NovelToon NovelToon
Dekapan Atasan Suamiku

Dekapan Atasan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Proyek Puri Sagara

Mobil polisi berhenti di sebuah jalan kecil yang berjarak beberapa ratus meter dari kawasan Proyek Puri Sagara.

Nayla menatap keluar jendela.

Area proyek itu tampak sepi dan belum selesai dibangun. Kerangka ruko berdiri seperti bangunan kosong tanpa kehidupan. Beberapa lampu sorot menyala redup di dekat pos penjaga, sementara tumpukan material tertutup terpal basah berada di sisi jalan.

Langit kembali mendung.

Udara pagi terasa lembap.

Di kejauhan, suara kereta barang terdengar samar.

Nayla langsung teringat video Arga yang dikirim Bayu. Ada suara serupa di latar belakang. Berarti dugaan polisi mungkin benar. Arga berada di suatu tempat di sekitar proyek itu.

“Pos komando ada di belakang mobil itu,” kata Inspektur Wina. “Ibu tetap di sana bersama petugas. Jangan berjalan sendiri, jangan menerima panggilan tanpa memberi tahu saya, dan jangan keluar dari area aman.”

Nayla mengangguk.

“Saya mengerti.”

Bu Ratih menggenggam tangannya.

“Mama di sini,” bisiknya.

Pak Hendra berdiri di luar mobil, berbicara singkat dengan salah satu petugas. Wajahnya tampak sangat tegang, tetapi ketika melihat Nayla, ia berusaha tersenyum kecil.

“Papa tetap dekat,” katanya.

Nayla mengangguk.

Ia ingin mengatakan bahwa ia takut.

Namun kata itu tidak keluar.

Bukan karena ia tidak takut, melainkan karena ketakutan sudah terlalu besar untuk diucapkan.

***

Di dalam gudang utama proyek Puri Sagara, Arga duduk di kursi besi dengan kedua tangan terikat.

Wajahnya lebam. Sudut bibirnya terluka. Kemeja yang ia pakai semalam sudah kusut dan basah oleh keringat.

Namun rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa takut yang memenuhi kepalanya.

Bayu berdiri beberapa meter di depannya.

Pria itu mengenakan jaket gelap dan topi, tetapi wajahnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu gudang yang redup. Ada kemarahan yang sudah terlalu lama disimpan dalam sorot matanya.

“Kamu pikir aku tidak tahu kamu mencoba mengaku di kantor?” tanya Bayu.

Arga menunduk.

“Saya tidak punya pilihan.”

“Semua orang selalu bilang begitu.” Bayu tertawa tanpa humor. “Siska bilang dia tidak punya pilihan. Kamu bilang kamu tidak punya pilihan. Tapi ketika uang masuk ke tangan kalian, kalian semua tahu cara menerimanya.”

“Aku tidak mau terlibat lagi,” jawab Arga dengan suara serak. “Aku sudah mengaku.”

“Dan kamu pikir itu cukup untuk membuat masalah selesai?”

Arga tidak menjawab.

Bayu mendekat.

“Kamu membuat Siska panik. Kamu membuat nama aku muncul di pemeriksaan. Sekarang Raka kembali punya alasan untuk menjatuhkan aku.”

“Aku tidak pernah ingin menjatuhkan kamu.”

“Tapi kamu sudah melakukannya.”

Bayu memukul meja besi di samping Arga. Suara keras itu membuat Arga tersentak.

“Dengar,” lanjut Bayu. “Sebentar lagi Nayla akan datang.”

Arga mengangkat wajah dengan cepat.

“Jangan libatkan Nayla.”

“Kenapa? Kamu tiba-tiba peduli pada istrimu setelah semua yang kamu lakukan?”

Wajah Arga memucat.

“Dia tidak ada hubungannya dengan urusan ini.”

“Dia punya hubungan dengan Raka.” Bayu tersenyum sinis. “Dan Raka punya hubungan dengan masa lalu yang menghancurkan hidup aku.”

“Tidak ada hubungan antara Nayla dan Raka.”

“Tidak penting.” Bayu menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Arga. “Yang penting adalah apa yang orang percaya. Kalau Nayla datang, Raka akan datang. Kalau Raka datang, aku bisa menyelesaikan semuanya.”

Arga menggertakkan gigi.

“Kamu tidak akan bisa lolos.”

Bayu tertawa pendek.

“Kamu kira aku ingin lolos? Tidak. Aku cuma ingin Raka mengerti bagaimana rasanya kehilangan.”

