Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Tanpa peringatan dan tanpa menunggu respons sedikit pun, Grayson tiba-tiba menyusupkan satu tangannya ke bawah lipatan lutut Aurelia dan tangan lainnya menyangga punggung sang gadis. Dalam satu gerakan cepat nan tegas, ia mengangkat tubuh Aurelia ke dalam gendongannya.
"Grayson! Apa yang kamu lakukan?!" pekik Aurelia panik. Kedua tangannya secara refleks melingkar di leher pemuda itu—bukan karena ingin memeluk, melainkan karena rasa takut jatuh yang amat sangat.
Grayson tidak menjawab. Wajahnya tetap datar dengan rahang yang mengeras tegap, sementara sepasang bola mata amber-nya menyala pekat oleh kilatan gairah dan kepemilikan yang teramat pekat. Langkah kakinya yang panjang dan tegap membawa tubuh rapuh Aurelia menaiki anak tangga kayu jati menuju lantai atas vila tersebut. Setiap pijakan langkah Grayson terasa bagaikan hitungan mundur menuju takdir kelam yang sangat ditakuti Aurelia.
Sekujur tubuh Aurelia gemetar hebat di dalam dekapan pemuda itu. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Grayson yang berada begitu dekat, serta detak jantung pemuda itu yang berdebar kencang dan tidak beraturan. Ketakutan yang membakar dada membuat napas Aurelia tersengal-sengal. Berbagai spekulasi buruk berputar liar di dalam kepalanya, membayangkan hal-hal mengerikan apa yang akan dilakukan pemuda berandalan berdarah dingin ini padanya di atas sana.
Di ujung koridor lantai dua, Grayson mendorong sebuah pintu ganda berukir megah dengan kakinya. Pintu itu terbuka lebar, menampilkan sebuah ruangan berukuran sangat luas yang telah disulap sedemikian rupa.
Mata Aurelia membelalak saat pandangannya menyapu seisi ruangan. Kamar utama itu didekorasi begitu indah namun terasa mencekam. Pencahayaan redup dari lampu-lampu hias bernuansa hangat menerangi kasur king-size di tengah ruangan yang ditaburi helai-helai kelopak bunga mawar merah. Aroma harum minyak esensial mawar dan vanila menguar kuat di udara, menciptakan atmosfer khas kamar pengantin baru. Namun bagi Aurelia, keindahan itu tidak berbeda dengan sebuah sangkar emas yang disiapkan khusus untuk mengurung dan mengeksekusi kebebasannya.
Grayson melangkah masuk lalu menutup pintu dengan tumitnya hingga terdengar suara klak kunci otomatis yang bergema dingin. Ia berjalan menuju tempat tidur dan menurunkan tubuh Aurelia dengan hati-hati ke atas kasur yang empuk.
Aurelia seketika merayap mundur hingga punggungnya membentur kepala tempat tidur. Kedua tangannya mencengkeram erat gaun putih sederhana yang membalut tubuhnya.
"A-apa yang kamu lakukan...?" tanya Aurelia dengan suara parau bercampur panik yang amat sangat, memandangi Grayson yang kini berdiri tegak di tepi ranjang.
Grayson mulai melepaskan kancing mantel hitamnya satu per satu dengan gerakan perlahan namun penuh intimidasi, melemparkan pakaian luar itu begitu saja ke atas lantai. Jemari kokohnya beralih membuka kancing kemeja gelapnya, memperlihatkan dada bidang serta perutnya yang terbentuk sempurna.
"Menjadikanmu milikku seutuhnya," bisik Grayson rendah. Suaranya terdengar begitu serak dan sarat akan hasrat yang sudah berada di ambang batas.
Sebelum Aurelia sempat mencerna kata-kata itu atau merangkai kalimat untuk membela diri, Grayson sudah bergerak secepat kilat. Pemuda itu menaiki tempat tidur dan langsung menerjang ke depan, mengunci tubuh Aurelia di bawah kungkungan tubuh besarnya.
"Nggak! Grayson, lepas!" jerit Aurelia histeris. Ia berusaha meronta, memukul dada bidang Grayson dan menendangkan kakinya secara acak untuk melepaskan diri.
Namun perlawanan itu sia-sia. Grayson mencengkeram kedua pergelangan tangan Aurelia, menguncinya di atas kepala sang gadis hanya dengan menggunakan satu telapak tangannya yang besar. Tangan Grayson yang lain bergerak dengan tidak sabaran, merobek bagian atas gaun putih Aurelia hingga kain itu terkuak dan terlepas dari tubuhnya, menyisakan gadis itu tanpa sehelai benang pun yang melindunginya.
Grayson menyusupkan wajahnya ke leher Aurelia, mendaratkan kecupan-kecupan panas dan gila yang dipenuhi penekanan posesif. Sentuhan demi sentuhan yang terasa asing dan membakar kulit membuat Aurelia merasa terasing di dalam tubuhnya sendiri. Hasrat di dalam diri Grayson sudah berada di puncak kesadaran, menguasai akal sehatnya hingga pemuda itu bertindak membuta demi menuntaskan dahaga kepemilikan yang selama ini membakar jiwanya. Pemuda itu melepaskan sisa pakaian di tubuhnya sendiri dengan cepat hingga hanya menyisakan celana dalam yang menutupi bagian bawahnya, bersiap untuk merenggut segalanya dari gadis di bawahnya.
Namun, tepat di saat gairah gila Grayson berada di ujung tanduk—di saat ia bersiap melakukan tindakan paling jauh dalam hidup mereka—sebuah suara menghentikannya.
Bukan suara bentakan, bukan pula pukulan dari tangan rapuh Aurelia.
Melainkan suara tangisan.
