Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Setelah mendengar perkataan ayah mertuanya itu, dada Arhan terasa jauh lebih sakit. Pagi itu udara masih lembab, dan dada Arhan terasa sesak bukan karena udara, tapi karena kata-kata yang baru saja ia dengar dari mertuanya.
Kalimat "kamu itu menantu yang baik" dan "terima kasih sudah merawat anak Papa" yang diucapkan Pak Hendra di dalam mobil yang tertutup itu justru membuat bendungan yang sudah retak menjadi hancur sepenuhnya.
Hampir dua hari ini Arhan berusaha terlihat kuat di depan Anya. Semuanya ia kerjakan sendiri. Ia mengantar Anya dengan kursi rodanya ke Toko Bunga Nisa, mengganti pakaiannya, menyiapkan makanan, semua dengan senyum yang ia paksakan.
Arhan menunggu amarah itu jatuh kepadanya. Menunggu disalahkan karena memikul vonis itu seorang diri. Namun yang ia terima justru permintaan maaf dan terima kasih.
Itu jauh lebih menyakitkan.
Arhan benar-benar meneteskan air mata. Bukan lagi ditahan, bukan lagi disembunyikan. Air matanya jatuh ke paha, ke dashboard mobil tua mertuanya yang berdebu. Bahunya bergetar hebat. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, tidak sanggup lagi menahan isaknya.
"Han," Pak Hendra memanggil pelan.
Arhan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sambil masih menutup wajahnya.
Pak Hendra, mertua Arhan itu, menatap menantunya sebentar dengan mata yang juga berkaca-kaca, lalu ia membuka pintu mobil.
Klek.
"Papa keluar dulu ya, Han," kata Pak Hendra dengan suara pelan. "Kamu di sini dulu. Tenangin dulu."
Arhan masih menunduk, tidak menjawab.
Pak Hendra keluar dari mobil dan menutup pintunya kembali. Ia berjalan pelan menuju pintu depan rumah. Langkahnya terlihat lebih berat dari saat ia datang tadi.
Di ruang tamu, Anya dan Ibu Soraya masih duduk. Rantang sup ayam sudah tertutup lagi. Vas bunga hasil beli dari Ibu Nisa ada di atas meja.
Melihat Pak Hendra masuk sendirian, Ibu Soraya menoleh.
"Lho, Pa? Arhan mana?" tanya Ibu Soraya.
Anya juga ikut menoleh. "Papa, Arhan mana?"
Pak Hendra mencoba memasang wajah biasa saja, meski matanya masih merah.
"Arhan ada di mobil," kata Pak Hendra dengan suara yang dibuat senormal mungkin. "Papa mau ajak Arhan keluar sebentar, beli kopi. Sekalian Papa mau ngobrol sebentar sama Arhan."
Ibu dan Anya menyahut bersamaan.
"Oh, beli kopi," kata Ibu Soraya sambil mengangguk. "Ya sudah, hati-hati ya, Pa."
"Iya, Pa, hati-hati ya," kata Anya. "Jangan lama-lama."
Pak Hendra mengangguk. "Iya, sebentar aja. Nggak lama."
Ia kemudian berbalik dan kembali berjalan ke arah mobil. Langkahnya cepat, seolah takut Anya melihat matanya yang merah.
Pak Hendra kembali masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. Arhan masih duduk di kursi penumpang, matanya masih basah, napasnya masih belum teratur.
Pak Hendra menyalakan mesin mobil. Suara mesin tua itu terdengar kasar.
"Han," kata Pak Hendra pelan sambil memegang setir. "Anya nggak boleh lihat kamu nangis."
Arhan mengusap wajahnya kasar dengan punggung tangan.
"Iya, Pa," jawab Arhan dengan suara serak.
"Kita ke luar dulu sebentar, ya, Han. Di sini Anya bisa lihat," kata Pak Hendra sambil meraih pintu. "Biar kamu tenang dulu."
Mobil dinyalakan, melaju meninggalkan pagar lalu tancap gas. Di kaca spion, rumah itu tertinggal jauh, menyimpan Anya dan Soraya di dalamnya.
Mobil sedan silver milik mertuanya melaju pelan. Jalanan sore itu masih basah sehabis hujan, aspal mengkilap memantulkan langit yang masih mendung.
