Alvin Mark adalah pengusaha kaya pemilik perusahaan pembuatan Manequin terbesar di Paris dan Indonesia. Sudah lebih dari 10 tahun, ia berada di deretan orang terkaya di Paris. Dan namanya sangat terkenal karena memproduksi Manequin yang selalu mirip dengan manusia. Penjualannya selalu menduduki No. 1 dunia.
Alvin Mark memiliki satu Manequin kesayangan buatannya sendiri yang ia simpan di rumah besarnya. Manequin cantik itu ia beri nama Keke. Setiap ada masalah apapun ia selalu ceritakan pada Keke.
Suatu hari Keke hidup dan menjadi manusia persis seperti dirinya, awalnya Alvin Mark sangat ketakutan dengan kenyataan itu. Keke selalu mengikuti Alvin kemanapun, karena ia tak mengenal dunia manusia. Seiring berjalannya waktu pada akhirnya Alvin semakin mencintai Keke yang hidup sebagai manusia, ia sangat cemburu saat Keke mulai bergaul dengan banyak pria.
Siapakah Keke sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Malam semakin larut, akhirnya Alvin kembali ke rumah. Dengan sigap Keke berlari dan memeluknya, membuat Alvin terkejut. Tapi Alvin membiarkan Keke memeluknya, entah mengapa Alvin memang sangat merindukan Keke seperti biasanya. Tapi kali ini Keke hidup seperti dirinya.
Keke melepaskan pelukannya. "Alvin, mengapa kau pergi sangat lama?" tanya Keke.
"Aku bekerja mencari uang Keke." jawab Alvin.
"Apa itu uang?" tanya Keke.
"Uang itu alat pembayaran manusia untuk membeli makanan dan minuman bahkan untuk membayar para pelayan disini." jawab Alvin lagi.
"Di tempatku hanya tinggal memetik tanpa uang. Mengapa kau harus membayar pelayan pakai uang?" tanya Keke lagi.
"Itulah kehidupan disini, kau perlahan akan mengerti Keke." ujar Alvin.
Keke mengangguk mencoba mengerti apa yang Alvin katakan. Tapi ia tiba tiba merasakan tubuhnya semakin panas, ia lupa saat Alvin kembali ia memeluk pria itu.
"Aku ke kamar sekarang." ujar Keke seraya berlari.
Alvin menatap wanita itu.
Ada yang aneh dengan Keke. gumamnya.
Alvin mengejar Keke ke kamarnya.
"Keke, ada apa? Aku tahu terjadi sesuatu padamu. Keke buka pintunya." teriak Alvin sambil menggedor pintu kamar itu.
Keke tak bersuara membuat Alvin semakin khawatir, ia membuka pintu kamarnya dan menemukan cahaya kembali dari kamar mandi.
Terjadi lagi, apa ini? pikir Alvin.
"Keke, apa kau sakit lagi?" tanya Alvin.
"Jangan masuk, biar aku menyembuhkannya sendiri Alvin." teriak Keke.
Tapi Keke terdengar kesakitan, Alvin mengunci kamar tersebut agar tak ada satu pun pelayan yang masuk.
"Keke, ini hanya aku. Aku ingin membantumu, aku sudah mengunci pintu kamar ini. Biarkan aku masuk." ujar Alvin namun tak ada suara Keke.
Alvin memaksa masuk ke kamar mandi, dan kembali cahaya itu menyilaukan matanya. Alvin mendekati Keke menerobos masuk ke cahaya itu. Wajah Keke memerah membuat Alvin takut. Alvin menarik tubuh Keke dari bak mandi dan memeluknya dengan erat. Seperti pertama kali, cahaya itu meredup dan membuat Keke jatuh pingsan.
"Keke bangunlah sayang." ujar Alvin tanpa sadar memanggilnya Sayang. "Keke, jangan buat aku khawatir." sambungnya seraya mengangkatnya menuju tempat tidur.
Alvin terpaksa mengganti bajunya yang basah, ia menutupi tubuh Keke dengan selimut lalu memulai membuka baju Keke.
"Maafkan aku, aku tak ingin ada orang lain yang tahu keadaanmu." gumamnya.
Setelah ia selesai, ia menutupi tubuh Keke kembali dengan selimut. Alvin menatap wajah cantik itu sambil menggenggam tangannya.
"Aku sama sekali tak tahu apa yang terjadi pada tubuhmu Keke. Aku benar benar khawatir terjadi sesuatu yang buruk padamu. Tapi aku tak bisa memanggil dokter lagi, itu yang kau inginkan saat itu. Tapi aku sekarang bingung harus berbuat apa." ujar Alvin seraya mengelus rambutnya.
Alvin sangat lelah karena pekerjaannya hari ini, tanpa sadar ia ikut tertidur sambil menggenggam tangan Keke.
*****
Hari semakin terang, Keke mulai mengerjapkan matanya dan terbangun. Ia sangat terkejut saat melihat Alvin tidur di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Keke mencoba melepaskan tangannya, namun gerakannya justru membangunkan Alvin. Alvin terkejut seraya terbangun sambil mengingat kejadian semalam.
"Kau baik baik saja?" tanya Alvin.
Keke mengangguk. "Mengapa kau tidur disini?" tanya Keke.
"Maaf aku ketiduran karena menjagamu semalam. Kau benar benar yakin tak apa apa?" tanya Alvin lagi.
"Aku baik baik saja Alvin, terima kasih. Tapi mengapa kau mendekatiku lagi, aku sudah mengatakan padamu, jangan dekati aku saat terjadi seperti itu lagi." ujar Keke.
