NovelToon NovelToon
TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: PERTARUHAN JIWA SEORANG IBU

Suara ketukan halus pada pintu kayu balkon membuyarkan lamunan Kirana. Ia buru-buru menyapu sudut matanya yang basah sebelum membalikkan badan. Pak Wijaya berdiri di sana dengan wajah yang kehilangan seluruh rona hangatnya. Di atas baki perak yang dipegangnya, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal yang permukaannya tampak lusuh namun memancarkan aura ancaman yang pekat.

"Nyonya..." suara Pak Wijaya bergetar pelan. "Surat ini... diantarkan oleh kurir instan yang langsung pergi begitu saja. Ditujukan khusus untuk Anda."

Kirana mengambil amplop itu. Sentuhan jarinya pada kertas tebal tersebut mengirimkan rasa dingin yang menjalar cepat ke seluruh persendiannya. Ketika ia merobek segelnya, sebuah kunci kuningan berat berukir kepala naga merosot jatuh ke telapak tangannya, diiringi selembar foto foto hitam-putih yang memudar dimakan usia dan sepucuk surat bertuliskan tinta merah darah.

Foto itu memperlihatkan sebuah studio foto tua berarsitektur era kolonial di kawasan Braga, Bandung. Di belakang foto tersebut tertulis satu alamat jelas, lengkap dengan catatan bernada teror yang seolah dirancang untuk mencabik-cabik ketenangannya:

"Pilihan ada di tanganmu, Ibu Tiri. Buka kotak rahasia di Bandung dalam waktu tiga hari, atau seluruh dokumen medis asli Aris Pratama dan asal-usul Leo-Maya akan disebarkan ke seluruh papan media massa nasional."

Dada Kirana naik turun tak teratur. Napasnya membendung kepanikan yang luar biasa. Ia mengepalkan jemarinya, membiarkan ukiran kasar kunci kuningan itu menekan telapak tangannya hingga perih. Pikirannya melayang pada Aris—suaminya yang baru saja terlelap di tempat tidur setelah berjuang melewati malam-malam penuh trauma. Pria tegap yang dahulu berhati dingin bagaikan es itu kini telah melunakkan seluruh jiwanya demi Kirana. Jika berita bahwa Aris mandul dan Leo-Maya bukanlah darah dagingnya tersebar ke publik, tidak hanya dinasti bisnis Pratama Corp yang akan runtuh terhempas skandal, namun jiwa Aris yang baru saja pulih dipastikan akan hancur berkeping-keping.

Lebih dari itu, anak-anaknya... Leo yang baru mulai mempercayai dunia, dan Maya yang selalu memeluknya setiap malam. Bagaimana jika dunia menyebut mereka sebagai 'anak tanpa legitimasi'? Bagaimana jika hak asuh mereka direbut oleh sosok misterius di balik ancaman ini?

"Nyonya Kirana, apakah... perlu saya beritahukan hal ini kepada Pak Aris?" tanya Pak Wijaya prihatin, melihat wajah sang majikan wanita yang pucat pasi.

Kirana mengangkat pandangannya. Di dalam manik matanya yang bening, tidak ada lagi jejak kebingungan. Yang menyala di sana adalah keberanian liar seorang ibu yang siap mempertaruhkan seluruh hidupnya demi melindungi sarang kecil yang telah ia bangun dengan air mata.

"Jangan, Pak Wijaya," pangkas Kirana tegas, suaranya tenang namun mengandung kekuatan yang tak terbatahkan. "Jangan ucapkan sepatah kata pun pada Mas Aris. Pria itu sudah terlalu banyak menderita. Ini adalah pertempuranku. Siapkan mobil dan pengawal terpercaya besok pagi-pagi sekali. Kita berangkat ke Bandung."

Pagi berikutnya, gerimis menyelimuti Kota Bandung saat mobil sedan hitam yang dikendarai Pak Wijaya membelah jalanan Braga yang dipenuhi bangunan tua. Kirana duduk di kursi belakang, mengenakan mantel panjang berwarna krem dengan selendang hitam yang menutupi separuh wajahnya. Jemarinya yang lentik tak berhenti meremas kunci kuningan di dalam saku mantel.

Mobil berhenti di depan sebuah bangunan tua dua lantai berarsitektur Belanda. Plang kayu lapuk bertuliskan "Studio Foto Abadi - 1958" tergantung miring di atas pintu jati berlapis kaca kusam.

"Nyonya, biarkan dua pengawal ikut masuk ke dalam," ujar Pak Wijaya cemas saat ia membukakan pintu mobil untuk Kirana.

