Ini adalah kisah seorang pria bernama Ahmad Ranvir Al Ghazali. Anak tunggal seorang Kepala Desa sekaligus tuan tanah ini di beri nama alias, sebut saja Paijo. Bukan tanpa alasan, melainkan sering sakit-sakitan saat usianya baru menginjak satu tahun. Mungkin tidak kuat di beri nama sebagus itu, jadi mau tidak mau orang tuanya memberikan nama kecil itu.
Saat usianya menginjak dua puluh lima tahun Ayahnya bersikeras menjodohkannya dengan seorang gadis cantik anak dari pemilik Toko Emas Terbesar di Kabupaten Kendal.
"Apa menikah? Dengan gadis itu? Aku bahkan sudah melihatnya sejak dia masih kecil dan ingusan. Dia sangat manja dan cerewet. Demi tanah Ayah luasnya dari ujung Barat ke Timur. Aku menolak perjodohan ini!"
😤😤😤😤
"Apa menikah? Dengan Paijo? Apa tidak ada pria lain yang lebih tampan dan punya nama keren daripada dia. Aku TIDAK MAU!!!
"Heh, aku memang tidak tampan, tapi aku Paijo adalah pria yang berkharismatik! CATAT!
Selanjutnya, kita simak perjalanan mereka. Akankah mereka berjodoh???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Mukherjee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15: Kucing-kucingan
Saras pamit pulang setelah selesai mencuci piring. Siang nanti dia ingin ke perpustakaan kampus untuk mencari beberapa buku rujukan sebagai bahan penyusunan tugas akhir.
Saat hampir sampai tempat kos, mobil sejuta umat milik B terparkir di depan gerbang. Saras menghentikan motor, dan turun mengendap-ngendap bersembunyi di balik semak-semak, seakan dirinya bersembunyi dari buruan debt collector.
Dia menyendil kaget ketika ponselnya berdering. Karena panik dia meriject panggilan itu.
Sial! kalau begini B pasti tahu kalau aku sengaja menghindarinya.
Benar saja sebuah pesan menyusul masuk.
[kenapa kamu reject?]
[lagi di ruang dosen. nanti aku telpon balik]
Itu PNS baru jam sepuluh udah keluyuran. Apa dia tidak punya pekerjaan? Huh menyebalkan.
Saras mengintip lagi, mobil sejuta umat itu bergerak pergi. Dia bisa bernafas lega sekarang. Hufttt... aman sulaiman!
Tanpa sadar tangan Saras dari tadi ternyata mencabuti rumput di bawah kakinya saat berjongkok. Haaa... untung tidak aku makan ini rumput.
Sampai malam hari, B belum menerima satu panggilan pun dari Saras. Dadanya bergemuruh. Setelah kemarin di tinggalkan begitu saja di warung bakso dengan sisa semangkuk bakso yang membuat dirinya menyesal seumur hidup.
Apa maksudnya mempermainkan 'ku seperti ini!
Sehari, dua hari, tiga hari, Saras masih bermain kucing-kucingan dengan B. Bagai mencari kutu di rambut gimbal orang gila, dia sulit untuk di temukan. Ponselnya juga sering non aktif.
Hari keempat, pagi-pagi sekali Saras sudah sibuk menumis bumbu untuk memasak oseng kacang panjang. Untuk menu tambahan dia hanya ingin menceplok telur dan menggoreng tempe.
"Aku sudah lebih baik, kamu tidak perlu datang kesini lagi dan repot memasak." Paijo berdiri bersandar pada tembok tak jauh dari Saras berdiri.
"Kenapa? kamu keberatan aku disini? aku sudah membantu hlo..." Saras manyun tapi tangannya masih lincah mengoseng.
"Sepertinya kamu semakin betah disini. Sudah tidak alergi lagi dengan 'ku?"
Saras mencibir, rasa tanggung jawabnya yang tinggi membuat dia rela melakukan apa saja. Demi kelegaan batin. "Kalau kamu sudah benar-benar sembuh dan sudah bisa kembali bekerja, baru aku hengkang. Wusss... ga perlu di usir aku sadar diri."
"Terserahlah..."
"Oh ya btw, kamu kerja apa? sepertinya sudah lama ga bantu-bantu di warung cak Sam"
"Nyari kayu di hutan," jawab Paijo singkat. Mulutnya komat kamit mengunyah pisang yang ada di atas meja makan.