Mobil itu melewati jalan perumahan yang sepi. Tidak ada yang bicara selama beberapa menit. Hanya suara mesin dan angin dari jendela yang sedikit terbuka.
Sampai, saat beberapa persimpangan jalan terlewati. Pak Hendra mulai bercerita.
"Anya itu dari kecil anak yang baik dan periang, Han," kata Pak Hendra, mertua Arhan itu, matanya menatap lurus ke jalan. "Dari kecil dia nggak pernah nyusahin Papa sama Mama. Selalu ceria, suka bantuin Mama di dapur, suka bunga-bunga kayak sekarang ini."
Arhan mendengarkan sambil menatap ke luar jendela.
"Papa nggak pernah nyangka," lanjut Pak Hendra, suaranya mulai bergetar lagi. "Papa nggak nyangka putri Papa punya sakit separah ini. Papa kira cuma penyakit biasa."
Pak Hendra tidak melanjutkan kalimatnya. Ia menarik napas panjang.
Arhan menjawab pelan. Suaranya parau.
"Anya adalah alasan untuk terus hidup, Pa," kata Arhan lirih. "Dulu aku bukan orang baik-baik. Hidup aku kosong, hari-hari aku berantakan. Anya yang datang, merapikan semuanya. Dia yang bikin aku punya alasan buat tetap hidup."
Pak Hendra mendengarkan tanpa memotong.
"Untuk itu aku bohong sama Anya, Pa," lanjut Arhan, air matanya kembali menetes. "Aku nggak ingin alasan aku untuk tetap hidup itu pergi untuk selama-lamanya. Aku nggak siap, Pa. Kalau Anya tau waktunya cuma tiga puluh hari, Anya pasti akan sedih banget. Aku nggak mau lihat Anya sedih di sisa waktunya."
Ayah mertuanya tidak menjawab.
Mobil terus melaju pelan. Pak Hendra hanya mengangguk kecil, matanya tetap menatap jalan, tapi kedua tangannya mengepal lebih erat di atas setir.
Tidak lama kemudian, Pak Hendra memarkirkan mobilnya di dekat sebuah kedai kopi kecil di pinggir jalan. Kedai sederhana dengan spanduk yang sudah pudar.
"Kamu tunggu di sini ya, Han," kata Pak Hendra. "Papa beliin kopi."
Arhan mengangguk.
Pak Hendra keluar dari mobil dan berjalan ke kedai kopi itu. Ia memesan dua gelas kopi hitam panas. Penjual kopi membungkusnya dengan plastik.
Pak Hendra kembali ke mobil dengan dua gelas kopi di tangannya. Ia masuk ke dalam mobil, menutup pintu, dan memberikan satu gelas kepada Arhan.
"Nih, Han," kata Pak Hendra sambil menyodorkan gelas kopi itu. "Minum dulu biar agak tenang."
Arhan menerima gelas kopi itu dengan kedua tangan. Hangatnya terasa sampai ke telapak tangan.
"Jangan hancur di depan Anya," kata Pak Hendra, mertua Arhan itu, sambil menatap Arhan, "Anya itu sudah cukup berat menanggung semuanya. Kalau dia lihat kamu hancur, dia akan hancur juga."
Arhan menatap kopi di tangannya. Uapnya naik pelan.
"Pa," kata Arhan pelan. "Mama... Ibu Soraya berhak tau, Pa. Tentang diagnosa Anya ini. Tapi aku... aku nggak punya keberanian untuk mengatakannya langsung ke Mama. Aku takut."
Pak Hendra menyesap kopinya pelan, lalu menatap Arhan.
Ayah mertuanya itu menjawab dengan suara yang tenang tapi berat.
"Nggak apa-apa, Han," kata Pak Hendra. "Biar nanti Papa saja yang mengatakan kepada Mama. Biar Papa yang bilang ke Ibu Soraya. Kamu nggak usah khawatir. Itu tugas Papa."
Dua hari. Hampir dua hari ini ia sudah mencoba menahan semuanya sendirian, dan hari ini untuk pertama kalinya ada orang lain yang tahu beban yang ia pikul. Arhan menggenggam gelas kopinya erat, mencoba menahan tangisnya yang masih ingin keluar lagi.