Zayn adalah korban bully di sekolah dan di lingkungan rumahnya.
suatu hari Zayn yang sedang dikerjai oleh Clara dan teman-temannya di sebuah rumah kosong yang terlihat tua. Mendadak Zayn dapat melihat hantu setelah terjatuh dari kursi saat hendak mengambil sepatunya yang tersangkut di lampu hias yang tergantung di ruang tamu rumah kosong tersebut.
Zayn yang terjatuh itu pingsan dan setelah siuman, Zayn mendadak dapat melihat hantu cantik si pemilik rumah kosong itu.
Maudy. Ya, nama hantu cantik itu adalah Maudy.
Setelah pertemuan itu keduanya menjalin hubungan pertemanan.
Awalnya pertemanan itu tidak ada ketulusan karena saling ingin memanfaatkan.
tetapi apa jadinya kalau mereka berdua menjadi saling jatuh cinta karena terbiasa bersama?
"Kenapa lo jadi hantu?" tanya Zayn.
"Karena gue masih penasaran sebelum dendam gue terbalas."
"Lalu, setelah terbalas apa yang akan lo lakukan?"
"Gue hilang dari dunia ini, karena itulah perjanjian nya saat dulu gue nolak untuk dibawa ke alam selanjutnya," jawab Maudy.
"Deg," jantung Zayn seolah berhenti berdetak saat mendengar itu.
bagaimana kisah percintaan antara hantu dan manusia kali ini? yuk simak kaka semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode enam belas (nyawa di bayar nyawa)
Maudy menghentakkan kakinya, merasa kesal pada Zayn.
Lalu, Zayn berusaha menenangkannya.
"Nanti, gue ganti pakai yang baru ya!" ucap Zayn seraya mengusap kedua lengan Maudy.
"Iya udah lah, mau gimana lagi," gumamnya.
"Iya udah, gue mau selesaikan misi dulu," ucap Zayn yang kemudian mengecup kening Maudy.
"Zayn," lirih Maudy menatap kepergian Zayn.
"Zayn, lo nggak lupa kan. Malam ini ulangtahun hari jadi kita," gumam Maudy dalam hati.
Lalu, Maudy menatap Ana yang ternyata sudah tertidur.
"Gue kesel sama lo, kenapa gue jadi harus nungguin lo, ngurusin lo, kan gue jadi nggak bisa ngintilin Zayn," gerutu Maudy, bersedekap dada mengerucut kan bibir ke arah Ana.
Zayn melihat ke kanan dan kiri terlebih dulu sebelum keluar dari rumah Maudy, setelah di rasa aman, Zayn langsung menancap gas.
______________
Sementara itu, Danesh dan Clara baru saja keluar dari bandara.
"Gue mau ngurus urusan gue dulu, awas lo kalau sampai kabur. Gue kejar sampai kemana pun lo pergi," kata Danesh menatap tajam Clara yang berada di sampingnya.
Clara diam saja, dia tidak menjawab.
"Gue nggak akan kabur kok, tapi gue mau bales perbuatan lo yang udah bikin gue jadi wanita kotor kaya gini," gumam Clara dalam hati.
Setelah mengatakan itu, Danesh pergi meninggalkan Clara membuat ia merasa seperti mencium aroma kebebasan.
_____________
Di rumah Danesh, Zayn melihat keadaan rumah yang sepi, lalu ia segera meletakkan kotak berisi jantung binatang di depan pintu rumah.
Lalu, sebelum pergi, Zayn melempar batu, dengan sengaja Zayn mengenai kaca rumah itu, membuat si pemilik rumah keluar untuk melihat.
"ya Tuhan, kelakuan siapa ini," gerutu Lily yang baru saja membuka pintu.
Lily mendengus sebal, ia yang masih memikirkan dimana keponakannya itu memilih tidak menghiraukan kaca yang pecah, ia memutar balikan badan dan tidak sengaja ia menendang kotak kecil berwarna coklat.
"Untuk Danesh," gumam Lily, kemudian Lily membawanya masuk dan menyerahkannya pada Amira.
"Mbak, ini ada paket buat Mas Danesh!" seru Lily seraya mengetuk pintu kamar Amira.
Amira membuka pintu.
"Dari siapa?" tanya Amira yang matanya terlihat sangat sembab karena menangis.
"Nggak tau, nggak ada nama pengirimnya."
Merasa penasaran membuat Amira membuka kotak itu.
"Aaaaaaa!" teriak Amira saat melihat isi kotak tersebut, kemudian Amira terjatuh tak sadarkan diri.
"Astaga, Mbak, bangun Mbak!" teriak Lily seraya memangku kepala Amira.
"Ya Tuhan, jantung siapa ini, jangan sampai ini jantung Ana," tangis Lily.
"Apa maksud kamu?" tanya Danesh yang baru saja tiba.
Tak mendapatkan jawaban, membuat Danesh melihat isi kotak yang berada di depan Amira.
"Jantung," gumam Danesh.
Di dalam kotak, ia melihat selembar kertas, Danesh membukanya.
''JANTUNG, KAMU BUTUH JANTUNG BUKAN!" gumam Danesh membaca surat kecil tersebut.
Membaca kalimat itu membuat Danesh menyadari siapa penculik Ana.
"Zayn, ini pasti ulah Zayn."
"Sial, dari mana dia tau alamat rumah ini," gumam Danesh seraya meremas kertas kecil itu.