"Maksudnya ngumpulin kayu bakar dari ranting-ranting pohon gitu? atau jangan-jangan kamu ilegal logging?"
"Ngumpulin kayu bakar? emang kamu pikir aku manusia primitif? jaman sekarang buat apa kayu bakar, semua orang sudah pakai gas untuk memasak, Saraswati..." gemas sekali.
"Ya siapa tahu..."
"Oh... atau memang benar kamu praktek ilegal logging? tebang pohon sembarangan dan mencurinya. Ya Tuhan Paijo, sadar itu melanggar hukum!" Ucap Saras sambil menunjuk-nunjuk dengan spatula ke arah wajah Paijo.
Wah bocah ini!
"Woi! ga usah pakai spatula juga kali. Wajah 'ku ini aset berharga. Lagipula aku ikut orang dan usahanya itu legal. Ada surat jalan resmi. Jadi jangan sembarangan bicara."
Saras nyengir, ternyata dia terlalu menggebu-gebu untuk curiga pada Paijo. "Maaf..."
"Aku jadi penasaran, kapan-kapan boleh ikut?"
Paijo tidak menjawab, dia memilih menjatuhkan pantat pelan-pelan ke kursi. "Aku sudah lapar."
Dengan sigap Saras menjawab. "Sepuluh menit lagi paduka raja. Hehe..."
*****
Selesai memasak, Saras pulang dengan sekantong pakaian kotor milik Paijo. Awalnya dia ingin mencuci baju-baju itu dengan tangannya sendiri. Tapi karena terburu-buru harus ke kampus, akhirnya dia memutuskan untuk membawa ke tempat loundry yang tak jauh dari asrama kampus.
Tempat laundry di sana terkenal cepat pengerjaannya. Buka dua puluh empat jam, bahkan bisa di tunggu. Yah, walaupun sedikit lebih mahal perkilonya.
"Saya ambil nanti sore jam tiga, bisa?"
"Beres mbak."
Saras kembali berkutat dengan laptop dan setumpuk buku di hadapannya. Karena sedang di dalam perpustakaan, dia sengaja merubah pengaturan ke mode diam. Sangking fokusnya, dia bahkan belum sempat membaca pesan dari dua sahabatnya, Rani dan Hayu.
Dua sahabatnya itu memilih bersantai-santai dulu sambil menunggu ilham datang. Jalankan mengunjungi perpustakaan seperti Saras, mencari referensi judul skripsi atau mencari buku rujukan, mereka sepertinya lebih senang mengunjungi salon. Alhasil, Saras lebih sering ke kampus sendiri. Lagipula Saras sudah bertekad harus selesai tahun ini juga, atau tuan Bagong terhormat akan marah dan mengancamnya pulang walaupun tanpa gelar sarjana.
Saras yang naif lebih memilih universitas swasta di Malang hanya karena dia cocok dengan hawa di sana, adem. Padahal di Semarang banyak universitas swasta yang tak kalah bagus. Hal itu yang membuat H. Bagong tidak begitu merestui kepergian Saraswati ke Malang.
Perut Saras terasa keroncongan, sekilas dia melirik jam di pergelangan tangannya.
Huh... pantas saja aku lapar. Ternyata aku melewatkan jam makan siang.
Cukup untuk hari ini, dia mengemasi barang-barang dan beranjak keluar perpustakaan yang memang sangat nyaman itu. Setelah mengisi perutnya sampai kenyang, tidak lupa dia mampir untuk mengambil pakaian Paijo di tempat laundry.
Baiklah beres, tinggal antar langsung ke rumah Paijo. Aku khawatir, jangan-jangan stok baju di lemarinya sudah habis.
Tanpa Saras sadari, ada sepasang mata yang mengintainya dari kejauhan.
Mau kemana dia?
*****
Saras masih belum ngeh jika dari tadi dia sedang di ikuti. Dengan langkah lebar Saras berjalan dengan wajah berseri-seri.
"Pai...Jo...! Pai... JO!"
Dia cekikikan sendiri, memangil nama itu dengan nada di buat-buat ternyata lucu juga.
