Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Nyaman yang Tak Seharusnya
“Tutup matamu.”
Suara Ares terdengar bersamaan dengan telapak tangannya yang menutupi mata Alisha.
Alisha tersentak.
Sebelum benar-benar kehilangan pandangan, ia hanya sempat menangkap sosok tinggi dengan bahu lebar dan pinggang yang ramping di hadapannya.
Ares meraih penutup mata yang sudah disiapkan di atas nakas, lalu memasangkannya dengan hati-hati.
“Jam berapa sekarang?” tanya Alisha.
“Dua belas.”
Alisha mengerutkan kening.
Tak lama kemudian terdengar suara kain bergesekan. Disusul langkah Ares menuju kamar mandi.
“Malem banget baru pulang,” gumam Alisha.
Ponselnya masih memutar video yang tadi ditontonnya. Ia meraba-raba pangkuannya, menemukan ponsel tersebut, lalu mematikannya. Setelahnya ia kembali meraba nakas, kemudian meletakkan ponselnya di sana.
“Rasanya kayak jadi tunanetra,” keluhnya pelan.
Ia masih duduk bersandar di kepala ranjang ketika suara pintu kamar mandi terbuka.
Langkah kaki mendekat. Aroma sabun dan sampo yang segar perlahan memenuhi udara. Kasur di sampingnya bergerak.
“Kenapa masih duduk?” suara Ares terdengar. “Cepat berbaring.”
Alisha menurut. Ia baru saja mencari posisi yang nyaman ketika sebuah lengan sudah lebih dulu merengkuhnya dan menarik tubuhnya mendekat.
Tubuh Alisha sempat menegang, tetapi perlahan kembali rileks. Aroma tubuh Ares setelah mandi justru membuatnya nyaman. Dalam jarak sedekat itu, ia bisa mendengar detak jantung pria tersebut yang awalnya cukup cepat sebelum perlahan menjadi teratur.
Alisha hampir memejamkan mata ketika—
Tit... tit...
Peringatan dari alat bantu dengarnya membuatnya mengernyit. Ia baru ingat belum mengganti baterainya dengan perangkat cadangan.
“Tuan Ares. Alat bantu dengarku hampir habis.”
“Apa?”
“Baterainya.”
Ares tidak banyak bertanya. Ia melepaskan pelukannya, lalu bangkit dari ranjang. Beberapa saat kemudian lampu kamar menyala.
Alisha mendengar suara laci dibuka.
“Ada chargernya?” tanya Ares.
“Di atas nakas.”
Ares menemukannya, lalu mengambil alat bantu dengar dari telinga Alisha dan memasangnya pada pengisi daya.
"Tidurlah," ucapnya, meski tahu kalimat itu tak akan sampai ke telinga Alisha.
Ia kembali mematikan lampu. Kasur kembali bergerak ketika Ares berbaring. Sesaat kemudian lengannya kembali merengkuh Alisha.
Dalam gelap, tanpa alat bantu dengar, ia tak lagi bisa mendengar detak jantung itu. Entah kenapa, ia merasa seperti kehilangan sesuatu.
Menjelang subuh, Alisha terbangun karena ingin ke kamar mandi. Ia masih berada dalam pelukan Ares.
Perlahan, Alisha mencoba melepaskan diri. Namun baru sedikit bergerak, lengan yang melingkar di pinggangnya justru semakin erat.
“Tuan...” bisiknya.
Ares hanya menggumam dalam tidur.
“Aku mau ke kamar mandi.”
Ares tidak mendengarnya. Alisha sendiri bahkan nyaris tidak bisa mendengar suaranya karena alat bantu dengarnya masih berada di atas nakas.
Ia mencoba melepaskan tangan Ares sekali lagi. Kali ini pelukan itu mengendur. Alisha perlahan bangkit dari ranjang. Baru beberapa langkah—
Brak!
“Aduh!” Alisha langsung berjongkok sambil memegangi kakinya.
Suara itu membuat Ares mengerang pelan. “Ada apa?”
Ia meraba nakas lalu menyalakan lampu.
Alisha tidak menjawab karena tidak bisa mendengar. Perhatiannya masih tertuju pada kakinya yang terasa nyeri.
Tatapan Ares kemudian jatuh pada alat bantu dengar di atas nakas. Tanpa berkata apa-apa, ia meraihnya dan berjalan mendekati Alisha.
Alisha sedikit tersentak ketika Ares memasangkan alat itu di telinganya.
“Kenapa kakimu?” tanya Ares.
“Terantuk kaki nakas.”
Ares menatapnya beberapa saat. “Bisa jalan?”
Alisha mencoba berdiri. Baru satu langkah, wajahnya langsung meringis.
Ares mengembuskan napas pendek. Tanpa berkata lagi, ia membungkuk dan mengangkat tubuh Alisha.
“Eh—” Alisha refleks melingkarkan kedua tangannya di leher Ares. “Tuan, saya bisa jalan, kok.”
“Diam.” Ares membawanya menuju kamar mandi. Begitu sampai di depan pintu, ia menurunkan Alisha perlahan. “Setelah aku keluar, baru buka penutup matamu.”
Alisha mengangguk.
“Dan pakai lagi sebelum keluar," imbuh Ares.
“Iya.”
Ares keluar dan menutup pintu.
Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka. Alisha sudah berdiri dengan mata tertutup.
Belum sempat melanjutkan langkahnya, tubuhnya kembali terangkat. Alisha tersentak dan spontan memegang bahu Ares.
Ares membawanya kembali ke ranjang.
"Dia menungguku."
Entah kenapa, pikiran sederhana itu membuat sudut bibir Alisha hampir terangkat.
