NovelToon NovelToon
Pengantin Paksa Sang Bratva

Pengantin Paksa Sang Bratva

Status: tamat
Genre:Nikahkontrak / Mafia / Penikahan Kontrak / Nikah Kontrak / Obsesi / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:114
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

"Berjanjilah kau tidak akan pernah mencintai siapa pun. Cinta adalah kelemahan terbesar yang ada."

Kalimat itu diucapkan ibunya di malam terakhir sebelum wanita itu mati bersimbah darah. Sejak hari itu, Nikolai Ivanov menjadikan janji tersebut sebagai hukum. Kini, di usia tiga puluh delapan, ia menguasai kegelapan Bratva dengan tangan dingin — tak kenal ampun, tak kenal cinta.

Sampai sebuah aliansi memaksanya menikahi Helena Lombardi.

Delapan belas tahun, putri keluarga mafia Italia, dan cukup naif untuk percaya bahwa ia bisa mencairkan pria sedingin es. Helena datang dari negeri hangat menuju istana bersalju yang terasa lebih seperti sangkar emas — ditinggalkan, diabaikan, dan diperlakukan seolah sekadar bagian dari sebuah kontrak.

Namun gadis yang mereka kira lemah ini tidak menangis lalu menyerah. Ia melawan dengan caranya sendiri: dengan keheningan yang berbahaya, dengan keberanian yang menantang, dengan hati yang menolak padam.

Dan tanpa disadari sang penguasa Bratva, dinding es yang ia bangun selama tiga puluh dua tahun mulai retak — satu tatapan, satu sentuhan, satu malam pada satu waktu.

Tapi di dunia tempat cinta dianggap kelemahan, jatuh cinta bisa berarti kematian. Musuh selalu mengintai. Pengkhianatan bersembunyi di tempat yang paling tak terduga. Dan ketika masa lalu berdarah Nikolai datang menagih, ia harus memilih: mempertahankan janji lama pada mendiang ibunya… atau mempertaruhkan segalanya demi satu-satunya perempuan yang berhasil merenggut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 — Bayiku

Helena

Aku terbangun, tapi tak ingin beranjak.

Aku tak ingin keluar.

Aku tak ingin bertemu siapa pun.

Kupalingkan wajah ke bantal, berusaha bersembunyi dari hari ini, tapi pintu terbuka dan sesaat kemudian cahaya menyerbu masuk ke kamar. Ibuku membuka tirai tanpa permisi.

"Cukup, Helena," ucapnya, tanpa berbelit. "Sudah dua minggu kau seperti ini. Mama tak tahan lagi melihatmu begini."

Dadaku sesak. Kucengkeram seprai kuat-kuat.

Natalia berdiri di ambang pintu. Ia tak masuk. Ia hanya memandangku. Tatapannya tak menuntut, tapi jujur.

"Kau harus bangkit," ucapnya, dengan tenang. "Aku tahu ini menyakitkan. Aku mengerti. Tapi berdiam diri seperti ini takkan membuat rasa sakitnya pergi."

Kupejamkan mata. Air mata mengalir dalam diam.

"Aku lelah…" gumamku. "Lelah merasakan."

Ibuku mengembuskan napas, tapi suaranya keluar lebih lembut.

"Mama tahu. Tapi kau tak boleh menyerah pada dirimu sendiri."

Natalia melangkah maju.

"Rasa sakit tak mendefinisikan dirimu, Helena. Tapi apa yang kaulakukan setelahnya… itulah yang menentukan."

Aku terdiam. Bukan karena aku setuju.

Melainkan karena, untuk pertama kalinya, aku mulai berpikir bahwa mungkin mereka benar.

Ibuku duduk di tepi ranjang, perlahan, dengan hati-hati. Ia mengelus perutku, seakan ingin mengalirkan kekuatan lewat sentuhannya.

"Kau harus kuat demi bayi ini," ucapnya, mantap, tapi penuh kelembutan.

Kupandang ia, berusaha menyerap keyakinan dalam suaranya, tapi rasa takut masih menyesakkan dadaku.

"Kita ke dokter hari ini," lanjutnya, menggenggam tanganku. "Tak bisa ditunda lagi."

Aku menelan ludah, merasakan simpul di tenggorokanku.

Kutarik napas dalam-dalam, sadar akan apa yang harus kulakukan.

Demi bayi ini… aku harus bangkit.

Natalia tersenyum miring, penuh semangat, berusaha membawa keceriaan ke dalam kamar yang muram ini.

"Ayo kita lihat bayi bergenetika sempurna ini!" ucapnya sambil tertawa.

Aku tak bisa menahan sebuah senyum kecil, malu-malu. Itu konyol, tapi menghangatkan sesuatu di dalam diriku yang berhari-hari terasa beku.

