Ani Almira mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa Fardan suaminya mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ketika kecelakaan itu terjadi Fardan tidak sendirian. Ani terkejut ketika polisi mengatakan penyebab kecelakaan suaminya. Ani tidak menyangka Fardan begitu tega kepadanya.
Ardi Akram seorang perwira menengah di kepolisian. Ia merasa kecewa dengan apa dilakukan oleh Nadira istrinya. Ia mengajak Ani untuk balas dendam atas perbuatan Fardan dan Nadira. Ani menolak untuk melakukan balas dendam. Namun, berkat bantuan Ardi rahasia masa lalu Fardan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengantar Pulang.
Ardi turun ke lantai dasar. Ani mengikuti Ardi. Ardi berjalan menuju ke meja kasir. Ia berdiri di depan meja kasir. “Saya mau bayar tagihan meja 40.” Ardi mengeluarkan dompet dari saku celana. Kasir memberikan nota tagihan makanan kepada Ardi.
Ani ikut mendekati meja kasir. Ia hendak melihat jumlah tagihan makanan mereka. Ardi mengeluarkan kartu debit dari dompet lalu memberikan kartu debit tersebut kepada kasir. Ani tidak bisa melihat dengan jelas jumlah tagihan makanan mereka. Setelah transaksi selesai, kasir memberikan nota pembayaran dan kartu debit kepada Ardi. Ardi mengambil nota pembayaran dan kartu debit lalu dimasukan ke dalam saku celana. “Ayo kita pulang,” ujar Ardi. Mereka berdua meninggalkan meja kasir.
Ardi tidak berjalan mendahului Ani, ia mensejajarkan langkahnya dengan Ani. Ani merasa risih karena Ardi berjalan di sebelahnya. Ia berjalan sambil menunduk, ia takut ada orang yang ia kenal melihat ia berjalan dengan laki-laki lain. Padahal suaminya sedang koma di rumah sakit.
Ketika sampai di pintu restoran Ani menghentikan langkahnya. Ardi juga berhenti, ia menoleh ke Ani. “Kita berpisah sampai di sini. Saya pulang naik ojek.” Ani mengeluarkan telepon seluler dari tas. Ia hendak memesan ojek online.
Ardi menghela napas lalu menggelengkan kepalanya. “Bu Ani, ini sudah malam.” Ardi memperlihatkan jam tangan yang melingkar di tangan kirinya kepada Ani. “Sebentar lagi jam 9.”
“Ayo saya antar pulang!” ujar Ardi. Ani menghela napas, kalau ia menolak diantar pulang pasti mereka berdebat di depan restoran. Hal itu akan menarik perhatian banyak orang. Akhirnya Ani melangkahkan kakinya menuju ke mobil Ardi. Ardi tersenyum melihat Ani berjalan menuju ke mobil.
Ani berhenti di depan mobil, ia menunggu Ardi membuka kunci mobil. Ardi berjalan mendekati mobil, ia tidak membuka kunci mobil dari jauh. Ardi membuka kunci mobil setelah ia berada di sebelah mobil. Ia membuka pintu depan bagian penumpang.
“Silahkan Ibu Ani,” ucap Ardi sambil mengayunkan tangan ke dalam mobil. Ani terkejut dengan apa yang dilakukan Ardi. Tidak biasanya Ardi melakukan haI itu. Ia jadi ragu untuk masuk ke dalam mobil.
“Ayo masuk! Ini sudah malam,” ujar Ardi, melihat Ani masih berdiri di sebelah mobil. Akhirnya Ani masuk ke dalam mobil lalu Ardi menutup pintu mobil. Ardi berjalan menuju ke pintu kemudi. Ia membuka pintu kemudi lalu masuk ke mobil.
Ardi menyalakan mesin mobil lalu memasang sabuk pengaman. Ia hendak menjalankan mobil, tetapi ia menoleh dulu ke Ani. Ardi melepas sabuk pengaman lalu mendekatkan tubuhnya ke Ani. Ani terkejut melihat Ardi mendekatinya. “Pak Ardi mau apa?!” Ani menjauhkan tubuhnya dari Ardi. Ia siap-siap melawan kalau Ardi melakukan hal yang tidak diinginkan.
Ardi menarik sabuk pengaman yang berada di samping tempat duduk Ani. “Mau pasang sabuk pengaman.” Ia memasangkan sabuk pengaman di tubuh Ani. Ani menghela napas ketika sadar lupa memakai sabuk pengaman. Tadi ia sedikit terkejut dengan perlakuan Ardi yang begitu manis sehingga lupa memakai sabuk pengaman.
Ardi tersenyum kepada Ani. “Kita jalan sekarang?” tanya Ardi sambil memasang sabuk pengaman. Ia menurunkan rem tangan lalu menjalankan mobil meninggalkan halaman restoran.
Sepanjang jalan Ani dan Ardi tidak saling berbicara. Bahkan Ardi tidak menanyakan di mana rumah Ani? Jalanan di kota Bandung masih ramai, banyak mobil dan motor yang berlalu lalang di jalan. Ani memperhatikan suasana kota Bandung di malam hari. Sedangkan Ardi fokus mengemudikan mobil.
Ardi mengurangi kecepatan ketika mobil mendekati perempatan jalan. Lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Ardi menghentikan mobilnya. Ia menarik napas panjang hingga terdengar oleh Ani. Ia menarik napas panjang untuk menghalau rasa letihnya. Ani menoleh ke Ardi. “Tadi bayar makanan berapa?” tanya Ani. “Saya bayar setengahnya,” lanjut Ani.
Ardi menoleh ke Ani. “Tidak usah. Kan saya yang mengajak Ibu makan,” jawab Ardi. Ardi kembali fokus ke depan. Tidak lama kemudian lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Ardi menjalankan mobil.
Ardi mengemudikan mobil menuju ke daerah Sarijadi. Ani langsung menoleh ke Ardi. “Dari mana Bapak tau rumah saya?” tanya Ani.
“Dari Edwin,” jawab Ardi sambil membelokkan mobil. Ani menghela napas. Ia lupa kalau Edwin tahu semua data-data pribadinya.
Ardi menoleh sebentar ke Ani. “Nggak keberatan kan saya cari tau data-data Ibu ke Edwin?” tanya Ardi.
‘Keberatan,’kata Ani di dalam hati. Namun, ia tidak mengatakan apa-apa kepada Ardi.
Ketika sampai di perumahan Sarijadi, Ardi melambatkan laju mobil. “Rumah Ibu di mana?” tanya Ardi sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari jalan menuju rumah Ani. Ia lupa lagi nama jalan rumah Ani.
“Masih jauh,” jawab Ani.
Ardi menoleh ke Ani. “Nanti kasih tau kalau sudah mau belok ke rumah Ibu.” Ardi kembali fokus ke depan.