NovelToon NovelToon
IBU TIRI LUAR BIASA

IBU TIRI LUAR BIASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda / Cinta Murni
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.

Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.

Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’

Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEMAN YANG SEPERTI KELUARGA

Ruangan kepala sekolah itu mendadak hening setelah Bu Amel menutup pintu, menyisakan suara detik jam dinding dan teriakan riang anak-anak di di dalam kelas.

Bu Wati mengetukkan pulpennya pelan ke meja. Pandangannya tak lepas dari Sutami dan Dara yang duduk dipangkuannya.

"Bu Tami," ucap Bu Wati pelan, rendah, penuh kehatia-hatian. "Kami tidak menuntut penjelasan soal pernikahan. Itu hak pribadi Ibu, tapi jujur kami kecewa."

Bu Wati menjeda, disambut dengan anggukan Bu Ria wali kelas B2 dan Bu Amel, staf tata usaha. "Delapan tahun kita bersama di TK Pasti Ceria. Dari mulai Ibu masih guru magang, sampai sekarang jadi wali kelas B1."

Bu Wati menghela napas lagi, "Lalu tiba-tiba Bu Tami menikah tanpa mengabarkannya."

Bu Amel mengangguk cepat. "Benar. Kita bertemu setiap hari, bekerja bersama setiap hari, kupikir kita ini keluarga... ternyata hanya kita yang kege-er-an ya, Bu!" sindirnya.

"Apa kami tidak sepantas itu untuk diberi tahu? Apa pernikahan Ibu memalukan sampai harus disembunyikan dari kami?" tuntut Bu Wati.

Bu Ria ikut menimpali, kali ini dengan suara bergetar menahan marah. "Atau jangan-jangan kami dianggap tidak penting, Bu? Dulu tiap ada acara, Ibu yang paling depan bantu dekorasi. Sekarang giliran acara Ibu, kami bahkan tidak dapat undangan. Pahit, Bu. Jujur, saya sakit hati."

Setiap kalimat terdengar jatuh menghantam Sutami, membuat punggungnya semakin membungkuk. Tangan kanannya mengusap-usap punggung Dara yang masih duduk diam di pangkuannya.

Sutami menarik napas dalam. Matanya panas sebab air mata yang ulai menggenang, tapi ia menahannya. "Bu Wati, Bu Amel, Bu Ria... saya minta maaf," kata Sutami lirih dan bergetar. "Saya minta maaf karena membuat kalian merasa dikhianati."

Sutami mengangkat wajahnya sebentar, lalu kembali menunduk. "Sebenarnya... bukan karena saya tidak ingin mengundang, juga bukan karena saya malu."

Ucapan Sutami kembali terjeda. Dalam hatinya, Sutami menjerit bingung. 'Bagaimana aku menjelaskan bahwa ini bukan pernikahan karena cinta? Bahwa ini pernikahan karena utang? Bahwa aku bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan pesta atau undangan!'

Tapi ia tidak bisa mengucapkannya, meski ia sadar dua seniornya menatap ke arahnya, menunggu penjelasan yang utuh dari Sutami.

"Keadaannya mendadak sekali, Bu," lanjut Sutami dengan suara semakin bergetar. "Keluarga suami saya sedang ada masalah besar. Dan... dan pernikahan ini harus segera dilaksanakan demi kebaikan anak ini." Ia memeluk Dara lebih erat.

"Alasan itu tidak cukup, Bu Tami," potong Bu Amel. "Masalah sebesar apa pun, teman tetaplah teman."

"Saya tahu," bisik Sutami. Air matanya akhirnya jatuh setetes. "Saya takut kalau cerita, kalian akan menghakimi. Saya takut kehilangan pekerjaan ini, saya takut kehilangan satu-satunya tempat yang... saya...." Sutami memeluk Dara, berusaha sekuat tenaga agar tangisnya tak pecah.

Dara pun menoleh, mendongak menatap wajah Sutami. Ia mengangkat tangan kecilnya dan mengusap pipi Sutami yang basah. "Jangan nangis, Bu..." bisik Dara pelan.

Kalimat polos itu membuat dada Sutami semakin sesak.

Bu Wati memejamkan mata sejenak. Tanpa ia sadari ia merasa bersalah karena terlalu menekan rekannya. Ia beringsut dari kursinya, lalu duduk di samping Sutami. "Maafkan kami, sepertinya kami terlalu menuntut," lirihnya mengusap lembut punggung Sutami.

"Baiklah," kata Bu Wati dengan nada bicara yang sedikit lebih tegas. "Cuti Ibu saya setujui. Tapi setelah semua urusan Bu Tami selesai, kami harap Ibu kembali, selain karena anak-anak yang muram tanpa Bu Tami, ada hutang penjelasan yang harus Bu Tami lunasi!"

Bu Wati tersenyum lembut pada Dara, dan mengusap lengan gadis cilik itu tanpa mengatakan apapun. Tapi bagi Dara, itu seperti sebuah peringatan, atau sesuatu yang tak ia pahami, tapi membuatnya merasa takut hingga membuatnya menenggelamkan wajah di dada Sutami.

