Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.
Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.
Dominic Lorenzo Imanuel.
Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Nama Laurent ( Darah yang Disembunyikan )
Isabella masih menatap layar ponselnya. Kalimat terakhir yang dikirimkan orang misterius itu terus terngiang di kepalanya.
ASK YOUR FATHER WHO YOUR REAL FATHER IS.
Siapa ayah kandungnya?
Pertanyaan itu terasa begitu kejam. Selama dua puluh tiga tahun hidupnya, Isabella tidak pernah meragukan bahwa dirinya adalah putri kandung keluarga Laurent. Ia memiliki nama keluarga itu, wajah yang diwarisi dari kedua orang tuanya, dan kehidupan yang dibangun oleh ayahnya.
Namun, satu pesan singkat berhasil membuat seluruh keyakinannya runtuh.
“Dominic,” panggilnya lirih. “Tell me it's a lie.”
Dominic berdiri diam di hadapannya. Matanya tertuju pada wajah Isabella, tetapi ia tidak segera menjawab.
“Tell me that man is lying,” ulang Isabella.
“Don't believe everything you read on your phone.”
“Then tell me the truth!”
Dominic mengusap rahangnya. “I don't know who sent that message.”
“Tapi kau tahu sesuatu tentang ibuku.”
“Yes.”
“Kau juga tahu tentang perjanjian keluarga kami.”
“Yes.”
“Lalu apakah kau tahu siapa ayah kandungku?”
Pertanyaan itu membuat Dominic terdiam cukup lama.
Isabella tertawa hambar. Air matanya mulai menggenang.
“Oh my God. You do know something.”
“Isabella—”
“Just say it!”
Dominic mendekat satu langkah, tetapi kali ini Isabella tidak mundur. Ia hanya menatap pria itu dengan mata penuh tuntutan.
“Aku tidak akan menyakitimu dengan kebohongan,” ucap Dominic akhirnya.
“Then don't lie to me.”
Sebelum Dominic sempat melanjutkan, suara langkah kaki terdengar dari lorong. Alessandro muncul dengan ekspresi serius.
“Boss, Mr. Laurent is here.”
Isabella langsung menoleh.
“Ayah?”
Beberapa detik kemudian, Richard Laurent memasuki ruang makan. Wajahnya tampak lelah, tetapi ketika melihat putrinya, ia segera berusaha tersenyum.
“Isabella, sweetheart.”
Namun Isabella tidak membalas senyumnya.
Ia mengangkat ponselnya dan memperlihatkan pesan yang baru diterima.
“Ayah harus menjelaskan ini.”
Richard membaca pesan tersebut. Wajahnya langsung kehilangan warna.
“Dari mana kau mendapatkan ini?”
“Someone sent it to me. Dan sepertinya semua orang di ruangan ini tahu lebih banyak tentang hidupku daripada aku sendiri.”
Richard melirik Dominic.
“You told her?”
Dominic menjawab dingin, “She deserves the truth.”
“Not now.”
Isabella memandang ayahnya tidak percaya.
“Not now? Ayah, kapan? Setelah seseorang menculikku? Setelah aku ditembak? Atau setelah semua orang memutuskan bahwa aku tidak perlu tahu siapa diriku sebenarnya?”
“Isabella, please calm down.”
“No! Aku sudah cukup tenang selama dua puluh tiga tahun, Ayah. Sekarang aku ingin jawaban.”
Richard menarik napas panjang. Ia kemudian duduk di kursi, seolah beban yang dipikulnya tiba-tiba terasa terlalu berat.
“Your mother, Elena, was involved in a dangerous agreement before you were born.”
Isabella mengerutkan kening.
“Apa hubungannya denganku?”
“Everything.”
Richard menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.
“Dua puluh tiga tahun lalu, keluarga Laurent hampir kehilangan segalanya. Bisnis kami diserang oleh kelompok yang ingin mengambil alih perusahaan dan aset keluarga. Saat itu, ayah meminta bantuan keluarga Imanuel.”
Dominic menyilangkan kedua tangannya.
“Continue.”
Richard menatapnya tajam sebelum kembali kepada Isabella.
“Keluarga Imanuel memberikan perlindungan. Sebagai gantinya, ada sebuah kesepakatan yang harus dijaga oleh kedua keluarga. Namun, ibumu menolak salah satu bagian dari kesepakatan itu.”
“Bagian apa?”
Richard terdiam.
“Bagian yang berkaitan dengan kelahiranmu.”
Isabella merasa dadanya sesak.
“Apa maksud Ayah?”
Richard menunduk. Tangannya gemetar ketika menggenggam ujung meja.
“Your mother wanted to protect you.”
“Protect me from what?”
“From the people who believed you belonged to them.”
Isabella menggeleng cepat.
“Aku bukan barang, Ayah. Tidak ada yang bisa memiliki diriku.”
“I know, sweetheart.”
“Lalu kenapa mereka mengatakan aku milik seseorang?”
Richard menutup mata sejenak.
“Karena mereka percaya bahwa darahmu adalah kunci dari sesuatu yang sudah lama mereka cari.”
Dominic tiba-tiba melangkah mendekat.
“That's enough, Richard.”
Isabella menoleh tajam.
“No. It's not enough!”
Dominic menatap Richard dengan ekspresi mengancam.
“You promised her mother you would keep her out of this.”
Richard berdiri.
“And you promised Elena you would protect her!”
Keduanya saling menatap. Ketegangan memenuhi ruangan.
