“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”
• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.
• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.
• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.
• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.
• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 — Pengkhianatan Luciano
Suara tembakan masih menggema di ruang utama Villa Vieri ketika lampu darurat menyala kembali.
“BIANCA!”
Dante berlari menghampiri istrinya. Ia menemukan Bianca terduduk di lantai, satu tangannya menekan bahu Marco yang terbaring di dekat sofa. Darah merembes dari sela-sela jari Marco.
“Marco tertembak saat melindungiku,” ujar Bianca panik.
Dante segera berlutut.
“Panggil dokter! Sekarang!”
Dua pengawal bergegas membawa Marco ke ruang medis. Dante memeriksa Bianca dari kepala hingga kaki, memastikan tidak ada luka.
“Kau baik-baik saja?”
Bianca mengangguk, meski wajahnya masih pucat.
“Bagaimana dengan pria itu? Dia menghilang.”
Dante berdiri dan memandang ruangan yang berantakan. Dokumen pernikahan Elena dan Alessandro sudah tidak ada. Pria yang mengaku bernama Alessandro juga lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Namun yang paling mengganggu pikirannya adalah cincin berlambang delapan kelopak di lantai.
Dante mengambilnya.
“Ini bukan milik Gabriel,” gumamnya.
Rafael yang berdiri di dekat tangga langsung menoleh.
“Aku mengenali cincin itu.”
“Siapa pemiliknya?” tanya Dante.
Rafael menelan ludah.
“Alessandro Vieri.”
Dante menatapnya tajam.
“Mustahil. Cincin itu dikuburkan bersama ayahku.”
“Kalau begitu, seseorang mengambilnya dari makam.”
Bianca mendekat.
“Apakah cincin itu berkaitan dengan organisasi yang selama ini mengincar kita?”
Rafael mengangguk perlahan.
“Lambang delapan kelopak bukan sekadar simbol keluarga. Itu lambang sebuah kelompok rahasia yang dibentuk oleh orang-orang berpengaruh di Roma. Alessandro pernah menjadi anggotanya, tetapi ia berusaha keluar setelah mengetahui rencana mereka.”
“Rencana apa?” tanya Bianca.
Rafael menatapnya dengan wajah muram.
“Menguasai seluruh aset keluarga Vieri melalui pewaris yang mereka kendalikan.”
Di sisi lain kota, Luciano berdiri di sebuah ruangan bawah tanah yang diterangi lampu kuning redup.
Di hadapannya, pria yang sebelumnya mengaku bernama Alessandro sedang membuka jasnya. Ia tidak lagi tersenyum.
“Dokumen itu sudah berada di tanganmu?” tanya Luciano.
Pria itu meletakkan map di atas meja.
“Ya. Tetapi kau lupa memberitahuku bahwa Dante akan berada di sana.”
Luciano menuangkan minuman ke dalam gelas.
“Dante selalu berada di tempat yang seharusnya tidak ia datangi.”
“Dan perempuan itu?”
“Bianca?”
Pria itu mengangguk.
Luciano tersenyum dingin.
“Dia adalah bagian terpenting dari rencana kita.”
Pria tersebut duduk.
“Aku tidak ingin menyakitinya.”
Luciano meletakkan gelas dengan keras.
“Kau dibayar untuk melakukan pekerjaanmu, bukan untuk memiliki perasaan.”
Pria itu menatapnya tajam.
“Kau berjanji akan memberiku nama Vieri.”
“Aku akan memberikan semuanya setelah Dante kehilangan kekuasaannya.”
“Dan jika dia tidak menyerahkan takhta?”
Luciano mendekat, lalu berbisik.
“Kalau begitu, kita akan membuatnya kehilangan satu-satunya hal yang masih ingin dia pertahankan.”
Ia mengeluarkan sebuah foto Bianca.
Pukul tiga dini hari, Bianca masih belum bisa tidur.
Ia berdiri di balkon kamar, memandangi hujan yang mulai mereda. Pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang pria misterius itu, dokumen pernikahan Elena, dan pengkhianatan yang tampaknya jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
Pintu kamar terbuka.
