Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.
Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.
Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua wajah
Ruangan itu tidak punya jendela. Hanya lampu sorot putih terang yang menggantung tepat di atas meja mahoni sepanjang delapan meter, memantulkan bayangan tajam di setiap sudut wajah orang-orang yang duduk di sana.
Luki Subroto duduk di ujung meja, jari-jarinya terjalin di depan dagu, matanya menatap pria yang berlutut di lantai marmer dengan darah menetes dari hidungnya. Tidak ada yang berani bicara sebelum Luki bicara lebih dulu. Bahkan detak jam dinding di ruangan itu seolah ikut menahan napas.
"Kamu tahu apa yang aku benci lebih dari pengkhianatan?" suara Luki rendah, nyaris berbisik, tapi memenuhi seluruh ruangan seperti dentuman. "Pengkhianatan yang dibungkus alasan."
Pria itu — salah satu kepala distribusi wilayah utara, orang yang sudah ia percaya sejak organisasi ini masih dipegang ayahnya — gemetar di tempatnya berlutut. "Tuan L, saya bisa jelaskan—"
"Kamu sudah menjelaskan. Selama dua puluh menit." Luki melirik jam tangannya, sebuah jam tua peninggalan ayahnya, satu-satunya benda sentimental yang pernah ia biarkan menempel di tubuhnya. "Aku memberimu waktu segitu karena aku menghormati sepuluh tahun pengabdianmu. Tapi angka di rekening Singapura itu tidak berbohong. Tiga koma dua miliar, dipindahkan dalam tujuh transaksi kecil selama enam bulan terakhir. Kamu pikir aku tidak bisa menghitung?"
Keringat membasahi kerah kemeja pria itu. "Itu untuk anak saya, Tuan. Biaya pengobatan—"
"Kalau kamu datang dan bicara padaku," potong Luki, suaranya tetap datar, tanpa nada marah sedikit pun — dan justru itulah yang membuatnya lebih menakutkan, "aku akan membiayai seluruh rumah sakit itu tanpa kamu perlu mencuri satu rupiah pun. Tapi kamu memilih diam-diam. Kamu memilih tidak percaya padaku. Dan di dunia ini," ia berdiri perlahan, membenarkan jasnya dengan gerakan yang sudah dihafal ototnya, "ketidakpercayaan adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa aku maafkan."
Bram Situmorang, berdiri di belakang Luki dengan tangan terlipat di dada, memberi isyarat kecil kepada dua orang berjaga di pintu ganda ruangan itu.
"Bawa dia," kata Luki, sudah melangkah keluar sebelum jeritan pertama terdengar dari balik pintu yang mulai tertutup. Ia tidak menoleh. Ia tidak perlu menoleh. Ini bukan pertama kalinya, dan langkahnya sudah dihitung dengan presisi yang sama seperti ia menghitung segala sesuatu dalam hidupnya — dua puluh dua menit lagi untuk sampai ke mobil, lima belas menit perjalanan menembus kemacetan Jakarta, cukup waktu untuk melepas dasi, menggulung lengan kemejanya satu per satu, dan berhenti menjadi Tuan L sepenuhnya sebelum pintu apartemen di lantai tiga terbuka.
Di dalam lift menuju basement, Bram berdiri di sampingnya, wajahnya masih datar seperti biasa, seolah apa yang baru saja terjadi di ruangan itu hanyalah rapat evaluasi kinerja biasa. "Antasena mulai bergerak lagi di pelabuhan tiga," katanya pelan, matanya lurus menatap pintu lift yang tertutup.
"Besok," jawab Luki, tanpa emosi, tanpa menoleh. "Malam ini bukan malam untuk itu."
Bram melirik jam tangannya sendiri. Pukul 18.42. Sepuluh tahun mengabdi pada keluarga ini membuatnya hafal betul ritme atasannya — jam tujuh malam adalah batas suci yang tak pernah, dan tak akan pernah, dilanggar, apa pun yang terjadi hari itu, siapa pun harus menunggu, seberapa besar pun taruhannya.
Pukul 18.58, mobil hitam itu berhenti tepat di depan gedung penthouse pribadi keluarga Subroto. Luki melangkah keluar, jasnya sudah tertinggal begitu saja di jok belakang, dasinya melonggar di lehernya seperti syal yang lupa dilepas, dan pada akhirnya bahunya sedikit lebih rileks.
Ia menekan kode di pintu lantai tiga — bukan kode keamanan berlapis biometrik seperti di lantai-lantai lain gedung itu, melainkan kombinasi sederhana: tanggal lahir Indra, diulang dua kali.
"AYAH!"