"Tidak," tolak Kirana lembut seraya melangkah keluar. "Penghianat atau pemeras yang mengirimkan surat ini ingin melihat sejauh mana aku berani melangkah sendirian. Tetaplah di luar dan awasi sekitar. Jika dalam waktu satu jam aku belum keluar, barulah Pak Wijaya boleh bertindak."

Dengan keteguhan hati yang melompati batas ketakutannya, Kirana mendorong pintu kayu studio tua itu. Suara derit nyaring menyambut langkah kakinya, disusul oleh bau debu tua, kertas lapuk, dan kimia pengembang foto yang menyengat. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh pendar cahaya matahari yang menerobos lewat celah-celah jendela papan yang berdebu. Puluhan bingkai foto tua terpajang di dinding—wajah-wajah asing dari masa lalu yang menatap dingin ke arahnya.

Di sudut ruangan, di balik tirai beludru merah yang telah berjamur, sebuah tangga kayu melingkar menuju ke basement bawah tanah. Kirana menyalakan senter ponselnya, melangkah turun satu per satu meniti anak tangga yang berderit menakutkan.

Di dasar lantai bawah tanah yang dingin dan lembap, sebuah meja kerja tua dari kayu jati berdiri di tengah ruangan. Di atas meja tersebut, tergeletak sebuah brankas besi kuno berukuran sedang dengan lubang kunci berukir naga—sangat cocok dengan kunci yang ada di tangannya.

Namun, sebelum Kirana berhasil melangkah mendekati meja itu, suara tepukan tangan yang bergema pelan memecah keheningan basement.

"Luar biasa..." sebuah suara berat, penuh wibawa namun dingin bergaung dari kegelapan sudut ruangan. "Seorang wanita muda berumur dua puluh empat tahun, tanpa latar belakang keluarga penguasa, berani melangkah ke dalam sarang serigala hanya demi membela kehormatan pria yang dahulu memandangnya sebelah mata."

Seorang pria paruh baya bertubuh tegap melangkah keluar dari bayang-bayang. Ia mengenakan setelan jas tebal berwarna hitam, berambut perak yang tersisir rapi, dan memegang tongkat kayu berukir perak. Wajahnya memiliki garis tegas yang sangat familiar—sebuah kemiripan yang ganjil dengan struktur wajah Leo ketika tersenyum.

Kirana menyipitkan mata, menahan detak jantungnya yang bergemuruh. "Siapa Anda?"

Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman tanpa kehangatan. "Namaku Raymond Wijaya... saingan terbesar mendiang Kakek Hendra Pratama, sekaligus pemilik sah atas darah yang mengalir di tubuh Leo dan Maya."

Napas Kirana tertahan. Teka-teki yang diucapkan Sheila di ambang kematiannya kini berdiri nyata di hadapannya. Pria di hadapannya adalah musuh bebuyutan dinasti Pratama—pria yang disebut-sebut sebagai ayah kandung dari anak kembar yang dikandung oleh Shinta.

"Jadi... Anda adalah ayah biologis mereka?" bisik Kirana, mencoba mengendalikan nada suaranya agar tidak bergetar.

"Aku adalah pria yang dicintai Shinta," koreksi Raymond dengan mata menyala oleh kenangan pahit. "Hendra Pratama yang licik merestui hubungan kami secara rahasia demi mendapatkan rahasia dagang konsorsiumku. Namun saat Shinta hamil anak kembar kami, pria tua bangkai itu menyadari bahwa Aris—cucu kesayangannya—mandul akibat kecelakaan di London. Demi menyelamatkan saham Pratama Corp dari kejatuhan dan mencegah keluarga cabang merebut kekuasaan, Hendra merekayasa kecelakaan Shinta, merebut bayiku saat Shinta kritis, dan memindahkan bayi-bayi itu ke dalam cengkeraman Sheila!"

Raymond melangkah mendekat, menghantamkan tongkat kayunya ke lantai beton dengan keras. "Selama tujuh tahun aku dicurangi! Aku berpikir anak-anakku telah mati bersama Shinta! Sampai akhirnya Sheila, sebelum dia kehilangan akalnya, mengirimkan dokumen laboratorium asli padaku!"

"Lalu apa mau Anda sekarang?!" potong Kirana dengan keberanian yang meledak. "Anda ingin merebut Leo dan Maya?! Setelah tujuh tahun Anda membiarkan mereka tumbuh dalam ketakutan? Di mana Anda saat Maya menangis histeris di malam hari karena merindukan kasih sayang seorang ibu?! Di mana Anda saat Leo dikurung di dalam kamar oleh Sheila yang gila?!"

