Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepulang sekolah, seluruh murid SMA Garuda Indonesia dikejutkan kelakuan Kay Morgan dan teman-temannya. Tahu kenapa? Karena Kay sedang menepati janji yang ia ucapkan dulu: kalau tim basket sekolah menang, dia pulang pakai celana pendek saja.
Benar-benar pulang cuma pakai kolor!
Di parkiran, Kay berdiri tanpa baju, membiarkan tubuhnya terbuka lebar. Langsung menarik perhatian semua orang—terutama para siswi. Ada yang berteriak histeris, terdiam kaku sampai lupa bernapas, bahkan ada yang sampai mimisan di tempat.
Wajar saja begitu, kan? Tubuhnya penuh otot yang terbentuk indah, pas di setiap bagian—tidak berlebihan, tapi bikin mata nggak mau beralih.
"YA TUHAN! ASET BERHARGA INI JANGAN DIPAMERKAN SEMBARANGAN, SAYANG!"
"APA GUE LAGI MIMPI? INI BAGUS BANGET, SEMOGA NGGAK PERNAH BANGUN DARI MIMPI INI!"
"GUE SAMPE SESAK NAPAS LIATNYA!"
"ASTAGHFIRULLAH... EH! TAPI KENAPA MATA GUE NGGAK MAU PIJAK SANA-SINI?"
Bahkan siswi yang berjalan berpegangan tangan dengan pacarnya pun tak tahan, sempat berhenti dan melirik diam-diam ke arah Kay.
Gila! Pesona Kay Morgan emang kuat banget.
Di sisi lain, teman-temannya udah hampir mati ketawa liat kelakuannya.
"Celananya dilepas aja lah! Kelamaan, mau gue bantu lepasin apa gimana?" seru Digo, yang dibalas Kay dengan mengacungkan jari tengah.
"Gue nggak kuat nahan ketawa lagi," kata Kael William sambil tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair. Dia terus-terusan menepuk-nepuk lengan Tristan, yang malah ikut senang melihat Kay jadi sasaran usil teman-temannya.
Sementara itu, Mahendra dan Devandra kompak mengabadikan momen langka itu pakai ponsel. Kalau Mahendra, paling cuma buat bahan bercandaan nanti. Tapi kalau Devandra? Langsung disiarkan lewat siaran langsung.
Biadab banget si Devandra, bukan cuma sekali dua kali dia manfaatin temannya buat nambah jumlah pengikut di Instagram.
Ya gimana lagi, dia cuma tahu cara memanfaatkan teman yang kebetulan tampan dan menarik perhatian banyak orang.
Contohnya bulan lalu, pas dia nginap di rumah Tristan. Diam-diam dia nyalain siaran langsung waktu Tristan lagi tidur—judulnya: "Tiga Jam Diam Saja Nggak Ngapa-ngapain". Sialan! Tapi banyak banget yang nonton, buktinya ratusan akun siswi ikut masuk. Kayaknya mereka senang banget cuma liat Tristan tidur tenang aja.
Ya gimana nggak betah, si Tristan diam aja udah bikin orang nggak bisa berkedip—apalagi kalau dia bergerak atau ngapa-ngapain.
Di tempatnya, Kay Morgan mengertakkan gigi, menahan keinginan buat langsung melayangkan pukulan ke wajah Digo yang terus-terusan memaksa dia ngelepas celana.
Punya temen kok semuanya nggak ada yang bener!
"Iya, iya, tunggu dulu!"
Tak lama kemudian, Kay membuka ikat pinggangnya, lalu menurunkan celana abu-abunya—tinggal menyisakan celana dalam bermerek yang masih tergantung pas di pinggangnya.
Dan ya! Situasi seketika jadi heboh luar biasa, kayak orang lagi nonton konser besar. Semua siswi menatap Kay dengan pandangan penuh kekaguman.
"NGGAK KUAT LAGI KALAU CUMA LIHAT! BOLEH PEGANG NGGAK SIH?"
"YA TUHAN INI INDAH BANGET!" seru yang lain, sampai pura-pura mencubit mata sendiri karena nggak percaya.