Sesosok kecil menabrak kakinya sebelum pintu bahkan sempat tertutup sepenuhnya. Indra, dengan piyama bermotif planet dan rambut yang masih basah bekas mandi, memeluk kaki ayahnya dengan seluruh kekuatan tubuh mungilnya, seolah ia sudah menunggu di balik pintu itu sejak sore.
Dan di situlah — hanya di situlah, di antara empat dinding penthouse yang tak pernah dimasuki siapa pun dari dunia lamanya — bahu Luki Subroto yang selalu tegak seperti tiang baja itu benar-benar mengendur.
"Hei, Bintang Kecil." Ia berjongkok, mengangkat Indra dalam satu gerakan yang sudah dihafal ototnya seperti refleks yang lebih tua dari ingatan sadarnya. "Kamu udah makan malam?"
"Udah! Aku makan brokoli semua, habi kayak kemarin!" Indra mengangkat kedua tangannya sebagai bukti, seolah brokoli adalah medali kehormatan tertinggi di dunia.
"Bagus." Luki mencium puncak kepala anaknya, menghirup aroma sampo lavender yang entah sejak kapan sudah menjadi definisi rumah baginya. "Kamu udah mandi?"
Indra tertawa, memutar bola matanya dengan gaya anak enam tahun yang merasa dirinya sudah sangat dewasa. "Ayah, aku udah gede, nggak perlu diingetin lagi!"
"Ayah tahu." Luki tersenyum — senyum yang tidak pernah, dan tidak akan pernah, dilihat oleh siapa pun di luar dinding apartemen ini. "Ayah cuma nanya aja."
Mereka berjalan menuju kamar bertema luar angkasa itu bersama, Indra bertengger di pinggang ayahnya, mengoceh tentang teori mengapa Pluto seharusnya masih dianggap planet — sebuah argumen yang sudah ia sampaikan setidaknya tujuh kali minggu ini, dan yang tujuh kali pula didengarkan Luki seolah ia mendengarnya untuk pertama kali, lengkap dengan anggukan di titik-titik yang tepat.
Di kamar, setelah Indra berbaring di bawah selimut bermotif galaksi, Luki duduk di tepi ranjang, mengambil buku dongeng dari rak — bukan buku fisika kuantum yang biasa dibaca Indra sendirian diam-diam saat tengah malam, tapi buku bergambar sederhana tentang seekor naga yang takut api.
"Baca yang mana malam ini?"
"Naga yang Takut Api. Lagi." Indra menguap lebar, matanya sudah setengah tertutup. "Aku suka soalnya naganya beda dari naga lain, tapi tetap jadi pahlawan di akhir."
Luki membuka halaman pertama. Suaranya, yang beberapa jam lalu memerintahkan sesuatu yang tak ingin ia pikirkan lagi malam ini, kini melunak menjadi nada yang hanya bisa didengar oleh satu orang di dunia.
"Pada suatu hari, di sebuah gua yang jauh dari desa..."
Ia belum sampai ke halaman ketiga ketika napas Indra mulai teratur, kelopak matanya menutup sempurna, tangan kecilnya masih menggenggam ujung selimut seolah takut galaksi di atasnya akan runtuh jika ia melepaskannya.
Luki menutup buku itu pelan-pelan, tanpa bunyi sedikit pun. Ia duduk sebentar lebih lama dari yang sebenarnya diperlukan, menatap wajah damai anaknya di bawah cahaya remang lampu tidur, lalu membisikkan sesuatu yang tak pernah ia katakan pada siapa pun — bahkan pada Bram yang sudah sepuluh tahun mengabdi padanya, bahkan pada dirinya sendiri di depan cermin.
"Apa pun yang Ayah lakukan di luar sana," katanya pelan, hampir tak terdengar, "kamu alasannya kenapa aku masih bertahan."
Ia mematikan lampu utama, menyalakan lampu tidur berbentuk planet yang berputar pelan di langit-langit, memproyeksikan bintang-bintang palsu ke seluruh kamar, dan menutup pintu tanpa suara.
Di luar pintu itu, ponselnya sudah bergetar tujuh kali sejak lima menit terakhir. Ia baru membukanya sekarang. Pesan dari Bram:
"Antasena mengirim pesan. Dia tahu soal Indra."
Luki menatap layar itu dalam diam selama beberapa detik yang terasa jauh lebih panjang dari dua puluh menit interogasi tadi malam. Lalu, seolah ada tombol tak kasat mata yang tertekan di dalam dirinya, wajahnya berubah kembali — rahangnya mengeras, matanya mendingin, bahunya kembali tegak seperti tiang baja yang sama sekali tidak pernah patah.
Tuan L telah kembali.
Dan kali ini, ia akan membakar seluruh kota jika itu artinya satu rambut pun di kepala Indra tidak akan tersentuh.