[Area termehek-mehek, siapkan tisu untuk menyeka air mata]
George selalu memperlakukan Gabby dengan kasar, dingin, dan mereka berdua selalu berseteru. Hingga membuat Gabby sangat membenci George.
Suatu ketika, Geroge mengetahui siapa Gabby sesungguhnya. Orang yang ia cari selama ini. Ia hendak menepati janjinya untuk menikah dengan Gabby setelah mengetahui identitas wanita itu. Namun sayang, hati Gabby sudah terlanjur beku. Ia sudah membenci George.
Disaat George sedang mencoba mendekati Gabby, seorang pria bernama Marvel hadir dengan membawa pembuktian cinta untuk Gabby.
Hingga suatu hari, George dan Gabby terjebak dalam satu ruangan dan terjadilah malam yang membuat Gabby kehilangan kehormatannya.
“Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku, aku akan menikahimu.” George.
“Jika kau ingin menikah denganku hanya karena ingin bertanggung jawab atas kejadian ini atau ingin memenuhi janjimu dulu. Maka lupakan, aku tak membutuhkannya.” Gabby.
“Aku tetap mencintaimu, walaupun bedebah itu sudah mengambil sesuatu yang berharga darimu.” Marvel.
Siapakah yang akan dipilih oleh Gabby? George yang sudah merenggut kehormatannya atau Marvel yang menunjukkan betapa besar cintanya pada Gabby?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
“Tunggu disini sebentar, aku akan mengambil kunci kamarmu dulu,” ujar Gabby meminta Sophie untuk duduk disalah satu kursi yang ada di dekat resepsionis.
“Baik.” Sophie mengangguk mengerti dan menuruti ucapan itu.
Gabby pun mengayunkan kaki menuju lobby villa dimana tempat melakukan check-in dan check-out serta pemesanan kamar secara on the spot.
“Mau ambil kunci kamar atas nama—” Ucapannya terhenti karena bingung. Siapa yang memesankan kamar untuknya dan Sophie.
“Atas nama siapa, nona?” Dengan ramah, Resepsionis itu menunggu kalimat selanjutnya dari Gabby.
“Coba, tolong dicek atas nama Davis? Atau George? Atau Diora? Atau Gabby?” Wanita itu meminta mengecek semua nama yang disebutkan.
Resepsionis tersenyum ramah. “Maaf, bisa saya lihat bukti transaksi pemesanan kamarnya?” Ia hanya melakukan sesuai prosedur yang berlaku. Untuk mengurangi penipuan yang marak dilakukan, mengaku-aku sebagai orang yang memesan kamar. Ditambah Gabby yang tidak yakin dengan nama pemesan, membuatnya tak bisa percaya begitu saja.
Shit! Pria gila, bermulut sampah, dan bertangan ringan itu tak memberikanku bukti transaksi pemesanan, menyusahkan saja. Gabby mengumpat dalam hatinya.
“Yasudah, masih ada berapa kamar yang kosong?” tanya Gabby dengan wajah menahan kesal. Daripada ia harus mencari-cari George untuk meminta bukti itu, lebih baik dirinya memesan kamar sendiri dan nanti akan meminta ganti rugi kepada George. Karena semua salah pria itu hingga ia harus sampai ke pulau ini.
“Dua, nona.”
“Aku pesan semua, bayar sekarang atau bisa nanti?”
“Boleh nanti, tapi harus meninggalkan kartu identitas dan paspor sebagai jaminan,” terang Resepsionis itu.
“Aku bayar sekarang saja.” Gabby tak ingin dokumen pentingnya sebagai jaminan. Jika sewaktu-waktu ia membutuhkan itu akan menyulitkannya dikemudian hari.
“Untuk berapa lama, nona?”
“Satu hari saja.” Gabby berfikir setelah satu hari akan pindah ke kamar yang sudah dipesan oleh George. Daripada membuang-buang uang nantinya.
“Baik.”
Resepsionis itu lalu menanyakan tentang data diri Gabby untuk diinput datanya dan dijawab oleh Gabby. Setelah selesai, Gabby pun menunjukkan paspor dan kartu identitasnya.
“Totalnya sepuluh juta rupiah.”
“Bisa membayar menggunakan Euro?” Gabby mengeluarkan dompetnya dan melihat di dalamnya hanya ada uang Euro, sebab ia belum sempat menukarkan uangnya.