"TOLOOONG! GUE SAMPE NGGAK BISA NAFAS LIATNYA!"
Berlebihan banget sih! Sakaratul maut apa gimana, sampai nggak bisa napas segala?
"Puas sekarang?"
Kay melemparkan seragamnya tepat ke arah Digo, yang saat itu sedang mengacungkan kedua jempolnya tinggi-tinggi—bangga seolah dialah yang berhasil bikin semua ini terjadi.
"Gue duluan ya," ucap Kay Morgan. Dia nggak mau berlama-lama di situ. Kalau ditanya apakah dia malu? Jawabannya: sangat malu.
Wibawa dan kehormatannya sebagai ketua OSIS rasanya langsung hilang seketika.
Dengan hanya mengenakan celana pendek, Kay naik ke atas motornya, memakai helm yang menutupi seluruh wajahnya. Dia mengabaikan teriakan dan sorak-sorai gadis-gadis yang heboh karena kelakuannya.
"Heh, tunggu sebentar!"
"Apaan sih?" tanya Kay saat Devandra menahan bahunya.
"Helm gue mana?" Benar saja, sampai sekarang Kay belum mengembalikan helm milik Devandra yang dia ambil seenaknya tadi.
"Nggak ada," jawab Kay santai, lalu menyalakan mesin motornya.
"Hah? Nggak ada gimana maksudnya?" tanya Devandra curiga.
"Ya udah nggak ada. Udah gue buang, helm lo bau banget."
"HAH! Mana mungkin sialan!" protes Devandra nggak terima. Tapi detik berikutnya, Kay sudah melaju kencang meninggalkan area parkiran—meninggalkan Devandra yang mengomel marah karena helmnya nggak dikembalikan.
"SIALAN! HELM GUE HARUS GIMANA INI?!"
"Mau gue balik lagi naik kuda apa gimana, hah?!"
Sedangkan di sisi yang lain…
Sepulang sekolah, Rora langsung masuk ke kamarnya. Bundanya sedang pergi keluar, jadi nggak ada yang berteriak menyuruhnya langsung makan atau mandi. Dia meletakkan tas, melepas sepatu, lalu berjalan ke arah ranjang dan langsung membaringkan tubuhnya lemas.
Gila! Capek banget, pikirnya. Rasanya udah mulai bosan sama kegiatan sekolah.
Tak lama kemudian, ponsel di saku bajunya berdering. Rora melihat notifikasi panggilan—ternyata dari Bundanya.
"Halo, Bunda?"
"Kamu udah sampai rumah?"
"Iya, baru aja masuk."
"Langsung makan ya, Rora, terus mandi. Jangan keluar dulu, soalnya hari ini Ayah pulang, nanti kita makan malam di luar bareng-bareng."
"Beneran?!" Rora langsung bangkit dan duduk di tepi ranjang. Semangatnya kembali seketika. Ya ampun, akhirnya! Sudah lebih dari seminggu Ayah sibuk mengurus tambang di Kalimantan, sekarang akhirnya pulang juga.
"Siap, Bunda! Nanti aku lakuin semuanya," ucapnya ceria.
"Ya udah, Bunda tutup dulu ya,"
"Iya."
Sambungan telepon terputus. Rora melirik jam dinding—masih pukul lima sore. Berarti dia masih punya waktu sebentar buat istirahat. Daripada langsung turun makan sesuai pesanan Bunda, dia malah memilih membuka Instagram.
Nanti aja deh, pikirnya.
Belum lama berselang, dia mengernyit bingung. Notifikasi permintaan pengikutnya tiba-tiba melonjak banyak. Biasanya cuma sekitar lima puluh orang, dan kebanyakan sudah dia hapus—banyak yang cuma akun palsu buat kepo. Tapi kali ini jumlahnya sampai memenuhi layar.
"Kenapa tiba-tiba begini?" gumam Rora pelan. Banyak sekali yang menyebut namanya di sebuah unggahan.
