NovelToon NovelToon
KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.

Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.

Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan dari Sudut yang Berbeda

Keesokan paginya, aku langsung meluncur ke rumah Rara, untuk menceritakan semua detail balasan pesan dari Arga semalam dengan perasaan yang campur aduk, antara lega dan cemas. Aku menceritakan tentang perjanjian satu bulan yang aku ajukan dan Arga menyetujuinya, lengkap dengan ancaman yang Arga lontarkan jika aku kembali membuat drama.

Namun, respons Rara di luar dugaanku. Tidak ada lengkingan suara tinggi. Tidak ada telunjuk yang mengarah ke mukaku. Sahabatku itu hanya duduk di tepi kasurnya, mendengarkan ceritaku dengan wajah datar tanpa ekspresi.

"Jadi... gitu, Raaa. Dia sepakat kasih aku waktu satu bulan," ujarku memecah keheningan, menatapnya penuh harap.

"Menurut kamu, aku harus mulai dari mana dulu ya Ra?"

Rara menghembuskan napas panjang. "Terserah lo aja, Via."

"Kok terserah sih, Ra. Kamu gak mau menceramahi aku lagi kayak kemarin?" tanyaku agak canggung dengan perubahannya yang mendadak dingin.

Rara akhirnya berbalik, menatapku dengan tatapan mata yang lelah dan pasrah, sambil bersedekap dada.

"Gue udah gak berminat buat menceramahi lo lagi, Via. Percuma. Mulut gue sampai berbusa pun, lo tetap bakal maju dan nekat dengan cara lo sendiri. Jadi, mulai sekarang... terserah. Lakukan apa pun yang lo mau lakukan. Gue angkat tangan."

"Ra, kamu marah ya sama aku?" bisikku parau, merasa bersalah.

"Gue gak marah, Via. Gue cuma capek," jawab Rara lirih.

"Sebagai sahabat, gue cuma bisa berdoa semoga dalam satu bulan ini lo gak perlu mengorbankan harga diri lo lebih jauh lagi. Udah, itu aja."

Suasana di kamar Rara mendadak terasa begitu canggung. Aku hanya bisa terdiam di tempat dudukku, menyadari bahwa obsesiku tidak hanya menguras energiku sendiri, tetapi juga mulai mengikis kesabaran sahabat terbaik yang kupunya.

...----------------...

Siang harinya, ketika aku sedang duduk dikursi koridor kampus sambil menunggu kelas selanjutnya, ponsel di kantong rokku bergetar pendek. Aku buru-buru mengambilnya, berharap itu adalah tanda kehidupan dari Arga, namun, bukan nama Arga yang muncul di layar, melainkan Danu.

Aku menelan ludah dengan susah payah sebelum membuka pesan itu. Ingatanku langsung terlempar pada ucapan Rara bahwa Danu juga tau tentang tingkah konyolku waktu itu, jantungku langsung berdegup kencang karena rasa malu yang membuncah.

Begitu ruang obrolan terbuka, sebuah pertanyaan singkat namun menohok langsung membuat mataku membelalak sempurna.

“Via, sorry kalau pertanyaan gue lancang. Tapi... Apa benar, kalau kamu sebenarnya suka ya sama Arga?”

Napasku seolah berhenti di tenggorokan. Aku menatap layar ponsel dengan tubuh yang mendadak kaku. Pertanyaan Danu begitu lugas, tanpa basa-basi, dan langsung menusuk tepat ke inti masalah. Dia pasti sudah mendengar banyak hal dari Arga tempo hari.

Aku meletakkan jari-jariku di atas keyboard, mendadak bingung harus mengetik apa. Bohong? Itu tidak mungkin, karena seluruh kelakuanku di kampusnya kemarin sudah menjadi bukti yang paling nyata. Tapi jika aku jujur, aku takut menyakiti perasaannya, mengingat betapa perhatiannya Danu kepadaku selama beberapa hari ini.

“Danu, sorry banget soal kemarin ya... Arga cerita semuanya ke kamu ya?” ketikku terlebih dahulu, mencoba mengalihkan pertanyaan besarnya.

Hanya butuh waktu satu menit bagi Danu untuk membalas.

“Iya, tapi gak semua. Dia agak bingung kemarin. Tapi lu gak usah ngerasa gak enak sama gue, Via. Gue cuma mau tahu jawaban dari pertanyaan gue yang tadi aja kok, hehe.”

Membaca chat Danu yang masih mencoba bersikap santai dan ramah, membuat dadaku sedikit sesak, karena aku tahu posisinya pasti sangat tidak nyaman, berada di antara teman dan cewek yang sedang dia beri perhatian lebih belakangan ini.