Raymond tertegun sejenak, terkejut oleh amukan emosi wanita di hadapannya.

"Saya yang berada di sana, Tuan Raymond!" Kirana melangkah maju, membusungkan dadanya tanpa rasa gentar sedikit pun. Airmata mengalir deras di pipinya, namun matanya memancarkan keteguhan yang tak tertandingi. "Saya yang membersihkan muntahan mereka saat mereka sakit! Saya yang mendekap mereka saat mereka berteriak ketakutan di bawah guyuran hujan! Saya yang mempertaruhkan nyawa dan janin di dalam rahim saya sendiri di dermaga Sunda Kelapa demi menyelamatkan mereka dari moncong senjata!"

Kirana menunjuk dada Raymond dengan jarinya yang bergetar. "Anda mungkin memberikan sperma Anda, tetapi Anda TIDAK PERNAH menjadi ayah mereka! Cinta tidak ditentukan oleh tes DNA di atas kertas, Tuan! Cinta dibayar dengan darah, air mata, dan keberadaan yang tak pernah pergi saat anak-anak itu hancur!"

Keheningan yang mencekat kembali menguasai basement dingin itu. Raymond menatap Kirana dengan pandangan tak percaya. Pria tua yang terkenal kejam di dunia bisnis itu tampak terguncang oleh daya ledak ketulusan yang keluar dari jiwa seorang ibu tiri.

"Kau... benar-benar mencintai anak-anak musuhmu?" bisik Raymond parau.

"Mereka bukan anak musuh saya! Mereka adalah ANAK-ANAK SAYA!" teriak Kirana, suaranya bergaung memenuhi ruangan. "Dan saya tidak akan membiarkan siapa pun—baik Anda, mendiang Kakek Hendra, maupun media massa—menjadikan masa lalu mereka sebagai bahan pembantaian publik!"

Raymond menundukkan kepalanya perlahan. Pria tua itu menghembuskan napas panjang yang sarat akan penyesalan masa lalu. Ia berjalan mendekati brankas besi tua, lalu menunjuk lubang kuncinya.

"Buka brankas itu dengan kuncimu, Kirana," ujar Raymond pelan, kehilangan nada kejam dalam suaranya.

Dengan tangan yang masih gemetar, Kirana memasukkan kunci kuningan ke dalam lubang kunci brankas dan memutarnya. Suara klik berat terdengar. Pintu brankas terbuka, menyingkap sekumpulan berkas medis tua, dokumen adopsi, dan sebuah rekaman video jadul bertuliskan nama Shinta Pratama.

"Di dalam brankas itu terdapat seluruh bukti manipulasi Kakek Hendra, termasuk rekam medis Aris yang asli," tutur Raymond seraya menatap dokumen-dokumen itu dengan tatapan sayu. "Aku berniat menggunakan dokumen ini untuk meruntuhkan Pratama Corp, menghancurkan Aris, dan mengambil kembali Leo serta Maya secara paksa."

Raymond menatap Kirana dalam-dalam. "Tapi hari ini, aku melihat sesuatu yang tak pernah kubayangkan. Shinta dahulu pernah berkata padaku... bahwa ibu sejati bukan hanya wanita yang melahirkan, tetapi jiwa yang rela mati agar anak-anaknya bisa hidup bahagiamu. Dan aku melihat jiwa Shinta hidup di dalam dirimu, Kirana."

Pria tua itu menarik sebuah pemantik api perak dari saku jasnya. Tanpa ragu, ia memetik pemantik itu dan menyulut ujung berkas-berkas medis paling krusial di dalam brankas.

Api membakar kertas-kertas tua itu dengan cepat. Lidah api menari-nari memakan rahasia kelam yang selama ini mengancam kebahagiaan keluarga Pratama.

Kirana terpaku, menatap tumpukan kertas bernilai triliunan rupiah dan kehancuran dinasti itu berubah menjadi abu di depan matanya.

"Aku menyerahkan hak asuh spiritual anak-anakku kepadamu, Kirana," bisik Raymond seraya berbalik membelakangi api. "Biarkan rahasia bahwa Aris mandul dan Leo-Maya adalah anakku terkubur bersama abu ini. Biarkan Aris tetap menjadi ayah yang membanggakan bagi mereka, dan biarkan kau tetap menjadi rumah bagi jiwa mereka. Tapi berjanjilah padaku satu hal..."

Kirana mengusap air matanya, menatap punggung pria tua itu. "Apa itu?"

"Izinkan aku melihat mereka dari jauh... sesekali... tanpa mereka pernah tahu siapa aku sebenarnya."

