NovelToon NovelToon
The Ghost Agent: Red Revenge

The Ghost Agent: Red Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / CEO
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."

Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.

Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.

Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara Sipil yang Sempurna

Gerimis tipis membungkus kawasan pergudangan tua yang terbengkalai di pinggiran Jakarta Utara. Jalanan aspal di area ini berlubang, digenangi air keruh yang memantulkan pendar remang-remang dari lampu merkuri yang berkedip sekarat. Sunyi. Hanya suara desis rintik hujan dan gesekan wiper sedan hitam mewah milik Liam Jeren yang memecah keheningan pasca tengah malam itu.

Liam sengaja mengambil rute memutar setelah menghadiri pertemuan bisnis fiktif dengan salah satu vendor pelabuhan. Ia tahu betul, sejak tiga jam lalu, sebuah SUV abu-abu tanpa pelat nomor resmi terus membuntutinya dari jarak aman.

Tiba-tiba, dari arah persimpangan gelap di depan, sebuah truk boks berukuran sedang melaju memotong jalur, lalu berhenti melintang di tengah jalan.

Sreeek!

Liam menginjak pedal rem dengan dramatis. Sedan mewahnya berhenti hanya beberapa sentimeter dari badan truk. Belum sempat ia memindahkan tuas transmisi ke gigi mundur, SUV abu-abu yang mengikutinya sejak tadi sudah melesat maju, menutup jalan keluar di belakangnya.

Liam terjebak.

Pintu SUV di belakang terbuka kasar. Empat orang pria tegap bersetelan kasual melangkah keluar, dipimpin oleh seorang pria paruh baya yang melangkah dengan tenang tetapi mematikan. Itu adalah Leo. Tangan kanan Gaizka Wijaya itu berjalan mendekati kaca jendela kemudi Liam, sementara tangan kanannya tersembunyi di balik balik jaket kulitnya.

"Liam, empat orang bersenjata. Leo memegang Glock 17 di balik jaketnya," suara Belladona berdengung cepat di earphone mikro Liam, sarat akan ketegangan. "Gua bisa aktifin pelontar gas air mata darurat di bumper bawah mobil sekarang kalau lu mau bantai mereka."

"Jangan," bisik Liam, nyaris tak menggerakkan bibir. "Matikan interkom. Aktifkan mode rekam."

Liam menarik napas dalam-dalam. Dalam hitungan detik, ia menurunkan seluruh ketegangan otot tempur miliknya. Sepasang mata elangnya yang biasanya tajam dan sedingin es mendadak melebar, memancarkan kepanikan yang riil. Ia sengaja membuat napasnya memburu kencang. Ketika Leo mengetuk kaca jendela dengan ujung laras pistol hitamnya, Liam berpura-pura terlonjak kaget hingga kacamata titaniumnya sedikit merosot di hidung.

Liam menurunkan kaca mobilnya beberapa sentimeter dengan tangan yang sengaja ia buat gemetar hebat.

"K-Kalian siapa?! Apa yang kalian mau?!" suara Liam naik satu oktav, terdengar cempreng, panik, dan pecah, persis seperti suara seorang anak muda kaya raya yang dunianya baru saja runtuh karena ditodong penjahat jalanan. "Uang? Mobil? Ambil saja! Di dompetku ada kartu kredit tanpa limit, ambil semua! Tolong jangan tembak aku!"

Leo menatap Liam dari balik celah kaca jendela yang terbuka. Sepasang mata rubahnya menyipit tajam, memindai setiap jengkal ekspresi di wajah pualam tampan tersebut. Ia sedang mencari kejanggalan. Ia sedang menunggu insting bertarung seorang agen elit bergejolak di dalam tubuh pria muda ini.

"Turun dari mobilmu sekarang, Tuan Jeren," perintah Leo, suaranya sedingin malam.

"I-Iya, iya! Aku turun! Tapi jangan kasar!" Liam membuka pintu mobil dengan gerakan yang kikuk. Saat melangkah keluar, kakinya sengaja tersangkut di ambang pintu, membuatnya tersandung dan jatuh berlutut di atas aspal yang basah dan kotor. Lutut celana kain mahalnya seketika basah oleh air genangan, menodai penampilannya yang biasanya klimis.

Dua anak buah Leo langsung mencengkeram kedua pundak Liam, lalu mengangkatnya berdiri dengan kasar dan menekannya ke kap mesin mobil yang masih panas. Liam meringis, tubuhnya dibuat lemas tanpa perlawanan, seolah ia tidak memiliki struktur otot terlatih sama sekali.

Leo melangkah mendekat, memutar tubuh Liam agar menghadap ke arahnya. Ujung laras Glock 17 yang dingin mendarat tepat di bawah dagu Liam, memaksa pemuda itu mendongak.

"Siapa kau sebenarnya ?" desis Leo, mendekatkan wajahnya. Bau tembakau murah dari napas Leo menerpa wajah Liam. "Jangan main-main denganku. Latar belakangmu di Panama terlalu rapi. Dan setiap kali kamu muncul, bisnis Wijaya Group selalu tertimpa sial. Kapal senjata kami meledak semalam setelah kamu makan malam di rumah Tuan Gaizka. Kebetulan yang terlalu indah, bukan?"

Air mata buatan hasil dari tekanan kelenjar mata yang sengaja Liam picu lewat teknik pernapasan khusus mulai menggenang di sudut mata Liam. Wajah tampannya tampak pucat pasi di bawah siraman gerimis.