Aku menarik napas dalam-dalam, mengingat kembali nasihat Rara di kantin waktu itu. Jangan memberi harapan palsu pada Danu, aku harus jujur, aku tidak boleh egois dengan memanfaatkan kebaikannya lagi. Jemari tanganku bergerak lambat, mengetik pengakuan yang sejujur-jujurnya.

“Iya, Danu. Maaf ya... aku emang suka sama Arga sejak pertama kali kami bertemu. Aku mengejar dia karena ada alasan pribadi yang gak bisa aku ceritakan. Maaf banget kalau kelakuanku kemarin bikin posisi kamu gak nyaman”

Aku menekan tombol kirim dengan perasaan yang pasrah.

Kini, giliran Danu yang beralih menjadi bisu. Status di bawah pesanku sudah beralih menjadi terbaca, namun tidak ada tanda-tanda dia sedang mengetik balasan. Keheningan digital dari Danu sore itu mendadak menjadi beban baru yang menggelayuti pundakku, tepat di hari pertama dari tiga puluh hari kesempatanku bersama Arga. Hampir sepuluh menit berlalu tanpa ada kepastian. Aku terus menatap layar yang enggan bergeming, bersiap untuk kemungkinan terburuk jika Danu akan memblokirku atau mulai menjauhiku.

Namun, layar ponselku mendadak dipenuhi oleh rentetan balon teks yang panjang. Danu akhirnya membalas.

“Lu gak usah minta maaf, Via. Santai aja sama gue mah, haha. Lagian cinta kan gak bisa dipaksa, datangnya juga suka tiba-tiba.”

Aku menghembuskan napas yang sejak tadi kutahan. Dadaku sedikit melonggar membaca responsnya yang tetap santai dan terlihat berlapang dada. Namun, pesan Danu berikutnya membuat mataku membelalak.

“Gini, karena lu udah jujur sama gue, gue mau kasih satu informasi penting tentang Arga. Anggap aja ini modal awal buat lu mengambil hatinya, Arga itu sebenernya punya rahasia kecil yang gak banyak orang kampus tahu.”

Jantungku berdegup kencang karena penasaran. Aku buru-buru membalas pesan itu dengan kilat.

“Rahasia apa, Danu. Dia gak lagi terlibat hal-hal aneh, kan?”

Sebuah panggilan telepon dari Danu mendadak masuk ke ponselku. Tanpa berpikir dua kali, aku langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telingaku, beranjak sedikit menjauh dari kerumunan mahasiswa yang sedang berada di koridor kampus, menepatkan diri ketempat yang lumayan sepi.

"Halo, Danu?" ujarku agak berbisik.

"Halo, Via. Gak usah tegang gitu suaranya," terdengar kekehan renyah Danu di seberang sana, meskipun ada sedikit nada getir yang terdengar sedang dia coba sembunyikan dengan baik.

"Arga gak terlibat hal aneh kok. Maksud gue rahasia pribadi."

"Rahasia pribadi gimana maksudnya?" tanyaku makin tidak sabar.

Danu menghela napas pendek sebelum melanjutkan dengan suara yang merendah.

"Banyak orang mengira Arga itu sombong, dingin, dan cuek karena dia anak basket hitz yang kaya raya. Padahal, alasan sebenarnya dia sekaku itu karena dia pernah sakit hati sama cewek."

Aku tertegun, menyandarkan punggungku ke dinding. "Sakit hati sama cewek?"

"Iya. Dulu pas awal masuk kuliah, Arga pernah pacaran sama cewek dari fakultas lain. Arga itu kalau udah sayang sama orang, bucinnya parah banget, Via. Lembut, perhatian, pokoknya beda seratus delapan puluh derajat sama sifat dia yang lu lihat sekarang," jelas Danu panjang lebar.

"Tapi, cewek itu ternyata cuma manfaatin status sosial dan kekayaan keluarga Arga. Bahkan ujung-ujungnya, dia selingkuh sama cowok lain di depan mata Arga sendiri."

Napasku mendadak terasa sesak mendengar cerita Danu. Bayangan pria yang memperlakukanku dengan penuh kelembutan di dalam mimpi langsung berkelebat di kepalaku. Jadi, sifat asli Arga memang selembut itu. Sifat dingin yang dia tunjukkan sekarang ternyata hanyalah sebuah tameng, untuk melindungi hatinya yang pernah hancur lebur.

"Sejak kejadian itu," Danu melanjutkan lagi.

"Arga langsung menutup diri rapat-rapat dari cewek manapun, dia membuat benteng pertahanan karena tidak mau merasakan hal yang sama lagi, dia terlalu takut hanya dimanfaatkan lagi".

Aku menelan ludah dengan susah payah, cengkeraman ponselku semakin erat.