Kirana mengangguk pelan, rasa hormat yang tak terduga tumbuh di dalam dadanya. "Saya berjanji, Tuan Raymond."

Sore harinya, saat matahari mulai terbenam merobek awan kelabu di atas Jakarta, mobil sedan hitam yang membawa Kirana kembali memasuki pelataran Kediaman Pratama.

Ketika pintu mobil dibuka, Kirana melangkah keluar dengan tubuh yang amat lelah namun jiwanya terasa begitu ringan. Beban rahasia yang tadinya mengancam untuk meremukkan hidupnya kini telah lebur menjadi debu kedamaian.

Di teras depan rumah, Aris berdiri menunggunya. Pria tegap itu tidak mengenakan jas kerjanya, melainkan kemeja kasual yang tergulung hingga siku. Wajahnya dipenuhi kecemasan yang mendalam. Begitu melihat Kirana melangkah mendekat, Aris berlari kecil dan langsung merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan yang teramat erat.

"Dari mana saja kamu, Kirana?!" bisik Aris parau, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kirana. "Pak Wijaya bilang kamu pergi ke Bandung tanpa memberitahuku! Aku hampir saja gila memikirkan keselamatanmu!"

Kirana melingkarkan tangannya di pinggang Aris, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Ia mendengarkan detak jantung Aris yang teratur dan hangat—detak jantung pria yang telah dilepaskan dari kutukan rahasia masa lalunya. Aris tidak perlu tahu tentang kepahitan yang pernah direkayasa kakeknya. Pria ini berhak menjadi seorang ayah yang bahagia dan suami yang dicintai.

"Aku hanya pergi menyelesaikan urusan kecil, Mas," bisik Kirana lembut seraya mendongak, menatap mata cokelat Aris yang penuh dengan cinta sejati. "Urusan wanita... yang harus kuselesaikan agar kita bisa benar-benar memulai lembar baru."

Aris menatap istrinya heran, namun kelembutan di wajah Kirana menyapu bersih seluruh prasangkanya. Pria itu menangkup pipi Kirana, mengecup bibirnya hangat di bawah pendar lampu teras yang temaram.

"Ibu! Papa!"

Suara teriak girang memecah keheningan sore. Dari dalam pintu rumah, Leo dan Maya berlari keluar dengan kaki-kaki kecil mereka. Leo berlari seraya memamerkan sebuah gambar cat air di tangannya, sementara Maya melompat kecil seraya memegang boneka kelincinya.

"Ibu! Lihat! Leo menggambar rumah kita!" panggil Leo antusias, menyodorkan kertas gambarnya.

Di atas kertas itu, terlukis gambar sederhana sebuah rumah besar dengan lima figur manusia bertangan garis: seorang papa yang tinggi, seorang ibu berambut panjang yang tersenyum lebar, dua anak kecil yang bergandengan tangan, dan seorang bayi kecil di dalam boks. Di atas gambar itu, tertulis huruf-huruf cakar ayam milik Leo: "RUMAH IBU KIRANA".

Kirana berlutut di atas lantai teras, merengkuh Leo dan Maya ke dalam pelukannya. Air mata rasa syukur kembali menetes, membasahi pipi kedua anak itu. Takdir mungkin telah mempermainkan hidupnya lewat jalan penderitaan yang melilit. Takdir telah menyindir keangkuhan mereka, menjatuhkan mereka ke dalam jurang prasangka sebagai ibu tiri dan duda beranak dua.

Namun di ujung pertempuran emosi yang panjang ini, Kirana menyadari satu hal yang teramat agung: bahwa takdir tidak pernah berniat menghancurkannya. Takdir hanya sedang menuntunnya melewati neraka dunia untuk membuktikan bahwa cinta sejati seorang ibu tidak membutuhkan pertalian darah—ia hanya membutuhkan kedalaman jiwa yang rela berkorban tanpa batas.

Aris ikut berlutut di samping Kirana, melingkarkan lengan kokohnya memeluk istri dan ketiga anak mereka. Di bawah naungan langit sore yang damai, bahtera rumah tangga yang dahulu dingin dan penuh penolakan itu kini telah menjelma menjadi sebuah istana ketulusan yang tak tergoyahkan oleh angin apa pun.

Pernikahan ini telah memenangkan pertaruhan terbesarnya. Dan Kirana, sang ibu tiri yang dahulu dipandang sebelah mata, kini telah menegakkan mahkota ketabahan di atas takhta cinta yang abadi.

#halo guys, masih ada kelanjutannya loh, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, ada karya baruku juga yang ngga kalah seru juga loh, judulnya Aku tak salah, jangan lupa dibaca dan pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!