Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
villa puncak+black varen
, di malam yang dingin dan berkabut tebal di kawasan villa Puncak, suasana romantis yang dipaksakan oleh Kakek Satya mendadak sirna. Devan baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk ketika terdengar suara raungan knalpot brong yang memekakkan telinga dari arah luar pagar. Bukan hanya satu, melainkan sekitar delapan motor sport bermesin besar berkapasitas 1000cc sengaja menggerung-gerung, memecah kesunyian malam pegunungan.
VROOOMMM! VROOOOMMM! BREEEMMM!
"Sialan, siapa lagi itu? Alice datang bawa pasukan atau gimana?" gerutu Devan, melempar handuknya ke kasur dan berjalan terburu-buru menuju balkon lantai dua.
Saat Devan membuka pintu kaca balkon, lampu sorot dari motor-motor sport di bawah langsung menusuk matanya. Di sana, berbaris rapi anak-anak klub motor Black Varen lengkap dengan jaket kulit hitam
kebanggaan mereka. Tio, Reno, Jodi, Rio, dan beberapa anggota senior lainnya tampak bertengger di atas motor masing-masing sambil cengengesan. Mereka sengaja datang menyusul ke Puncak karena merasa kesepian di Jakarta; sang ketua belakangan ini terlalu sibuk di kantor Mahardika Holdings dan mendadak menghilang tanpa kabar setelah dikarantina oleh Kakek Satya.
"WOY, KETUA! TURUN LO! MENTANG-MENTANG UDAH NIKAH, NONGKRONG DI KAFE DILEPEH!" teriak Reno dari bawah, sengaja mengeraskan suara knalpotnya.
"Van! Turun dong! Kita bawain martabak manis nih, tahu aja lo lagi butuh asupan energi buat proyek cicit Kakek Satya! Hahaha!" sahut Jodi disambut tawa riuh anggota lainnya.
Sebelum Devan sempat membalas teriakan kurang ajar anggota-anggotanya, pintu kamar mandi di belakangnya terbuka dengan sentakan keras. Sumbu pendek Cesa telah aktif mendengar keributan di luar.
Kehebohan gadis nyentrik itu kembali menyeruak dengan sangat barbar. Cesa melangkah keluar ke balkon dengan setelan baju tidur ala sultan yang luar biasa kontras dengan hawa dingin Puncak. Ia mengenakan dress satin hitam press body yang memperlihatkan lekuk tubuh mulusnya dengan potongan dada rendah yang sangat elegan namun menantang. Yang membuat penampilannya luar biasa mencolok adalah jajaran perhiasan berlian baru hasil borongan kartu hitam Kakek kemarin siang yang tetap melekat erat di leher, pergelangan tangan, hingga jari-jarinya. Berkilauan super mewah di bawah temaram lampu balkon, siap membuat siapa saja silau.
Cesa langsung maju, menyingkirkan tubuh Devan dengan sikunya, lalu mencengkeram pembatas balkon besi dengan gaya angkuh andalannya.
"HEH! RAKYAT JELATA BERJAKET KULIT KURAP!" teriak Cesa dengan suara cempreng nan barbarnya yang langsung memotong tawa anak-anak motor di bawah. "Bisa diam gak mulut kalian?! Ini daerah kekuasaan Sultan! Topi desainer gue yang di dalam kamar sampai bergetar gara-gara suara motor butut kalian tahu gak?!"
Mendengar suara melengking yang sangat familiar itu, seluruh anak motor Black Varen serentak mendongak. Detik berikutnya, mereka semua kembali melotot berjamaah. Reno hampir saja menjatuhkan motornya, sementara Jodi spontan menutup matanya dengan tangan luar berjaket kulit.
"Busret! Si Mbak Ratu Barbar fesyennya makin meresahkan!" bisik Rio menyenggol lengan Tio. "Pakai daster satin hitam blink-blink di atas gunung, kagak ada duanya emang bini bos kita."
"Woy, Mbak Cesa! Malem! Maaf mengganggu waktu unboxing-nya!" balas Tio berani, sambil melambaikan tangan. "Kita kangen sama Devan, Mbak! Semenjak nikah dia melupakan hobi kelayapan malamnya!"
Devan yang berdiri di belakang Cesa langsung menarik bahu istrinya, mencoba menyembunyikan pakaian tidur press body Cesa dari pandangan anak-anaknya. "Cesa, masuk lo! Pakaian lo kurang bahan begitu ngapain dipamerin ke anak-anak?!" bentak Devan dengan wajah memerah. Ia kemudian berteriak ke bawah, "Reno, Tio! Kalian semua masuk lewat pintu samping! Jangan berisik, atau gue pastiin motor kalian besok pagi berubah jadi rongsokan!"
Lima belas menit kemudian, ruang tamu villa Puncak yang mewah berubah total menjadi basecamp dadakan. Delapan anak motor duduk bersila di atas karpet bulu mahal, sementara Devan duduk di sofa dengan wajah ditekuk. Di sampingnya, Cesa duduk dengan kaki menyilang, menatap kotak martabak manis di atas meja dengan pandangan menyelidik dari balik kacamata hitam berbingkai berlian tiruannya yang mendadak dipakai lagi di dalam ruangan.
"Jadi, lo semua sengaja ke sini cuma buat ganggu ketenangan gue?" tanya Devan sinis, melipat tangannya di dada.
"Ya kagaklah, Bos. Kita beneran kangen. Bengkel sepi gak ada lo yang bayarin kopi," sahut Reno tanpa tahu malu, langsung menyambar sepotong martabak.
