Aku mulai tertarik dengan sosok wanita yang duduk disebelah ku dibangku delapan delapan C dalam penerbangan pesawat Jakarta ke Makassar. Dia duduk diam, mengunakan baju serba hitam, sepintas ku melihat ada air mata yang membasahi pipinya. Hatiku mulai ibah, siapa kamu manis, ingin rasanya aku mau menenangkanmu.
Ini perasaan yang dirasakan oleh Kapten Marinir Martinus Revelino. Yang sedang dalam perjalanan menuju tempat tugas baru di Papua. Saat ini dia ditugaskan sebagai Komandan Intel pada kesatuan angkatan laut di Papua.
Dalam penerbangan ini, dia bertemu dengan Gracia Natasya, seorang apoteker yang harus kembali ke papua karena duka yang dia alami.
Apakah Ino dan Cia bisa menjalin hubungan cinta??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang
Sudah tiga hari pencarian. Dan sudah tiga hari mereka berempat bertahan di pulau terpencil. Syukurnya salah satu rekan mereka yang pingsan sudah sadar dan sedikit pulih. Sekarang mereka sedang berpikir bagaimana bisa bertahan hidup.
Letnan Kolonel Laut (Marinir) Martinus Revelino Rehata yang usianya masih muda di antara mereka berempat. Dia harus kuat agar ke tiga rekannya juga kuat. Jiwa anak timur yang mengalir di dalam tubuh lewat darahnya membuat dia seperti bolang. Dia menyelam untuk menangkap ikan. Dan mereka bersyukur posisi mereka ada di dalam teluk yang tidak jauh dari lautan luas. Cuaca yang tidak baik membuat arus laut dan gelombang sangat tinggi. Terlihat sekali waktu ombak memecah tebing teluk.
Pencarian terus di kerahkan, belum juga ada tanda- tanda mereka berempat bisa di temukan. Malam bertemu, dan kembali siang, kembali lagi malam seterusnya sampai sudah seminggu mereka belum di temukan. Signal yang melemah itu sudah menghilang. Hanya itu satu - satunya tanda bagi Komandan mereka di kapal induk. Ino dan ketiga rekannya adalah perwira terbaik, lulusan terbaik akademik militer pada angkatan mereka masing - masing, namun nasib mereka tidak tahu bagaimana.
Sampai hari ke empat belas, ketika nelayan negara tetangga datang berteduh di pulau itu. Ino yang pintar bahasa tagalog akhirnya bisa menolong mereka. Lewat kapal mereka Ino mengirim kode morse kepada kapal induk yang sudah mulai putus asa mencari keempat perwira mereka.
Sementara itu Cia belum tahu, kondisi suaminya. Dari kesatuan hanya memberitahu kondisi lapangan kepada orangtua Ino. Setiap hari mami dan papi harus bermain drama di depan menantu yang sedang hamil dan cucu laki - laki mereka. Setiap malam mami berdoa dan menangis di kamar, namun ketika keluar kamar dia bertindak seolah - olah tidak ada masalah. Seperti pagi ini, di hari ke empat belas Ino belum di temukan dengan ketiga rekannya.
"Sayang bagaimana keadaan mu."
"Baik mami."
"Nuel selalu jaga mami oma."
"Cucu oma hebat. Terima kasih ya sayang."
"Nuel harus jaga mami, ini tugas papi sampai papi pulang."
Hati omanya seperti tertusuk tombak, seperti tertembak senjata. Air matanya jatuh mendengar kata itu Sampai papi pulang.
"Oma kenapa oma menangis."
"Oma terharu lihat cucunya pintar. Iya kan oma."
"Iya opa, cucu kita pintar, sangat pintar."
Berbicara dengan cucunya tetapi doanya terus di panjatkan kepada Tuhan memohon perlindungan kepada anak laki - laki mereka agar bisa kembali ke rumah ini dengan selamat dan bisa bertemu dengan istri dan anak mereka. Cia sedikit curiga, namun kembali hilang kecurigaan itu ketika papi meyakinkan kata - kata mereka.
Sementara kapal induk bergerak ke arah yang di kirim. Kapal - kapal karet di kerahkan dan mereka harus mengecek delapan pulau kecil dengan teluknya, sampai mereka menemukan ke empat rekannya. Tiga rekannya Ino sudah tidak bisa bertahan , mengalami dehidrasi yang hebat. Mereka berempat langsung di evakuasi ke kapal induk. Ino mengucapkan terima kasih kepada nelayan negara tetangga yang mau meminjamkan navigator kapal nelayan mereka. Kecil ukuran kapalnya namun alat navigasinya lengkap dan canggih.
Berita penemuan empat perwira angkatan laut sudah sampai di Jakarta. Dan sekarang helikopter sedang mengevakuasi mereka ke kota Manado untuk mendapat pertolongan.
