AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: RENDO PULANG, TAPI BUKAN UNTUKKU
Pagi itu jam 7, aku baru selesai masak air di tungku kayu pemberian Arga. Kayu bakar yang dia taruh tiap sore di depan pintu itu masih basah karena hujan semalam, jadi asapnya perih di mata.
Salsa duduk di tikar, main boneka kain sobek yang aku jahit dari sisa daster. Perutku yang 3 bulan 2 minggu ini makin terasa berat kalau jongkok lama-lama.
"Kirana! Kirana! Rendo pulang!"
Bu Minah lari-lari kecil dari ujung pematang, napasnya ngos-ngosan, mukenanya masih setengah terpasang.
Jantungku langsung berhenti.
Rendo. Pulang.
Laki-laki yang 3 bulan lalu bilang "Gugurin aja, aku belum siap jadi bapak" lalu nomornya mati, Facebook-nya hilang, kabur katanya ke Kalimantan ikut temannya kerja sawit.
Sekarang pulang.
"Di mana, Bu?" tanyaku panik, langsung berdiri, tangan otomatis megang perut.
"Di warung Bu Lasmi! Baru turun dari bus! Bawa tas gede! Pak Karim yang jemput! Mbah Sarti juga di sana!"
Aku langsung gemetar. Kalau Mbah Sarti ada di sana, pasti dia akan bilang Rendo harus tanggung jawab nikahin aku. Tapi aku tahu Rendo. Rendo tidak akan mau.
"Bu, Salsa titip ya, Bu. Aku mau lihat sebentar..." kataku sambil serahkan Salsa ke Bu Minah.
"Jangan, Nduk! Kamu hamil! Jangan emosi!" Bu Minah mencoba mencegah, tapi aku sudah jalan cepat ke warung Bu Lasmi yang jaraknya cuma 5 menit dari rumah bocorku.
Di warung Bu Lasmi, sudah rame. Ibu-ibu PKK, Pak RT, Pak Karim, Mbah Sarti, dan di tengah-tengah, Rendo.
Rendo kurusan. Kulitnya hitam karena panas Kalimantan, rambutnya gondrong. Pakai kaos oblong hitam, celana jeans sobek. Beda jauh sama Rendo yang dulu wangi, pakai kemeja, motor vario baru.
Dia lihat aku datang. Matanya langsung buang muka.
"Rendo," kataku pelan, berdiri di depan warung, perutku yang buncit 3 bulan jelas kelihatan semua orang.
Semua ibu-ibu diam. Menunggu drama.
Mbah Sarti langsung tarik tanganku. "Nah! Ini dia perempuannya! Rendo, ini tanggung jawab kamu! Kirana hamil anak kamu! Sudah 3 bulan! Kamu harus nikahin!"
Pak Karim, bapaknya Rendo, juga berdiri. "Rendo, bapak sudah bilang dari dulu, jangan main-main sama anak orang! Sekarang kamu pulang, tanggung jawab!"
Rendo menunduk lama. Lalu dia ngomong pelan, tapi semua orang dengar.
"Mbah... Pak... Aku... aku belum siap nikah, Mbah. Aku di Kalimantan aja gagal, kerja sawit cuma 2 bulan dipecat. Aku pulang juga gak bawa uang. Gimana mau tanggung jawab, Mbah? Anaknya... anaknya belum tentu anakku juga, kan? Kirana kan dulu dekat sama siapa aja..."
Dunia ku runtuh detik itu juga.
"Belum tentu anakku?" Aku mengulang kalimatnya, suaraku pecah. "Rendo, kamu yang pertama, Rendo! Kamu yang bawa aku ke gubuk kebun karet itu! Kamu bilang kamu sayang aku!"
Rendo malah bentak balik, mungkin karena malu di depan banyak orang.
"Ah, Kirana! Kamu jangan drama di sini! Kamu juga mau kan waktu itu! Sekarang kamu hamil, kamu suruh aku nikahin? Enak aja! Aku umur 22, Mbah! Mau nikah sama janda anak satu, bawa anak haram lagi!"
Ibu-ibu langsung berbisik keras. "Astaghfirullah..."
Aku menangis di situ juga. Di depan warung. Di depan Mbah Sarti. Perut 3 bulan, daster pudar, kaki masih pakai sandal jepit putus.
Mbah Sarti yang tadinya bela aku, malah balik marah ke aku.
"Kamu dengar sendiri kan, Kirana! Rendo gak mau! Makanya Mbah bilang, jangan hamil duluan! Sekarang malu Mbah! Pulang kamu! Jangan bikin malu di warung!"
Pak Karim mencoba melerai. "Sudah, sudah. Rendo, kamu masuk dulu ke rumah. Kirana, kamu pulang dulu, Nduk."
Aku jalan pulang dengan air mata deras, melewati pematang sawah, kembali ke rumah bocor. Tidak ada yang membela. Tidak ada pahlawan.
Di tengah jalan, ada yang narik tanganku pelan.
Mas Arga.
Dia dari tadi berdiri di belakang warung, dengar semua. Topi capingnya masih di kepala, wajahnya keras menahan marah lihat adiknya ngomong begitu.
"Kir..." katanya pelan.
Aku menggeleng, nangis makin keras. "Mas, aku malu, Mas... Rendo bilang anak ini bukan anak dia..."
Arga mengepalkan tangan, tapi tidak pergi ke warung buat hajar Rendo seperti di versi ngebut kemarin. Di versi pelan ini, Arga masih nahan. Karena kalau dia hajar adiknya sendiri di depan Pak RT, dia yang dipenjara, aku yang makin diasingkan.
"Kir, kamu pulang dulu. Jangan di sini. Nanti jadi tontonan. Salsa nunggu."
