Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.
Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.
Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.
Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.
Sementara Utara tetap mengingatnya.
Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: PERANG PUN DI MULAI
Feng Yao kembali mengunci tenaga dalamnya. Perlahan ia membuka mata.
Ia tersenyum melihat kemampuannya meningkat.
Namun ketika melihat sekeliling, senyumnya sedikit berubah.
Pohon-pohon sudah rata.
Di depannya bahkan terdapat sebuah kawah besar.
Ia mengibaskan bajunya yang terkena debu.
Zhuin masih menatap tidak percaya.
Apa benar itu Utara yang ia kenal?
Dia baru sebentar berlatih kultivasi, tapi tenaga dalamnya sudah cukup besar untuk meratakan hutan.
Feng Yao berputar.
Di belakangnya, ia melihat Zhuin sudah bersandar di sebuah pohon yang masih tersisa.
Zhuin tersenyum.
Plok... plok... plok...
Suara tepuk tangan terdengar.
Feng Yao langsung bersemu merah.
“Zhuin...”
Zhuin mendekati Feng Yao.
“Kau hebat, Utara. Kemajuanmu pesat.”
Feng Yao tersipu.
“Aku hanya berlatih.”
“Iya, kau memang berlatih. Sampai meratakan sebagian hutan.”
“Zhuin...”
“Lihat apa yang sudah kau lakukan.”
Zhuin memutar tubuh Feng Yao.
“Pohon tumbang, para Penjaga pingsan.”
Feng Yao terdiam melihat sekeliling.
Ia baru menyadari akibat dari latihannya.
“Eh...”
“Ehmm... kau lihat kan?” goda Zhuin.
“Zhuin... aku hanya berlatih. Aku tidak berniat melukai Penjaga,” protes Feng Yao.
Zhuin tertawa sambil mengacak rambut Feng Yao.
“Aku tahu... aku tahu...”
Lalu ia memeluk Feng Yao.
“Sekarang cukup berbuat kerusakan. Kita pulang.”
Saat perjalanan menuju Istana Putih, tiba-tiba terdengar suara menggelegar cukup keras dari langit.
DUARRR!
Kilat semakin menyambar-nyambar.
Langit terlihat seperti terbelah.
Zhuin dan Feng Yao langsung menoleh ke atas.
“Gawat.”
“Zhuin...”
Di Istana Agharta, Master Yao mengerutkan kening.
Ia mengangkat tongkat kristal cahaya.
Cahaya biru menyebar ke seluruh penjuru Agharta.
Para Penjaga yang melihatnya langsung terkejut.
Mereka segera bersiap menuju medan pertempuran.
Master Yao menatap ke arah langit.
“Zhuin... waktunya sudah tiba.”
“Iya... Utara.”
Zhuin menatap langit dengan wajah serius.
“Lebih cepat daripada yang aku kira.”
................
POV ATLANTIS
Pasukan Atlantis melihat tanda yang sama.
Langit bergemuruh. Kilat keemasan menyambar-nyambar.
Pemimpin Atlantis tersenyum.
“Sudah waktunya.”
“Benar, Paduka. Pasukan sudah siap.”
“Bagus.”
Ia menatap ke arah langit.
“Agharta akhirnya bisa kita taklukkan.”
" Kita berangkat sekarang, menuju medan pertempuran. "
Atlantis pun dengan cepat terbang menuju Agharta.
Mereka tersenyum penuh kepercayaan diri.
Mereka tidak memandang Agharta sebagai peradaban yang seharusnya mereka hormati.
Bagi mereka, Agharta hanyalah sesuatu yang harus ditaklukkan.
Atlantis ingin menjadi pihak yang berkuasa.
Pertempuran pun terjadi antara Agharta dan Atlantis.
Bumi bergejolak.
“Utara, kita harus ke tempat pertempuran. Sekarang tidak ada waktu lagi.”
“Baik, Zhuin.”
Mereka berdua terbang menuju medan pertempuran.
Sampai di sana, kondisi sudah chaos.
Pertempuran terjadi sangat sengit.
Tiba-tiba
Langit terbelah.
Sinar menyilaukan menerpa bumi, pasukan Langit turun bergelombang, dipimpin oleh Azazil.
“Azazil... kau datang juga,” desis Zhuin.
“Azazil!” teriak Utara.
Azazil hanya tersenyum tipis. Ada sedikit rasa bangga di dalam hatinya.
Namun kontras dengan Zhuin yang justru semakin khawatir. Ia menatap pasukan Langit yang mulai turun.
Azazil akan membantai siapa?
Kawan atau lawan?
Pertarungan semakin tak terkendali.
Banyak Penjaga tewas dari pihak Agharta.
Namun ternyata Pasukan Langit juga menyapu hampir sebagian pasukan Atlantis dan Agharta.
Zhuin yang melihatnya mulai kehilangan kendali.
Ia tiba-tiba menyerang Azazil.
“Azazil! Apa maksud semua ini? Kau hampir membinasakan para Penjaga!”
“Zhuin, aku hanya menjalankan perintah.”
“Kau... mau menghabisi bangsamu sendiri, Azazil?”
Zhuin menatapnya tidak percaya.