AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: RENDO CEMBURU DAN MULAI GANGGU LAGI
Sejak tahu aku nikah siri sama kakaknya sendiri, Mas Arga, Rendo yang tadinya bilang di warung Bu Lasmi "anak ini belum tentu anakku, belum tentu anakku" dan kabur ke Kalimantan, sekarang malah sering lewat depan rumah bocor Mbah Wiryo.
Bukan untuk minta maaf. Bukan untuk tanggung jawab. Tapi untuk ganggu. Untuk bikin aku makin tertekan.
Pagi jam 6, waktu aku mau ambil air di sumur belakang rumah bocor yang airnya keruh itu, untuk masak dan buat mandi Salsa yang 2 tahun, Rendo sudah nongkrong di pematang sawah, duduk di atas motor Vario hitamnya yang dulu pernah buat bonceng aku ke gubuk kebun karet itu, tempat aku hamil.
"Eh, Kirana, gimana rasanya jadi istri kakakku? Enak? Dapat janda hamil gratis ya, Mas Arga? Tidur di rumah bocor angker enak, Nduk?" teriaknya sambil ketawa keras, sengaja biar Bu Tati yang lagi di sawah dengar.
Aku diam, tidak jawab, cepat-cepat ambil air 2 ember dan masuk rumah, kunci pintu bambu dari dalam. Tanganku gemetar, ember hampir tumpah. Perutku yang sekarang 4 bulan 2 minggu terasa mules karena stres lihat Rendo.
Salsa yang lihat Rendo dari jendela bolong, takut, langsung peluk kakiku erat. "Ibu, takut, Ibu, orang jahat."
Siang jam 12, waktu panas terik, aku jemur baju bayi kecil-kecil pemberian Bu Minah di depan rumah bocor, Rendo lewat lagi bawa motor, sengaja geber motor kencang-kencang, knalpot brong, debu sawah yang kering masuk semua ke baju bayi yang baru aku cuci. Baju jadi kotor lagi, harus cuci ulang.
"Janda siri! Janda siri! Hamil anakku tapi nikah sama kakakku! Murahan!" teriaknya sambil lewat.
Aku nangis, pungut baju bayi yang jatuh ke tanah berdebu. Sudah 4 bulan hamil, sudah diasingkan, sudah nikah siri tapi tidak diakui desa, masih diganggu mantan yang menghamili.
Sore jam 3, Bu Minah datang bawa nasi dan sayur bayam, lihat aku nangis di tikar sambil lipat baju kotor berdebu.
"Kenapa lagi, Nduk?" tanya Bu Minah.
"Rendo, Bu, ganggu terus, Bu. Tadi pagi di sumur, siang di jemuran. Dia teriak janda siri, Bu."
Bu Minah langsung istighfar panjang. "Astaghfirullah Rendo itu! Sudah gak tanggung jawab, gangguin orang terus! Bapaknya Pak Karim sudah marahin, tapi anaknya ngeyel!"
Aku lapor ke Pak Karim jam 4 sore, waktu Pak Karim pulang dari kebun karet. Pak Karim wajahnya langsung merah.
"Rendo! Sini kamu! Ngapain ganggu Kirana!"
Rendo yang lagi duduk di bale rumah induk, main HP, jawab santai.
"Lah, Bapak, kenapa? Aku cuma lewat kebun karet. Kebun karet kan punya Bapak, bukan punya Kirana. Rumah bocor itu juga punya Mbah Wiryo, bukan punya Kirana. Aku bebas lewat."
Pak Karim kepal tangan. "Kamu jangan alasan! Kamu teriak janda siri tadi siang! Warga dengar! Kamu bikin malu keluarga!"
Rendo malah ketawa sinis. "Halah, Bapak bela Kirana terus. Kirana itu hamil anakku, Pak, bukan anak Mas Arga. Mas Arga itu sok pahlawan, dapat perawan hamil gratis! Enak!"
Mendengar itu, Arga yang dari tadi diam di belakang rumah induk, lagi benerin cangkul, tidak tahan.
Arga jalan cepat ke depan, tarik kerah baju Rendo.
"Rendo, kamu jangan ganggu Kirana lagi. Cukup! Kamu sudah bikin dia hamil, kamu kabur ke Kalimantan, sekarang kamu pulang ganggu dia lagi! Kamu laki-laki apa!"
Rendo nantang balik, dorong dada Arga.
"Kenapa, Mas? Cemburu? Takut aku rebut lagi Kirana? Kan anaknya anakku, Mas. Bukan anak Mas. Mas cuma dapat sisa aku! Sisa!"
