NovelToon NovelToon
The Path To Godhood

The Path To Godhood

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?

Ikuti perjalanannya yang memegangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memasuki gua

Lalu setelah beberapa saat, akhirnya sebuah gunung batu terlihat dari kejauhan. Itu menjulang tinggi seperti menara. Melihatnya, Xuan Han teringat dengan gunung kecil ketika pertama kali ia sadar. Namun, tak lama kemudian detak jantungnya berdetak lebih cepat, dan tiba-tiba ia melihat bulan perak yang bercahaya di atas gunung itu. Ada seorang wanita yang berdiri di puncak. Hanya bayangannya yang terlihat.

Lalu semuanya menghilang dan Xuan Han kembali melihat cahaya matahari dan pepohonan yang menjulang tinggi.

Xuan Han batuk-batuk. Karena menutup mulut, ada sedikit bekas darah di telapak tangannya.

“Ada apa?”

Meng Chahua berhenti dan berbalik menatapnya. Xuan Han menggeleng. Kucing kecil di tangannya memejamkan mata, sedang bersantai. Melihatnya, Meng Chahua berbalik pergi.

Mereka akhirnya tiba di gunung itu. Xiao Ma membuka mata dan segera melompat. Dua orang sudah menunggunya, satu laki-laki dan perempuan. Meng Chahua menyilangkan tangannya dan muncul pedang lengkap dengan sarungnya. Ketika melihat mereka berdua, pupil mata Xuan Han sedikit membesar. Ia mengenal mereka.

Nona Xie sedikit melirik Xuan Han dan Meng Chahua, lalu memejamkan matanya. Wang Hao tersenyum.

“Meng Chahua, sepertinya kau juga memungut sampah.”

Meng Chahua tidak berekspresi dan Xuan Han di sampingnya diam-diam mengeluarkan belati dari balik punggungnya. Ia tidak bisa menyembunyikan tatapan tajamnya. Ia tahu Wang Hao itu kuat. Seberapa kuatnya, ia tidak tahu, tapi pria itu mampu melukai Li Yin, bahkan hampir membunuhnya. Mengingat sebelumnya ia telah menarik busur ingin memanahnya, dan bagaimana pandangan pria itu kepadanya, tidak ada alasan baginya untuk membiarkannya hidup.

Wang Hao tertawa. “Sampah ini benar-benar setia pada tuannya. Lihatlah, sebelumnya aku melukai majikannya dan sekarang dia menaruh dendam padaku. Meng, kamu punya mata yang jeli. Tapi....” Wang Hao menjentikkan jarinya dan sebuah pedang muncul, bersiul, dan dalam hitungan detik sudah berada di depan Xuan Han.

Ia dipenuhi keterkejutan. Ia refleks mengayunkan tangannya. Pedang Wang Hao mengenai belati Xuan Han. Namun belati itu segera patah menjadi dua, seolah pedang itu memiliki ketajaman yang mematikan. Mata Xuan Han terbelalak. Jika pedang itu mengenai dirinya, maka itu akan menembus perutnya, melukai organ dalam. Paling beruntung pun, ia akan mendapat luka fatal.

Tetapi, sebelum pedang itu bergerak lebih jauh, Meng Chahua di samping melambaikan tangannya dan pedangnya segera melesat, mendorong pedang Wang Hao hingga terbelah dua, sementara pedang Meng Chahua melesat, menembus pohon lalu sedikit bergetar.

Xuan Han mundur satu langkah. Napasnya cepat dan tidak beraturan. Selamat. Ia akhirnya bisa selamat.

Alis Wang Hao sedikit ditekuk. Nona Xie sedikit mendengus.

“Karena dia sampah yang patuh, mengapa aku tidak melindunginya?”

Meng Chahua diam sebentar. “Ayo, kenapa kita harus membicarakan tentang sampah?”

Pedangnya kembali lalu ia berjalan, diikuti Wang Hao dan Nona Xie. Xuan Han diam di luar, menenangkan diri sebentar lalu menatap mulut gua. Ia mengamati tiga orang yang berjalan itu. Tadi itu terlalu cepat dan jika Meng Chahua tidak bertindak, maka ia bisa kehilangan nyawanya dalam hitungan detik. Wang Hao terlalu menyeramkan. Ia menghela napas lagi.

Si kucing Xiao Ma menjilat kakinya di atas dahan, mengeong sehingga menarik perhatian Xuan Han. Kucing itu duduk sembari menggerakkan ekornya. “Bocah, bagaimana rasanya?”

“Ka-kau, kenapa ketika bertemu Meng Chahua hanya diam saja?”

“Apa salahnya?”

“Kau menipuku.”

“Siapa yang menipumu?”

Xuan Han ingin menjelaskan, tapi tiba-tiba cahaya melesat. Xuan Han terbelalak. Lagi-lagi pedang terbang. Ia ingin menghindar tapi pedang itu berhenti tepat di depannya. Ternyata mereka tidak bergerak terlalu dalam dan berhenti. Meng Chahua memandangnya dingin. Ia mendengus dan pedang itu kembali kepadanya.

“Xuan Han, kenapa kau diam saja?”

Meng Chahua bersikap dingin, dan tanpa sadar Xuan Han menelan ludahnya. Ia menatap Xiao Ma sebentar lalu berjalan masuk. Meng Chahua memintanya untuk cepat dan ia segera berlari.

