Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Hari Pertama Wira Bekerja.
Pukul 05.00 pagi, Wira sudah tiba di depan kediaman Sera dan Ravin. Petugas penjaga keamaan, membukakan pintu untuk pria itu, ketika Wira mengatakan akan bekerja menjadi sopir pribadi sang nyonya rumah.
Wira duduk menunggu di teras depan. Karena pintu utama rumah itu masih terkunci dengan rapat.
Tak berselang lama, bi Sari pun datang. Wanita paruh baya itu sempat terkejut, ketika melihat ada orang asing yang duduk di teras rumah majikannya.
“Saya Wira. Sopir baru untuk nona Serafina.” Ucap Wira menjawab rasa penasaran wanita paruh baya itu.
“Sopir dari nyonya Safina?” Tanya bi Sari kemudian.
Sebab semalam mama Safina sudah mengirim pesan padanya. Mengatakan kalau hari ini, akan ada sopir baru yang bekerja untuk Sera.
Wira mengangguk pelan.
“Saya bi Sari. Asisten rumah tangga disini.” Ucap bi Sari memperkenalkan diri.
“Saya Wiradana, bi. Panggil Wira saja.” Ucap pria itu.
Bi Sari mengangguk pelan. Ia mengamati Wira sejenak. Tampangnya tidak terlihat seperti orang susah. Wajahnya tampan, meski kulitnya sawo matang.
“Mari masuk ke dalam, mas. Biar bibi buatkan kopi.” Ajak Bi Sari sembari membuka pintu utama dengan kunci yang ia bawa.
“Biar saya tunggu disini saja, bi. Tidak enak dengan majikan. Baru hari pertama saya bekerja disini.” Tolak Wira secara halus.
“Tidak apa - apa. Mas Wira bisa menunggu di belekang. Daripada menunggu disini. Ini masih subuh juga.” Ucap bi Sari.
Wira pun akhirnya setuju untuk ikut masuk. Kediaman mewah itu masih sangat sepi dan gelap. Mungkin sang tuan dan nyonya rumah masih tidur di kamar mereka.
Wira mengamati setiap sudut ruangan, setelah bi Sari menyalakan lampu utama.
Pandangan pria itu memindai. Seolah menyimpan setiap sudut yang ia lihat pada memori otaknya.
Bi Sari melangkah menuju lorong. Dan Wira pun mengikutinya. Melewati ruang makan, dan dapur bersih. Lalu berakhir di dalam dapur kotor.
“Silahkan duduk, mas. Kita minum kopi dulu. Suka kopi manis atau pahit, mas?” Tanya bi Sari sembari memakai celemeknya. Kemudian mengambil dua buah cangkir lalu membuat air panas.
“Kopi pahit, bi.” Ucap Wira pelan. Ia kemudian menarik sebuah kursi plastik yang tersedia di sudut dapur.
Wira mengamati setiap pergerakan bi Sari. Hatinya seketika merasa sedih. Ia teringat kembali dengan mendiang sang ibu.
“Silahkan, mas.” Bi Sari menyodorkan sebuah cangkir berisi kopi hitam dengan asap yang mengepul.
Wira pun menerimanya.
“Sepertinya, mas Wira ini masih muda. Atau masih seumuran dengan tuan Ravin?” Tanya bi Sari sembari duduk tak jauh dari pria itu.
“Saya berusia 30 tahun, bi.” Ucap Wira.
“Masih muda, ya. 2 tahun lebih tua dari tuan Ravin. Kenapa tidak bekerja di kantoran saja? Pasti masih di terima.” Bi Sari menyeruput kopi miliknya di akhir kalimat.
Wira tersenyum tipis. “Pendidikan saya tidak mendukung, bi. Paling untung di terima menjadi tukang kebun atau petugas kebersihan.” Pria itu mengedikan bahunya.
“Saya hanya anak yatim piatu, dan besar di panti asuhan. Masih hidup sampai saat ini pun, sudah sangat bersyukur untuk saya.” Imbuh Wira.
Bi Sari paham dengan cerita Wira. Kemudian menganggukkan kepalanya.
Kalau di perhatikan dengan lekat. Wajah Wira tidak kalah tampannya dengan Ravin. Bahkan Wira lebih berkarisma. Hanya saja, warna kulit mereka yang berbeda.
Mungkin, karena takdir mereka yang berbeda. Sehingga Wira tidak bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.
“Bekerja apa saja, yang penting halal.” Ucap bi Sari kemudian.
