Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Arya mendesis kesakitan sambil meniup-niup telapak tangan kanannya yang tampak merah melepuh parah.
Bekas luka bakar akibat menahan amukan energi iblis Vanya tadi pagi benar-benar terasa sangat perih menyengat.
"Sialan, rasanya seperti habis memegang wajan panas tanpa pelindung," umpat Arya pelan sambil meringis kesakitan.
Vanya berdiri tidak jauh dari tempat Arya duduk, memperhatikan tangan pemuda itu dengan tatapan rumit.
Ada rasa bersalah yang menusuk-nusuk di dalam dada sang Ratu Iblis melihat pengorbanan kecil tersebut.
"Mana tanganmu yang terluka itu?" tanya Vanya dengan nada suara yang sengaja dipaksa sedingin mungkin.
Arya menarik tangannya ke belakang sambil menatap wanita itu dengan sebelah alis terangkat tinggi.
"Kenapa? Mau mentertawakan tanganku yang cacat karena menolongmu?" jawab Arya sinis.
"Jangan banyak bicara, perlihatkan atau kupatahkan tanganmu yang sebelah lagi," ancam Vanya tidak sabar.
Arya menghela napas panjang, lalu mengulurkan telapak tangannya yang melepuh ke hadapan Vanya dengan pasrah.
Vanya berjongkok di depan Arya, mengamati luka bakar parah di telapak tangan itu dari jarak dekat.
Jari-jarinya yang lentik menyentuh kulit Arya secara perlahan-lahan dengan sangat hati-hati.
"Dingin..."
Batin Arya merasakan sensasi sejuk menjalar saat kulit mereka bersentuhan.
"Kulit manusia memang sangat rapuh dan lemah," komentar Vanya pelan tanpa nada mengejek seperti biasanya.
"Makanya jangan suka bikin onar kalau tidak mau tangan orang lain jadi korban," balas Arya ketus.
Vanya mendengus pelan mendengar sindiran telak itu, namun ia tidak berniat untuk mendebatnya balik.
"Tunggu di sini sebentar, jangan ke mana-mana," perintah Vanya tiba-tiba sambil bangkit berdiri.
Arya mengerutkan keningnya bingung melihat Vanya berbalik badan menuju pintu keluar kuil.
"Mau ke mana kamu? Jangan bilang mau kabur meninggalkanku sendirian di sini," tanya Arya curiga.
"Mencari daun obat di hutan belakang kuil, tanganmu bisa busuk kalau dibiarkan begitu saja," jawab Vanya tanpa menoleh.
Sebelum Arya sempat melarang, sosok Vanya sudah melesat cepat keluar dari pintu kuil tua.
Srrrt...
Angin berhembus kencang melewati celah pintu yang terbuka lebar.
"Tuh anak kesurupan apa ya, tumben banget mau repot-repot cari obat buat aku," gumam Arya heran seorang diri.
Di dalam hutan lebat di belakang kuil tua...
Vanya melangkah menyusuri semak belukar rimbun dengan penciuman dan insting tajam seorang Ratu Iblis.
Ia mencari tanaman herbal khusus bernama Daun Embun Giok yang berkhasiat menyembuhkan luka bakar akut.
Kriet...
Suara ranting patah terdengar dari arah balik semak belukar tidak jauh di depannya.
Vanya menghentikan langkah kakinya seketika, matanya menyipit tajam menatap ke dalam kegelapan hutan.
"Siapa di sana? Keluar atau kubuat kalian mati hancur berkeping-keping!" desis Vanya dingin.
Tiga orang pria berpakaian jubah penjelajah istana muncul perlahan dari balik pohon besar.
"Ketemu! Target buronan berada di sekitar wilayah kuil tua ini!" seru salah satu mata-mata istana kaget.
Mereka langsung menghunus pedang panjang masing-masing dengan wajah penuh seringai keji.
"Rupanya anjing-anjing pesuruh istana masih belum jera juga mengikuti kami," ucap Vanya tanpa rasa takut.
"Serahkan diri kalian sekarang atau kami cincang wanita iblis ini!" ancam pimpinan mata-mata itu.
Vanya menyeringai dingin, aura hitam pekat langsung meluap keluar dari kedua telapak tangannya.
"Kalian datang di waktu yang sangat tepat untuk melampiaskan kekesalanku," desis Vanya berbahaya.
Bum...
Gelombang energi hitam langsung menghantam ketiga mata-mata itu dalam satu kedipan mata.
Mereka bahkan tidak sempat berteriak sebelum tubuh terpental menabrak batang pohon keras dan pingsan seketika.
Vanya mendengus meremehkan, lalu melanjutkan pencariannya dan menemukan beberapa lembar daun obat yang ia cari.
Sepuluh menit kemudian, Vanya kembali ke dalam kuil tua dengan membawa beberapa lembar daun hijau segar di tangannya.
Ia melempar daun itu ke pangkuan Arya yang masih duduk termenung di dekat altar.
"Nih, gunakan daun ini untuk mengobati tanganmu yang payah itu," suruh Vanya gengsi.
Arya mengambil daun tersebut dengan heran, menatap Vanya dari ujung kepala sampai kaki.
"Wah, hebat juga buronan istana ini bisa jadi Tabib dadakan," puji Arya tersenyum mengejutkan.
"Diam dan cepat pakai, jangan banyak protes atau kubuang obatnya," ancam Vanya memalingkan muka merah.
Arya mulai menumbuk daun itu lalu menempelkannya ke telapak tangannya yang melepuh.
Sss... dingin...
Sensasi sejuk langsung meredakan rasa perih yang sejak tadi membakar kulitnya.
[Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis mendeteksi pemulihan luka berkat bantuan Subjek Vanya.]
[Mendapatkan bonus poin kedekatan: +10 poin sistem total menjadi 95 poin.]
Suara dengungan sistem itu berputar singkat di kepala Arya memberikan notifikasi tambahan.
Arya menatap Vanya dengan tatapan tulus, membuat sang Ratu Iblis salah tingkah luar biasa.
"Kenapa melihatku begitu? Mau cari mati?" ketus Vanya salah tingkah.
"Makasih ya, ternyata di balik sifat galakmu, kamu punya juga sisi pedulinya," ucap Arya tulus.
Wajah Vanya seketika berubah merah padam seperti kepiting rebus, ia langsung berbalik badan membelakangi Arya.
"Siapa juga yang peduli padamu, geer sekali jadi manusia!" sangkal Vanya dengan suara bergetar keras.
Arya tertawa kecil melihat tingkah salah tingkah dari sang Ratu Iblis yang mulai menunjukkan sisi manusianya.