Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angkuh di Panggung Loyola
Deru halus mesin mobil sedan mewah bernomor polisi pilihan memecah keheningan pelataran SMA Loyola pagi itu. Begitu mobil ber-AC sejuk itu berhenti tepat di depan teras utama bangunan sekolah yang megah, sang sopir pribadi dengan sigap turun dan membukakan pintu belakang. Dari dalam kendaraan mewah itu, melangkah keluar sosok Clarissa dengan gaya anggun yang amat disengaja, seolah ia sedang berjalan di atas karpet merah sebuah peragaan busana kelas dunia.
Seragam putih-abu-abu yang dikenakannya tertata sangat rapi tanpa sedikit pun lipatan, hasil cucian dan setrika sempurna dari asisten rumah tangga di rumah megahnya. Tas kulit asli bermerek terkenal asal Prancis berharga puluhan juta rupiah menggantung elegan di bahunya. Sepatu hak rendah impor bertabur aksen emas mengkilap menyapu lantai keramik teras saat ia melangkah. Dengan dagu terangkat tinggi, punggung tegap, dan tatapan mata menyapu sekeliling, Clarissa memancarkan aura keangkuhan yang nyata—seolah-olah seluruh kompleks sekolah swasta bergengsi itu adalah milik pribadinya semata.
Beberapa siswi kelas 2 yang sedang berkumpul di dekat papan pengumuman langsung menghentikan obrolan mereka begitu melihat kedatangannya. Mereka melambaikan tangan menyapa penuh ramah, berusaha mencari perhatian. Clarissa hanya membalas sekadarnya dengan senyum tipis yang terkesan dingin, angkuh, dan penuh jarak. Ia tidak merasa perlu bersikap terlalu akrab dengan orang-orang yang dianggapnya berada di bawah level pergaulannya.
Bagi Clarissa, SMA Loyola adalah panggung utamanya untuk menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya kepada dunia. Ayahnya, Pak Hartono, adalah seorang konglomerat properti dan pengusaha ekspor-impor paling berpengaruh serta terpandang di seluruh Kota Semarang. Tidak ada seorang pun di sekolah ini baik murid maupun guru yang tidak tahu siapa keluarganya, seberapa luas jaringan bisnis ayahnya, dan sebesar apa kekayaan berlimpah yang mengelilingi setiap langkah kakinya. Clarissa sangat menikmati tatapan kagum, rasa segan, dan perlakuan istimewa yang diberikan oleh teman-teman seangkatannya. Ia merasa berhak mendapatkan segalanya karena status sosial keluarganya.
Ia berjalan menyusuri koridor lantai dua dengan langkah berirama yang anggun. Di samping kiri dan kanannya, dua orang siswi yang selalu mengekor ke mana pun ia pergi sibuk melontarkan pujian-pujian manis tentang gelang emas baru dan perhiasan mungil yang berkilau di pergelangan tangannya. Clarissa mendengarkan pujian-pujian itu dengan kekeh bangga yang tertahan, sesekali memamerkan jam tangan mewahnya yang memantulkan cahaya matahari pagi. Di lorong sekolah itu, ia merasa berada di puncak dunia, tak tersentuh dan tak tertandingi oleh siapapun.
Namun, rasa percaya diri yang meluap dan senyum angkuh di wajah Clarissa seketika lenyap tanpa sisa saat langkah kakinya sampai di dekat area teras perpustakaan sekolah. Matanya tiba-tiba memicing tajam, gerakannya terhenti mendadak, dan pandangannya terkunci pada sosok jangkung seorang pemuda yang berdiri di sana.
Cristan Dewangga.
cowok berparas tampan dari kelas 2 itu adalah putra tunggal Pak Wibowo dari mitra bisnis terbesar ayahnya. Dalam benak Clarissa, Cristan adalah satu-satunya sosok yang paling sempurna, terhormat, dan paling pantas untuk menjadi pendampingnya. Kedudukan keluarga mereka sangat setara di jajaran elite masyarakat Semarang, pergaulan mereka berada di lingkaran eksklusif yang sama, dan hubungan kerja sama bisnis orang tua mereka sudah membentangkan jalan yang begitu mulus untuk masa depan mereka. Clarissa merapikan jemari tangan dan helai rambut hitamnya yang terurai halus, bersiap melangkah mendekat dengan senyum terbaik dan paling memikat yang ia miliki.
Namun, sebelum kakinya sempat melangkah lebih jauh, langkah Clarissa terhenti secara total di tengah koridor. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena terpesona, melainkan karena gelombang amarah yang mendadak menghantam dadanya.
Cristan sama sekali tidak sedang melihat ke arahnya. Pandangan mata cowok itu justru tertuju penuh kehangatan pada Aurel yang baru saja melintas di lorong sambil membawa tumpukan buku pelajaran tebal dari ruang guru. Cristan menyapa Aurel lebih dulu, tersenyum tulus tanpa ada secercah pun kepura-puraan di wajahnya, bahkan pemuda itu dengan sopan menawarkan bantuan untuk membawakan tumpukan buku yang tampak melelahkan itu.
