Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 14
Matahari perlahan turun dan terbenam di sebelah barat. Meninggalkan pemandangan langit sore dengan sinar jingga yang memukau. Rara, memandangnya dengan duduk dibalkon kamarnya ditemani minuman mocktail buah yang menyegarkan.
Disisi lain, Rio berlari pelan dan stabil menuju rumah. Tak lupa tetangga perumahan yang berpapasan dengannya ia sapa. Seperti biasa, kegiatan ini selalu ia lakukan setiap dirumah.
Setiap sabtu atau minggu, Rio, suaminya Nadia ini, juga selalu menyempatkan untuk berolahraga di tempat kebugaran. Tak heran jika tubuhnya terlihat atletis.
Kaka iparnya sampai dirumah dengan napas yang terengah-engah. Tak lama kemudian sebuah taksi online berhenti di depan pagar rumah. Istrinya, Nadia, keluar mobil.
Setelah kepulangan sang suami, Nadia menyempatkan untuk pergi ke toko kue usahanya. Ia memantau kondisi toko dan membuat laporan keuangan seperti biasa.
Pasangan suami istri ini pun melangkah masuk ke dalam rumah. Nadia heran pada suaminya, kenapa ia tidak istirahat aja, padahal baru saja pulang dari perjalanan yang jauh dan sudah pasti lelah diperjalanan. Alasan suaminya, tak ada lelah untuk sebuah kebiasaan yang telah menjadi hobinya.
Langit mulai gelap. Bintang-bintang terlihat bertebaran dilangit dan cahaya bulan sabit menerangi malam ini. Seperti biasa setiap pukul 9 malam, kurang ataupun lebih, Rara akan pergi ke Velvet & gold.
Tampilannya malam ini beda dari malam-malam sebelumnya. Ia mengenakan baju rajut lengan panjang, dengan tekstur bergaris dan outwear jaket denim crop top. Dipadukan sneakers warna putih. Tampilannya ini persis seperti yang ia pakai saat dirinya masih kuliah dulu.
Sebenarnya ia terpaksa memilih pakaian itu. Ia harus mengikuti batasan yang telah diberikan Nadia, karena suami kakaknya telah pulang dan kembali tinggal dirumah.
Rencananya sebelum ke kelab malam, ia akan mampir dulu ke apartemen Alisha. Disana ia akan berganti pakaian yang menonjolkan tubuhnya lebih memikat.
Ia melangkah menuruni lantai tangga. Ditangan kanannya, ia membawa totebag yang isinya pakaian gantinya. Ia berjalan menuju ruang tamu. Nadia dan Rio menikmati kebersamaan disana sambil menonton sebuah film romantis di televisi. Rara menyapa sebentar lalu berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil.
Ia melajukan mobilnya di jalan raya. Menembus ramainya kendaraan. Kini ia perlahan masuk ke minimarket untuk membeli minuman dan cemilan sebentar. Ia membuka tasnya mencari ponselnya. Ia tak pernah bawa uang cash, sehingga ia lebih memilih membayar dengan transfer atau scan kode pembayaran.
Tangannya terus mencari dimana ponsel itu berada didalam tas bahunya yang mewah. Serasa tas ini, dalamnya bisa menampung banyak barang, karena ponselnya tak kunjung ketemu. Matanya terus menelisik.
"wah, pakai ketinggalan segala," gumam Rara. Ia baru ingat, sehabis berbicara dengan Alisha, ia meletakkan ponselnya dimeja balkon kamarnya. Kemungkinan ia lupa untuk memasukan ke tas, karena disibukkan dengan menata baju ganti kedalam totebag. Terpaksa ia menjalankan kembali mobilnya, memutar balik menuju rumah.
Saat sudah sampai rumah, ia bergegas masuk kedalam. Suasananya sepi, kakaknya dan Rio tidak ada diruang tamu. Ia mengabaikan suasana itu, ia pilih langsung melangkah menuju kamarnya untuk segera mengambil ponselnya dan pergi.
Langkahnya terhenti didepan kamar kakaknya. Suara lembut dan sesekali ada jeritan terdengar didalam sana.
Aah...aahh..aahh...
Suara itu menarik perhatian Rara. Ia mengurungkan niatnya untuk menuju kamarnya dan mengintip ke celah pintu kamar yang tak tertutup rapat.
Matanya terbelalak dan bola matanya bergetar. Ia memandang kakaknya yang terbaring tanpa sehelai benang yang membalut dirinya, sesekali menjerit sakit, tapi Nadia seakan menikmatinya. Desahan lembut keluar darinya.
Rara mendorong pintu sedikit terbuka, membuatnya bisa melihat Rio yang sudah tidak mengenakan kaos polonya dan tubuh atletisnya dilumuri keringat.
Kasur empuk menompang kakaknya dan Rio melakukan aktivitasnya. Benda itu terlihat elastis. Ada beberapa baju yang tertumpuk dilantai. Pakaian itu merupakan pakaian mereka berdua malam itu. Diantara tumpukan itu, Rara melihat ada baju blus milik kakaknya yang ia lihat saat berpapasan di ruang tamu.
Rara terus menatap aksi malam yang penuh gairah dikamar kakaknya yang ada dilantai 1. Ia semakin bergetar, serasa ia tak kuat lagi melihatnya. Ada keinginan untuk memalingkan wajah, namun rasanya ada yang sesuatu menahannya untuk tetap memandang adegan itu. Ia seolah dibuat membeku.
Suara kucing yang bertengkar di teras rumah, membuat Rara langsung menutup mata dan melangkah menjauh dari pintu kamar kakaknya. Ia terlihat syok dengan apa yang ia lihat. Ia mencoba menenangkan diri, mengatur napasnya, lalu bergegas menuju kamarnya dilantai 2 untuk mengambil ponselnya.
Tidak lama kemudian, Rara turun ke lantai 1. Langkahnya terlihat tergesa-gesa dan tak melirik ke kamar kakaknya. Perlahan ia menutup pintu agar tidak menimbulkan suara, kemudian ia kunci menggunakan kunci cadangan yang selalu ia bawa. Kini pintu tertutup rapat, kondisinya kembali ke kondisi saat dirinya baru saja sampai rumah beberapa menit yang lalu.
Ia langsung menyalakan mobilnya. Ia sedikit panik saat mendengar suara mobilnya menyala. Ia berharap kakak dan kakak iparnya tidak mendengarnya. Ia pun segera melajukan mobilnya menuju perjalanan ke apartemen Alisha.