***

Di sisi lain area proyek, Raka masuk melalui gerbang timur.

Ia berjalan perlahan di antara bangunan ruko yang belum selesai. Setiap langkahnya terasa berat karena tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Luka di pelipis masih berdenyut. Namun ia tidak berhenti.

Ponsel lama di tangannya kembali bergetar.

**Bayu:** Masuk lebih dalam. Bangunan ketiga sebelah kanan.

Raka melihat bangunan ketiga.

Pintu depannya terbuka sedikit.

Ia menarik napas pelan, lalu melangkah masuk.

Ruangan di dalam gelap dan berbau semen basah. Ada kabel-kabel menjuntai dari langit-langit. Beberapa tumpukan kayu berserakan di lantai.

“Bayu,” panggil Raka.

Tidak ada jawaban.

Hanya gema suaranya sendiri.

Ponsel bergetar lagi.

**Bayu:** Kamu datang sendiri?

Raka mengetik singkat.

**Raka:** Ya.

Balasan datang.

**Bayu:** Berbohong lagi seperti dulu, ya?

Raka mengerutkan kening.

Ia melihat ke arah jendela pecah di sisi bangunan. Di luar, tidak ada siapa pun.

Namun instingnya mengatakan ia sedang diamati.

“Kalau kamu ingin bicara, keluar,” kata Raka cukup keras.

Tiba-tiba, lampu kecil di sudut ruangan menyala.

Bayu berdiri di balik salah satu tiang beton.

“Akhirnya,” katanya.

Raka tidak bergerak.

“Di mana Arga?”

Bayu tersenyum tipis.

“Masih hidup.”

“Dan Nayla?”

“Masih aman. Untuk sekarang.”

“Jangan libatkan dia.”

Bayu tertawa tanpa humor.

“Kamu selalu mengucapkan itu seolah kamu punya hak melindungi semua orang.”

“Yang saya lakukan bukan hak. Itu tanggung jawab.”

“Persis.” Bayu melangkah maju. “Kamu selalu merasa bertanggung jawab. Selalu merasa lebih baik dari orang lain. Kamu menghentikan kerja sama kita, membuat investor pergi, dan menghancurkan hidupku.”

“Kamu memakai dana investor untuk kepentingan pribadi. Kamu mencuri dokumen perusahaan.”

“Kamu bisa menutupinya.”

“Saya tidak akan menutup kejahatan.”

“Lalu sekarang kamu bilang ingin melindungi Nayla?” Bayu menggeleng. “Kamu tidak berubah sama sekali.”

Raka menatapnya dengan dingin.

“Kamu juga tidak berubah. Masih menyalahkan orang lain atas pilihanmu sendiri.”

Wajah Bayu mengeras.

Ia mengeluarkan pisau kecil dari saku jaket.

“Jangan ulangi kata-kata itu.”

“Kenapa? Karena kamu tahu itu benar?”

Bayu maju satu langkah.

Namun sebelum ia mencapai Raka, suara sirene samar terdengar dari kejauhan.

Bayu membeku.

“Kamu membawa polisi.”

“Saya tidak membawa siapa pun.”

“Kamu bohong!”

Bayu mengangkat pisau.

Raka mundur setengah langkah.

“Bayu, dengar. Kamu masih bisa menyerah.”

“Menyerah?” Bayu tertawa keras. “Setelah semuanya?”

“Kalau kamu terus seperti ini, kamu hanya menambah kesalahan.”

Bayu menatap Raka dengan mata penuh kemarahan.

“Aku tidak akan kalah lagi.”

Ia bergerak maju.

Raka menghindar, tetapi luka di tubuhnya membuat gerakannya sedikit terlambat. Pisau Bayu menggores lengan Raka, merobek kain kemejanya.

Raka menahan napas.

Bayu tersenyum melihat darah mulai muncul.

“Sekarang kamu tahu rasanya.”

Namun sebelum Bayu sempat bergerak lagi, suara keras terdengar dari luar.

“Polisi! Letakkan senjata!”

Bayu menoleh panik.

Raka memanfaatkan kesempatan itu untuk mendorong tangan Bayu. Pisau jatuh ke lantai.

Bayu berusaha lari ke arah pintu samping.

Tetapi dua petugas sudah masuk dari sisi lain.

“Berhenti!”

Bayu terus berlari.

Raka mencoba mengejarnya, tetapi seorang petugas menahannya.

“Pak Raka, jangan!”

Bayu keluar dari bangunan dan berlari menuju gudang utama.