"Puji Tuhan."
"Kenapa pi."
"Ino sudah di temukan."
"Puji Tuhan."
"Ino kenapa pi, ditemukan."
Papa mertua Cia lalu menjelaskan apa yang terjadi. Dan akhirnya Gracia Anastasya ibu hamil itu baru tahu bahwa suaminya hilang empat belas hari saat menjalankan tugas. Cia lemas, namun kembali di jelaskan bahwa Ino sudah ada di Manado sedang di rawat. Ada suara panggilan telepon di handphone mertuanya Cia. Ternyata dari komandan Ino. Dan saat itu Cia bisa melihat suaminya.
"Sayang....."
"Mas........ Adek takut. Adek besok berangkat ya."
"Ngak sayang. Besok mas berangkat ke Jakarta pagi. Adek tunggu di Jakarta saja."
Ternyata yang bertugas mengantar Ino dan ketiga rekannya adalah Letnan Kolonel Laut Fransiska Theo. Setiap ada kesempatan Siska berusaha mau membantu Ino, namun ditolak dengan halus.
"Aku mau membantu beb."
"Kamu siapa."
"Please Ino."
"Terima kasih, aku masih kuat. Kamu harus ingat aku ini mempunyai istri dan anak."
Dalam penerbangan, Siska tidak punya akses mendekati Ino, karena tidak diberi kesempatan olehnya.
Penerbangan dua jam Ino dan ketiga rekannya tiba di Jakarta. Ambulans yang bertugas menjemput langsung merapat di badan pesawat. Ino dan rekan- rekannya yang di utamakan. Istri dari anggota tentara yang hilang, Ino dan rekan - rekan bukan hanya di jemput oleh kesatuan mereka namun keluarga mereka juga. Kondisi Ino tidak begitu parah, yang parah itu ketiga rekannya. Mereka langsung dilarikan bersama ambulans.
Cia sudah berada di dalam ambulans bersama suaminya. Matanya bengkak, Ino tahu bahwa Cia istrinya menangis terus. Apalagi saat melihat berat badan Ino yang turun dratis.
"Sayang, mas baik - baik saja." Cia hanya menganggukan kepalanya. Ino mengusap tangan Cia dan mencium tangan itu. Sebenarnya ingin sekali mencium bibir istrinya, namun di dalam ambulans ini ada tenaga medis juga.
Sampai di IGD ( Instalasi Gawat Darurat) rumah sakit tentara, pemeriksaan intensif di lakukan. Di rumah sakit itu juga sudah ada orangtua Ino, kakaknya dan Nuel anaknya. Akhirnya Nuel yang tiga tahun usianya jadi tahu sedikit apa yang di alami papinya.
"Mami.... Papi....."
"Papi baik - baik saja sayang, sementara di periksa. Sebentar kita akan bertemu papi."
"Kakak takut mami." Cia langsung memeluk anak bujangnya. Karena saat ini Cia sedang berbadan dua jadi dia tidak bisa mengendong Nuel anaknya. Mamim yang mengendongnya. Karena Opa sedang sibuk dalam pemeriksaan anak laki - lakinya setelah di ijinkan oleh dokter di rumah sakit ini.
Nuel sedang memeluk papinya, di ruangan rawat VIP. Dia ketakutan. Karena ruangan kecil, Nuel bersama mami, dan usi kakaknya Ino pulang. Papi dan Cia istri Ino yang menjaga. Ada juga anggota yang berjaga di luar.
Cia tidur sekasur dengan Ino, atas keinginan suaminya. Meskipun di larang, karena itu ranjang pasien, namun pasien yang satu ini menginginkannya.
"Bagaimana kabar calon anak kedua kita sayang."
"Kandung adek baik mas. Di jaga ketat oleh usi."
"Puji Tuhan.... Sayang, I love you."
"Love you more mas."
Hanya semalam Ino dirawat, pagi jam sepuluh Ino di ijinkan pulang. Berbeda dengan ketiga rekannya yang masih menerim perawatan intensif.
Cia senang sekali, karena Ino bisa di rawat di rumah. Begitu juga orangtua, usi kakaknya dan juga Nuel. Semua masakan yang di masak Cia bersama dengan mertuanya adalah semua yang sehat dan dari bahan - bahannya organik.
Peristiwa yang di alami Ino ini, juga didengar oleh om dan tante Cia yang berada di Papua. Dan mereka terus mendoakannya, agar keberadaannya di ketahui.
Satu bulan, Ino istirahat di rumah. Dan berat badannya sudah kembali. Empat belas hari di tempat asing makan seadaanya dibagi empat. Untung Ino perna melewati masa itu. Pada saat pelatihan menjadi pasukan khusus marinir. Namun tidak selama waktu dia hilang kontak dari pasukan inti.