Isak tangis yang begitu pilu, pecah, dan penuh dengan keputusasaan yang teramat dalam menggema di dalam kamar yang remang-remang itu. Tubuh Aurelia di bawahnya bergetar sangat hebat. Gadis itu tidak lagi meronta atau memukul; ia memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air mata tumpah ruah membasahi pipinya hingga mengalir ke sprei tempat tidur. Bahunya terangkat-angkat menahan napas yang terasa sesak di tenggorokan.
Grayson membeku seketika. Bibirnya yang tadinya menempel di leher Aurelia terhenti kaku.
Senyap mendadak menguasai ruangan. Hawa panas yang semula membakar atmosfir kamar seolah menguap, digantikan oleh kesunyian yang menyayat hati. Grayson mendongak perlahan, menatap wajah gadis di bawahnya. Wajah cantik yang biasa memancarkan kehangatan itu kini tampak begitu pucat, rapuh, dan dipenuhi oleh ketakutan yang murni terhadap dirinya.
"Tolong... tolong jangan lakukan ini, Grayson..." rintih Aurelia di sela-sela tangisannya yang memilukan. Suaranya bergetar begitu parah, hampir tenggelam oleh isak tangisnya sendiri.
Aurelia memberanikan diri membuka matanya sedikit, menatap lurus ke dalam sepasang bola mata amber yang kini tampak terkejut.
"Aku tahu... aku tahu aku sudah menjadi istri sahmu secara hukum dan agama..." lanjut Aurelia dengan napas tersengal-sengal, berusaha menyusun kata-kata di tengah kepanikannya. "Tapi aku belum siap... Aku mohon, Grayson... aku bahkan belum mengenalmu... Jangan buat aku semakin membencimu..."
Kalimat sederhana itu—aku belum siap, aku belum mengenalmu—menghantam dada Grayson bagaikan sebuah pukulan telak.
Untuk sejenak, amarah dan hasrat liar yang menguasai kepalanya bergejolak hebat. Di dalam pikirannya, sebuah suara kegelapan berteriak bahwa ia berhak melakukan apa saja. Aurelia adalah istrinya, gadis yang sudah ia beli dengan biaya rumah sakit ayahnya, mangsa yang sudah berhasil ia kunci di dalam rumahnya sendiri. Tidak ada alasan baginya untuk berhenti hanya karena air mata penolakan.
Namun, ketika Grayson menatap lebih dalam ke dalam manik mata Aurelia yang basah, ia melihat sesuatu yang menahan jemarinya untuk bergerak lebih jauh. Ketakutan itu bukan sekadar ketakutan biasa; itu adalah rasa trauma mendalam yang bisa menghancurkan jiwa gadis itu secara permanen jika ia memaksakan kehendaknya malam ini.
Grayson menginginkan Aurelia seutuhnya—hati, jiwa, dan raganya. Ia tidak ingin memiliki sebuah cangkang kosong yang membencinya setengah mati sepanjang sisa hidup mereka.
Napas Grayson memburu berat. Rahangnya mengepal ketat hingga otot-otot di sepanjang lehernya menegang menahan frustrasi dan amarah yang meledak-ledak di dalam dadanya. Ia ingin meluapkan emosi itu, ingin berteriak dan memaksakan kuasanya, namun melihat kondisi Aurelia yang semakin meringkuk ketakutan membuat seluruh dorongan jahat itu tertahan di tenggorokannya.
Dengan satu helaan napas berat yang sarat akan rasa kesal dan penyesalan yang terselubung, Grayson menepis pergelangan tangan Aurelia yang tadinya ia kunci. Ia menarik tubuhnya mundur secara kasar, melepaskan kungkungannya dari atas tubuh sang gadis.
Pria yang kini berdiri hampir telanjang—hanya dengan celana dalam yang menutupi bagian bawah tubuhnya—membalikkan badan membelakangi Aurelia. Punggungnya yang tegap dan berotot naik turun seiring dengan helaan napasnya yang kasar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Grayson melangkah cepat meninggalkan tempat tidur, berjalan menuju pintu kamar mandi utama di sudut ruangan, lalu menutup dan menguncinya dari dalam dengan hantaman yang cukup keras.
Brak!
Tak lama kemudian, suara gemericik air shower yang mengucur deras terdengar dari balik pintu kamar mandi. Grayson membiarkan air dingin menyiram seluruh tubuhnya yang membara, mencoba mendinginkan emosi, gairah, dan kekacauan pikiran yang merusak akal sehatnya.
Di atas tempat tidur, begitu sosok Grayson menghilang di balik pintu kamar mandi, Aurelia langsung bergerak secepat kilat. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia menarik selimut tebal bernuansa merah marun di ujung ranjang, membungkus dan menutupi tubuhnya yang polos hingga ke batas leher.
Aurelia merapatkan tubuhnya ke sudut kepala tempat tidur, melipat kedua kakinya ke dada dan memeluknya erat-erat di dalam gulungan selimut. Isak tangisnya perlahan-lahan mereda, berganti dengan napas lega yang terengah-engah.
Rasa takut itu belum sepenuhnya hilang. Bayangan wajah Grayson yang liar dan tatapan mata amber-nya yang mengintimidasi masih terpatri jelas di benaknya. Namun, melihat pemuda itu memilih untuk menjauh dan tidak memaksakan kehendaknya setelah mendengar permohonannya membuat dada Aurelia terasa jauh lebih lapang.
Aurelia memejamkan matanya yang sembap, menyandarkan kepalanya pada dinding tempat tidur. Di dalam keremangan kamar pengantin yang asing dan dingin itu, sambil mendengarkan gemericik air shower yang tak kunjung berhenti, Aurelia menyadari bahwa perjuangan hidupnya di dalam sangkar emas ini baru saja dimulai.