"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tumpangan Dua Sisi 15.
Mesin jip tua milik abang Rendy memiliki suara berat yang konstan, jenis suara yang entah bagaimana justru menenangkan di tengah sunyinya malam berhujan.
Aroma kopi instan dan pewangi mobil rasa jeruk yang sudah hampir habis mengambang di udara. Rendy duduk di depan, di sebelah abangnya yang fokus menyetir tanpa minat untuk ikut campur. Sementara Nawang tenggelam di kursi belakang, membiarkan tubuhnya yang semula kaku perlahan-lahan mencair oleh kehangatan heater.
Sudah tujuh menit berlalu sejak jip itu bergerak meninggalkan halte. Tidak ada percakapan.
Rendy sibuk menatap ponselnya—mungkin memeriksa grup koordinasi OSIS atau membaca dokumen format PDF—sedangkan Nawang hanya memperhatikan bulir-bulir air yang berkejaran di kaca jendela.
Bagi Nawang, keheningan ini adalah kemewahan. Bersama Timy, keheningan selalu terasa menegangkan, seperti bom waktu yang siap meledak karena ada emosi yang sengaja disembunyikan.
Namun di sini, bersama Rendy yang dingin, keheningan terasa fungsional.
Cowok itu tidak menuntutnya untuk tersenyum, tidak juga mendesaknya untuk bercerita.
Tepat di menit kesepuluh, jip itu melambat.
Lampu lalu lintas di perempatan besar berubah merah. Abang Rendy menginjak rem, membuat tubuh Nawang sedikit condong ke depan sebelum kembali bersandar.
Hujan di luar mulai mereda menjadi gerimis tipis, meninggalkan aspal yang basah dan memantulkan pendar cahaya lampu jalanan sewarna jingga.
"Ren, itu anak SMA lu bukan?"
Suara abang Rendy yang berat memecah kesunyian. Dia menunjuk dengan dagunya ke arah sisi kiri jalan, tepat di jalur motor yang berhenti di barisan paling depan, sejajar dengan jip mereka.
Nawang secara refleks ikut menoleh. Dan pada detik itu juga, jantungnya seperti dijatuhkan dari lantai sepuluh.
Di atas motor matic vespa putih yang sangat dia kenali, duduk seorang cowok dengan jaket denim yang dilapisi jas hujan plastik transparan yang sudah robek di bagian lengan. Timy. Rambutnya yang biasanya rapi kini basah dan menempel di dahinya. Wajah cowok itu tampak tegang, matanya lurus menatap lampu merah, mencerminkan keletihan sekaligus kecemasan yang akut.
Namun, bukan fakta bahwa Timy basah kuyup yang membuat tangan Nawang mendadak dingin. Melainkan fakta tentang siapa yang duduk di jok belakang motor itu.
Kanaya.
Gadis itu memakai jas hujan berwarna kuning cerah—jas hujan cadangan milik Timy yang biasanya disimpan di dalam bagasi motor untuk Nawang. Naya memeluk pinggang Timy erat-erat, menyembunyikan wajahnya di punggung cowok itu seolah-olah dunia di luar sana terlalu menakutkan untuk dilihat.
Timy tidak menolak pelukan itu. Dia justru sedikit memundurkan posisi duduknya, memberikan ruang lebih agar Naya tidak terkena cipratan air dari kendaraan lain.
Nawang terpaku. Logikanya bekerja dengan kecepatan penuh, merekonstruksi apa yang baru saja terjadi.
Timy mencarinya ke halte setelah panggilannya tidak diangkat? Tidak. Rute jalan ini mengarah dari area rumah sakit kota menuju perumahan Naya. Timy sejak awal memang bersama Naya di rumah nya. Telepon-telepon yang masuk ke ponsel Nawang tadi kemungkinan besar hanyalah formalitas pencegahan—sebuah upaya Timy untuk memastikan Nawang berada di tempat aman agar dia bisa melanjutkan misinya menjadi penyelamat Naya tanpa rasa bersalah.