Pintu terbuka dan Paijo nongol dengan setelan celana kargo pendek dan kaos oblong putih. Saras sampai heran, apa Paijo tidak punya kaos selain warna itu? Baju di kantong laundry juga semuanya putih. Kapan-kapan Saras harus bertanya tentang hal itu. Sekarang Saras cukup menyerahkan baju-baju itu dan kembali cepat ke kos.
Saras merasa lelah juga. Pengen tidur sore, padahal aslinya dia tahu jika tidur sore itu tidak baik. Karena bisa menyebabkan penyakit kuning dan lebih parahnya bisa mengakibatkan gila. Itu berdasarkan kitab yang dia baca, judul kitabnya apa Saras lupa. Maap.
Laki-laki itu mengeram jengkel. Dari raut wajahnya dia terlihat menahan emosi. Di depan matanya gadis yang berhari-hari seperti kucing-kucingan bersembunyi itu, terlihat sedang senang tertawa dengan laki-laki lain. Dia benar-benar merasa di permainkan.
Saras langsung pamit pulang, tanpa masuk ke dalam rumah Paijo. Saat di perempat jalan, tiba-tiba dia di buat kaget dengan mobil sejuta umat yang berhenti memotong jalannya. Saras sudah hafal di luar kepala nomor plat mobil itu. Jadi dia merasa tidak perlu bertanya dalam hati, apalagi menyontek catatan dari penulis Rifa Mukherjee. Ahh siapa dia?
"SARASWATI apa yang kamu lakukan!?"
Saras sedikit kaget karena B langsung bertanya dengan nada tinggi. Sebisa mungkin Saras mencoba santai kayak di pantai.
Pura-pura bodoh kalau perlu. "Hai... mas, kebetulan sekali ketemu di sini."
"Kita perlu bicara!"
Baiklah, mari kita bicara. Setidaknya cari tempat yang enak buat ngobrol. Kafe atau warung angkringan mungkin?
Tentu Saras hanya berani membatin, dia berani mengabaikan B untuk beberapa saat. Tapi jika harus mengakhiri, sepertinya di tunda lebih baik. Dia masih butuh B untuk membuat H. Bagong anteng tanpa mengusiknya dengan perihal perjodohan-perjodohan.
"Baik mas, kita mau bicara di mana?"
"Masuk mobil! kita bicara di dalam." Wajah B terlihat garang mengerikan. Saras bergidik ngeri. Bagaimana jika saat di dalam mobil tiba-tiba B marah tak terkendali. Bagaimana kalau B menamparnya atau bahkan mencekiknya. Oh... itu bahaya. Lebih baik cari angkringan terdekat. Mau ke kafe juga pasti dia nolak.
"Kita cari tempat minum gimana mas?"
"Aku yang traktir."
Dan di sinilah mereka, di angkringan tepi jalan, ramai pengunjung dan di tempat umum. Mereka duduk berhadapan lesehan di sebuah tikar di bawah pohon.
Setidaknya jika dia pernah menegur 'ku tidak sopan hanya karena makan kerupuk bersuara, di sini dia tidak akan berani membentak, berbicara dengan nada tinggi, apabila mencekik 'ku.
Dua gelas es jeruk di hadapan mereka menjadi saksi. Bagaimana laki-laki klimis itu tetap terlihat elegan saat mencerca pertanyaan pada Saras.
"Kenapa kamu berbohong?"
"Kenapa kamu menghindari 'ku?"
"Siapa laki-laki itu?"
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Apa dia selingkuhan 'mu?"
Najis, pertanyaan B seperti perumusan pemilihan judul skripsi. Apa harus begini model pertanyaannya? Setidaknya kenapa tidak di ajukan satu persatu. Sambil minum es jeruk, biar tidak langsung Mak jleb di hati.
"Aku bingung harus menjawab yang mana dulu?"
bersambung...
Hai reader tercinta, sedikit dulu ya.
like dan komen, bagi hadiah juga boleh...🙏🙏🙏
Kenyataanya di sekitar kita emg gitu, org klo sdh bebal y susah berubah...
Punya camry nyinyir punya motor butut Dia ribut...
Syaitonirrojim emg..
Lambene kubro Jan Joss tenan
Emg klo mati hartanya ngaruh?
Aneh memang...
Jd g heran bnyk author berkelas yg mandek g nglanjutin karyanya
Aduk terus
Minta ja restu Umi nya saras
Orang Tua model an bagong emang mesti di gitu in..
Saras ini meski di gitu in tetep ja kocaknya keluar