Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Senja di Alun-Alun Sidoarjo dan Sepiring Tahu Pentol Pelipur Lara
Matahari perlahan bergeser ke barat, merendah di ufuk langit kota Sidoarjo memancarkan bias cahaya jingga kemerahan yang memukau. Suhu udara yang tadinya menyengat di siang hari kini mulai melunak, berganti dengan hembusan angin sore yang sejuk dan menyegarkan kulit. Di sepanjang jalanan kota, lampu-lampu penerangan jalan mulai bersiap menyala, menyambut datangnya malam yang tenang setelah seharian penuh kesibukan aktivitas industri.
Di dalam kabin sedan hitam mewah milik perusahaan Vanesha Group, suasana terasa jauh lebih santai dibandingkan ketegangan rapat tadi pagi di pabrik cabang. Dika duduk di balik kemudi dengan tangan kiri memegang setir, sementara tangan kanannya dengan lincah memutar kunci kontak radio mobil untuk mencari stasiun yang memutarkan lagu-lagu pop romantis lawas. Di sebelah kursi kemudi, Vanesha menyandarkan punggungnya dengan nyaman, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap pemandangan kota Sidoarjo yang lewat di balik jendela kaca mobil.
"Kamu beneran mau ngajak saya mampir ke pinggir jalan buat makan jajanan kaki lima?" tanya Vanesha dengan sebelah alis terangkat, memecah keheningan kecil di dalam mobil. Meskipun nadanya terdengar seperti meragukan, tidak ada kilatan galak di matanya — yang ada justru secercah rasa penasaran yang tersembunyi di balik senyum tipisnya.
Dika melirik sekilas ke arah bos cantiknya itu dari kaca spion, lalu tersenyum lebar hingga menampakkan deretan giginya yang rapi. "Jangan pandang sebelah mata jajanan kaki lima Sidoarjo, Nona Bos!" jawab Dika dengan penuh percaya diri. "Kuliner pinggir jalan itu adalah mahakarya seni kuliner rakyat jelata yang rasanya sanggup mengguncang dunia perkopian dan permakanan internasional. Dijamin lidah bangsawan Nona Bos bakal ketagihan."
"Bisa aja kamu kalau ngeles," ucap Vanesha pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Asal jangan bikin saya keracunan makanan aja sebelum laporan keuangan bulanan disetujui dewan direksi."
"Tenang saja, Kapten!" jawab Dika mantap. "Sebagai pengawal pribadi sekaligus pemandu wisata kuliner dadakan, keselamatan dan kesehatan perut Nona Bos adalah tanggung jawab moral saya yang paling utama."
Tak lama kemudian, sedan hitam itu berbelok perlahan memasuki area parkir yang tidak jauh dari kawasan Alun-Alun Sidoarjo. Suasana sore di sekitar alun-alun tampak cukup ramai oleh warga lokal yang sedang bersantai, pedagang kaki lima yang menata gerobak dagangan mereka, serta anak-anak kecil berlarian gembira mengejar balon udara warna-warni. Dika mematikan mesin mobil, merapikan kerah seragam satpamnya sebentar, lalu keluar dan berputar untuk membukakan pintu bagi Vanesha.
"Silakan turun, Nona Bos," ucap Dika sambil membungkuk kecil dengan gaya formal yang dibuat-buat.
Vanesha melangkah keluar dari mobil, merapikan blazer abu-abunya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling alun-alun. "Ramai juga ya sore-sore begini," ucap Vanesha pelan, menikmati angin sore yang menerpa helaian rambut ikalnya.
"Jelas ramai, karena daya tarik magnet keramaian di sini bersaing ketat sama pesona saya," jawab Dika tanpa tahu malu, berjalan di samping Vanesha sambil memandu jalan menuju sebuah gerobak sederhana berkanopi biru di bawah pohon rindang.
Gerobak tersebut bertuliskan Tahu Pentol Legendaris Pak Kumis. Di sekitarnya, beberapa orang pembeli tampak duduk di kursi plastik kecil menunggu pesanan mereka disajikan. Aroma kaldu gurih bercampur aroma bawang putih goreng yang harum langsung menguar begitu mereka mendekat.
"Nah, ini dia istana kuliner kita sore ini!" seru Dika bangga sambil menunjuk gerobak tersebut. "Pak Kumis! Pesan dua porsi spesial, kuahnya dipisah, sambalnya yang banyak biar membara kayak semangat kerja kita!"
Seorang pria paruh baya berambut ikal dan berkumis tebal menoleh sambil tersenyum ramah. "Siap, komandan! Duduk dulu di sebelah sana, sebentar lagi siap!" jawab Pak Kumis sigap.
