NovelToon NovelToon
Apoteker Matre Dan Dewa Perang Papan Tripleks

Apoteker Matre Dan Dewa Perang Papan Tripleks

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: heldahell

Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.

Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!

Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5: Hari pertama kerja tanpa gajih

Kalung giok hijau tua berbentuk naga itu kini berpindah tangan ke dalam genggaman Shen Ruozi. Tanpa ragu-ragu, Ruozi langsung menggigit pinggiran giok tersebut untuk memastikan keasliannya sebuah kebiasaan refleks warga abad ke-21 yang membuat Long Tianxu lagi-lagi mengurut dadanya sendiri, menahan sabar agar luka dalamnya tidak pecah kembali.

Setelah memastikan benda itu adalah barang asli berkualitas tinggi, Ruozi tersenyum puas. Ia buru-buru memasukkannya ke dalam balik jubah compang-campingnya yang longgar. "Oke, kesepakatan deal! Mulai hari ini, status kamu resmi berubah dari pasien VIP menjadi asisten magang tanpa gaji di Gua Ruozi Jaya Medika. Selamat bergabung, Mas Tianxu!"

Tianxu mengernyitkan alis tebalnya kuat-kuat. Kepalanya yang masih agak pening mencoba mencerna istilah asing yang keluar dari mulut gadis aneh ini. "Asisten magang? Apa maksudmu? Aku adalah..."

"Adalah orang bokek yang berutang seratus tael emas sama aku," potong Ruozi secepat kilat, sama sekali tidak memberikan celah bagi pria itu untuk menyombongkan silsilah keluarganya. "Karena kondisi tubuhmu belum pulih total dan racun di aliran darahmu masih butuh observasi, kamu harus tinggal di sini dulu. Tapi ingat, di gua ini tidak ada yang gratis. Selama menumpang hidup, kamu harus bekerja!"

Maka, dimulailah hari pertama penderitaan bagi seorang Long Tianxu. Sang jenderal besar yang biasanya memimpin puluhan ribu pasukan di medan perang, kini harus tunduk di bawah perintah seorang gadis sekurus triplek yang hobi memeras.

Tugas pertamanya siang itu adalah menumbuk obat herbal. Ruozi meletakkan sebuah mangkuk batu besar yang cukup berat di depan Tianxu, lengkap dengan sebatang kayu tebal sebagai penumbuknya. Di dalam mangkuk itu, terdapat tumpukan dedaunan hijau pekat yang aromanya sangat menyengat dan pahit.

"Tumbuk dedaunan ini sampai halus seperti bubur bayi. Ingat ya, kerjanya pakai otot tangan biasa, jangan pakai tenaga dalam atau ilmu meringankan tubuh! Kalau mangkuk batu ini sampai pecah, denda ganti ruginya lima tael emas!" ancam Ruozi sambil menunjuk-nunjuk wajah tampan Tianxu dengan ranting pohon. Setelah memberikan instruksi, Ruozi langsung melenggang pergi ke luar gua bersama si Bocil untuk mencari persediaan air bersih.

Tianxu menatap mangkuk batu di depannya dengan pandangan tidak percaya. Tangan yang biasanya menggenggam pedang pusaka berlapis emas dan memenggal kepala musuh-musuh kerajaan, kini harus memegang sebatang kayu penumbuk jamu tradisional. Dengan helaan napas berat yang penuh kepasrahan, ia mulai menumbuk.

Plek... plek... plek...

Setiap ketukan kayu ke dasar batu berbunyi dengan tempo lambat, seirama dengan harga diri sang jenderal yang kian merosot tajam ke dasar bumi. Sementara itu, di luar gua, Ruozi samar-samar mendengar suara tumbukan itu sambil tersenyum licik. "Nah, gitu dong. Ganteng-ganteng kok nganggur, mending diberdayakan jadi buruh lokal," batin Ruozi puas.

Sore harinya, petaka hari pertama belum berakhir. Ruozi kembali ke dalam gua dengan membawa sekeranjang umbi-umbian liar yang masih penuh dengan tanah kering. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia menjatuhkan keranjang itu tepat di sebelah Tianxu yang baru saja menyelesaikan tugas menumbuk obat hingga tangannya pegal-pegal.

"Nih, Mas Tianxu. Kupas kulitnya pakai pisau bambu ini sampai bersih. Ingat, tipis-tipis aja ngupas nya, jangan sampai daging umbinya banyak yang terbuang. Kita harus hemat pangan di tengah hutan terlarang begini," perintah Ruozi lagi tanpa beban, lalu duduk santai di dekat api unggun sambil meluruskan kakinya.

Tianxu menatap pisau bambu kecil yang disodorkan ke arahnya, lalu menatap umbi-umbian kotor itu dengan rahang yang mengeras. "Kau... benar-benar memperlakukanku seperti pelayan domestik?" desis Tianxu dengan suara rendah, memancarkan aura dingin yang biasanya sanggup membuat para menteri gemetar ketakutan.

Namun, Ruozi dengan santai justru meraba dadanya, mengetuk-ngetuk bagian luar jubahnya tempat kalung giok naga tadi disimpan. "Aduh, tiba-tiba dadaku agak pegal ya. Kayaknya giok di dalam sini perlu aku keluarin terus aku jual ke pasar gelap di desa seberang deh," sindir Ruozi sambil melirik Tianxu lewat sudut matanya.

