NovelToon NovelToon
PENGEMBARA DARI DESA

PENGEMBARA DARI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Djafar S

Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 KEHANGATAN DI BALIK EMBUN PAGI

Matahari pagi di kawasan perumahan Ciumbuleuit perlahan-lahan merayap naik, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus sela-sela rimbunnya dedaunan pohon kamboja tua dan menyinari pelataran halaman belakang rumah kolonial tempat pendopo kayu Raka berdiri. Suasana pagi itu terasa sangat kontras dibandingkan hari-hari pertama kedatangan sang pemuda desa yang diwarnai ketegangan dan gerutuan sinis.

Namun, bagi Raka Ardian, pagi hari selalu memiliki hukum dan rutinitas mutlak yang tidak boleh dilewatkan satu hari pun. Jauh sebelum matahari menyapa bumi kota Bandung, Raka telah lebih dulu terjaga dari tidurnya. Ia tahu betul bahwa kerasnya rimba beton dan bayangan ancaman mematikan dari korporasi Prabu Baskara tidak akan memberinya ruang ampun jika ia lengah sedikit saja.

Di teras pendopo kayu yang berembun dingin, Raka berdiri tegak dengan kuda-kuda kokoh. Ia memusatkan seluruh kesadaran batinnya, menyelaraskan tarikan napas panjang dengan denyut nadi alam sekitar melalui intisari teknik Welingan Sejati. Setiap pagi, ia mengawali hari dengan serangkaian latihan fisik yang ketat—mulai dari push-up dengan satu tangan di atas permukaan batu keras, lompatan bertenaga untuk melatih kelenturan otot kaki, hingga gerakan jurus bayangan tangan kosong yang membelah udara dengan kecepatan tinggi tanpa menimbulkan suara angin berlebih.

Setelah latihan fisik yang menguras keringat selesai, Raka melanjutkan pada tahap inti: pengolahan tenaga dalam. Ia duduk bersila di atas tikar bambu dengan posisi punggung tegak lurus sempurna. Kedua telapak tangannya menghadap ke atas di atas lutut, sementara jemarinya membentuk segel konsentrasi khusus. Di dalam keheningan fajar itu, aliran energi hangat bagaikan cairan perak mengalir lancar menyusuri setiap jalur meridian tubuhnya, membersihkan sumbatan toksin, mempertajam ketajaman panca indra, dan memperkuat ketahanan fisik serta mentalnya hingga mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi.

Bagi Raka, latihan harian ini bukan sekadar cara menjaga kebugaran tubuh, melainkan fondasi utama agar ia selalu siap menghadapi segala bentuk marabahaya yang mengintai dirinya maupun orang-orang di sekitarnya.

Menjelang pukul tujuh pagi, saat sesi latihan olah napas terakhirnya mereda, Raka membuka perlahan kelopak matanya. Embun tipis tampak menguap dari pelipisnya yang berkeringat. Di saat itulah, ia mendengarkan suara langkah kaki yang sangat ia kenal berjalan pelan mendekati area pendopo.

Raka menoleh dan mendapati Nadia berdiri di ambang pintu pendopo kayu, mengenakan pakaian santai rumah dengan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai rapi.

Jika pada hari-hari awal kedatangannya Nadia selalu menyambut pagi dengan wajah kesal dan keluhan pedas, hari ini gadis itu justru datang membawa kedamaian yang manis. Di kedua tangan Nadia, tersaji sebuah nampan kecil berisi secangkir kopi hitam pekat yang masih mengepulkan uap hangat serta sepotong kue bolu pandan buatan rumah.

Nadia tampak sedikit salah tingkah ketika mendapati Raka menatapnya dengan sorot mata teduh. Pipinya seketika bersemu merah muda, buru-buru ia mengalihkan pandangannya dan meletakkan nampan tersebut di atas meja kayu kecil di sebelah Raka.

"Uhm... kopi hitam dan kue pandan," ucap Nadia dengan nada bicara yang jauh lebih lembut dan manis dari biasanya, hampir terdengar seperti bisikan tertahan. Ia berdehem pelan untuk menutupi rasa canggung yang melanda hatinya. "Jangan salah paham dulu, ya! Aku membuat ini bukan berarti aku mendadak jadi pengikutmu yang patuh. Aku cuma... merasa tidak enak karena kemarin sempat membentakmu saat insiden pipa air bocor, dan... ya, sebagai tanda terima kasih karena kau sudah menjaga tempat ini dengan begitu disiplin setiap pagi."

Raka tersenyum tipis, menatap wajah gadis di hadapannya yang kini menunjukkan sisi kepribadian yang sama sekali berbeda—sisi yang rapuh, tulus, dan penuh perhatian, jauh dari topeng keangkuhan yang biasa ia tunjukkan kepada dunia luar. "Terima kasih banyak, Nadia. Kau tidak perlu repot-repot membuatkan ini setiap hari."