"A-Aku gak tahu apa yang kamu bicarakan!" ratap Liam, suaranya bergetar hebat karena ketakutan yang tampak begitu orisinal. "Kapal apa?! Senjata apa?! Aku ini investor! Aku datang ke Jakarta karena Gaizka Wijaya menjanjikan keuntungan besar di proyek reklamasi! Kalau tahu bisnis kalian berbahaya dan berurusan dengan mafia seperti ini, aku tidak akan pernah sudi menginjakkan kaki di negara ini!"

Liam meronta kecil, mencoba melepaskan cengkeraman di pundaknya tapi gagal karena ia sengaja melemaskan ototnya. "Bella... Bella yang mengundangku! Tanya pada Bella! Ayahmu—maksudku bosmu, Tuan Gaizka, dia tahu siapa aku! Aku punya pengacara internasional, kalau sampai seujung rambutku terluka, Jeren Corp akan menarik seluruh modal di bursa saham dan menghancurkan nama Wijaya Group!"

Ancaman itu terdengar begitu kekanak-kanakan, khas dari seorang anak orang kaya yang hanya bisa berlindung di balik nama besar perusahaannya dan koneksi hukum.

Leo menatap lurus ke dalam manik mata Liam selama beberapa puluh detik yang terasa seperti keabadian. Di dalam sana, Leo tidak menemukan kilatan dingin seorang pembunuh berdarah dingin. Ia tidak melihat ketenangan seorang agen rahasia. Yang ia temukan hanyalah horor nyata, keputusasaan, dan kelemahan seorang warga sipil borjuis yang ketakutan setengah mati menghadapi moncong senjata.

Salah satu anak buah Leo yang sejak tadi memeriksa isi mobil Liam melangkah mendekat. "Leo, mobilnya bersih. Hanya ada dokumen draf investasi, laptop bisnis, dan beberapa botol parfum mahal. Tidak ada senjata atau alat komunikasi terenkripsi."

Leo perlahan menurunkan laras pistolnya dari dagu Liam. Ia mendengus kasar, memalingkan wajahnya dengan ekspresi kecewa yang campur aduk. Apa instingku salah? batin Leo geram. Pria di depannya ini terlalu rapuh, terlalu manja untuk menjadi hantu yang meledakkan kapal kargo Gorgon Star semalam. Seorang agen elit tidak akan menangis dan tersandung kakinya sendiri hanya karena ditodong senjata.

"Dengar baik-baik, Anak Manja," Leo mencengkeram kerah kemeja hitam Liam, lalu menariknya mendekat hingga kancing atasnya terlepas. "Tetaplah menjadi investor yang patuh. Jangan pernah mencoba mengendus urusan internal Wijaya Group jika kamu masih ingin menikmati uangmu di Eropa."

Leo menghempaskan tubuh Liam kembali ke kap mobil, lalu berbalik arah. "Kita pergi," perintahnya pada anak buahnya.

Dalam hitungan detik, empat orang itu masuk kembali ke dalam SUV mereka, memutar arah dengan kasar, dan melesat pergi menembus tirai hujan malam, disusul oleh truk boks yang membuka jalan di depan. Jalanan pergudangan itu kembali sepi, hanya menyisakan deru angin malam yang dingin.

Liam tetap bertahan dalam posisinya di atas kap mesin selama beberapa saat, memastikan lampu belakang SUV Leo benar-benar lenyap di ujung persimpangan.

Begitu suasana benar-benar aman, transformasi mengerikan pun terjadi.

Isak tangis dan getaran di tubuh Liam berhenti seketika, menguap seperti embun yang terkena api. Liam menegakkan punggungnya perlahan. Ia mengambil kacamata titaniumnya yang miring, membenarkan posisinya dengan satu sentuhan jari yang sangat stabil tanpa ada riak gemetar sedikit pun. Sepasang matanya yang tadinya dipenuhi ketakutan instan menggelap, kembali memancarkan kegelapan seketika yang dingin dan mematikan.

Ia mengusap sisa air di pipinya dengan ujung lengan kemeja, lalu tersenyum tipis, sebuah seringai kejam yang terukir begitu sempurna di wajah barunya.

Liam meraba saku celananya, mengambil gawai taktis yang menyala, mengaktifkan kembali jalur komunikasi bawah tanahnya. "Dona, Apa hasil rekamannya jernih?"

Suara Belladona terdengar kembali di telinganya, kali ini diiringi suara tepuk tangan pelan yang kagum. "Gua harus akuin, akting lu barusan layak dapet piala Oscar, Liam. Leo bener-bener kemakan sama sandiwara lu. Dia sekarang udah yakin kalau lu cuma CEO penakut yang kebetulan kaya raya."

"Dia mengira dirinya adalah pemburu yang sedang menguji mangsanya," Liam melangkah kembali masuk ke dalam kabin mobilnya yang hangat, menutup pintu dengan bunyi debum yang mantap. Ia menatap pantulan dirinya di spion tengah, merapikan kerah kemejanya yang sempat dikoyak Leo. "Dia tidak tahu, dengan menyergapku malam ini... dia baru saja memberikan alasan terbaik bagiku untuk menghancurkan hidupnya besok pagi."

Liam memindahkan tuas transmisi, memacu sedan hitamnya membelah gerimis menuju jalan tol. Rubah tua bernama Leo itu baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya dengan membiarkan Shadow tetap bernapas, dan sekarang, giliran Liam lah yang akan meminjam tangan Gaizka Wijaya untuk mematahkan leher tangan kanannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!