"Jadi... itu alasannya dia selalu bersikap dingin?"

"Iya. Saran gue jangan pernah pakai cara yang agresif atau terlalu menuntut. Dia bakal langsung menjauh," tutur Danu dengan tulus.

"Posisikan diri lu sebagai teman yang biasa aja dulu. Tunjukkan kalau lu tulus mau kenal dia sebagai manusia, bukan karena ada maunya."

Aku terdiam cukup lama, mencerna setiap nasihat dari cowok yang sebenarnya menaruh hati padaku ini.

"Danu..." bisikku parau, tenggorokanku mendadak terasa tercekat.

"Kenapa... kenapa kamu malah bantu aku sebanyak ini. Padahal aku udah jujur kalau aku ngejar teman kamu sendiri."

Hening sejenak di seberang telepon. Aku bisa mendengar helaan napas berat dari Danu sebelum dia terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana yang mendadak melankolis.

"Ya... karena gue pengen lihat lu bahagia aja, Via," jawab Danu dengan suara yang terdengar sangat tulus namun menyayat hatiku.

"Gue tahu, rasa suka itu gak bisa dipaksakan. Daripada gue egois dan bikin lu gak nyaman, mending gue bantu lu semampu gue sebagai teman, kan. Lagian, Arga itu teman gue. Kalau lu emang cewek tulus yang bisa menyembuhkan lukanya, gue ikut senang untuk kalian."

Air mata keharuan tanpa sadar menggenang di pelupuk mataku. Danu benar-benar sosok cowok yang luar biasa baik, kebaikannya hari ini terasa begitu besar, sekaligus menaruh sebuah beban rasa hormat yang mendalam di dalam hatiku.

"Makasih banyak ya, Danu... Kamu bener-bener cowok paling baik yang pernah aku kenal," ujarku dengan suara yang bergetar.

"Sama-sama, Via. Udah ya, gue mau masuk kelas dulu nih. Semangat terus buat kamu, untuk mendapatkan pangeran impian mu!"

Panggilan pun terputus.

Aku perlahan menurunkan ponsel dari telingaku, menatap layarnya yang kembali menggelap. Berkat Danu, aku kini tidak lagi meraba-raba di dalam kegelapan. Aku sudah memegang kunci untuk membuka gerbang hati Arga Wijaya. Tantangannya sekarang adalah, apakah ketulusanku dalam waktu tiga puluh hari ke depan, sanggup untuk meruntuhkan tembok hati Arga yang telah ia bangun perisai yang sangat kokoh?

...----------------...

...****************...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

AUTHOR'S NOTE

Hi semua!

Yey, udah Bab 15 aja nih. Ku ucapkan banyak terima kasih untuk seluruh pembaca yang sudah mendukung cerita ini hingga Bab 15. Tanpa kalian, cerita ini gak akan bisa berjalan sejauh ini.

Konflik batin Via dan rahasia Arga sudah mulai terkuak, membuat taruhan satu bulan ini jadi makin krusial.

Danu benar-benar second lead terbaik dan paling berlapang dada ya, meskipun hatinya sendiri harus sedikit tergores.

Yuk... Terus semangat membaca kelanjutan kisah mereka, ya! Jangan lupa tinggalkan jejak berupa bintang dan komentar terbaik kalian untuk bab ini. Jangan lupa, untuk Vote, Komen dan follow nya ya, agar tidak ketinggalan bab selanjutnya atau bahkan cerita lainnya.

Sampai jumpa di Bab 16 sayangku! ♥️🙌✨

1
zru!
baguss kak
Nura_thequeen: terimakasih ♥️🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim bunga lagi🤭
falea sezi
lanjut q kirim bunga lagi 👍
falea sezi: siap thor🤭 rajin up nanti q rajin kasih hadiah
total 2 replies
falea sezi
😕 ga jangan sakitin. via atau php ya 😓bisa. gila anak orang ga
Nura_thequeen: iya ni. moga aja Arga gak gitu ya. bisa-bisa via balik lagi kesetelan halunya🤣
total 1 replies
falea sezi
moga aja Arga gk php ya🤣
falea sezi
🤣 sweet nya mas kulkas
falea sezi
akirnya rara jujur😕
falea sezi
👍 q kirim hdiah tp buat via jangan terlalu ngemis ya😓
Nura_thequeen: wihhh, terimakasih besti. gak kok tenang via gak ngemis. cuma agak cegil sedikit aja.... haha
total 1 replies
falea sezi
malu maluin mbk🤣 ngemis ngemis lu halu di bawa ke ngata
falea sezi
🤣🤣 kebanyakan halu ya gini
Nura_thequeen: begitulah🤣🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
moga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!