Ia kembali berbaring ketika Ares menarik selimut menutupi tubuhnya. Dan kali ini, ketika lengan pria itu kembali melingkar di pinggangnya, Alisha tidak lagi merasa perlu menjauh.
Cahaya pagi mulai menyusup dari celah tirai ketika Alisha terbangun. Hal pertama yang ia rasakan adalah lengan Ares yang masih melingkar di pinggangnya.
Alisha mengerjapkan mata di balik penutupnya. Ia mencoba bergerak sedikit, tetapi pelukan itu tidak juga terlepas.
“Tuan Ares...”
Tidak ada jawaban.
Alisha menarik napas pelan. “Tuan, sudah pagi.”
Lengan yang melingkar di tubuhnya akhirnya bergerak. Ares mengendurkan pelukannya, tetapi belum benar-benar menjauh.
“Sudah bangun?” suaranya terdengar berat.
“Iya.” Alisha perlahan duduk. Begitu kakinya menyentuh lantai, rasa nyeri dari bagian yang terbentur semalam kembali terasa. Ia meringis kecil.
Ares yang masih bersandar di kepala ranjang langsung menyadarinya. “Masih sakit?”
“Dikit.”
Ares menatap ke arah kakinya. “Hari ini jangan banyak jalan.”
Alisha menoleh. “Saya harus ke kantor.”
“Pak Darto bilang, kamu gak mau.diantar sopir.”
“Saya biasanya naik ojek.”
“Pakai mobil.”
Alisha terdiam sebentar. “Nanti saya pesan sendiri.”
Ares tidak menjawab. Ia kemudian bangkit dari ranjang.
Ares sudah selesai bersiap ketika Alisha masih duduk di tepi ranjang.
“Uang bulananmu sudah kutransfer ke rekeningmu.”
Alisha mengangkat wajah. “Terima kasih.”
Ares hanya mengangguk, sebelum meninggalkan kamar.
Begitu suara langkahnya menjauh, Alisha segera membuka penutup mata. Ia meraih ponselnya dan membuka aplikasi perbankan. Beberapa detik kemudian, matanya membulat.
“Benar-benar lima puluh juta...” Ia mengembuskan napas pelan. "Kirain ditransfer akhir bulan."
Jarinya sempat berhenti di atas layar. Sebagian dari uang itu bisa langsung digunakan untuk kebutuhan Raka. Sebagian lagi bisa disimpan untuk keadaan darurat.
Pikiran itu membuat dadanya sedikit lega. Namun ketika pandangannya turun ke kaki, rasa nyeri langsung mengingatkannya pada kejadian semalam. Bagian yang terbentur masih sedikit bengkak.
Alisha meringis. “Kayaknya aku harus belajar jalan di kamar ini pakai mata tertutup.”
Beberapa menit kemudian saat keluar dari kamar, Pak Darto sudah menunggunya.
“Selamat pagi, Nyonya. Sarapan sudah siap.”
“Terima kasih, Pak.” Alisha mengikuti Pak Darto menuju ruang makan.
“Pak, Tuan Ares nggak sarapan?”
“Sudah, Nyonya. Tuan berangkat lebih dulu.”
“Oh.” Alisha duduk dan mulai sarapan.
Sesampainya di kantor, Alisha baru turun dari taksi online ketika sebuah suara terdengar dari belakang.
“Lis!”
Alisha menoleh.
Dewi berjalan cepat menghampirinya. “Tumben kamu baru datang? Biasanya paling pagi.”
“Iya. Tadi agak macet.”
Mereka berjalan berdampingan menuju pintu masuk. Dewi tiba-tiba melirik ke bawah.
“Eh, kaki kamu kenapa?”
Alisha spontan memperlambat langkah. “Terantuk kaki nakas.”
“Nakas?”
“Iya," jawab Alisha.
“Di rumah?”
Alisha mengangguk.
Dewi langsung tertawa kecil. “Makanya kalo jalan jangan sambil ngelamun.”
“Aku gak ngelamun.”
“Terus kenapa bisa sampai benjol gitu?”
“Sudah, jangan dibahas.” Alisha menyentuh pipinya yang terasa hangat.
Dewi masih terkekeh ketika mereka masuk ke lobby. “Oh, iya. Aku hampir lupa.”
“Apa?”
“Kak Yudhis bilang dia yang jadi dokter Raka.”
“Iya. Kemarin dia sudah periksa Raka," sahut Alisha.
Dewi tersenyum lebar. “Dia sempat kaget loh waktu lihat kamu.”
Alisha mengerutkan kening. “Kaget kenapa?”
Dewi mendekatkan wajahnya sedikit.
...✨“Sebuah hubungan bisa dimulai karena kesepakatan, tetapi rasa nyaman tidak pernah mengenal perjanjian. Ia tumbuh dari perhatian kecil yang dilakukan tanpa diminta.”...
...“Masa lalu mungkin datang membawa kenangan, tetapi hati sering kali justru menemukan kenyamanan di tempat yang sama sekali tidak pernah direncanakan.”✨...
.
To be continued
Raka pengertian, kakaknya di suruh sering-sering tidur di rumah, tidak perlu nungguin dirinya.
Alisha jadi bisa punya waktu untuk suaminya, kalau tidak bisa nungguin Raka. Tidak harus cari alasan kalau Raka tanya-tanya.
Alisha setelah sarapan pergi ke rumah sakit.
Raka sudah dipindahkan ke ruang lain, masih di lantai yang sama.
Ares tetap memikirkan kenyamanan Raka dan Alisha dengan memindahkan ruang rawat serta ada sofa.
Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.
Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.
Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.
Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.
Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