Arga kepal tangan, mau mukul, tapi ingat janjinya ke aku: tidak mau berantem di depan warga, karena kalau berantem kakak adik di depan warga, warga akan bilang keluarga Pak Karim berantakan gara-gara janda hamil.
Pak Karim melerai, tarik Arga dan Rendo pisah.
"Cukup! Cukup dua-duanya! Rendo, kamu mulai besok gak boleh keluar rumah malam, gak boleh lewat kebun karet jam 6 pagi dan jam 12 siang! Kamu di rumah aja, bantu Bapak di sawah, angkut karet! Kalau kamu masih ganggu Kirana, Bapak usir kamu beneran ke Kalimantan, gak boleh pulang lagi, Bapak coret kamu dari kartu keluarga!"
Rendo ngambek, masuk kamar banting pintu keras, sampai dinding anyaman bambu rumah induk getar.
Malam jam 8, hujan turun lagi, tapi tidak deras. Arga datang ke rumah bocorku, wajahnya masih merah nahan marah, bawa senter dan bawa telur 1 kilo seperti janjinya kemarin.
"Kir, maaf ya, adikku gangguin kamu terus. Tadi sudah Bapak marahin, sudah Bapak hukum gak boleh lewat kebun karet lagi."
Aku kasih teh hangat yang aku masak pakai kayu bakar kering pemberian Arga, yang tidak berasap lagi karena kering.
"Gak apa-apa, Mas. Aku sudah biasa diasingkan, sudah biasa dihina Bu Tati, diusir Mbah Sarti dari warung. Diganggu Rendo itu masih mending daripada diusir, Mas. Diusir gak punya tempat tinggal, diganggu masih bisa kunci pintu."
Arga duduk di bale depan, tidak masuk rumah, jaga syarat tidak sentuh sampai anak lahir. Dia taruh telur 1 kilo di atas tikar di dalam rumah, lewat celah pintu bambu.
"Kir, perutmu sudah 4 bulan 2 minggu ya? Sudah USG belum? Tadi Bu Minah bilang belum pernah USG sama sekali."
"Belum, Mas. Uang buat USG di Puskesmas 150 ribu, gak ada uang. Uangku cuma 3 ribu sisa beli garam kemarin."
Arga rogoh kantong celana karetnya yang hitam karena getah karet, keluarin uang lecek 150 ribu, 2 lembar 50 ribu dan 5 lembar 20 ribu.
"Ini buat USG besok di Puskesmas sama Bu Minah ya, Kir. Biar tahu anaknya sehat apa enggak, laki atau perempuan. Jangan ditunda, kasihan anaknya kalau kurang gizi."
Aku terima uang itu, nangis. Pertama kalinya dalam 4 bulan hamil, ada yang kasih uang buat anakku, bukan buat Salsa, bukan buat beli garam, tapi buat anakku di perut.
Anakku anak Rendo, anak laki-laki yang tiap hari ganggu aku, teriak janda siri, geber motor.
Tapi yang kasih uang USG 150 ribu adalah Mas Arga, kakaknya Rendo, suami siriku yang belum aku cintai, yang nikahin aku karena kasihan.
"Terima kasih, Mas..." bisikku, air mata netes ke telur 1 kilo.
Arga angguk, mau pulang, tapi sebelum pulang dia bilang pelan.
"Kir, besok kalau USG, kabarin Mas ya, hasilnya gimana. Mas penasaran anaknya sehat apa enggak. Meskipun bukan anak Mas, tapi Mas sudah anggap anak Mas juga, karena Mas suami siri kamu."
Malam itu Arga pulang lagi jalan kaki 300 meter dalam hujan rintik, senternya kelap-kelip, jadi bayangan hitam lagi di kebun karet.
Aku di dalam rumah bocor, pegang telur 1 kilo dan uang 150 ribu lecek, peluk Salsa yang sudah tidur, peluk perut 4 bulan 2 minggu.
Belum nikah KUA, masih istri siri tidak diakui desa, masih diasingkan di rumah bocor angker, masih diganggu mantan tiap hari, hamil anak mantan.
Tapi malam ini ada teh hangat, telur 1 kilo, uang USG, dan atap yang sudah tidak bocor lagi.
Dan ada suami siri yang janji jaga aku, meskipun aku belum cinta sama dia.
Itu cukup buat aku lanjut hidup besok pagi dan berani USG pertama.
Besok aku mau USG, mau lihat anakku sehat apa enggak.