"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Nabila akhirnya pura-pura memilih untuk tidur-tiduran menampakkan kalau dirinya masih lemes.
Alka menoleh sekilas, rasa enggan kembalikan menyelinap saat ini rasanya malas kemana-mana.
Satu detik, dua menit sampai lebih dari tiga puluh menit mereka sama-sama terdiam sendiri, Nabila mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur sedang Alka duduk di shofa kembali setelah mereka berdebat ulang dan itu hanya masalah sepele, sepertinya mereka memang lebih menyukai perdebatan dari pada memilih berdamai dan menciptakan suasana rumah tangga yang romantis.
Namun saat dalam keheningan telfon Alka berdering.
"Halo," kata Alka saat telfon tersambung.
"Apa? Bukannya jadwal rapat dengan Dekan dan Rektor besok lusa kenapa jadi sekarang?" tanya Alka dengan raut wajah terkejut juga setengah menahan kesal setelah beberapa menit ka mendapat telfon.
"Oh Baiklah."
Alka terdiam usai menerima telfon tersebut sebab ia enggan untuk pergi ke mana-mana hari ini karena tidak ingin meninggalkan Nabila yang sedang kurang sehat.
Akan tetapi kalau sudah soal kampus ia tidak bisa seenaknya sendiri ada tanggung jawab yang sedang ia pukul.
Alka menyimpan ponselnya kembali, lalu melirik ke arah Nabila yang sedang bermain benda pipinya.
"Saya harus ke kampus sekarang ada rapat dengan Rektor, kamu tidak papa kan saya tinggal sendiri, sebentar saja." ucap Alka menatap istrinya.
"Nggak papa Mas, pekerjaan lebih penting dari pada yang lainnya, apa lagi Aku hanya istri yang tidak di cintai oleh suami." Jawab Nabila santai, sadarkah dia kalau ucapannya kembali memicu Alka marah.
"Kamu kenapa sih?" tanya Alka dingin.
"loh kan benar kalau memang Mas mau pergi ya silahkan. Apa lagi ini urusan pekerjaan yang tidak bisa di tunda. Aku sudah sadar diri kalau bukan aku yang menjadi prioritasnya Mas Alka." ucap Nabila lagi, Alka benar heran sama istrinya.
Kalau saja Alka tidak gengsi saat ini ia juga sudah mengatakan kalau dirinya sangat mencintai istrinya itu tapi lagi-lagi hati Alka merasa berat.
"Ah bodoh amat!"
"Nabila----," Alka menatap istrinya dan siap mau mengucapkan cinta dan memastikan bahwa apa yang ada dalam pikirannya istrinya itu salah, tapi saat mulutnya siap untuk menganga saat itu juga Nabila mendapatkan telfon masuk.
Dan ternyata Fathan yang menghubunginya.
"Siapa?" tanya Alka curiga karena istrinya tidak langsung mengangkat.
"Kak Fatihah Mas," lirih Nabila tidak enak.
Shontak Alka terkejut dan juga langsung meradang.
"Kenapa dia menghubungi mu?" Alka mendakat dan menatap ponsel sang istri dan benar saja kalau yang menghubungi istrinya adalah Fathan dosen muda yang berbakat dan juga pintar.
Hati Alka langsung panas, karena sadar kalau Fathan jauh lebih muda dari dirinya, walau soal tampan Alka tidak kalah tapi soal umur pasti lebih menang pria itu.
"Aku tidak tahu Mas, yang mungkin saja ada urusannya dengan kuliah ku." jawab Nabila.
"Ya sudah angkat saja tapi saya mau tahu apa yang mau dia bicarakan dengan isteri orang." sungut Alka kesal.
Nabila memencet warna hijau dan langsung loaudspiker.
"Assalamu'alaikum Kak?" salam Nabila ramah, dan itu makin buat Alka meradang.
"Waalaikumussalam Dek Nabila lagi apa?" jawab Fathan sambil bertanya.
Nabila pun terkejut tidak biasanya Fathan memanggil dirinya dengan sebutan Dek, sedang Alka menatap tajam ke arah ponsel yang di pegang istrinya dan hendak membanting ponsel tersebut.
"Ini Kak mau ke kantor, sudah siap." jawab Nabila gugup ia berharap dengan begitu Fathan mengerti.
"Oh, Aku kira sekarang kamu lagi free soalnya jadwal kamu yang magang cuma tiga hari," ucap Fathan lagi.
"Hah! dia segitu perhatiannya sama istri orang?" pekik Alka dalam hatinya.
"Ada pekerjaan yang harus Aku selesaikan Kak."
"Ya udah kalau gitu, berarti waktunya kurang tepat, nanti kapan-kapan aku hubungi lagi ya, maaf sudah menganggu, assalamu'alaikum." ucap Fathan di sebrang sana lalu menutup ponselnya setelah Nabila menjawab salamnya.
"Ikut saya." titah Alka.
"loh kenapa Mas, bukannya Mas ada rapat?"
"Kenapa, kamu tidak mau ikut saya! lebih sukak ikut pria lain?" bentak Alka kembali pada setelan awal gampang marah.
"Mas cemburu?" skak Nabila.
Alka tercengang ia pun tidak tahu harus jawab apa tapi kalau harus mengakui bawah dirinya cemburu oh tentu tidak.
"Dasar muster gengsi terus di pelihara! tinggal ngaku saja susah amat, oke dech kalau Mas tidak mau mengaku aku pun juga sama." cibir Nabila dalam hatinya sambil berpikir bagaimana caranya ia bisa menaklukkan es batu yang beku pada dirinya suaminya super kutub.
"Cepet ganti baju, tunggu apa lagi?" perintah Alka.
"Tapi Mas, nanti aku di mana dong! masak namani Mas yang sedang rapat? tidak mau ah nanti dosen yang lain curiga," cebik Nabila.
"Saya punya ruangan, kamu lupa?"
"Iya Mas." sahut Nabila pasrah walau nanti ia harus boring sendiri saat menunggu suaminya rapat, lagian kenapa sih haru pakek ikut segala.