Ketika tiba, Meng Chahua menarik tangannya, mendorongnya ke depan hingga tersungkur.

“Cepat, kau yang pertama berjalan.”

Xuan Han ingin protes, tapi ia tidak punya kekuatan untuk melawan. Ia berusaha melupakannya dan bangkit. Meng Chahua melemparkannya pedang. “Gunakan itu.”

Wang Hao mendengus dan Nona Xie mengabaikannya.

Dengan kaki gemetar, ia menatap gua yang panjang ini. Menghela napas dan mulai berjalan. Telinganya dipertajam dan pandangannya terus mengintai.

Semuanya berjalan normal. Hingga beberapa saat, Xuan Han berhenti. Ia mendengar embusan angin dan tiba-tiba lima panah melesat dari depannya. Berbekal ingatan sebelumnya, instingnya jadi lebih tajam. Ia tidak boleh kena. Karena tidak sekuat mereka bertiga dan tidak bisa menggunakan pedang dengan baik, Xuan Han segera kayang dan empat panah itu melewatinya. Itu hampir saja mengenai dirinya.

Melihat panah itu melesat, Wang Hao melambaikan tangannya dan energi transparan bergelombang muncul, menghentikan laju anak panah itu lalu semuanya jatuh. Xuan Han segera mengambilnya dan memasukkannya ke dalam quiver. Wang Hao mengejeknya, menyebutnya pemulung. Xuan Han tidak peduli.

Tidak lama, dua puluh anak panah melesat dari depan. Xuan Han mengerutkan keningnya. Ia segera mengambil beberapa batu dan melemparkannya. Beberapa batu itu mampu menghentikan lajunya, tapi beberapa juga berhasil lolos.

Melihatnya, Xuan Han menghindar ke samping. Tapi Wang Hao, Nona Xie, dan Meng Chahua hanya perlu melambaikan tangannya untuk menghindarinya. Namun kembali puluhan anak panah melesat. Sekarang diselimuti api. Mata Xuan Han terbelalak. Ia berusaha menghindar dengan kayang, melompat, lalu menggeser tubuhnya ke samping meskipun tidak ahli menggunakan pedang. Sementara itu, orang-orang di belakangnya menggunakan pedang mereka untuk memotong seluruh anak panah yang masuk.

Setelah seluruh anak panah melesat, ada luka di pergelangan tangan Xuan Han. Ia mengeluarkan banyak keringat. Mengeluarkan kain yang ditemukannya dan mengikatnya pada luka. Meng Chahua meliriknya sebentar lalu tidak peduli.

Xuan Han diam sebentar dan melirik ke belakang. Ia tidak tahu seberapa panjang gua ini dan seberapa banyak bahaya yang ada di dalamnya. Ia benar-benar sial karena harus mengikuti mereka. Meng Chahua yang baik padanya ternyata juga memanfaatkannya. Tidak punya pilihan, ia segera mulai berjalan lagi dan mengambil batu.

Akhirnya ia tiba di tempat beberapa tengkorak berserakan. Aromanya aneh. Ternyata beberapa orang di masa lalu datang ke sini dan akhirnya meninggal. Beberapa tulang kaki berserakan dengan tengkorak.

Setelah berjalan beberapa saat, muncul tiga cahaya ungu yang melesat ke tiga tengkorak. Tiga tengkorak itu bergetar lalu melayang-layang, dan beberapa tulang belulang melesat menyatu membentuk tubuh yang penuh tulang. Makhluk itu melotot pada Xuan Han dan segera melesat.

Xuan Han melempar batu ke kaki tengkorak yang paling dekat hingga membuatnya jatuh, melompat menginjak-injaknya lalu mengayunkan pedangnya ke samping, tempat di mana tengkorak satunya berada. Ketika melakukannya, ternyata tulang-tulangya tidak terlalu keras. Sehingga ia segera mengambil batu untuk melumpuhkan yang terakhir. Pedang diayunkan dan kepala tengkorak itu terlempar.

Xuan Han merasa ini sudah selesai, tetapi perlahan-lahan tengkorak itu bergetar dan tubuhnya dikonstruksi kembali.

Xuan Han melompat mundur dan menatap mereka tajam. Cahaya ungu itu memang menyulitkannya. Berbekal pedang ia segera melesat menyerang. Jika ingin selamat, maka ia harus menyerang terlebih dahulu. Mengayunkan, menendang, dan memukul. Tiga tengkorak itu hancur. Kain merah muda yang menyelimuti pergelangan tangan Xuan Han perlahan-lahan dipenuhi bercak merah. Ia merasa perih pada pergelangan tangannya.

Meng Chahua yang dari tadi diam kini mengulurkan tangannya dan pedangnya melesat, menghancurkan tiga tengkorak itu hingga hancur berkeping-keping.

Tiga cahaya ungu melayang-layang. Sebelum cahaya itu mampu bergerak lebih jauh, Nona Xie melambaikan tangannya dan selendangnya melesat menyelimuti tiga cahaya itu, lalu kembali ke tangannya.

“Biarkan aku yang menyimpannya.”

Meng Chahua dan Wang Hao tidak berbicara.

Xuan Han menatap jauh ke depan. Ia berpikir apa yang menantinya lagi.

1
Pena Quality
saling support
Budiarsa: Terima kasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!