"Lagian kita mau mastiin, Bos kita ini masih hidup apa udah kurus kering dijajah sama Mbak Cesa."
"Heh, jaga ya mulut lo yang penuh minyak martabak itu!" semprot Cesa, mengetuk meja kaca dengan kuku pink-nya yang penuh cincin berlian. "Gue gak menjajah ya! Gue ini menata ulang kehidupan ketua kalian yang berantakan! Kalau bukan karena gue yang kasih losion waktu itu, muka totol-totolnya itu udah mirip papan karambol tahu gak!"
"Hahaha! Bener juga si Mbak," Jodi terbahak, mengingat kembali insiden wajah donat gula Devan di basecamp Jakarta Selatan. "Btw, Mbak Cesa, itu baju tidur satinnya gak kedinginan? Berliannya banyak bener, gak takut copot satu pas lagi tidur?"
Cesa mendengus angkuh, membetulkan letak tali dress satin hitamnya yang sedikit melonggar. "Ini namanya investasi tidur mewah, Mas. Berlian-berlian ini fungsinya sebagai penolak bala dan penolak kemiskinan. Kalau copot satu, harganya masih bisa buat beli bengkel modifikasi kalian beserta isinya!"
Kebarbaran dan tingkat kepedean Cesa yang melampaui garis khatulistiwa itu justru membuat anak-anak Black Varen semakin terhibur. Mereka mulai menyadari bahwa di balik sifat emosional dan sumbu pendeknya, Cesa adalah tipe cewek yang blak-blakan, tidak jaim, dan jauh lebih asyik diajak mengobrol dibandingkan para mantan Devan terdahulu yang selalu sok anggun dan menjaga jarak dengan anak motor.
"Eh, Bos, tadi pas kita di jalan bawah, kita sempat berpapasan sama sedan putih mewah yang ngebut kayak kesetanan," ujar Tio tiba-tiba, mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih serius. "Gue kayak kenal plat nomornya. Itu bukannya mobil si Alice, kakak ipar lo yang kabur itu?"
Mendengar nama Alice disebut, suasana ruang tamu mendadak drop beberapa derajat. Devan langsung menatap Tio dengan tajam, sementara Cesa menurunkan kacamata hitamnya sampai ke ujung hidung, menatap nyalang ke arah Tio.
"Oh, si kepompong berjalan itu ternyata belum kapok juga?" geram Cesa, sumbu pendeknya langsung tersulut seketika. "Siang tadi dia datang ke sini, sok-sokan pamer keanggunan palsu dan ngerendahin kaos beruang mahal gue! Terus pakai acara mau gelendotan lagi ke Devan! Untung langsung gue usir pakai kipas sate elektrik!"
"Serius?! Wah, parah sih. Terus si Bos gimana? Diem aja?" tanya Reno kompor.
Cesa melirik Devan dengan pandangan membunuh. "Ketua kalian yang tengil ini sempat bengong pas lihat dia datang! Mungkin otaknya lagi mikir gimana caranya nuker gue sama kakak gue yang sok kalem itu!"
"Gak usah ngarang lo, Sumbu Pendek!" potong Devan cepat, tidak mau posisinya disudutkan di depan anak buahnya. "Gue sinis sama dia karena kelakuannya minus. Lo sendiri yang barbar langsung main usir gak pakai rem." Devan kemudian menatap anak-anak motornya dengan tegas. "Alice udah gak ada urusan lagi sama keluarga Mahardika. Kakek Satya bahkan gak sudi dengerin penjelasannya tadi sore."
Reno manggut-manggut, lalu tersenyum licik. "Tapi lo harus hati-hati, Van. Tadi pas kita lewat, sedan putih itu berhenti di persimpangan jalan bawah, dan gue lihat si Joan—mantan lo yang anak London itu—turun dari mobil lain dan masuk ke mobilnya Alice. Mereka kayak lagi ngerencanain sesuatu."
Mendengar kolaborasi epik antara dua musuh bebuyutannya—Alice sang kakak pengkhianat dan Joan si mantan kanebo kering—Cesa langsung bangkit berdiri dari sofanya hingga dress satin hitamnya berkibar. Aura reognya meledak sempurna.
"Wah... luar biasa sekali duo siluman itu!" pekik Cesa barbar, mengepalkan tangannya yang penuh kilau berlian. "Yang satu mantan gagal move on, yang satu kakak gagal nikah! Kolaborasi yang sangat membagongkan! Devan! Lo lihat kan?! Mantan-mantan lo itu kuman yang menyebar ke mana-mana! Kalau sampai mereka berdua berani nginjekin kaki di villa ini malam ini, gue pastiin muka mereka berdua bakal gue lumuri pakai bumbu martabak manis ini sampai rata!!"
Seluruh ruangan kembali pecah oleh tawa riuh anak-anak Black Varen. Mereka memukul-mukul lantai, sangat menikmati kebarbaran tingkat tinggi dari istri sang ketua yang tidak ada takut-takutnya sama sekali.
Devan hanya bisa menghela napas panjang, menatap sang istri dengan gelengan kepala pasrah namun ada binar kagum yang samar di matanya. Malam panjang di Puncak yang semula dirancang Kakek Satya sebagai malam penuh romansa untuk memburu cicit, kini resmi berubah menjadi rapat koordinasi antisipasi serangan pelakor yang dipimpin oleh seorang gadis nyentrik bergaun satin hitam bertabur berlian.