Aurel membalas sapaan tersebut dengan senyum sopan yang sangat sederhana, menggeleng pelan menolak tawaran bantuan secara halus agar tidak merepotkan, lalu melanjutkan langkahnya dengan tenang tanpa sedikit pun usaha untuk mencari perhatian atau bersikap manja di hadapan orang lain.
Melihat pemandangan itu, dada Clarissa bergemuruh hebat bagaikan badai. Jemari tangannya mengepal sangat erat di balik tali tas mewahnya hingga buku-buku jarinya memutih menahan geram. Amarah yang membara, rasa malu yang teramat sangat, dan gengsi yang hancur berkeping-keping membakar jiwanya hingga ke ulu hati. Harga diri yang selama ini ia junjung tinggi di hadapan satu sekolah mendadak runtuh begitu saja hanya karena seorang gadis sederhana.
Bagaimana bisa? batin Clarissa berteriak marah dengan mata memerah menahan panas di dadanya. Anak penjual jamu dari lereng gunung yang tidak punya apa-apa itu... berani-beraninya menarik perhatian Cristan? Cristan itu anak kawan bisnis Papaku! Derajat kami setara, hidup kami berdampingan di dunia atas, bukan dengan gadis miskin, udik, dan tak bernilai seperti dia!
Kebencian di dalam bola mata Clarissa berkilat makin tajam dan menakutkan. Ia merasa sangat terhina, diabaikan, dan dipermalukan oleh kenyataan bahwa laki-laki yang sejak lama diincarnya justru lebih mengagumi kesederhanaan Aurel seorang siswi kelas 2 yang menurut ukuran sosial Clarissa berada jauh di bawah level kehidupannya. Mengapa Cristan harus memandangi gadis miskin itu dengan tatapan selembut itu, sementara padanya Cristan selalu bersikap dingin, kaku, dan penuh formalitas?
Ketika Aurel akhirnya melintas tepat di hadapannya untuk menuju ruang kelas, Clarissa tidak tinggal diam. Dengan sengaja, ia mengambil langkah lebar ke tengah koridor dan memblokir jalan Aurel, memaksa gadis itu menghentikan langkahnya. Clarissa berdiri tegak dengan dagu terangkat, menatap Aurel dari ujung kepala hingga ujung kaki menggunakan pandangan menghina yang sangat terbuka dan merendahkan.
"Lain kali kalau jalan pakai mata, ya," desis Clarissa dengan nada suara yang cukup tajam dan sengaja dibesarkan agar terdengar oleh seluruh murid yang berada di sekitar koridor. "Jangan merasa sok polos dan cari perhatian murahan di sekolah ini. Kamu itu cuma anak seorang penjual jamu gendong dari kampung, nggak usah mimpi ketinggian bisa sejajar atau menarik perhatian orang-orang terpandang di sini. Tempatmu bukan di sini."
Beberapa siswi yang berdiri di belakang Clarissa langsung ikut tertawa kecil menyunggingkan senyum ejekan yang menyakitkan, sementara beberapa murid lain yang lewat memilih menghentikan langkah dan menatap situasi tegang itu dalam keheningan yang canggung.
Mendapat perlakuan seperti itu di tengah keramaian sekolah, Aurel tidak langsung tersulut emosi. Ia menghentikan langkahnya sejenak, lalu memeluk tumpukan buku di dadanya dengan sedikit lebih erat. Wajahnya tetap tenang, tatapan matanya jernih, teduh, dan sama sekali tanpa rasa takut sedikit pun, meskipun ada secercah rasa heran di hatinya melihat betapa besar kebencian yang disimpan Clarissa kepadanya. Aurel sama sekali tidak berniat membalas makian itu dengan kata-kata kasar, makian balik, atau teriakan emosi yang memalukan. Ia hanya menatap Clarissa lekat-lekat dengan penuh kelembutan, mengangguk sopan sekadarnya sebagai tanda menghormati, lalu perlahan menggeser langkahnya untuk melintasi samping Clarissa menuju ruang kelas tanpa mengucap sepatah kata debat pun.
Sikap tenang yang luar biasa, kedewasaan, dan keanggunan alami yang terpancar dari diri Aurel justru membuat Clarissa makin meradang bagaikan disiram minyak panas. Ia merasa ejekan dan hinaan di depan umum tadi sama sekali tidak mempan untuk meruntuhkan mental gadis itu, dan hal tersebut justru membuatnya semakin terlihat seperti orang bodoh yang dikuasai emosi di hadapan murid-murid lain.
Jemarinya meremas tali tas mewahnya kian kuat, napasnya memburu naik-turun menahan amarah yang kian meluap di dalam dada. Sejak detik itu, di bawah terik matahari pagi yang menyinari koridor SMA Loyola, Clarissa menanamkan sumpah di dalam hatinya. Ia bertekad bulat tidak akan pernah membiarkan Aurel merasa tenang, nyaman, atau menikmati hari-harinya di sekolah yang sama dengannya. Ia akan menggunakan seluruh pengaruh, kekuasaan, dan kekayaan keluarganya untuk menghancurkan ketenangan gadis itu, serta membuktikan pada semua orang terutama kepada Cristan Dewangga bahwa Aurel sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya.
kalau bisa double up