Dika dan Vanesha lantas duduk di bangku panjang berbahan plastik di dekat gerobak tersebut. Bagi Vanesha, tempat ini sangat kontras dengan restoran-restoran mewah berbintang lima tempat biasa dia menyantap makan malam bisnis bersama para kolega korporat. Namun, justru kesederhanaan tempat itu memberikan sensasi kebebasan yang sudah lama tidak dia rasakan di tengah kerasnya tekanan dunia bisnis.
"Kamu sering nongkrong di tempat kayak gini?" tanya Vanesha penasaran, melirik sekeliling sambil memperhatikan cara Pak Kumis meracik bumbu di mangkuk.
"Sering dong," jawab Dika santai sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Kalau lagi penat mikirin aturan kantor, atau pas lagi pengen nyari ketenangan jiwa, nongkrong di pinggir alun-alun sambil makan tahu pentol hangat itu obat paling mujarab sedunia. Nggak perlu bayar mahal buat bahagia, yang penting kebersamaannya."
Vanesha terdiam sejenak, meresapi setiap kata yang diucapkan oleh pria di hadapannya itu. Ada kejujuran dan ketulusan yang terpancar dari mata Dika — kesederhanaan yang membuat dinding pertahanan dingin sang CEO perlahan-lahan runtuh tanpa sisa.
Tak lama kemudian, dua mangkuk porselen berisi tahu pentol hangat dengan kuah kaldu bening dan taburan seledri serta bawang goreng tersaji di atas meja. Di sebelah mangkuk, terdapat piring kecil berisi saus sambal merah menyala.
"Silakan dicicipi, Nona Bos. Hati-hati kepedasan, nanti air matanya meleleh bukan karena sedih, tapi karena kepengen nambah lagi," ucap Dika sambil menyodorkan sendok bersih.
Vanesha mengambil sendok, menyeruput sedikit kuah kaldunya yang masih mengepul. Matanya mengerjap perlahan, merasakan gurihnya kaldu sapi berpadu sempurna dengan rempah-rempah tradisional yang hangat di lidah. "Hmm... enak," ucap Vanesha tulus, membuat Dika tersenyum lebar penuh kemenangan.
"Kan apa saya bilang! Lidah tidak bisa bohong," ucap Dika bangga, lalu mulai melahap makanannya dengan lahap.
Sore itu berlalu dengan penuh tawa dan obrolan ringan di bawah temaram lampu alun-alun Sidoarjo. Mereka berdua makan berdampingan, saling melempar candaan konyol yang membuat Vanesha berkali-kali tertawa lepas tanpa memperhitungkan jabatannya sebagai pimpinan tertinggi perusahaan.
Setelah selesai makan dan membayar pesanan, mereka berjalan santai menyusuri trotoar alun-alun yang mulai diterangi lampu kota. Angin malam berhembus lembut, membawa ketenangan yang meresap ke dalam dada.
Vanesha berhenti sejenak di dekat pagar taman, menatap ke arah kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan. "Terima kasih, Dika," ucap Vanesha pelan, suaranya terdengar sangat lembut, nyaris tenggelam oleh suara riuh rendah kendaraan di jalan raya. "Hari ini... benar-benar melelahkan sekaligus menyenangkan. Saya nggak nyangka bisa ketawa lepas kayak tadi."
Dika ikut berhenti, berdiri tepat di samping Vanesha dengan jarak yang begitu dekat. Sorot mata pria itu berubah menjadi teduh, menatap wanita di sampingnya dengan penuh kekaguman. "Sama-sama, Nona Bos. Tugas saya kan bukan cuma jagain pintu gerbang atau nyetir mobil dinas... tapi juga mastiin kalau senyum itu nggak pernah hilang dari wajah Anda."
Vanesha menoleh, menatap lurus ke dalam mata Dika. Jantung mereka berdegup dalam keheningan sesaat, di mana ribuan kata seolah terucap tanpa perlu suara. Perlahan, tangan Vanesha terulur, meraih jemari Dika dan menggenggamnya erat di tengah dinginnya udara malam Sidoarjo.
"Mulai sekarang... jangan panggil saya Nona Bos lagi kalau kita lagi berdua begini," ucap Vanesha malu-malu, pipinya sedikit merona kemerahan tertimpa cahaya lampu jalan. "Panggil nama saya saja... Vanesha."
Dika tertegun sejenak, lalu senyum paling tulus terkembang di wajahnya. Balasan genggaman tangan itu mengalirkan kehangatan yang luar biasa di antara mereka berdua.
"Baik... Vanesha," jawab Dika lembut.
Di bawah langit malam Sidoarjo yang bertabur bintang tipis, babak baru dari perjalanan hidup mereka resmi terukir — bukan lagi sekadar kisah antara pengawal dan bosnya, melainkan dua hati yang menemukan rumah di tempat yang paling tak terduga.