Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Tiga hari pascabencana gempa bumi yang menguncang kota, suasana di lorong VVIP Rumah Sakit Medika Mulia terasa begitu tenang dan eksklusif. Aroma harum bunga lili putih yang tertata rapi di vas sudut koridor menyambut langkah tiga siswi berseragam SMA Nusa Bangsa yang berjalan beriringan dengan raut wajah tegang.Hani, Aurel, dan Lana melangkah dengan ketakutan yang terpancar jelas dari mata mereka. Di tangan Lana, terikat erat sekeranjang buah-buahan segar ber pita merah oleh-oleh kompensasi rasa takut yang mereka persiapkan jauh-jauh hari sebelum menjenguk sang ratu sekolah.
"Duh, Hani... lu yakin kita harus masuk sekarang?" bisik Aurel dengan suara gemetaran, jemarinya meremas tali tas sekolahnya. "Lu tahu sendiri kan kemarin kita lari duluan pas gempa dan ninggalin dia kejebak di koridor? Pasti sekarang kita habis dimarahin, dibentak, atau malah diusir dari gengnya!"
Hani menghela napas berat, mencoba memberanikan diri meski dadanya berdegup kencang. "Mau gimana lagi, Rel? Kalau kita nggak datang menjenguk, amukannya bakal dua kali lipat pas dia masuk sekolah nanti. Kita pasrah aja deh, dengerin ocehan dan cerewetnya kayak biasa. Paling kita disuruh-suruh jadi babunya seminggu penuh buat bayar 'dosa' kita."
"Iya, lagian kata ortunya dia udah sadar dari dua hari lalu," timpal Lana pasrah. "Siap-siap mental aja, ya. Jangan ada yang membantah kalau dia mulai ngamuk."Dengan helaan napas panjang dan keberanian yang dipaksakan, Hani mengulurkan tangan, mendorong pintu jati tebal bertuliskan VVIP Suite 01.
*Klek.*
Sinar matahari sore menembus jendela kaca besar, membiaskan cahaya hangat di dalam ruangan yang luas dan berpendingin udara tersebut. Di atas tempat tidur bermaterial empuk, sosok gadis berparas cantik dengan rambut panjang terurai tampak sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal busa. Di tangannya, bertengger sebuah buku novel yang sedang ia baca dengan tenang.Ketiganya membeku di ambang pintu. Menahan napas, mereka bersiap menerima semburan makian atau lemparan barang yang biasanya menjadi sambutan hangat dari Lexa jika mood-nya sedang memburuk.Namun, detik demi detik berlalu dalam keheningan yang tak terduga.
Gadis di atas ranjang itu menoleh perlahan. Tidak ada kilatan amarah di matanya, tidak ada kerutan sombong di dahinya, dan tidak ada raut keangkuhan yang biasa menghiasi paras cantiknya. Sosok di atas ranjang itu yang tak lain adalah Maya di dalam raga Lexa menatap ketiga teman sekelasnya dengan binar mata yang begitu lembut dan bersahaja.Maya meletakkan novelnya pelan ke atas meja marmer, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat tulus.
"Hani? Aurel, Lana...?" panggil Maya dengan suara yang begitu halus, tenang, dan sejuk dipandang. "Kalian datang...?",Hani, Aurel, dan Lana saling pandang dengan mata membelalak lebar. Tubuh mereka mendadak kaku bagaikan patung. Mereka sudah menyiapkan telinga untuk mendengarkan amukan histeris tentang betapa tidak bergunanya mereka saat gempa kemarin, namun nada suara yang keluar justru bertolak belakang seratus delapan puluh derajat.Lana maju satu langkah dengan canggung, menyodorkan keranjang buah dengan tangan bergetar. "I-iya, Lex... Kita datang mau jenguk kamu. Emmm... maaf ya, Lex, waktu gempa kemarin kita..."
"Terima kasih banyak ya," potong nya lembut sebelum Lana selesai menyampaikan kalimat permohonan maafnya.Maya menerima keranjang buah itu dengan kedua tangannya, mengelusnya pelan, lalu mendongak menatap ketiga gadis di hadapannya dengan tatapan penuh rasa syukur. "Kalian sudah repot-repot datang dan bawa buah sebanyak ini untuk aku. Terima kasih ya, aku seneng banget kalian ingat sama aku."