Isabella memandang mereka bergantian.
“Wait. Kalian berdua mengenal ibuku sedekat itu?”
Tidak ada yang menjawab.
“Dominic, kenapa kau terlibat dalam urusan keluargaku?”
Dominic akhirnya menatap Isabella.
“Because your mother asked me to.”
Isabella terdiam.
“What?”
“Before she disappeared, she made me promise that I would protect you if anything happened to her.”
Isabella menatapnya seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.
“Disappeared? Kau bilang ibuku meninggal.”
Dominic menghela napas.
“I said she was alive the last time I saw her. I never told you how she died.”
“Karena kau tidak pernah memberitahuku apa pun!”
Dominic tidak membantah.
Richard kemudian mendekati Isabella dan berusaha menggenggam tangannya. Namun, Isabella menarik tangannya sendiri.
“Please, sweetheart. There is something you need to understand.”
“Aku sudah mendengarkan terlalu banyak rahasia malam ini.”
“Your mother loved you more than anything.”
“Then why did she leave me?”
Pertanyaan itu membuat Richard menunduk.
Dominic menjawab pelan, “She didn't leave because she wanted to.”
Isabella menatapnya.
“What happened to her?”
Dominic mengalihkan pandangan sejenak. Ada luka lama yang tersembunyi di balik wajah dinginnya.
“She was taken.”
Ruangan mendadak sunyi.
Isabella menutup mulutnya. Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.
“Taken by whom?”
“Rafael De Luca's people.”
Nama itu membuat Richard terkejut.
“Dominic, jangan.”
Namun Dominic tidak menghiraukannya.
“Rafael has been looking for your mother for years. And now that he knows you're under my protection, he's trying to use you to get what he wants.”
Isabella menghapus air matanya.
“Jadi selama ini aku hanya umpan?”
“No.”
“Lalu apa?”
Dominic mendekat, kali ini berhenti tepat di hadapannya.
“You are the reason he hasn't stopped.”
Isabella menatapnya dengan kebingungan.
“Kenapa?”
Dominic belum sempat menjawab ketika Alessandro berlari masuk. Napasnya sedikit terengah, dan wajahnya terlihat pucat.
“Boss! We have an emergency.”
Dominic langsung berbalik.
“What is it?”
Alessandro mengulurkan sebuah amplop hitam.
“This was delivered to the front gate. There's no sender.”
Dominic mengambil amplop itu. Di bagian depan tertulis nama Isabella dengan tinta merah.
Isabella merasakan tengkuknya meremang.
“Open it,” katanya.
Dominic mengeluarkan sebuah foto dari dalam amplop.
Foto itu memperlihatkan seorang perempuan yang sedang duduk di kursi, mengenakan gaun putih. Wajahnya tampak lebih tua, tetapi Isabella mengenali mata dan senyumnya.
Itu Elena Laurent.
Ibunya.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan:
SHE'S ALIVE. AND SHE'S WAITING FOR HER DAUGHTER.
Isabella merebut foto itu dari tangan Dominic.
“Where is she?”
Dominic menatap foto tersebut dengan rahang mengeras.
“I don't know.”
“Tapi seseorang tahu! Mereka punya foto terbaru!”
Richard terlihat hampir kehilangan keseimbangan.
“God...”
Isabella menoleh kepada ayahnya.
“Ayah tahu?”
Richard tidak menjawab. Namun air mata yang mulai menggenang di matanya mengatakan lebih banyak daripada kata-kata.
“Ayah...” bisik Isabella. “Is Mom alive?”
Richard akhirnya mengangkat wajahnya.
“I don't know, sweetheart.”
Isabella menggeleng, tidak percaya.
Tiba-tiba ponsel Dominic berdering. Ia melihat nama yang muncul di layar, lalu mengangkatnya.
“Speak.”
Suara laki-laki terdengar dari seberang telepon. Cukup keras hingga Isabella dapat menangkap beberapa kata.
“Boss... we found something. The security footage from the east gate has been recovered.”
“What did you find?”
“Someone was standing outside the mansion. He left the envelope himself.”
Dominic menyipitkan mata.
“Who?”
Hening beberapa detik.
Lalu suara Alessandro terdengar dari pengeras suara telepon.
“It's Rafael De Luca, boss.”
Dominic mengepalkan tangannya.
Namun sebelum ia sempat memberikan perintah, suara Rafael terdengar dari ujung telepon. Tenang, rendah, dan penuh ejekan.
“Hello, King.”
Dominic menatap lurus ke depan.
“Enjoying your little game, Rafael?”
Rafael tertawa pelan.
“Oh, I'm not playing with you tonight. I'm calling to congratulate you.”
“On what?”
“On finally meeting the daughter of the woman you failed to save.”
Wajah Dominic berubah.
Isabella menatapnya dengan napas tertahan.
Rafael melanjutkan, “Tell Isabella that her mother sends her love.”
Lalu sambungan terputus.
Dominic menurunkan ponselnya perlahan.
Isabella menatap pria itu dengan mata penuh air mata.
“Dominic... what did he mean by that?”
Dominic tidak menjawab.
Karena untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa musuhnya bukan hanya mengetahui keberadaan Isabella.
Rafael juga mengetahui sesuatu yang selama ini bahkan tidak pernah berani ia ungkapkan.
Sesuatu tentang malam ketika Elena Laurent menghilang.
Dan tentang janji yang gagal ia tepati.
jangan lupa mampir kakk..🤭