“Bibi benar. Yang penting masih bisa menyambung hidup.” Timpal Wira.
.
.
.
Sebelum pergi ke kantor, Ravin dan Sera menyempatkan diri untuk berbicara dengan Wira terlebih dulu.
Mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Ravin dan Sera berdampingan, sementara Wira di seberang meja.
“Kita belum berbicara serius kemarin.” Ucap Ravin melihat ke arah sang istri dan Wira secara bergantian.
Sera menganggukkan kepalanya. Mereka memang menerima Wira karena perintah mama Safina. Dan belum mengenal pria itu lebih jauh.
Wira menghela nafas pelan. “Nama saya Wiradana. Umur 30 tahun. Lajang, dan yatim piatu. Apakah masih ada yang kurang?” Tanya pria itu.
“Pendidikan terakhir?” Tanya Ravin.
“Sa— Sekolah menengah pertama.” Wira menyunggingkan sudut bibirnya.
“Sekolah menengah pertama?” Gumam Sera. Namun, baik Ravin maupun Wira masih bisa mendengarnya.
“Iya, nona. Saya besar di panti asuhan. Sudah bisa hidup sampai saat ini saja, saya sudah sangat bersyukur.” Ucap Wira dengan tersenyum kecut. Ia mengulang ucapannya saat bicara dengan bi Sari tadi.
Ravin mengangguk pelan. “Tapi mas Wira bisa bela diri ‘kan? Untuk berjaga - jaga, jika terjadi sesuatu saat istri saya pergi bersama kamu.”
Wira menganggukkan kepalanya. “Anda tidak perlu khawatir, pak Ravin. Saya akan menjaga nona Sera dengan baik.” Pria itu menatap ke arah Sera, kemudian tersenyum tipis.
“Baiklah. Mulai hari ini, saya percayakan keselamatan istri saya sama mas Wira. Untuk hari kerja, mas juga mendapatkan satu kamar tidur di belakang untuk beristirahat. Supaya, bisa cepat tanggap saat Sera membutuhkan kamu.” Ucap Ravin kemudian.
“Gaji awal mas Wira akan saya berikan sebesar 4 juta rupiah, selama 3 bulan kedepan. Untuk makan dan minum, mas bisa memintanya sama bi Sari.” Ucap Ravin lagi.
“Baik, pak.” Wira mengangguk paham.
“Kamu mau pakai mobil yang mana, Ra?” Tanya Ravin pada sang istri.
“Terserah kak Ravin saja. Aku nyaman dengan semuanya.” Ucap Sera.
Ravin sudah membawa 3 mobil dan sebuah motor besar ke rumah itu.
“Baiklah. Ayo kita pilih ke garasi.” Ravin bangkit dari tempat duduknya. Kemudian mengulurkan tangan pada sang istri.
Wira pun mengekori kedua majikannya itu.
“Oh ya, mas Wira. Kamu memiliki surat ijin mengemudi ‘kan?” Tanya Ravin saat mereka tiba di garasi.
“Aman, pak. Saya memiliki ketiga surat ijin mengemudi.” Ucap Wira.
Sera sempat terkejut mendengar ucapan pria itu. Entah memang benar, atau hanya lelucon.
“Kamu mau pakai yang ini?” Ravin menunjuk sebuah mobil sedan hitam keluaran terbaru, yang ia beli awal tahun ini.
“Terus kakak pakai yang mana?” Tanya Sera.
“Aku pakai yang itu.” Ia menunjuk ke arah mobil sedan yang lebih sporty.
Sera pun menganggukkan kepala.
Ravin kemudian menyerahkan kunci mobil yang akan digunakan oleh sang istri kepada Wira.
“Aku berangkat ke kantor dulu.” Pamit Ravin pada sang istri kemudian mengecup kening gadis itu.
“Hati - hati, kak.” Pesan Sera.
Ravin masuk ke dalam mobilnya. Kemudian melaju pelan meninggalkan garasi.
Sera memutar badannya, dan ia pun terjingkat karena Wira berdiri di belakangnya.
“Maaf, nona.” Wira menggeser tubuhnya, memberikan jalan untuk Sera.
Gadis itu pun masuk ke dalam rumah.
Wira memutar tubuhnya, melihat laju mobil Ravin meninggalkan gerbang rumah.
“Ini baru awal, Ravin. Tunggu kejutan - kejutan yang aku berikan kedepannya.”