Rasa percaya diri Refisha benar-benar hilang karena di usianya yang sudah memasuki 29 tahun, orang tuanya berkali-kali menjodohkan, tetapi banyak kendala pria menikahinya dan termasuk banyak orang tua pria yang tidak setuju menikah dengan.
Refisha juga selalu bertentangan dengan adiknya yang sudah berusia 24 tahun dan ingin secepatnya menikah. Banyak sekali permasalahan percintaan dalam hidupnya yang tidak sesuai dengan karirnya dalam dunia pekerjaan.
Sampai seketika orang tuanya kembali menjodohkannya dengan seorang Ustadz, Refisha tidak pernah menolak apapun yang dilakukan orang tuanya, dia setuju, tetapi bukannya kebahagiaan yang didapatkan justru penghinaan dari pria yang memahami permasalahan agama itu membuat kepercayaan dirinya semakin hilang.
Lalu siapa sangka Ustadz pemuka agama itu menolaknya, satu pria pria yang dia temui tidak sengaja dengan usianya yang lebih muda, justru ingin melamarnya, mengejarnya dengan cara ugal-ugalan.
Mari mengikuti ceritanya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 Bertengkar
Refisha dan Ezra saat ini sudah sama-sama berada di dalam kamar.
"Jadi kamu menggunakan uang pinjaman untuk acara pernikahan kita?" tanya Refisha harus membahas dengan suaminya membuat Ezra mengusap wajahnya kasar menggunakan kedua tangannya.
"Tetapi aku akan tetap bertanggung jawab untuk semua biaya itu," ucap Ezra.
"Ezra jika tidak mampu seharusnya kamu tidak perlu meminjam, aku tidak pernah memaksakan pernikahan harus seperti apa dan yang terpenting tidak dibebankan kepada kamu, kejadiannya tidak akan seperti ini," ucap Refisha.
"Refisha bukan aku tidak mampu, aku mampu, lagi pula mau dana itu aku pinjam atau apapun itu dan tetap saja aku yang bertanggung jawab untuk membayarnya dan itu sama saja dana pribadiku!" tegas Ezra.
"Tetapi kalau...."
"Refisha, aku tahu aku hidup masih bergantung pada kedua orang tuaku, aku tidak memiliki bisnis seperti kamu yang sudah memiliki penghasilan sendiri sejak dulu, mengelola banyak bisnis, bukan berarti aku tidak memiliki apa-apa, aku bertanggung jawab dan yang paling terpenting aku menuruti keinginan kamu jika acara pernikahan kita tidak bergantung kepada orang tua!" tegas Ezra.
"Jadi kamu jangan meremehkanku, hanya karena aku meminjam uang untuk biaya pernikahan kita!" tegas Ezra.
Dia justru tersinggung, Ezra semakin frustasi dan memilih untuk terlalu dari hada Refisha. Ezra memilih untuk masuk ke kamar mandi dan Refisha hanya melihat bagaimana kepergian suaminya itu.
******
Ezra ternyata tidak bisa tidur, terlihat bagaimana dia yang tampak frustasi duduk di sofa dengan memijat-mijat kepalanya sembari matanya terpejam, mungkin ini ada kaitannya dengan masalah ekonomi yang baru mereka hadapi karena dana yang terpakai untuk biaya pernikahannya bersama istrinya yang harus dia pinjam dari saudara sepupunya.
Refisha yang berada di atas tempat tidur, pada akhirnya juga tidak bisa tidur karena sang suami tidak tenang. Refisha menghela nafas dan menyibak selimut kemudian turun dari ranjang menghampiri Ezra.
Ezra membuka matanya ketika sang istri sudah duduk di sebelahnya dengan memegang lengan Ezra.
"Kenapa tidak tidur, ini bahkan sudah jam 02.00 pagi?" tanya Refisha.
"Kamu istirahat saja terlebih dahulu," jawab Ezra.
"Apa karena memikirkan masalah dana itu?" tebak Refisha.
"Refisha, aku berjanji pada Robi uang itu akan dikembalikan dengan dicicil dan dipastikan satu tahun bisa lunas, hanya saja karena Robi membutuhkan wanita secara mendesak karena permasalahan pada bisnisnya jadi dia memintanya," jelas Ezra.
"Lalu?" tanya Refisha.
"Aku tidak mungkin membiarkannya sulit karena uang yang aku pakai, aku pasti akan berusaha untuk mencari dananya tanpa memakai uang Mama dan Papa," jelas Ezra.
Refisha menghela nafas dan kemudian berdiri dari tempat duduknya, terlihat Refisha menuju lemari dan tidak lama kembali menghampiri suaminya ketika membawa buku tabungan.
"Pakailah untuk mengganti uang sepupu kamu," ucap Refisha membuat Ezra menoleh ke arah sang istri.
"Kamu bisa gunakan tabunganku untuk sementara untuk meredakan kondisi ini," ucap Refisha.
"Kamu pikir aku tidak mampu untuk membayarnya?" tanya Ezra ternyata jalan tengah yang diambil istrinya justru membuatnya tersinggung.
"Aku bisa mengurus masalah ini, tidak perlu memakai uang kamu atau uang kedua orang tuaku!" tegas Ezra.