Dia segera mengeceknya. Ternyata postingan dari akun resmi SMA Garuda Indonesia. Biasanya isinya hal-hal biasa, tapi kali ini dia menahan napas begitu melihat isi beserta komentar-komentarnya yang terus menyebut namanya. Foto itu menampilkan Kay Morgan berdiri di tengah parkiran, hanya mengenakan celana pendek saja.
Oke, sebenarnya hal itu nggak ada hubungannya sama Rora, kan?
Tapi masalahnya: semua orang terus saja menandai akunnya di postingan itu.Rora menelusuri asal-usulnya, ternyata masalah ini bermula dari ulah Rami.
ramiiaa_ menyebut Anda di sebuah komentar: @rora_ anjir Rora! Cowok lo makin hot 😍🔥
Bahkan jadi komentar paling atas, dasar sialan!
Saat dia sibuk membaca satu per satu tulisan di situ, ponselnya bergetar lagi. Ada notifikasi baru:
kaymorgan_ meminta untuk mengikuti Anda.
Sialan!
----------------
Gerbang utama SMA Garuda Indonesia masih terbuka lebar saat Rora tiba di sekolah. Pagi itu dia sengaja mengikat rambutnya ke atas, membuat wajah cantiknya tampak lebih segar dan bersih. Tapi bukannya langsung masuk ke dalam kelas, dia malah berdiri diam di samping gerbang seolah menunggu sesuatu.
Menunggu Rami yang siap dihajar, tentu saja.
Rora benar-benar harus melampiaskan rencananya itu supaya hati lebih tenang. Semua gara-gara temannya yang sialan itu, akun Instagram-nya jadi ramai luar biasa. Padahal makan malam bareng keluarga saja nggak bisa dia nikmatin, terus kepikiran nasibnya di sekolah.
Oke, mungkin agak berlebihan. Tapi kalau dia jadi pusat perhatian lagi—apalagi lihat orang-orang lewat gerbang sambil berbisik-bisik, dugaan dia makin kuat.
Sial! Sial! Sial!
Rora nggak habis pikir kalau kabar tentang dia dan Kay Morgan sampai terdengar ke telinga Shayen Morgan—Tolong jangan sampai terjadi!
Belum lagi dia baru sadar kalau Kay punya banyak penggemar yang siap menyerang dia kapan saja. Posisi dia yang sebelumnya sudah berisiko, sekarang makin berbahaya gara-gara ulah Rami.
Baguslah!
Lima menit berlalu, akhirnya Rami muncul. Gadis itu baru saja turun dari mobil. Begitu bertatapan, keduanya langsung paham bahaya yang datang. Rami seketika lari masuk gerbang, dan Rora langsung mengejarnya dengan langkah lebar..
"Heh Rami! Sini lo!" teriak Rora merasa kesal sekali.
"Maaf Rora! Gue beneran nggak tau bakal jadi gini!!!" teriak gadis itu sambil terus berlari menjauh.
Semalam Rora sudah menghubunginya berkali-kali, kirim pesan sampai telepon berulang-ulang. Sebenarnya Rami cuma bermaksud menandai Rora supaya temannya itu juga bisa lihat apa yang dia lihat, sekaligus pengen tau reaksi Rora kalau melihat Kay Morgan begitu—tapi yang terjadi malah akun Rora yang diserang habis-habisan sama penggemar Kay.
Sial banget nasib Rora, kasihan sih. Tapi jujur, Rami sama sekali nggak berniat bikin Rora kena masalah kayak gini.
Keduanya berlari kejar-kejaran di lorong utama sekolah. "Dasar Rami sialan!" umpat Rora sambil terus mengejar. Bayangkan saja, pagi-pagi begini sudah dibuat lari-larian gara-gara ulah orang lain.
Sedikit lagi... Ya! Tangan Rora berhasil mencengkeram tas Rami, bikin gadis itu terpaksa berhenti. "Lo harus tanggung jawab! Gara-gara lo akun gue jadi rame banget, bodoh!" protes Rora sambil menarik-narik temannya itu.
"Lepasin dulu, Rora! Ya ampun, gue minta maaf banget!"