Sesaat, aku berpikir bahwa mungkin, hanya mungkin, ada masa depan yang layak untuk dihadapi.

Kami berada di ruang praktik Dokter Nicole. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan padaku, mencatat semuanya dengan cermat. Natalia mengamati di sisiku, tersenyum tipis, berusaha menularkan rasa percaya diri.

Kemudian, ia memintaku berbaring di ranjang periksa. Kurasakan dinginnya gel saat ia mengoleskannya ke perutku, dan sesaat kemudian ia menempatkan alat itu di atasku. Di layar, gambar-gambarnya tampak membingungkan pada awalnya, penuh bayang dan bentuk yang tak bisa diuraikan dengan benar oleh mataku yang belum terbiasa.

Lalu ia menunjuk. Ia menunjukkan bayiku. Ia begitu kecil… sangat kecil. Sebuah titik rapuh yang, entah bagaimana, sudah menyandang segenap makna dunia.

"Kehamilan kurang lebih delapan minggu," jelasnya, dengan suara tenang. "Semuanya sempurna."

Hatiku sesak. Natalia menggenggam tanganku erat, tersenyum seolah udara di dalam ruangan itu bisa terasa berbeda.

"Mari kita dengarkan detak jantungnya, Bu," ucap sang dokter.

Dan tiba-tiba suara itu bergema di ruangan: sebuah irama yang mantap, teguh, hidup. Mataku seketika berkaca-kaca. Aku menangis tanpa tahu pasti apakah itu karena lega, takut, atau cinta.

Sang dokter melanjutkan pencatatannya, penuh perhatian, profesional. Setelahnya ia membantuku duduk. Ia menatapku dengan hati-hati.

"Kau tampak pucat dan lemah," ucapnya, suaranya lembut. "Kita perlu mengambil sampel darah sebelum kau boleh pulang. Tapi, soal bayi… semuanya baik-baik saja."

Kutarik napas dalam-dalam, berusaha menahan air mata yang berkeras jatuh. Untuk pertama kalinya sepekan terakhir, kurasakan setitik harapan berdenyut di dalam diriku.

Suster mendekat dengan nampan dan mengambil darahku dengan hati-hati. Kurasakan dinginnya jarum, tapi aku tak mengeluh. Ini hanya satu langkah lagi. Satu upaya lagi untuk melindungi bayi ini.

Sang dokter membolehkanku pulang, menatap mataku.

"Hasilnya keluar sore nanti," ucapnya, tersenyum tipis, "dan aku ingin melihatmu kembali untuk kontrol, oke?"

Aku mengangguk, berusaha tampak yakin.

Kami keluar dari ruang praktik langsung menuju mal. Natalia dan ibuku mengobrol penuh semangat, menyeretku dari toko ke toko. Aku tahu mereka melakukan ini untuk menarikku keluar dari bayang yang menggerogotiku, untuk menyemangatiku, untuk mengingatkanku bahwa masih ada kehidupan di luar rasa sakitku sendiri.

Sembari mengikuti mereka, aku tak bisa menahan senyum kecil. Mungkin, sesaat, aku bisa memercayai bahwa segalanya masih bisa berjalan baik. Bahwa aku bisa, ya, bangkit kembali. Bahwa aku bisa merawat diriku dan bayiku.

Dan meski hatiku masih sakit karena Nikolai, entah kenapa, harapan mulai menyelinap di sela isak yang kusandang beberapa pekan terakhir ini.

Mereka menyeretku menyusuri berbagai toko, dan tak lama aku sudah dikelilingi pakaian mungil, semuanya lembut, terlalu kecil untuk kupercaya bahwa seseorang benar-benar akan muat memakainya. Setiap potongnya lebih menggemaskan dari yang lain: baju bodi bergambar beruang kecil, kaus kaki mungil, terusan yang seakan terbuat dari awan.

Natalia memegang satu setelan biru dan memasang wajah jenaka. Ibuku memilih gaun merah muda berenda, sudah membayangkan seribu skenario.

Di antara satu baju kecil dan yang lain, aku tak bisa menahannya: sebuah senyum lolos. Kecil, malu-malu, tapi tulus. Dan selama beberapa detik, aku melupakan rasa sakit, rasa rindu, ketiadaannya.

Ini konyol, aku tahu. Tapi setiap potong yang kusentuh, setiap detail yang kuamati, mengingatkanku bahwa hidup terus berjalan. Bahwa ada sesuatu yang bergantung padaku. Bahwa aku bisa merasakan cinta lagi, dengan cara yang berbeda, dan tetap menjadi utuh.

Dan untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku merasa aku benar-benar bernapas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!