhku.
"Aku antar kalian pulang, terus antar Alvi ke kampus juga nggak papa kok Kak." Mas Rizal menyelesaikan perdebatan kami.
Setelah bantu Kak Dhina masuk ke mobil, dengan cekatan dan tanpa banyak bicara, Mas Rizal bantu aku melipat dan masukin kursi roda ke bagasi mobilnya.
Aku agak surprise melihat dalam mobil Mas Rizal. Aku pikir cuma luarnya saja yang berwarna biru, tapi ternyata ....
"Kenapa harus Doraemon?" tanyaku. Hampir semua aksesoris mobilnya berbentuk robot kucing lucu dengan kantong ajaib berwarna biru, kesukaanku juga.
"Apa ada masalah?" Tanya Mas Rizal heran.
"Alvi juga suka banget Doraemon." Kak Dhina yang jawab.
"Oh ya?" Mas Rizal antara nggak percaya atau senang bertemu dengan sesama pecinta Doraemon.
"Kamu pasti betah berada di rumahku," katanya seperti mengajakku main ke rumahnya. Aku jadi penasaran, kayaknya aku sama Mas Rizal punya banyak kesamaan.
Di perjalanan kami hanya saling diam. Aku atau Mas Rizal nggak mau ganggu Kak Dhina yang kelelahan atau mungkin masih menahan sakit karena proses cuci darah.
Sampai di rumah, Lilin bukakan pagar. Aku baru mau turun dari mobil, tapi dengan cepat Mas Rizal turun, membuka bagasi dan mengeluarkan kursi roda. Nggak banyak bicara dia gendong Kak Dhina yang memejamkan mata. Aku dan Lilin saling pandang, nggak nyangka segitu perhatiannya Mas Rizal ke Kak Dhina. Melebihi yang biasa Fathir lakukan .
"Bawa kursi roda nya Lin!" perintahku. Aku berlari mendahului Mas Rizal, membukakan pintu untuknya.
"Mana kamarnya?" tanyanya pelan. Mungkin takut Kak Dhina terbangun.
Aku buka pintu kamar Kak Dhina. Mas Rizal rebahkan tubuh Kak Dhina di atas ranjang, tapi Kak Dhina justru terbangun.
"Lho, Rizal yang gendong aku sampai sini?" tanya Kak Dhina. Aku dan Mas Rizal ngangguk bersamaan.
"Makasih ya ...." Mas Rizal ngangguk lagi.
"Oh ya Kak, aku sekalian minta izin, mau ngajak Alvi maen ke rumah Ibu. Mas Arifin bilang, Ibuku sudah nggak sabar pengen ketemu Alvi. Pulang dari kampus boleh kan aku ajak Alvi mampir ke rumah Ibu sebentar?" tanya Mas Rizal.
Aku agak terkejut, kenapa secepat ini? Bukannya tadi dia bilang terserah kapan ae. Ternyata Mas Rizal nggak mau menyia-nyiakan waktu.
"Kamu mau memperkenalkan Alvi ke keluargamu?" Kak Dhina melihatku. Aku diam, nggak bereaksi apapun. Di kira mudah dapat izin dari Kak Dhina.
"Cuma memenuhi permintaan Ibu saja." Wajah Mas Rizal penuh harap. Dia memberiku isyarat, meminta bantuanku ngomong ke Kak Dhina. Aku angkat bahuku.
"Alvi, pergi ganti baju yang pantas buat ke kampus." perintah Kak Dhina.
Sudah kuduga nggak semudah minta tanda tangan ke Pak Lurah. Aku melangkah keluar sambil menahan senyumku.
"Alvi, jangan lupa bawa oleh-oleh juga, jangan bikin malu kalau di rumah orang." Aku menoleh secepat kilat karena heran. Serius Kak Dhina yang ngomong? Lah, tumben banget?
"Jam sepuluh dia harus udah di rumah." Ucapnya ke Mas Rizal. Mas Rizal ngangguk sambil tersenyum penuh kemenangan.
HBD 😘😘🎉🎉🎂🎂🎁🎁🦀♋🦀♋🌷🌷💜💜😂😂
Welcome Cancer ♋🦀♋HBD Author 🎉🎉🎉🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎂🎂🎂🎉🎉🎁🎁🎁
HBD 🎂🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎁♋♋♋♋♥️♥️♥️♥️🦀🦀🦀🦀💜💜💜💜🌷🌷🌷🌷🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎉🎉🎉🎉
HBD
🎂🎂🎂💜💜💜♋♋♋🦀🦀🦀
🎂🎂🎂♥️♥️♥️🎁🎁🎁🌷🌷🌷
HBD ♋♋♋💜💜💜🎁🎁🎁♥️♥️♥️