Nadia tidak langsung beranjak pergi seperti kebiasaannya di masa lalu. Ia justru menarik sebuah kursi kayu kecil, duduk dengan tenang di dekat Raka, dan memandangi hamparan kebun halaman belakang yang tertata asri. Selama beberapa saat, mereka terdiam dalam keheningan pagi yang nyaman, ditemani oleh alunan kicauan burung-burung kecil di pucuk pohon pinus.

Sejak malam di mana Raka dengan sigap menyelamatkan galeri seninya dan meredakan rasa sakit di pergelangan kakinya, benteng tebal keangkuhan dan rasa gengsi yang selama ini mati-matian dibangun Nadia runtuh berkeping-keping. Gadis yang tadinya terkenal keras kepala, sinis, dan anti terhadap kehadiran orang asing itu kini mendapati dirinya sering kali mencuri-curi pandang ke arah Raka secara diam-diam.

Ia mulai menyadari bahwa di balik penampilan sederhana, pakaian lapuk, dan jaket usang yang dikenakan sang pemuda desa, tersimpan ketenangan jiwa yang luar biasa, wibawa yang menenangkan batin, serta ketulusan hati yang murni—sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia temukan pada deretan pria-pria kota dari kalangan elit sosial yang selama ini mendekatinya semata-mata demi mengejar status kehormatan paman dan bibinya.

"Raka..." panggil Nadia pelan, memecah kesunyian pagi itu sambil memainkan ujung jemarinya sendiri di atas pangkuan.

"Ya, Nadia?" sahut Raka tenang, menyesap kopi panas buatan gadis itu dengan nikmat.

"Apa kau tidak pernah merasa lelah atau rindu pada desamu? Di Ciherang..." tanya Nadia lirih, matanya menatap lekat ke dalam bola mata Raka. Ada getaran kekhawatiran halus yang terselip di balik pertanyaannya, seolah ia takut suatu hari nanti pemuda di sampingnya ini akan tiba-tiba mengepak ransel kecilnya dan pergi meninggalkan Bandung tanpa pamit.

Raka meletakkan cangkirnya perlahan di atas meja, pandangannya menerawang jauh menembus langit biru cerah di atas sana. "Tentu saja aku sangat merindukannya, Nadia. Suasana pegunungannya yang sejuk, ladang hijau yang luas, dan kenangan hangat bersama keluarga di sana tidak akan pernah bisa terlupakan. Tapi, perjalananku belum selesai. Ada keadilan yang harus ditegakkan di tanah itu, dan ada orang-orang tamak yang harus dihentikan sebelum mereka merusak segalanya."

Nadia terdiam seribu bahasa mendengar jawaban yang sarat akan keteguhan prinsip tersebut. Dadanya mendadak terasa sesak oleh gelombang sensasi asing yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya—sebuah debaran halus di dalam dada yang terasa hangat sekaligus mencemaskan. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, benih-benih cinta sejati mulai bersemi, tumbuh secara diam-diam di antara hari-hari penuh ketegangan, pengawalan ketat, dan bayang-bayang ancaman bahaya dari orang-orang suruhan Prabu Baskara. Ia menyadari sepenuhnya bahwa ia tidak lagi melihat Raka sekadar sebagai seorang pengawal bayaran kiriman pamannya, melainkan sebagai sosok pria yang telah mengakar kuat di dalam ruang paling sunyi di hatinya.

"Kalau begitu..." ucap Nadia pelan, meneguhkan seluruh keberaniannya untuk menatap mata Raka lurus-lurus dengan senyuman tulus yang memukau, "apapun rintangan dan bahaya yang menghadang di depan, aku akan menemanimu menghadapi ancaman itu. Kau tidak sendirian lagi di kota besar ini, Raka."

Raka tertegun sejenak, menatap binar ketulusan dan cinta yang tulus terpancar dari bola mata Nadia. Di tengah badai konspirasi korporasi besar yang siap menerjang kapan saja menghancurkan hidup mereka, kehangatan dan rasa cinta yang tumbuh di antara keduanya kini menjelma menjadi perisai batin paling kuat yang mengiringi setiap langkah sang pengembara menuju babak pertempuran yang sesungguhnya.

1
indah Mayaddah f
Jadi penasaran, apa isi catatan rahasia di buku harian kakek Wirya itu 🤔
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Nanti deh aku bisikin... 🤭
total 1 replies
Myz Pena
kebiasaan orang2 di kampung kalau ada orang yang udah naik mobil mewah lalu di bawa ke kampunh pasti jadi tontonan warga kampung 🤭
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Betul😄
total 1 replies
Myz Pena
keuarganya raka sangat sederhana apalagi penggambaran sosok ibundanya 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: iya, memang tokoh pendamping kadang kurang kita perhatikan
total 1 replies
CNNTAYY
utusan juga itu ngeremehin+songong banget untung ada raka/Proud//Proud/
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih CNNTAY ku😍
total 1 replies
iorlif
sepertinya mirip kejadian di suatu tempat
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Mungkin juga sih, tapi murni kok dari imaginasi ku👍
total 1 replies
Siti Aisyah
Kalau ngomongin tentang gabah dan dijemur dihalaman jadi teringat ibu waktu dikampung 🥹
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬: Terima kasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!