Kirain gampang urusannya, ternyata belum selesai juga.
Belum sempat Rora menjawab, tiba-tiba saja sebuah bola basket melayang ke kepala Rora, membuat gadis itu langsung mengaduh kesakitan.
BUG!
"Aduh!"
Rami yang melihat hal itu tepat di depan matanya menganga terkejut, selang beberapa detik gadis itu tertawa keras. Emang kayaknya Rora itu nggak bisa jauh-jauh sama yang namanya ketiban sial. Pagi-pagi udah ditimpuk pakai bola basket.
"Rora! Lo nggak apa-apa?" Walaupun begitu Rami masih saja tertawa melihat Rora tengah berjongkok seraya memegangi kepalanya sendiri.
Sontak hal itu menjadi tontonan murid lain yang tengah lewat.
"Siapa yang ngelempar bola?!" Dengan kesal gadis itu mengambil bola basket itu, kedua matanya menatap ke arah lapangan yang kebetulan berdekatan dengan lorong utama sekolah.
"Mampus kena Rora!"
"Lo sih!"
"Kok gue?"
"Yang ngelempar kan si Kay Morgan, njing!"
Melihat keberadaan Devandra dan Kael William mendekat membuat Rora terdiam sesaat, gadis itu juga mendengar jika kakak kelasnya itu membawa-bawa nama Kay Morgan. Kedua matanya bergulir ke arah lain, nampak Kay Morgan tengah berlari mendekat ke arahnya.
Sial!
"Rora! Yang ngelempar itu Kay Morgan," bisik Rami seraya menarik lengan Rora.
Menyadari itu, langsung saja Rora melepaskan bola basket di tangannya. Berniat kabur saja, namun suara berat milik seseorang terpaksa membuat langkahnya terhenti di tempat—belum lagi lengannya sudah ditahan oleh seseorang.
"Maaf nggak sengaja, lo nggak apa-apa?" Demi Tuhan, Rora yakin itu bukan jenis tatapan orang tulus ketika meminta maaf.
Dengan jelas kilatan geli berpancar dari kedua mata cowok itu.
Terlihat Kay Morgan menunduk, memungut bola basketnya sebelum kembali beralih kepada Rora. "Sakit?" tanya Kay Morgan seraya menahan senyumnya.
Rora menyipitkan matanya. "Lo sengaja ya?"
"Iya," jawab Kay Morgan dengan entengnya.
Sudah Rora duga!
"Biar apa sih! Heran jadi orang kok resek banget!" keluh Rora merasa kesal.
"Biar apa emang?" Bukannya menjawab, Kay Morgan justru melemparkan pertanyaan itu kepada Digo dan Devandra. Alhasil kedua cowok itu saling melempar tatapan bingung.
Ya nggak tau lah, bajingan!
"Lo sih! Jalan nggak liat-liat, bukan salah gue kalau lo kena bola."
"Dih! Kok jadi gue? Nggak jelas lo!" sinis Rora seraya merapikan rambutnya yang berantakan akibat lemparan bola.
Ketika Rora berbalik arah, berniat hendak berjalan ke arah kelasnya, tiba-tiba saja tangan Kay Morgan terulur untuk menarik ikat rambut Rora dengan lembut, membuat helai rambut indah gadis itu langsung tergerai.
Langsung saja Rora menoleh dengan tatapan membunuh.
"Nggak usah diikat rambutnya, bikin gagal fokus."
Detik selanjutnya Kay Morgan sudah berlari ke arah lapangan, dengan men-dribble bola basket di tangannya.
Meninggalkan atensi berkala yang ia ciptakan akibat tingkahnya.
Mana ikat rambut punya Rora diambil, kan kampret!
Devandra sendiri langsung memegangi perutnya yang terasa mulas. "Jadi gini rasanya punya penyakit uwuphobia?"
Berbeda dengan Rami dan Kael William yang masih terbengong-bengong dengan apa yang Kay Morgan ucapkan tadi. Ingat! Suara cowok itu cukup lantang, membuat siapapun di sekitar mereka bisa mendengarnya dengan jelas.