Raka menatap arah itu dengan wajah tegang.

“Arga ada di sana,” katanya.

Petugas langsung memberi informasi melalui radio.

“Target bergerak ke gudang utama. Korban kedua kemungkinan berada di dalam.”

***

Di pos komando, Nayla menerima panggilan dari nomor Bayu.

Inspektur Wina memberi isyarat agar ia mengangkatnya.

“Halo,” kata Nayla.

Suara Bayu terdengar lebih cepat dan kasar dari sebelumnya.

“Kamu masih di sana?”

“Saya di sini.”

“Datang ke gudang utama sekarang.”

“Saya tidak bisa.”

“Kalau kamu tidak datang, Arga mati.”

Nayla menutup mata.

“Bayu, polisi sudah ada di sekitar sana.”

Terdengar tawa pendek.

“Kamu pikir aku tidak tahu?”

“Kalau kamu menyerah, kamu masih bisa bicara di hadapan hukum. Tidak perlu melukai siapa pun lagi.”

“Kamu bicara seperti Raka.”

“Tidak. Saya bicara sebagai seseorang yang sudah cukup melihat orang lain hancur karena keputusan kamu.”

Bayu terdiam.

Nayla melanjutkan, meski suaranya bergetar.

“Kamu menyalahkan Raka. Kamu menyalahkan Arga. Kamu menyalahkan Siska. Tapi yang membuat kamu menculik orang dan mengancam mereka adalah pilihan kamu sendiri.”

“Diam!”

Suara keras terdengar di seberang panggilan. Seperti benda jatuh atau pintu dibanting.

Lalu terdengar suara Arga yang sangat pelan.

“Nay…”

Nayla menahan napas.

“Arga?”

“Aku minta maaf,” kata Arga dengan suara serak. “Jangan datang.”

Air mata Nayla jatuh.

“Diam!” bentak Bayu.

Tiba-tiba suara sambungan terganggu.

Lalu Bayu berkata dengan nada rendah, “Kalau kamu ingin melihat dia hidup, datang.”

Panggilan terputus.

Inspektur Wina langsung memberi instruksi lewat radio.

“Tim utama, target dan korban berada di gudang utama. Masuk dengan hati-hati.”

Nayla berdiri dari kursinya.

“Aku harus ke dekat sana.”

“Tidak,” kata Inspektur Wina.

“Tapi Arga masih di dalam.”

“Kami tahu.”

“Dia memanggil aku.”

“Dan itu adalah cara Bayu menarik Ibu keluar.”

Nayla menggigit bibir sampai terasa sakit.

Ia tahu.

Ia tahu ini jebakan.

Namun mendengar suara Arga, suaminya yang ketakutan dan meminta maaf, membuat hatinya seperti ditarik ke dua arah.

Bu Ratih memegang kedua bahu Nayla.

“Jangan pergi,” kata ibunya. “Kamu bisa mencintai seseorang, pernah mencintai seseorang, atau kasihan kepadanya. Tapi itu tidak berarti kamu harus menyerahkan diri pada bahaya.”

Nayla menatap Mama.

Kemudian ia mengangguk.

“Aku tidak akan pergi.”

Untuk pertama kalinya, Nayla mengucapkan kalimat itu tanpa ragu.

Ia tidak akan menjadi korban berikutnya.

Ia tidak akan membiarkan Bayu menentukan siapa yang harus ia selamatkan.

Di kejauhan, terdengar suara tembakan peringatan.

Semua orang di pos komando membeku.

Radio Inspektur Wina berbunyi.

“Tim satu melapor. Bayu berada di gudang utama bersama Arga. Pelaku membawa senjata tajam.”

Nayla menutup mulut dengan tangan.

Beberapa detik kemudian, suara radio kembali terdengar.

“Pak Raka terluka di lengan, tetapi sadar dan membantu menunjukkan lokasi korban.”

Nayla memejamkan mata.

Raka terluka lagi.

Arga masih di tangan Bayu.

Namun kali ini, Nayla tidak bisa melakukan apa pun selain menunggu dan percaya kepada tim yang sedang bekerja.

Menunggu mungkin terasa seperti kelemahan.

Tetapi bagi Nayla, menahan diri agar tidak masuk ke jebakan adalah bentuk keberanian yang baru ia pelajari.

Lalu, dari radio terdengar suara yang membuat semua orang menegang.

“Tim satu meminta negosiator. Pelaku meminta bicara langsung dengan Nayla.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!