"Kamu punya tabungan untuk membayarnya?" tanya Refisha.
Ezra terdiam dan jika dia memiliki uang sebanyak itu, kenapa juga dia harus meminjam uang pada sepupunya untuk biaya pernikahan mereka.
"Sudah pasti Ezra jalan yang kamu ambil setelah ini adalah meminjam ke tempat lain untuk menutupi dana yang kamu pakai dari Roby, itu bukan menyelesaikan masalah dan justru menambah masalah," Refisha sedikit menekan suaranya.
"Simpan tabungan itu!" ucap Ezra dengan suara rendah.
"Kita pasangan suami istri dan sudah sewajarnya saling membantu satu sama lain!" ucap Refisha.
"Kamu bukan membantuku tapi justru merendahkanku, kamu pikir aku tidak mampu menyelesaikan masalah ini, dana itu akan aku kembalikan pada sepupuku dan terserah dari mana aku mendapatkan yang terpenting bukan memakai uang kamu dan juga uang kedua orang tuaku!" tegas Ezra justru semakin marah karena mendapat bantuan dari istrinya.
Ezra semakin frustasi dan kemudian langsung berdiri dari tempat duduknya menaiki ranjang dan memilih berbaring miring dan tidak peduli apapun lagi. Refisha melihat bagaimana suaminya yang benar-benar marah.
******
Sarapan kali ini terasa berbeda, terasa begitu hening dengan Ezra dan Refisha harapan bersama kedua orang tua mereka tetapi pasangan suami istri itu tampak diam saja, Ezra sudah pasti masih kesal dengan apa yang terjadi.
"Bagaimana Ezra tentang dana yang harus dikembalikan pada Roby, jangan sampai masalah Roby semakin besar. Mama dan Papa akan segera membayarkan dana itu jika kamu memang tidak bisa membayarnya," sahut Bitha.
Ezra sampai berhenti makan dan melihat ke arah Bitha.
"Mama bisa tidak jangan terus-menerus membahas masalah biaya, ini adalah masalahku dengan Roby dan aku akan menyelesaikan sendiri. Aku sudah mengingatkan kepada Mama dan Papa untuk ikut campur!" tegas Ezra.
"Tetapi masalahnya Ezra, kamu....."
Bitha tidak melanjutkan kalimatnya Ezra berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi. Refisha melihat kepergian suaminya itu dengan menghela nafas.
"Refisha, Makanya kamu tuh jangan minta yang aneh-aneh, sudah jelas-jelas kalau masalah pernikahan itu adalah tanggung jawab orang tua, kamu sama saja merendahkan putra saya dengan cara kamu meminta seperti itu!" sahut Bitha melampiaskan kemarahan Refisha.
"Ma, kenapa jadi Refisha yang kenak? dia bahkan tidak tahu apapun," sahut Dellon.
"Papa tidak ingat apa yang dia katakan di saat kita memilih gedung pernikahan? dia ingin sederhana jika suaminya tidak mampu, tetapi dia tidak memikirkan bagaimana nama baik keluarga kita yang tidak mungkin membiarkan pernikahan ke putra kita sederhana, putra kita harus berhutang ke sana kemari hanya untuk memenuhi semua keinginannya!"
"Jangan mentang-mentang kamu memiliki bisnis bisa menghasilkan uang sendiri dan kamu semena-mena kepada putra saya!" lanjut Bitha benar-benar menyalahkan Refisha.
"Ma sudah cukup!" Dellon berusaha untuk mengendalikan istrinya yang menyalahkan orang lain.
Refisha hanya diam saja, padahal acara pernikahan sudah selesai dan siapa sangka adanya kendala dana yang tidak diselesaikan, bagaimana Refisha tidak bisa hanya diam saja karena sekarang sudah menjadi istri Ezra.
*****
"Dari awal Mama sudah mengatakan kepada kamu memikirkan baik-baik tentang kamu menikahi wanita itu!" Bitha saat ini Ezra yang duduk di sofa terlihat semakin prestasi memijat-mijat kepalanya.
"Kamu tahu Ezra resiko seorang pria yang baru menitih karir dan menikah dengan wanita yang sudah memiliki karir yang bagus, wanita itu akan terus merasa paling diatas, merasa harus di hormati dan bahkan lupa kodratnya sebagai istri!"
"Ini yang terjadi, seharusnya ketika Refisha waktu itu meminta untuk biaya pernikahan berdasarkan uang kamu sendiri dan seharusnya kamu sudah mulai berpikir bahwa dia secara tidak langsung telah merendahkan kamu dan lihatlah kamu terlibat hutang piutang hanya karena masalah biaya pernikahan,"
"Kamu masih punya harga diri di hadapan istri kamu?"
"Ini baru permulaan dan seterusnya permasalahan rumah tangga yang akan kamu hadapi bersama istri kamu akan terus seperti ini, dia akan terus semakin sibuk mengejar karirnya dan sementara kamu kerjaannya yang malas-malasan terus dan akan tetap berada di bawah kendalinya!" Bitha terus berbicara dengan sesuka hatinya.
Bersambung.....