Bu Amel dan Bu Tia pun beringsut mendekat. Meski bibir mereka masih mengerucut kecewa, tapi hati mereka pun luluh dan merangkul Sutami dengan hati yang hangat.

"Jaga diri, Tami," bisik Bu Amel.

"Kabari kami jika kau butuh sesuatu...." imbuh Bu Ria juga berbisik.

Seketika suasana ruang kepala Sekolah menjadi mengharukan. Meskipun belum teratasi sepenuhnya, tapi kesalahpahaman kecil telah berubah menjadi kepedulian yang hangat hingga akhirnya Sutami pun berpamitan.

.......

Di sepanjang perjalanan pulang, di dalam taksi, Dara tidak banyak bicara. Ia lebih banyak menatap keluar jendela.

"Bu...." lirih Dara setelah sekitar setengah jam mereka duduk di dalam taksi yang melaju.

"Ya, Dara? Ada apa?" respon Sutami cepat. Ia menoleh dari kursi depan.

"Aku mau masuk sekolah lagi. Ibu bisa mengantarku, kan, besok?"

Sutami melonjak kaget sekaligus tak percaya. "Dara yakin?"

"Ya!" Dara mengangguk mantap. "Tapi temenin dulu sehari atau dua hari," rengeknya.

"Siap! Ibu akan pastikan selalu di dekat Dara sampai Dara merasa nyaman lagi di sekolah. Janji."

Taksi kembali hening beberapa saat.

"Jadi Ibu harus janji," lanjut Dara. Ia menoleh ke arah Sutami. Sorot matanya jernih, tapi ada sesuatu yang terlihat semakin retak di dalamnya. "Cuma aku anakmu."

Deg!

Sutami terdiam beberapa detik. Tangannya yang memegang sabuk pengaman mengepal pelan. Ia tahu. Dara hanyalah bocah berumur 6 tahun yang polos. Yang sedang berusaha mengutarakan isi hatinya dengan cara yang ia tahu. Takut. Takut kehilangan lagi. Takut "Ibu" yang baru ini akan direbut orang lain juga.

Tapi entah kenapa, bagi Sutami, itu justru menjadi sinyal awal. Sinyal yang menggambarkan sisi lain Dara yang menggemaskan sekaligus mengkhawatirkan.

Sisi posesif. Sisi yang ingin memiliki sepenuhnya.

Sutami menghela napas. Ia menggeser duduknya, lalu meraih tangan kecil Dara dari balik pembatas kursi.

"Dara sayang," kata Sutami lembut. "Ibu mengerti. Ibu janji, Ibu akan selalu ada untuk Dara. Akan antar jemput Dara, belajar bersama, juga memasak makanan kesukaan Dara."

Ia berhenti sebentar, menatap mata Dara dalam-dalam.

"Tapi Ibu juga harus tetap bekerja, ya. Murid-murid Ibu di TK itu juga butuh Ibu. Sama seperti Dara butuh Ibu. Ibu tidak bisa memilih hanya menyayangi satu orang saja. Hati Ibu cukup besar untuk menyayangi Dara... dan juga anak-anak lain."

Dara mengerutkan kening dengan bibir yang mengerucut. "Berarti Ibu nggak cuma sayang aku?"

Sutami menggeleng, lalu mengusap pipi Dara. "Ibu sayang Dara dengan cara yang berbeda. Dara itu anak Ibu di rumah. Anak-anak di sekolah itu murid Ibu. Sama pentingnya, sama disayang. Bisa ya?"

Dara tidak menjawab. Ia kembali menatap keluar jendela. Tapi kali ini tangannya tidak lepas dari genggaman Sutami.

Di dalam hati Sutami, ia berdoa. "Ya Tuhan... ajari aku cara menjadi ibu untuk anak yang hatinya sedang retak ini, ajari aku cara mengisi kekosongan tanpa menghapus masa lalunya.'

Taksi berhenti di depan gerbang rumah besar itu. Dengan langkah berat, ia masuk lagi, dengan harapan besar tak akan ada drama lain hari ini.

...****************...

Bersambung

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
apa itu Arka 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semua uang udah dikasih mau berkorban apalagi, yg ada korban makan hati 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Jangan mau, nanti kamu langsung dibuang😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ternyata cuma cowok mokondo 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
apapun?
itu bukan cinta 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
panggilan telepon
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dih mau glowing tapi modalnya ngutang 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
nah ternyata bukan 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
apa benar dia pengkhianatnya 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳: kayaknya bukan🤭
total 2 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu hanya belum mengenalnya Arka🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Hadeuh Arka 😣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
hilihh..
bojoku biyen Yo mergae ngono, Kus, Kus...
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
kok Sampek ceblok, ajur, tak Kon ngijoli /Smug//Smug//Curse//Curse/
yosh—: waduh, 🤣🤣🤣
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sabar Tami,jgn sampai kau jadi stres 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ga bisalah,
rasain tuh 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pengen ku lempar pk sendal tuh mulutnya 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
berpindah duduk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Enak aja, kamu hrs berusaha dari bawah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!