Dante masuk dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung. Wajahnya tampak lelah.
“Marco sudah melewati masa kritis,” katanya.
Bianca mengembuskan napas lega.
“Syukurlah.”
Dante berdiri di belakangnya.
“Aku sudah mengirim orang untuk mencari Luciano.”
“Menurutmu, dia dalang semua ini?”
“Luciano selalu menginginkan kekuasaan. Tetapi kali ini dia tidak bekerja sendirian.”
Bianca berbalik.
“Bagaimana jika pria yang mengaku sebagai Alessandro benar-benar saudaramu?”
Dante terdiam.
“Aku tidak tahu.”
“Jika dia memang saudaramu, apakah kau akan menerima dia?”
Dante menatap Bianca cukup lama.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayainya. Tetapi aku ingin mengetahui kebenarannya.”
Bianca menyentuh tangan Dante.
“Dan jika kebenaran itu menyakitkan?”
Dante menggenggam tangannya.
“Aku sudah kehilangan terlalu banyak orang karena rahasia keluarga ini. Aku tidak ingin kehilanganmu.”
Bianca menatap mata biru safirnya.
“Kalau begitu, jangan sembunyikan apa pun dariku lagi.”
Dante mengangguk.
“Aku berjanji.”
Namun keduanya belum menyadari bahwa janji itu akan segera diuji.
Pagi harinya, Marco membawa kabar penting.
“Don, kami menemukan sesuatu di ruang kerja Luciano.”
Dante berdiri dari kursinya.
“Apa?”
Marco meletakkan tablet di meja. Di layar terlihat rekaman kamera keamanan dari gudang tua milik keluarga Vieri.
Dalam rekaman itu, Luciano sedang berbicara dengan Vittorio.
Namun ada orang ketiga yang berdiri di antara mereka.
Isabella Moretti.
Bianca terkejut.
“Isabella?”
Dante menyipitkan mata.
“Putar bagian berikutnya.”
Rekaman berlanjut.
Luciano menyerahkan sebuah dokumen kepada Isabella. Sebagai gantinya, Isabella memberikan sebuah kunci kecil.
Kemudian terdengar suara Luciano dari rekaman.
“Setelah dokumen ini berada di tangan kita, Dante tidak akan memiliki alasan untuk mempertahankan Bianca.”
Isabella menjawab pelan.
“Dan kau akan memastikan perempuan itu tidak mengetahui siapa yang sebenarnya membunuh Elena?”
Luciano tersenyum.
“Dia akan mengetahuinya ketika semuanya sudah terlambat.”
Rekaman berakhir.
Bianca menutup mulutnya.
“Jadi Isabella bekerja untuk Luciano?”
Dante tidak menjawab. Rahangnya mengeras.
“Cari Isabella. Aku ingin dia dibawa ke sini.”
Namun Marco menggeleng.
“Itulah masalahnya, Don. Isabella menghilang sejak tadi malam.”
Sementara itu, di sebuah hotel tua di pinggiran Roma, Isabella duduk sendirian di depan jendela.
Di atas meja terdapat foto Elena Laurent, sebuah kunci, dan surat yang sudah menguning.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Luciano sudah mulai bergerak. Kau harus memilih pihak sebelum semuanya berakhir.
Isabella membaca pesan itu, lalu menghapusnya.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
Isabella berdiri dan mengambil pistol dari laci.
“Siapa?”
“Orang yang membawa jawaban tentang Elena.”
Isabella membeku.
Ia membuka pintu sedikit.
Seorang pria tua berdiri di luar. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya tajam.
“Gabriel?”
Pria itu mengangguk.
“Sudah terlalu lama, Isabella.”
Isabella mundur selangkah.
“Kau seharusnya mati.”
Gabriel tersenyum pahit.
“Begitulah yang mereka inginkan.”
Ia masuk dan meletakkan sebuah amplop di meja.
“Dengarkan baik-baik. Luciano bukan satu-satunya pengkhianat. Vittorio hanya pion. Ada seseorang di dalam keluarga yang selama ini mengatur semua peristiwa, termasuk kematian Alessandro.”