“Maaf, kami hanya menerima uang rupiah.”
“Apa disini bisa menukar uang?”
“Maaf, tidak bisa.”
Mendesah kesal Gabby di hadapan Resepsionis itu. Sudah tak diberi makan, kini ia harus diribetkan dengan masalah kamar.
“Bayar belakangan saja kalau begitu.” Gabby langsung mengeluarkan paspor dan kartu identitasnya. Ia meletakkan dengan sangat kasar ke hadapan resepsionis itu. “Ini, mana kuncinya.” Ia langsung menengadahkan tangannya. Dada wanita itu naik turun begitu kesalnya dengan George yang membuatnya susah.
Dengan tersenyum kikuk, Resepsionis itu mengambil dokumen Gabby dan memberikan dua kunci.
“Thanks.” Gabby langsung menyambarnya dan berlalu menghampiri Sophie.
Resepsionis itu mengelus dadanya setelah kepergian Gabby.
“Ayo!” Nada bicara wanita itu sedikit meninggi ketika mengajak Sophie untuk mengikutinya.
Sophie segera berdiri dan menyusul Gabby yang sudah berjalan cepat mendahuluinya.
“Kita belum kenalan, aku Sophie seorang psikiater.” Ia mengulurkan tangannya seraya terus berjalan.
Gabby melirik sekilas tangan itu dan membalasnya. “Gabby, manusia biasa.” Tak ada senyum ramah dari wajahnya, tak seperti Sophie yang berusaha menunjukkan keramahannya.
“Kenapa kau terlihat sangat kesal? Apa karena kau sedang bertengkar dengan kekasihmu itu?” tebak Sophie. Ia mengira jika Gabby dan George adalah sepasang kekasih yang tengah berseteru.
Gabby menghentikan langkahnya. “Siapa yang kau maksud kekasih?” tanyanya dengan mata begitu tajam menatap Sophie.
Pasangan yang sama-sama mengerikan. Batin Sophie.
“Kau dan pria yang datang bersama kita ke Bali. Kalian seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar,” cicit Sophie.
“Kita bukan pasangan kekasih, bahkan aku sangat membencinya!” timpal Gabby meluruskan.
“Oh ya? Kenapa aku melihat dimatamu seperti ada cinta untuknya?” celetuk Sophie yang langsung mendapatkan pelototan dari Gabby.
“Ini kamarmu! Masuk! Dan ini kuncinya!” Gabby menyerahkan kartu untuk akses pintu kamar kepada Sophie dan ia langsung berlalu pergi ke kamar sebelahnya.
Brak!
Pintu ditutup dengan sangat kasar oleh Gabby. Hari ini ia sudah sangat kesal karena George, ditambah Sophie yang mengatakan omong kosong mebuatnya semakin naik darah.
Sophie hanya bisa mengelus dadanya dan bersabar demi mencari uang. Ia sungguh merasa sial mendapatkan client yang lingkungannya berisi orang arogan dan dingin.
mending mati aja klo kyk gtu
huhuhu😭😭😭
sakit bngt jd gabby
*aku kalau diposisi George mana mau menunggu gabi, ditolak, melihat gabi bermesraan dengan pria lain, melihat gabi bercumbu dengan pria lain, dan hanya dibuat kayak boneka yang pasrah dan megiti gabi selesai dia harus ada
thor aku tanya pribadi padamu, apakah kau diposisi George dan dilakukan kayak gitu kau mau menerima begitu saja
thor jadi novelis netral, lihat lah semua disitu pandang jangan hanya melihat sudut pandang wanita saja
*sudut pandang gabi enak menolak Georg menikah dan bercumbu dengan pria lain didepan Georg setelah dia selesai dengan pria itu, Georgia harus ada untuknya, enak benar hidupnya
*yang kasian geoge, ditolak, harus pasah melihat gabi bermesraan dan bercumbu dengan pria lain, setelah gabi selesai dengan pria itu, George harus menerima begitu saja
thor pakai hati berkarya, kalau kau adil buat gabi berjuang juga untuk George, karena faktanya gabi telah melukai hati George, jangan semudah itu, kalian buat George kayak boneka yang tidak punya hati yang bisa terluka juga
pakai hati thor