*DEG.*
Keheningan yang membingungkan seketika melingkupi ruangan VVIP tersebut.Hani melangkah mundur setengah cengkram, mulutnya ternganga kecil. Aurel memegang dadanya yang berdebar, sementara Lana mengerjapkan matanya berulang kali, memastikan bahwa sosok yang duduk di hadapan mereka benar-benar manusia dan bukan hantu yang menyerupai ketua geng mereka.Tidak ada cerewet. Tidak ada bentakan. Tidak ada nada memerintah. Dan yang paling mustahil dari segalanya, seorang Lexa mengucapkan kata 'terima kasih' dengan tulus tanpa nada sarkasme sedikit pun!.Perubahan drastis hingga 90 derajat itu benar-benar merusak seluruh logika dan ekspektasi yang sudah mereka susun rapi di luar ruangan tadi.
"K-kamu... bilang apa tadi, Lex?" tanya Hani terbata-bata, memastikan pendengarannya tidak bermasalah. "Terima kasih...?".Maya tersenyum manis, mengangguk kecil. "Iya, terima kasih. Duduklah, jangan berdiri terus di sana. Di sofa ada camilan dari mama, kalian ambil saja ya, makan bareng-bareng."
Aurel menelan ludahnya dengan susah payah, lalu berbisik sangat pelan di belakang punggung Hani. "Han... ini beneran si Lexa kan? Kok... kok dia jadi malaikat begini? Mana bentakannya? Mana makiannya?!"
"Nggak tahu, Rel... Gue merinding asli!" bisik Hani balik dengan bulu kuduk berdiri. "Gaya bicaranya beda banget. Tutur katanya sopan banget kayak... kayak anak alim!"
Lana mendekat ke tepi ranjang, menatap wajah cantik itu dengan raut penuh kecurigaan sekaligus keheranan yang mendalam. "Lex... kepala kamu nggak apa-apa kan? Ada yang sakit atau hilang ingatan gitu?"
Maya tertawa kecil sebuah tawa renyah, bersahaja, dan tanpa beban keangkuhan yang biasanya melekat pada sosok sang ratu sekolah. "Aku enggak apa-apa kok. Cuma masih agak lemas aja. Maaf ya kalau buat kalian bingung." Ketiga gadis itu akhirnya duduk di sofa kulit dengan canggung, mengunyah kue dengan pikiran yang berkelana jauh. Sambil mencuri-curi pandang ke arah Maya yang kembali membaca bukunya dengan anggun dan tenang, Hani menyenggol lengan Aurel dan Lana.Mereka bertiga saling berbisik dalam diskusi rahasia di sudut ruangan.
"Fix sih ini..." bisik Lana dengan mata membelalak yakin. "Ini pasti gara-gara kepala dia terhimpit lemari tua pas gempa kemarin! Bagian otaknya yang suka marah-marah pasti ada yang ketekan atau kebentur parah!"
"Setuju gue," timpal Aurel mengangguk mantap. "Efek trauma benturan keras tuh emang bisa bikin kepribadian orang berubah total. Tapi... kalau berubahnya jadi baik dan ramah kayak begini, jujur gue lebih suka Lexa versi 'gegar otak' ini daripada Lexa yang dulu!"
"Iya juga sih," Hani menghela napas lega, merasakan beban ketakutan di dadanya terangkat sepenuhnya. "Gak ada lagi yang bakal bentak-bentak kita atau nyuruh-nyuruh hal aneh. Tapi asli, aneh banget liat dia tersenyum lembut begitu."
Dari atas ranjang mewahnya, Maya mencuri dengar bisik-bisik ketiga teman Lexa tersebut. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis dalam diam, menyimpan rahasia raksasa itu rapat-rapat di dalam dadanya. Ia memandangi tangannya yang halus, lalu menatap keluar jendela ke arah langit sore.
Di dalam raga sang penindas, jiwa Maya merasakan kedamaian dan kehangatan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya mentransformasi sosok ratu sekolah yang dulu ditakuti menjadi pribadi baru yang akan mengubah peta takdir di SMA Nusa Bangsa selamanya.