"Timy," gumam Nawang pelan, hampir tidak terdengar oleh dirinya sendiri. Rasa sakitnya ada, tapi anehnya, rasanya tidak setajam kemarin. Rasa sakit itu kini bercampur dengan semacam rasa geli yang sinis. Analogi Rendy tentang 'divisi yang bangkrut' mendadak terngiang lagi di kepalanya.
Rendy tidak menengok ke belakang. Dia hanya melirik lewat spion tengah, memperhatikan ekspresi Nawang yang mendadak berubah datar dan pucat.
"Mau gua buka kacanya?" tanya Rendy. Suaranya datar, tanpa intonasi mengejek atau kasihan. Pertanyaan itu murni sebuah opsi taktis. "Lu bisa panggil dia sekarang kalau mau minta penjelasan. Lampu merahnya masih tiga puluh detik."
Nawang menatap punggung Timy dari balik kaca jip yang berembun. Dia membayangkan skenarionya: dia membuka kaca, memanggil nama Timy, lalu Timy akan menoleh dengan wajah bersalah yang sangat familiar.
Timy akan membuat seribu alasan rasional tentang bagaimana Naya tiba-tiba sesak napas, atau bagaimana Naya tidak punya siapa-siapa lagi malam ini. Dan Nawang, seperti biasa, diharapkan untuk mengangguk dan berkata, "Nggak apa-apa, Tim. Aku paham."
Nawang menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia memundurkan tubuhnya, sengaja bersembunyi di balik bayangan pilar jendela jip agar tidak terlihat dari luar.
"Nggak usah," jawab Nawang. Suaranya kali ini tidak bergetar. "Buang-buang bensin."
Abang Rendy terkekeh pelan, tampaknya menangkap aura drama remaja yang sedang terjadi di kursi belakangnya, namun dia cukup bijak untuk tetap diam.
Rendy membalikkan tubuhnya sedikit, bersandar pada jok depan sambil menatap Nawang langsung ke mata. "Pilihan yang bagus. Kalau lu turun sekarang, lu cuma bakal menginterupsi sesuatu yang sebetulnya udah selesai. Lu bakal kelihatan kayak pihak ketiga di hubungan mereka, padahal status lu itu kekasihnya."
Kata-kata Rendy kejam, tapi itu adalah kebenaran telanjang yang selama ini coba Nawang tutupi dengan kata 'toleransi'.
"Gua cuma kepikiran satu hal," kata Nawang, menatap balik cowok ketua OSIS itu. "Jas hujan kuning yang dipakai Naya itu... gua yang beliin minggu lalu karena Timy sering lupa bawa payung."
Rendy menaikkan sebelah alisnya. "Dan sekarang investasi lu dipakai untuk memfasilitasi operasional kompetitor?"
Nawang tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum sinis. "Iya. Bodoh banget, kan?"
"Nggak bodoh. Cuma kurang kalkulasi," balas Rendy tepat saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.
Motor Timy melesat lebih dulu, membelah sisa gerimis, membawa Naya yang masih memeluknya erat menjauh ke arah barat. Sementara jip hitam yang ditumpangi Nawang bergerak stabil ke arah utara, memisahkan jalur mereka secara mutlak.
Nawang merogoh saku parka yang dipinjamkan Rendy. Dia mengeluarkan ponselnya yang layarnya kembali menyala menampilkan pesan teks dari Timy: 'Neng, kamu di mana? Aa lagi di jalan, ada urusan sebentar. Jangan ke mana-mana, nanti aa jemput.'
Pesan itu dikirim dua menit yang lalu. Tepat saat Timy sedang mengendarai motor dengan Naya di belakangnya.
Nawang mengetik balasan dengan satu tangan. Singkat, padat, dan tanpa tanda seru.
'Nggak usah jemput A. Neng udah pulang."
Setelah menekan tombol kirim, Nawang langsung mematikan daya ponselnya.
Nawang bersandar pada kursi jip yang empuk, menutup matanya sejenak.
Di depannya, Rendy kembali fokus pada ponselnya sendiri, membiarkan keheningan kembali menguasai kabin mobil.
......................
...****************...
Tbc,