Dia tuntun aku pelan-pelan kembali ke rumah bocor, jaraknya cuma 100 meter, tapi rasanya jauh sekali karena semua mata melihat.
Sampai di rumah bocor, Bu Minah sudah menunggu dengan Salsa yang nangis karena lihat aku nangis.
"Gimana, Nduk?" tanya Bu Minah.
Aku cuma geleng-geleng sambil peluk Salsa dan peluk perutku.
"Rendo gak mau tanggung jawab, Bu... Dia bilang anak ini bukan anak dia..."
Bu Minah langsung istighfar. "Astaghfirullah Rendo itu! Tega banget!"
Arga masih berdiri di luar pintu, tidak masuk, karena belum muhrim, belum nikah, jaga batas.
"Bu Minah, tolong temenin Kirana dulu ya. Aku mau ngomong sama Rendo di rumah," kata Arga ke Bu Minah, lalu pergi.
Siang itu, di rumah induk Pak Karim, terjadi ribut besar. Aku dengar dari Bu Minah yang nguping dari dapur.
Pak Karim marah besar sama Rendo. "Kamu itu laki-laki apa! Kamu bikin anak orang hamil, sekarang bilang bukan anak kamu!"
Rendo jawab, "Lah, bapak mau aku nikah sama Kirana yang sudah hamil duluan? Malu, Pak! Nanti orang bilang aku dapat perawan bekas!"
Arga yang dari tadi diam, akhirnya bicara.
"Kalau kamu gak mau tanggung jawab, biar aku yang tanggung jawab."
Semua orang di rumah itu diam.
Pak Karim kaget. "Arga, kamu ngomong apa?"
Arga pelan tapi jelas, "Aku yang akan nikahin Kirana. Bukan karena anaknya anakku. Tapi karena Kirana butuh tempat berlindung. Dia di rumah bocor, Pak. Hamil 3 bulan. Diusir Mbah Sarti. Kalau bukan kita yang bantu, siapa lagi? Rendo gak mau, ya sudah, biar aku."
Rendo malah ketawa sinis. "Halah, Mas Arga sok pahlawan! Dari dulu suka Kirana kan? Sekarang kesempatan ya? Dapat perawan hamil gratis!"
PLAK!
Pak Karim tampar Rendo keras.
"Jaga mulut kamu!"
Sore jam 4, Pak Karim dan Arga datang ke rumah bocorku. Bawa Bu Minah sebagai saksi.
Aku yang masih nangis di tikar, kaget lihat mereka datang.
"Kirana," kata Pak Karim pelan, duduk di tikar yang sudah aku lap karena bocor. "Tadi bapak sudah bicara sama Rendo. Rendo belum siap tanggung jawab. Tapi Arga... Arga bersedia menikahimu. Bukan karena cinta-cintaan, tapi karena kasihan sama kamu dan Salsa. Kamu mau, Nduk?"
Aku lihat Arga. Arga menunduk, tidak berani tatap aku.
"Menikah, Pak?" tanyaku bingung. "Tapi kan aku... aku hamil anak Rendo, Pak..."
"Iya, bapak tahu. Arga juga tahu. Ini nikah karena kemanusiaan, Nduk. Bukan karena kamu hamil anak Arga. Tapi biar kamu ada status, biar Mbah Sarti gak ngusir kamu lagi, biar warga gak ngomongin kamu hamil duluan tanpa suami. Setelah anakmu lahir, kalau kamu mau cerai, gak apa-apa."
Itu tawaran yang... berat.
Menikah sama kakaknya laki-laki yang menghamiliku. Belum nikah secara resmi, tapi dijodohkan karena kasihan.
Aku lihat perutku. 3 bulan 2 minggu. 6 bulan lagi anak ini lahir tanpa bapak.
Aku lihat Salsa yang yatim piatu, butuh ibu.
Aku lihat rumah bocor yang kalau hujan aku kebasahan.
Aku lihat Arga, yang selama 3 bulan cuma jadi bayangan, taruh kayu bakar tanpa ngomong, yang tadi malam pasang seng bekas buat atapku.
"Kir, kamu gak usah jawab sekarang," kata Arga pelan, akhirnya berani ngomong. "Pikirin dulu seminggu. Aku gak maksa. Kalau kamu mau, kita nikah siri dulu biar kamu ada yang lindungi. Kalau kamu gak mau, aku tetap akan taruh kayu bakar tiap sore kok. Rumah bocor ini tetap aku benerin atapnya."
Itu kalimat pertama Arga yang panjang ke aku selama 3 bulan.
Aku nangis lagi, tapi kali ini bukan karena sedih, tapi karena bingung.
Belum nikah. Tapi sudah ditawarin nikah.
Tapi nikahnya bukan karena cinta, tapi karena kasihan.
Apakah aku mau?
Malam itu aku tidak jawab. Pak Karim dan Arga pulang. Bu Minah temenin aku tidur di rumah bocor.
Di luar, hujan turun lagi. Seng bekas pemberian Arga semalam, ternyata tidak bocor lagi di dapur. Ada satu titik yang kering.
Koper hitamku masih di pojok, belum aku buka lagi.
Perut 3 bulan 2 minggu ku, aku elus-elus.
"Anak... ibu harus gimana, Nak...?" bisikku.
Salsa yang tidur di sebelahku, memeluk tanganku.
Dan di kejauhan, dari jendela bambu rumah bocor yang bolong, aku lihat lampu petromak di rumah Pak Karim masih menyala. Di situ Arga pasti masih belum tidur, mikirin aku.
Belum nikah. Masih diasingkan. Tapi untuk pertama kalinya dalam 3 bulan, ada yang nawarin jalan keluar, meskipun jalan keluarnya bukan cinta, tapi kasihan.
Apakah aku terima?