Mendengar ancaman itu, aura membunuh Tianxu langsung padam seketika seperti disiram air es. Dengan wajah sekaku papan triplek dan mata yang menatap umbi itu seolah-olah itu adalah kepala musuh bebuyutannya, ia mulai mengupas kulit umbi dengan sangat lambat dan penuh kekesalan.

Hari pertama berjalan dengan sukses besar bagi Ruozi, dan penderitaan tiada akhir bagi sang pangeran webtoon yang mendadak jadi asisten dapur gua.

Malam harinya di hari pertama itu, suasana di dalam gua terasa begitu canggung dan mencekam. Tianxu duduk bersandarkan dinding gua dengan posisi tubuh yang tetap tegak lurus sebuah sikap siaga seorang prajurit tingkat tinggi yang tidak pernah diturunkannya, bahkan saat ia sedang menjadi tawanan ekonomi seorang gadis desa. Matanya yang tajam terus mengawasi Ruozi yang sedang asyik menata ulang daun-daun kering untuk alas tidurnya.

"Mas Tianxu, matanya tolong dikondisikan ya. Enggak usah melotot kayak mau ngajak tawuran begitu," tegur Ruozi tanpa menoleh, masih sibuk menepuk-nepuk bantalan daunnya agar lebih empuk. "Mending tenagamu disimpan buat besok. Tugas magangmu hari kedua bakal jauh lebih menguras keringat daripada cuma mengupas umbi."

Tianxu mendengus dingin, melipat kedua tangannya di depan dada kekarnya. "Kau pikir aku bisa tidur nyenyak di tempat seperti ini? Bersama gadis aneh yang tidak punya tata krama sepertimu?" desisnya dengan nada angkuh yang masih tersisa.

Ruozi langsung menghentikan kegiatannya, berbalik lalu menatap Tianxu dengan pandangan datar. "Oh, jadi ceritanya standar aristokratnya mulai keluar nih? Bagus ya, amnesia dompet tapi gengsi setinggi langit," sindir Ruozi sambil berkacak pinggang. "Asal kamu tahu ya, kalau bukan karena gua lembap tanpa bintang lima ini, kamu sudah mati membusuk dan jadi santapan empuk kawanan serigala hutan terlarang dari kemarin!"

Mendengar skenario mengerikan yang diucapkan Ruozi dengan wajah lempeng, Tianxu terdiam. Rahangnya mengeras, namun ia tidak bisa membantah fakta bahwa gadis sekurus triplek di depannya ini memang telah menyelamatkan nyawanya dari racun mematikan itu.

Ruozi kemudian berjalan mendekati perapian, mengambil sebuah mangkuk tanah liat kecil berisi sisa air rebusan Akar Angelica yang sudah mendingin. Ia menyodorkannya tepat ke depan dada Tianxu. "Nih, minum sampai habis. Jangan dibuang atau dilepeh, ini obat mahal. Kalau kamu muntah, aku cas biaya kebersihan sepuluh tael emas!"

Tianxu menatap cairan hitam pekat berbau menyengat itu dengan dahi berkerut dalam. Bau obat itu benar-benar menguji ketahanan hidungnya. Namun, di bawah tatapan intimidasi super matre dari Ruozi, sang jenderal besar akhirnya pasrah. Ia meraih mangkuk itu dan menegguk nya dalam satu tarikan napas, menahan rasa pahit luar biasa yang langsung meledak di tenggorokannya hingga membuatnya terbatuk kecil.

"Pintar! Nah, sekarang selamat tidur, Asisten Magang. Jangan coba-coba kabur tengah malam, karena hutan di luar sana penuh jebakan busur yang sengaja aku pasang buat berburu babi hutan," dusta Ruozi sambil tersenyum licik, padahal ia sama sekali tidak memasang apa-apa.

Ruozi kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang daun kering, memeluk si Bocil yang sudah lebih dulu berkelana ke alam mimpi. Dalam hitungan menit, suara dengkur halus Ruozi mulai terdengar, menandakan gadis itu sama sekali tidak punya beban hidup.

Sementara itu, Tianxu masih terjaga di sudut gua yang gelap, menatap langit-langit batu sambil merenungi nasib sialnya yang harus melewati malam pertama sebagai buruh kasar di tengah hutan.

1
sibaweh abduh
bagus sekali
Maria Lina
tambah dikit aj up nya hadeh😭😭🤔
heldahell: lagi sibuk kak,jadi 2 bab aja up nya🥹,tungguin besok lagi yaa
total 1 replies
Maria Lina
kenapa 2 lgi thor biasa 5 bab 🤣🤣🤣
Aisyah Suyuti
good
Maria Lina
wkwk kasian bocor
Maria Lina
mkasih thor ud up bnyk😘😘🙏🙏
lin sya
lucu klo baca ceritanya komedinya dpt thor
The Dream26: hai kak, Novel 'RUMAH' telah hadir, cerita spektakuler dan seru dari Author The Dream26, mampir ya
total 1 replies
Maria Lina
wkwk dsr lo rouzi haha..makasih thor ud up nya😘😘😘🙏🙏🙏
Maria Lina
mantap raouzi wkwk
Maria Lina
maaksih bnyk thor ud up nya🙏🙏😘😘
Maria Lina
mkasih thor ud up bnyk🙏🙏😘😘
Maria Lina
lanjut lgi thor wkwk..sebagian cerita mu ud ku baca thor wkwk
heldahell: terimakasih kak,sudah setia baca karya²ku, terharu banget🥹🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!