Danesh bersiap untuk pergi, dia ingin mencari Zayn ke rumahnya.
"Mas, mau kemana?" seru Lily.
Danesh tidak menjawab seruan itu, ia segera mengeluarkan mobil di garasi. Danesh mengendarai dengan kecepatan tinggi.
Di rumah Zayn, Sulasih sedang membantu Malik untuk bangun dari kursi pindah ke ranjang.
"Pak, sudah. Ikhlaskan Kaila, biar dia tenang di sana."
"Ikhlas?" jawab Malik terdengar sangat lirih.
Sulasih merasa senang, akhirnya ia mendengar Malik berbicara lagi.
"Iya, Pak. Hukum karma itu ada, tenang saja, biar Tuhan yang membalas kejahatan mereka," lanjut Sulasih seraya membetulkan posisi bantal Malik.
Tanpa mereka tau, sebenarnya ada Zayn yang sedang menguping pembicaraan mereka di balik pintu.
"Bapak, Ibu, kalian tenang saja. Hukum karma sedang mereka dapatkan," gumam Zayn dalam hati.
Zayn melihat jam di dinding, ia bergumam harusnya Danesh sudah mendatangi rumahnya.
"Masa iya nggak peka, harusnya dia tau kalau udah terima kotak itu," gumamnya.
Sementara itu, Maudy sedang merasa kesal, beruntung ia tidak memiliki rasa lelah.
"Nda, mau ya gue titip bayi ini sebentar aja," rengek Maudy pada Nanda.
"Enggak, ntar nangis gue repot," jawab Nanda seraya bersedekap dada di samping ranjang.
"Jahat banget lo, nggak mau bantuin temen."
"Tuh, suruh dia aja tuh buat jagain ini anak," jawab Nanda seraya menunjuk tuyul yang sedang bermain cermin.
"Apaan, ogah. Gue liat bentuknya aja gimana gitu," ucap Maudy seraya melirik tuyul.
Maudy yang merasa frustasi pun berteriak, "Aaaaaaaaa!"
"Budeg tau nggak!" gerutu Nanda yang kemudian menghilang.
_____________
Terdengar suara gedoran pintu rumah Zayn, Zayn yang sedang tiduran di sofa ruang tamu pun menduga kalau yang datang pastilah Danesh.
Zayn membuka pintu dan ia langsung mendapatkan cekikan dari Danesh.
"Dimana Ana?" tanya Danesh dengan geramnya.
Zayn melepaskan tangan Danesh dari lehernya.
"Kenapa? gimana rasanya hah?" bentak Zayn.
"Bugh," Danesh meninju perut Zayn.
Tidak cukup sekali bagi Danesh untuk meninju nya, ia mengulangi lagi dan lagi.
Lalu, Zayn membalas dengan mendorong Danesh, Zayn menghimpit Danesh ke dinding dan bersiap menusuknya menggunakan belati yang sudah ia siapkan. Beruntung, Sulasih yang baru saja turun dari tangga melihat itu, ia segera menghentikan Zayn.
"Hentikan, Zayn!" perintah Sulasih seraya menahan tangan Zayn.
Zayn mengibaskan tangan Sulasih membuat ibunya jatuh terduduk.
"Zayn!" teriak Sulasih.
"Ibu sudah kehilangan Kaila, sekarang Ibu nggak mau kehilangan kamu, Ibu nggak mau kamu di penjara Zayn," teriaknya.
Zayn melepaskan Danesh, ia berkata "IMPAS" tepat di depan wajah Danesh.
"Siapa bilang impas Zayn, lo berani sentuh anak gue tanda cari mati," batin Danesh seraya merebut belati yang berada di tangan Zayn.
Tidak mudah bagi Danesh untuk mendapatkan belati itu, karena Zayn segera menendang kemalua*n Danesh menggunakan lututnya.
Melihat situasi yang genting membuat Sulasih keluar dari rumah berteriak meminta tolong, teriakannya itu berhasil membuat para tetangga keluar dari rumah dan mencari sumber suara teriakan itu.
Sementara itu, Yaya berdiri di tangga tak berani mendekat, ia takut akan menjadi target salah sasaran.
"Awas Bang, jangan sampai kalah sama dia," teriak Yaya.
Lalu Yaya merasakan ada seseorang yang melewati dirinya, ia menoleh kebelakang, ternyata Malik baru saja turun dari lantai atas, Yaya menatap Malik yang berjalan mendekati Zayn dan Danesh.
Malik melihat kearah pisau yang baru saja jatuh di bawah kakinya, ia menatap pisau itu, dalam hatinya memerintahkan untuk mengambil pisau itu lalu tusuk kan di perut Danesh.
"Ambil Malik, ambil, sebelum warga datang," pikirnya, karena kalau warga sudah datang pastilah mereka akan melerai dan membuat Danesh lolos.
Malik melihat Sulasih yang datang bersama dengan warga, ia semakin mendekat, Malik melihat belati itu lalu melihat Zayn yang sedang di tinju oleh Danesh.
"Kau pembunuh, nyawa harus di bayar dengan nyawa," kata Malik dalam hati.
Kemudian, Malik mengambil belati itu, ia menusuk Danesh tepat di perutnya, tak cukup sekali Malik menusuk Danesh.
"Aaaaaaaaa!" teriak Sulasih yang baru saja masuk rumah.
Bersambung.