"Dengar Keke, mulai sekarang setiap itu terjadi. Kau tak boleh lari dariku." pinta Alvin. "Aku akan memelukmu, sepertinya cahaya itu hilang saat aku memelukmu. Apa itu kekuatanmu yang perlahan hilang?" tanya Alvin.
Keke mengangguk. "Tapi sepertinya kekuatanku hilang jika aku memelukmu, tapi mengapa cahaya itu meredup jika kau yang memelukku." jawabnya bingung.
Alvin berpikir sejenak. "Sepertinya aku tahu jawabannya, kau diamlah." ujar Alvin seraya memeluk Keke.
Keke berusaha melepaskan pelukan Alvin, tapi Alvin melarangnya. "Diamlah Keke, aku hanya membuktikan pikiranku." kata Alvin.
Keke terdiam dan menerima pelukan itu. Alvin melepaskannya.
"Apa kau merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhmu?" tanya Alvin.
Keke menggeleng, setelah Alvin memeluknya memang tak ada rasa panas yang muncul dari tubuhnya.
Alvin tersenyum. "Itulah jawabannya Keke. Kau tak bisa memelukku tapi aku bisa memelukmu. Jadi mulai sekarang, jangan memelukku sembarangan. Jika kau merindukan aku, aku yang akan memelukmu." ujarnya.
"Siapa yang merindukanmu? Kau sangat percaya diri." ujar Keke seraya turun dari ranjangnya dan terkejut saat pakaiannya berbeda. "Siapa yang melakukannya?" tanyanya.
"Maafkan aku Keke, aku terpaksa mengganti bajumu yang basah. Tapi kau tenang saja, aku tak melihat apapun. Aku mengganti bajumu dibawah selimut." ujar Alvin. "Aku bersumpah tak melakukan apapun Keke." sambungnya.
Keke menatapnya tajam. "Keluarlah, aku mau mandi." usirnya.
Alvin menelan ludahnya dan mengangguk. "Aku tunggu saat sarapan." kata Alvin seraya meninggalkan kamar Keke.
*****
Alvin menyenderkan tubuhnya di pintu kamar itu sambil mengatur nafasnya. Jantungnya tiba tiba tak terkendali saat menatap Keke.
Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku? Apa aku mulai menyukai Keke? Tidak... tidak... mungkin aku hanya mencintai manequin Keke saja. Ya... ini karena kebiasaanku bersama manequin Keke. pikir Alvin.
"Tuan sedang apa di depan kamar non Keke?" tanya bu Farah mengejutkannya.
"Hah...? Tidak bu... aku hanya ingin membangunkan Keke." ujarnya tergagap. "Sepertinya ia sudah bangun." sambungnya seraya meninggalkan bu Farah masuk ke kamarnya.
Bu Farah tersenyum melihat tingkah tuannya. Seorang Alvin Mark yang sangat kaku, berubah setelah kedatangan Keke membuat bu Farah sangat senang. Bu Farah masuk ke kamar Keke dan mulai membereskan kamar itu.
Alvin mengatur nafasnya di kamar dan segera membuka bajunya dan menuju kamar mandi. Namun pikirannya tak bisa lepas dari wanita asing itu.
Siapakah kau Keke? Mengapa aku tak bisa mengendalikan jantungku jika berada dekat denganmu. Harusnya aku mengusirnya karena ia bukan bagian dari kehidupanku, tapi mengapa aku malah merasa senang dengan kehadiranmu. gumam Alvin.
Alvin menyelesaikan mandinya lebih cepat dari biasanya, ia segera berpakaian dan menuju ruang makan. Disanalah wanita cantik yang terus mengganggu pikirannya sudah menunggunya dengan senyuman seperti seorang peri dari langit.
Alvin duduk di tempatnya dan menatap Keke tanpa henti.
"Apa kau yakin tak mau mencoba makan yang lain?" tanya Alvin memecahkan keheningan.
Keke menggeleng. "Ini sudah lebih dari cukup." jawabnya. "Alvin, bisakah aku ikut keluar denganmu hari ini?" tanyanya.
Alvin menggeleng. "Bersabarlah, aku janji akan membawamu keluar. Tapi untuk saat ini, aku masih belum bisa. Aku belum selesai membuat pengganti Keke. Kau mengerti kan maksudku?" ujar Alvin.
Keke mengangguk. "Tapi aku tak memiliki waktu banyak, aku hanya diberi waktu satu tahun untuk mencari sesuatu itu." jawab Keke.
"Kau disini baru beberapa hari Keke, masih banyak waktu yang tersisa. Tolong katakan padaku apa yang kau cari, agar aku bisa membantumu." kata Alvin.
Keke menggeleng. "Ini rahasia, aku tak akan memberitahu siapapun. Hanya biarkan aku keluar dari sini dan menyelesaikannya. Jika aku mendapatkan apa yang aku cari sebelum satu tahun, bukankah itu bagus untukmu. Aku bisa keluar dari tubuh ini dan meninggalkanmu. Aku tak akan mengganggu kalian lagi." ujar Keke.
Entah mengapa kata kata Keke itu membuat Alvin sedih, ia malah takut ditinggalkan wanita ini sekarang. Bu Farah memperhatikan perubahan raut wajah Alvin.
"Non makan yang banyak biar selalu sehat, tuan Alvin akan membawa non Keke jalan jalan dan mengenal dunia ini setelah semuanya sudah siap." ujar bu Farah.
"Bu Farah benar Keke, jadi makanlah. Aku akan berangkat bekerja sekarang. Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin." janji Alvin.
Keke mengangguk dan Alvin meninggalkannya untuk bekerja kembali.
*****
1...
2...
3...
Next Part...
Happy Reading All...😘