NovelToon NovelToon
Salman Prakarsa

Salman Prakarsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."

Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

hanya aku

Karsa meraba saku kausnya, lalu menyodorkan kotak rokoknya yang sudah hampir kempis ke arah sahabatnya. "Bud..." panggil Karsa pelan.

Budi pun mengambilnya sebatang. Dia tidak menolak, karena dia tahu merokok bersama adalah cara terbaik untuk menemani seorang pria yang sedang berduka tanpa harus menghujaninya dengan pertanyaan yang melelahkan. Budi meraih korek gas di atas meja, menyulut ujung tembakau itu, dan mulai menyalakan.

Cukup lama mereka berdua duduk tanpa sepatah kata. Hanya ada suara jangkrik di luar rumah dan desir angin malam yang menembus celah dinding rumah. Budi yang paham bahwa di rumah sini atmosfernya sudah berbeda, memilih untuk tetap diam. Kehangatan rumah yang biasanya tercipta dari senyum ibu Karsa kini telah menguap. Rumah ini mendadak terasa begitu asing, luas, dan dingin. Namun, Budi tidak mencoba memaksakan hiburan yang klise. Dia hanya mengikuti kemana alurnya, membiarkan Karsa menikmati keheningannya sampai sahabatnya itu siap untuk berbicara.

Akhirnya karsa membuka suara. Suaranya serak, bergetar di tengah sunyinya malam.

"Hanya aku..... Bud... yang tersisa," lirih Karsa. Pandangannya lurus menatap lantai tanah, seolah-olah bayangan kedua orang tuanya masih tertinggal di sana. Karsa pun menghela napasnya yang terasa berat. Beban dunia seakan baru saja dijatuhkan seutuhnya ke atas kedua pundaknya yang masih muda.

Kehilangan ibu bukan hanya merenggut jiwanya, tetapi juga memaksanya menghadapi realitas hidup yang kejam sendirian mulai besok pagi.

"Bud, aku bingung... padi sudah mulai bisa dipanen," lanjut Karsa, menyatakan kecemasan yang sejak tadi menyumbat kepalanya.

"Sementara... kamu lihat... di sini hanya aku."

Karsa menatap jemarinya sendiri. Memanen padi sawah peninggalan orang tuanya sendirian adalah hal yang mustahil diselesaikan dalam waktu singkat. Jika padi-padi itu dibiarkan terlalu lama, jerih payah mendiang ibunya sebelum wafat akan membusuk sia-sia.

Budi hanya tersenyum. Sebuah senyuman tulus yang menenangkan, tipe senyuman dari seorang sahabat yang siap pasang badan. Dia mengembuskan asap rokoknya ke samping sebelum menatap Karsa lekat-lekat.

"Sudahlah, Karsa..." kata Budi, suaranya terdengar mantap dan penuh empati. "Walau bagaimanapun, hidupmu harus berlanjut."

Budi menepuk pundak Karsa sekali, menyalurkan kekuatan yang dia miliki. "Toh, jangan biarkan ayah ibumu yang sudah duluan berpulang menjadi sedih di sana karena melihatmu putus asa di sini."

"Nanti aku bantu..." kata Budi kemudian. Kalimatnya pendek, tetapi bagi Karsa, itu adalah jaminan hidup.

Karsa sedikit mendongak menatap ke wajah Budi. Matanya yang sembab mencari celah di wajah sahabatnya, seolah meminta kepastian apakah Budi benar-benar bersungguh-sungguh dengan ucapannya atau hanya sekadar berbasa-basi demi menghiburnya.

Melihat keraguan di mata Karsa, Budi langsung menegaskan niatnya. "Besok kita mulai saja panen seadanya," kata Budi dengan nada santai namun tegas. "Toh, sedikit demi sedikit pasti habis juga. Sawahmu tidak akan selesai kalau hanya dipandangi sambil melamun."

Mendengar kalimat konkret itu, separuh beban yang menghimpit dada Karsa rasanya luruh. Karsa hanya mengangguk dan kemudian menghisap lagi tembakaunya dalam-dalam, membiarkan asap hangat itu menenangkan saraf-sarafnya yang tegang sejak siang.

"Kamu benar, Bud. Walau bagaimanapun, hidup terus berlanjut..." bisik Karsa, meneguhkan hatinya sendiri. Watak keras kepalanya mulai bangkit. Rasa sedih itu tidak hilang, tetapi kini berganti menjadi bahan bakar baru untuk membuktikan bahwa dia bisa bertahan hidup demi menghormati nama kedua orang tuanya.

Rokok di jemari Budi sudah hampir habis. Dia mematikan puntungnya di asbak tanah liat, lalu berdiri dari kursi kayu tersebut. Sebelum melangkah pergi, Budi merogoh kantong celananya dan meletakkan sesuatu di atas meja.

Budi pun meninggalkan satu bungkus rokok filter pada Karsa. Sebuah bungkusan baru yang masih utuh.

"Aku pulang dulu. Kamu istirahat yang cukup. Besok kita mulai," kata Budi sambil menepuk lengan Karsa untuk pamit.

Karsa hanya mengangguk saja, menatap bungkusan rokok filter di atas meja dengan rasa syukur yang mendalam. "Hati-hati, Bud," ucapnya lirih mengiringi langkah Budi yang perlahan keluar dari pintu rumahnya dan menghilang di kegelapan malam desa.

Karsa kini kembali sendiri, namun malam ini, kepalanya tidak lagi sekosong tadi sore. Di atas meja, bungkusan nasi daun pisang dan satu bungkus rokok dari Budi menjadi bukti nyata bahwa meski dia kehilangan keluarga, dia masih memiliki alasan untuk menyambut hari esok.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!