Isabella membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat foto seorang pria berdiri di samping Elena pada malam kematiannya.
Isabella langsung mengenali wajah tersebut.
“Tidak…”
Gabriel mengangguk.
“Orang itu masih hidup. Dan dia memiliki hubungan dengan Bianca.”
Malamnya, Dante menerima panggilan dari nomor tak dikenal.
Ia mengaktifkan pengeras suara.
“Siapa ini?”
Suara Luciano terdengar santai.
“Selamat malam, Kakak.”
“Apa maumu?”
“Aku ingin mengakhiri permainan ini.”
Dante memberi isyarat kepada Marco untuk melacak panggilan tersebut.
Luciano tertawa kecil.
“Jangan repot-repot. Aku tidak akan memberimu waktu untuk menemukanku.”
“Jika kau menyentuh Bianca, aku akan memburumu sampai ke ujung dunia.”
“Selalu tentang Bianca, bukan? Kau benar-benar berubah sejak menikah dengannya.”
Dante mengepalkan tangan.
“Langsung ke intinya.”
Luciano menarik napas panjang.
“Aku memiliki dokumen asli tentang kelahiranmu. Aku juga memiliki bukti bahwa ayah kita memalsukan identitas salah satu pewaris keluarga Vieri.”
Dante terdiam.
“Apa yang kau inginkan?”
“Takhta keluarga Vieri. Semua perusahaan, seluruh jaringan, dan pengakuan bahwa akulah pewaris yang sah.”
“Kau tidak akan mendapatkannya.”
“Kalau begitu, kau akan kehilangan segalanya.”
Sambungan terputus.
Beberapa detik kemudian, ponsel Bianca berdering.
Ia menerima sebuah pesan berisi foto Adrian yang sedang duduk di kursi dengan kedua tangan terikat.
Di bawah foto tertulis:
Jika kau ingin saudaramu tetap hidup, datanglah ke gudang pelabuhan sendirian. Jangan bawa Dante.
Bianca langsung menunjukkan pesan itu kepada suaminya.
Dante membaca pesan tersebut. Wajahnya berubah dingin.
“Tidak. Kau tidak akan pergi.”
“Dante, itu Adrian!”
“Aku tahu. Dan justru karena itu mereka ingin menjebakmu.”
Bianca menggenggam ponselnya.
“Aku tidak bisa membiarkan adikku mati.”
Dante memegang kedua bahunya.
“Kita akan menyelamatkannya bersama. Tapi kau harus berjanji tidak akan pergi diam-diam.”
Bianca mengangguk.
Dante kemudian memerintahkan Marco menyiapkan seluruh pasukan.
Namun sebelum mereka meninggalkan ruangan, sebuah pesan lain masuk ke ponsel Dante.
Pesan itu hanya berisi satu kalimat:
Jangan mencari Luciano. Carilah istrimu sendiri, karena pengkhianat yang paling dekat dengannya sudah berada di dalam rumah.
Dante perlahan mengangkat pandangannya ke arah Bianca.
Pada saat yang sama, pintu ruang kerja terbuka.
Rafael berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat dan sebuah pistol di tangannya.
“Maafkan aku, Bianca,” katanya lirih.
Dante langsung mengarahkan senjatanya.
“Letakkan pistol itu, Rafael.”
Namun Rafael justru mengarahkan senjatanya ke lantai, lalu mengeluarkan sebuah foto dari saku jasnya.
Foto itu memperlihatkan Bianca saat masih bayi dalam pelukan seorang perempuan yang bukan Elena.
Di belakang foto tertulis:
Anak yang dibesarkan Elena Laurent bukanlah anak yang dilahirkannya.
Rafael menatap Bianca dengan mata berkaca-kaca.
“Luciano benar tentang satu hal. Selama ini kita semua telah dibohongi.”
Bianca merasa lututnya melemah.
“Lalu… siapa ibuku sebenarnya?”
Rafael menutup mata.
“Orang yang melahirkanmu masih hidup, Bianca".
jangan lupa mampirr🤭